Bagi Rindu Setia Wiratman, hidup adalah buku catatan yang penuh dengan aturan ketat, ekspektasi, dan kesempurnaan semu. Sebagai gadis populer yang selalu memegang kendali, ia tidak pernah menyangka bahwa takdir akan menuliskan babak paling menyakitkan di saat ia merasa paling rapuh—ketika keluarganya runtuh dan dunianya hancur perlahan.
Di sisi lain, ada Langit Batara Nugroho, cowok arogan yang kehadirannya selalu berhasil menyulut emosi Rindu. Di balik sikapnya yang menyebalkan, Langit menyimpan luka masa lalu yang belum tuntas dan sebuah rahasia besar yang sengaja dikubur rapat-rapat.
Pertemuan mereka bukanlah sebuah kebetulan, melainkan bagian dari halaman-halaman berat yang harus mereka balik bersama. Ketika badai menerpa hidup Rindu, justru Langit—seseorang yang paling ia benci—menjadi satu-satunya tempat untuk bersandar.
Namun, pertanyaannya: apakah mereka akan bertahan hingga akhir babak cerita, atau justru terhenti di halaman terakhir kisah ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon T.K. OKVIANDI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HALAMAN SATU
Rindu Setia Wiratman, putri tunggal dari Wiratman Surya Praja, seorang pengusaha yang bergerak di bidang ekspor-impor ternama di Jakarta. Sementara itu ibunya, Ratu Setiana Wibawa adalah seorang direktur di salah satu perusahaan properti terbesar di kota ini. Rindu sendiri merupakan siswi SMA Merah Putih yang baru saja menginjak kelas 3. Tidak hanya cerdas, dengan paras cantik yang dimilikinya, membuat Rindu menjadi siswi yang popular di sekolahnya. Tak hanya sampai disitu, Rindu juga terpilih sebagai ketua cheerleaders. Sayangnya, dengan segudang kelebihan yang dia miliki, tidak diimbangi dengan sifat ramah. Rindu terlalu cuek dengan sekitarnya. Hal ini membuatnya terkadang dicap sebagai cewek sombong, membuat beberapa siswa gagal mendekatinya.
Pagi itu, Senin pertama di bulan Juli, hari pertama Rindu masuk sekolah menginjak kelas 3 IPA 2, dia justru bangun kesiangan. Dengan tergesa-gesa Rindu segera keluar kamar setelah hanya mandi selama lima menit saja. Ayah dan Ibunya sedang sarapan. “Ayo sarapan dulu, Rindu. Sudah Ibu siapkan.” Setiana meminta agar Rindu duduk dan bergabung untuk sarapan bersama.
“Nggak sempat Bu, Rindu langsung berangkat ya. Pagi ini ada upacara,” Rindu berpamitan pada Setiana.
“Aku berangkat ya, Yah!” ujarnya sambil menyomot roti ayahnya yang baru saja akan dimakan. Ayahnya hanya bisa bengong melihat tingkah anak semata wayangnya.
Ditengah perjalanan, mobil yang ditumpangi Rindu tiba-tiba menepi. “Mobilnya kenapa Mang Yanto? nggak usah menepilah, aku udah telat banget ini!” gerutu Rindu yang merasa dirinya sedang terburu-buru.
“Maaf Non, kayaknya bannya bocor deh, sebentar Mamang cek dulu ya.” Mang Yanto segera keluar mobil untuk memeriksa keadaan ban mobil. “Walah, bannya beneran bocor Non, gimana ya? Kalau ganti ban serep juga nggak akan keburu kayaknya,” ujar Mang Yanto.
Rindu memandangi sekitar, untungnya tak jauh dari situ, ada pangkalan ojek. “Ya udah aku naik ojek aja deh, udah nggak keburu ini.” Rindu bersungut-sungut.
“Oh ya udah iya Non, Mamang minta maaf ya. Harusnya Mamang cek dulu kondisi mobil sebelum tadi berangkat. Hati-hati di jalan ya Non.” Terlihat raut penyesalan di wajah Mang Yanto.
“Iya nggak apa-apa Mang.” Aku segera berlari kearah pangkalan ojek. “Bang, ke SMA Merah Putih ya. Bisa ngebut nggak? Aku udah telat banget ini,” pinta Rindu yang kemudian di-iya-kan oleh Bang ojek.
Suasana di depan gerbang SMA Merah Putih sudah mulai sepi. Hampir tak ada lagi siswa-siswi yang berdatangan. Dari seberang jalan, dimana Rindu turun dari ojeknya, terlihat satpam yang biasa dipanggil oleh para siswa dengan sebutan "Babeh" hendak menutup pintu pagar. "Beh, tunggu, jangan ditutup dulu!" setengah berteriak, Rindu berusaha mencegah Babeh menutup pintu gerbang. Dia berlari kecil menuju gerbang.
Babeh yang memang cukup mengenal Rindu, menahan pintu gerbang agar Rindu bisa masuk. “Buruan Neng, upacara udah mau dimulai tuh” tegur Babeh. “Iya Beh, gara-gara kesiangan nih! Oh iya Beh, titip tas ya! Aku mau langsung ke lapangan." Rindu bergegas meletakkan tasnya di pos satpam. Tak lupa untuk mengeluarkan topi, setelah itu berlari menuju ke lapangan.
"Lu kenapa telat Rin? Udah tahu ini hari Senin, ada upacara. nggak biasanya lu telat gini,” Chintia bertanya seakan tak memberi Rindu waktu untuk bernapas.
"Iya nih, tadi ban mobil gue bocor. Mau nggak mau gue mesti lanjut naik ojek." Rindu menjawab sambil masuk ke dalam barisan dengan napas yang masih terengah-engah.
"Untung aja lu masih bisa masuk, Rin. Si Babeh biasanya strict kalau ada anak yang telat. Auto nggak dikasih masuk,” Gina teman Rindu yang lainnya turut menimpali. “Gue pernah telat semenit doang, nggak dibukain gerbang tuh sama si Babeh”.
"Hahaha, makanya jadi siswi terkenal dong kayak gue. Jadi telat dikit pun masih dikasih lewat.” Rindu sedikit mengejek sahabatnya. “Ini aja tas gue titipin di pos satpam. nggak akan keburu kalau gue naro tas ke kelas dulu.”
Begitu upacara selesai, mereka bergegas menuju kelas baru. "Lu duduk sama gue ya Rin. Biar si Gina duduk sama Jessika di depan kita.” Chintia mengatur tempat duduk empat sahabat yang selalu bersama sejak mereka sekelas bersama.
Rindu segera menuju ke tempat duduk yang telah dipilihkan untuknya, sebelum akhirnya teringat sesuatu. "Mampus! Gue lupa kalau tas gue masih di pos satpam!" Rindu tersentak kaget sambil menepuk keningnya. "Ya udah ambil! Ayo gue temenin sekalian gue mau balikin buku ke perpustakaan" ujar Gina yang bersedia menemani Rindu.
"Beh! Tasnya aku ambil ya," ujar Rindu begitu tiba di pos satpam. “Ambil aja Neng, tuh di dalam.” Babeh mempersilahkan Rindu untuk mengambil tasnya.
Dari pos satpam, keduanya langsung menuju perpustakaan dengan sedikit tergesa-gesa sebelum guru pertama masuk kelas. Ketika menunggu Gina yang tengah mengembalikan buku perpustakaan, Rindu yang menunggu di luar melihat seorang siswa berjalan keluar perpustakaan sambil membawa sebuah buku yang sepertinya adalah novel.
"Itu siapa, Gin? Kayaknya gue nggak pernah liat dia sebelumnya. Apa anak kelas 1 ya? Tapi kayak udah tua banget buat ukuran anak kelas 1 ya?" tanya Rindu kepada Gina yang baru saja keluar dari perpustakaan.
"Yang mana?" tanya Gina sambil celingukan mencari orang yang dimaksud Rindu.
"Itu tuh yang tadi lewat," Rindu menunjuk ke arah cowok yang baru saja berlalu dari hadapannya..
"Wah! Gue nggak tahu deh. Anak baru mungkin, Rin,” jawab Gina sambil mengangkat bahunya. “Udah yuk ah, balik ke kelas. Keburu Bu Eka datang.”
Sekembalinya mereka ke kelas, suasana kelas nampak ramai, ternyata Bu Eka belum masuk. "Sekolah kita ada anak baru ya? Lu tahu nggak Jess? Ganteng luh dia, tadi gue lihat di perpustakaan" kata Gina.
"Oh iya, dia emang anak baru pindahan dari Bali, ayahnya polisi. Sekarang lagi ditugaskan di Jakarta, makanya dia ikut pindah. Dia masuk kelas 3 IPA 1, namanya Langit Batara Nugroho." Jessika menjelaskan.
“Loh, kok lu tahu sih Jess?” Rindu bertanya sambil mengernyitkan keningnya. “Iya, tadi si Tami cerita,” ujar Jessika.
Rindu dan teman-temannya memutuskan mengisi jam istirahat mereka dengan duduk di kantin saja. Dalam perjalanan menuju kantin, langkah mereka terhenti saat melihat beberapa siswa main basket di lapangan, termasuk Langit diantaranya. Saat Langit hendak melempar bola ke arah ring basket, namun bola itu meleset dan tanpa sengaja malah mengenai tangan Rindu. Lemparan bola yang cukup keras, membuat Rindu terjatuh. Rindu bergegas bangkit dibantu oleh teman-temannya sambil menahan sakit ditangannya.
"Woi! Lempar bolanya kesini dong" perintah Langit dari kejauhan.
"Woi, tengil! Enak banget lu nyuruh-nyuruh! Bukannya minta maaf Lu udah nyelakain teman gue!” melihat sikap Langit, tentu saja membuat Jessika emosi. Terlebih dia melihat Rindu meringis kesakitan sambil masih memegangi tangannya.
"Ya udah, sorry! Gue minta maaf deh. Sekarang bisa kan lu lemparin bolanya?" setengah berteriak, Langit kembali memerintah.
“Udah lah Jess, nggak usah ditanggapi. Lagipula dia juga kayaknya nggak sengaja ngelempar bola ke arah kita.” Rindu lalu melemparkan bola basket itu pada Langit, yang lantas menerimanya sambil tersenyum tipis pada Rindu. Rindu kemudian mengajak teman-temannya untuk segera ke kantin.
"Tuh anak parah banget sih! Udah nyelakain orang bukan nya minta maaf malah bersikap arogan," Jessika masih tak terima akan sikap Langit. “Tahu tuh, gue sumpahin semoga dia nggak punya teman disini!” Gina balas menimpali dengan bersungut-sungut.
Rindu mencoba meredakan emosi teman-temannya. "Udah, udah, yang penting gue nggak kenapa-kenapa, mungkin emang sifat dia kayak gitu kali," ucap Rindu kepada teman-temannya. Tak lama setelah minuman pesanan mereka datang, Langit muncul seorang diri. Dia kemudian duduk di meja yang ada di sebelah meja Rindu CS. Tanpa bisa dicegah, Jessika lantas bangkit dari tempat duduknya dan langsung menghampiri Langit dengan emosi. Yang tak lagi bisa dibendung.
"Eh anak baru, gue tahu bokap lu polisi. Tapi apa lu nggak diajarin sopan santun sama bokap lu?!" Jessika bertanya sambil menunjuk wajah Langit.
Untuk sesaat Langit terdiam. Wajahnya yang berkeringat dan kelelahan sehabis bermain basket kemudian perlahan terlihat emosi. Dia berbalik memandang wajah Jessika dengan sinis. "Maksud lu apa bawa-bawa bokap gue? Jangan kayak anak kecil deh lu dikit-dikit bawa orangtua, Kayak bocah lu!" Langit menggenggam pergelangan tangan Jessika yang tertunjuk tepat di depan wajahnya.
Melihat wajah Jessika yang meringis kesakitan, Gina langsung menghampiri mereka berdua. Gina berusaha melepaskan genggaman tangan Langit pada Jessika. "Lepasin tangan teman gue! Pengecut lu! Beraninya sama anak cewek, main fisik pula!" Gina ikut terbawa emosi.
Menyadari bahwa Jessika kesakitan, Langit langsung melepas tangan Jessika, "Mau lu apa sih? Tadi kan gue udah minta maaf. Gue udah bilang kalau gue nggak sengaja, terus kenapa sekarang lu bawa-bawa bokap gue?" tanya Langit yang masih belum bisa meredakan kekesalannya.
Gina membalas perkataan Langit dengan nada tinggi, "Lu nggak nyadar apa kalau lu minta maaf kayak orang yang nggak merasa? Lu niat buat minta maaf nggak sih? Lu liat nggak, teman gue ngerasa kesakitan gitu!”
Langit langsung melirik ke arah Rindu yang masih duduk di meja sebelah. Memperhatikan kedua tangan rindu, memastikan tidak ada memar pada tangannya. "Terus gue harus gimana? Apa gue harus berlutut di hadapan dia? Sambil bilang ‘aduh! maafin gue ya, cantik. Sakit ya? Aku benar-benar minta maaf ya’, gitu? Itu yang lu mau?" ujar Langit dengan nada meledek. Langit langsung bangkit dari kursinya. "Lagipula teman lu juga tadi bilang nggak kenapa-kenapa kok, nggak usah manja deh jadi cewek!" tak ingin berdebat lebih panjang, Langit ngeluyor begitu saja meninggalkan Rindu dan teman-temannya.
Gina semakin emosi mendengar ucapan Langit, terlebih lagi dia langsung meninggalkan mereka seakan-akan tidak ada hal yang terjadi diantara mereka. "Woi, nggak usah tengil lu jadi cowok. Gue sumpahin lu nggak ada yang mau temenan sama lu! Dasar cowok belagu!" teriak Gina yang tidak ditanggapi oleh Langit. Rindu, Chintia, dan Jessika mendekati Gina untuk menenangkan emosinya dengan memeluknya. Sementara Langit terus berjalan semakin menjauh dari mereka.
Malam itu, suasana dikamar Langit tampak sunyi dan redup, hanya terdengar ketikan dari laptop yang sedang digunakan Langit untuk menulis.
"Hari ini adalah hari pertama gue masuk di sekolah baru, inilah resikonya akibat gue harus mengikuti kemanapun bokap ditugaskan. Ya, mau bagaimana lagi, sekarang gue hidup cuma berdua sama bokap. Tapi bukan itu yang menarik dari sekolah baru gue. Sejak SMP, gue udah sering pindah-pindah sekolah, tapi baru kali ini gue ketemu cewek yang super ngeselin! Katanya sih DIA bintang di sekolah itu, tapi gue sih nggak yakin. Hmm, lucu ya....".