NovelToon NovelToon
Transmigrasi Dokter Forensik Jadi Anak Villain

Transmigrasi Dokter Forensik Jadi Anak Villain

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Mengubah Takdir / Anak Genius
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Sinnox

Amelia Kusumawardhani, seorang dokter forensik yang blak-blakan dengan kehidupan sederhana yang dipenuhi novel, anime, dan kerajinan tangan, tidak pernah menyangka kematiannya akan membawanya ke dalam novel favoritnya.

Lebih buruk lagi, ia terlahir sebagai anak pungut keluarga penjahat dalam cerita asli yang ditakdirkan untuk menghancurkan kerajaan.

Dan dia sendiri?
Ia hanya memiliki satu akhir dalam novel.

Yaitu mati.

Berlatar di sebuah Kerajaan Fantasi bergaya Eropa, akankah Amelia mampu bertahan, menemukan kebenaran, dan mengubah takdir yang seharusnya menjadi miliknya. Bagaimanakah kelanjutan kisahnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinnox, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia Di Balik Senyum

Beberapa menit berlalu.

Eve sudah menghabiskan hampir separuh camilan di piring kecilnya, sementara Lucien masih memegang cangkir teh dengan tenang. Pria itu tidak terlihat terganggu oleh rasa canggung yang menyelimuti mereka berdua. Bahkan sesekali tatapannya turun pada dokumen yang tadi sempat dia tinggalkan, seolah kehadiran Eve di sofa sebelah tidak mengharuskannya melakukan apa pun.

Berbeda dengan Eve, kaki kecilnya mulai bergerak-gerak di bawah meja. Jari-jarinya memainkan ujung pita pada gaunnya, lalu berhenti, kemudian mulai lagi. Dia sudah beberapa kali melirik Lucien dari sudut matanya, berharap pria tersebut mengatakan sesuatu, tapi Lucien hanya diam sembari menyeruput tehnya.

'Ini namanya menghabiskan waktu bersama?'

Eve memasukkan potongan kue terakhir ke mulutnya dan mengunyah pelan.

'Kalau begini caranya, mending gue sendiri di kamar aja.'

Dia menelan makanannya, lalu menarik napas untuk membuka percakapan. Namun sebelum satu kata pun keluar, suara Lucien lebih dulu terdengar.

"Bagaimana kehidupanmu di mansion ini?" tanyanya tanpa mengalihkan pandangan dari cangkir di tangannya.

Eve langsung menoleh, mata merahnya sedikit membesar.

'Tumben perhatian.'

Selama beberapa hari terakhir, dia memang sudah mulai terbiasa dengan kehidupan di mansion. Dia belajar, makan, berjalan-jalan, sesekali berbicara dengan Cecil, lalu kembali ke kamar. Namun sekarang Lucien bertanya langsung mengenai kehidupannya, bagi Eve hal itu merupakan kesempatan emas.

Eve menurunkan cangkir kecil di tangannya dan berpikir cepat. Dia tidak mungkin menjawab seperti orang dewasa. Kalau dia mengatakan kehidupannya baik-baik saja, Lucien mungkin akan menganggap tidak ada alasan baginya untuk sering datang. Sebaliknya, kalau dia mengeluh terlalu banyak, dia bisa terlihat seperti sedang mencari perhatian.

Jadi Eve memilih jalan tengah, dia menatap Lucien dengan wajah polos, lalu sedikit mengerucutkan bibirnya.

"Di mancion baik," jawabnya pelan. "Ape cuka cama Cecil, bactiyan, cama Eiyndol juga."

Lucien mengangguk singkt, lalu Lucien kembali meminum tehnya.

'Terus? gitu doang?' Eve berkedip tidak percaya.

Dia memiringkan kepala, lalu menambahkan dengan suara lebih lembut, "Tapi Apee mau cama Papa."

Tangan Lucien yang sedang memegang cangkir berhenti sebentr, di sisi lain Eve langsung menatapnya penuh harap.

"Papa jalang datang," lanjutnya sambil memainkan ujung rok. "Ape tunggu Papa."

Lucien terdiam beberapa detik sebelum akhirnya menjawab dengan nada datar, "Aku sibuk."

'Cuma itu?'

Dia menahan napas, lalu perlahan menyandarkan punggung ke sofa. Jawaban Lucien benar-benar membuatnya ingin memijat kepalanya sendiri.

'Gue udah susah payah ngomong kayak bocah kangen bapaknya, jawabannya malah aku sibuk.'

Lucien kembali menyeruput teh seolah tidak melihat ekspresi kecewa di wajah Eve.

Beberapa saat kemudian, keheningan kembali memenuhi ruangan. Eve menatap meja, kemudian camilan, lalu cangkirnya sendiri. Dia sebenarnya masih memiliki banyak hal yang ingin ditanyakan, kali ini dia tidak ingin membuang kesempatan begitu saja. Kalau Lucien sedang bersedia menjawab pertanyaan, sekecil apa pun informasi yang keluar dari mulut pria tersebut tetap bisa berguna.

"Papa," panggilnya pelan.

Lucien menoleh.

"Ape dengal, Ape punya saudala," katanya sambil mengangkat dua jari kecilnya. "Tapi Ape tidak liyat meleka."

"Saudaramu?" Alis Lucien sedikit terangkat.

"Iya. Kakak." Eve mengangguk cepat.

Lucien meletakkan cangkirnya di atas tatakan. "Cedric dan Adrien sedang berada di akademi.".

"Atademi?" ulangnya dengan suara cadel.

"Ya."

Informasi tersebut terdengar biasa bagi seorang anak kecil yang baru mengetahui keberadaan dua kakaknya. Namun bagi Eve, tiga kata tersebut terasa jauh lebih penting daripada seluruh percakapan mereka sejak tadi.

'Akademi...'

Dia menundukkan wajah sedikit agar perubahan ekspresinya tidak terlalu terlihat.

Ingatan mengenai The Rose and Crown mulai muncul kembali. Novel yang pernah dibacanya mengambil latar ketika kedua putra Lucien sudah menyelesaikan pendidikan mereka di akademi. Cedric bahkan sudah cukup dikenal dalam lingkungan bangsawan dan memiliki peran penting dalam konflik yang melibatkan Seraphina.

Kalau sekarang Cedric dan Adrien masih berada di akademi, berarti kejadian dalam novel belum dimulai.

'Berarti gue berada di timeline yang cukup jauh dari cerita utama.' Eve menekan kedua telapak tangannya di atas lutut, dadanya terasa sedikit lebih ringan.

Selama beberapa hari terakhir, salah satu hal yang paling mengganggunya adalah ketidakpastian waktu. Dia tahu Aveline akan mati. Dia tahu keluarga Valois akan terlibat dalam berbagai konflik besar. Dia juga tahu ada hubungan antara Lucien, Kekaisaran, Seraphina, dan kedua putranya.

Namun, dia tidak tahu kapan semua peristiwa tersebut terjadi. Sekarang setidaknya ada satu titik yang bisa dijadikan patokan. Cedric dan Adrien belum lulus. Berarti Eve masih berada sebelum rangkaian utama cerita The Rose and Crown.

'Bagus.'

Dia hampir ingin tersenyum, tetapi segera menahannya. Satu masalah berhasil dipersempit, masih ada satu hal yang jauh lebih penting.

Kapan Aveline mati?

Ingatan mengenai novel tersebut tidak pernah memberikan tanggal yang jelas. Dia hanya mengingat garis besar cerita, beberapa tokoh penting, konflik utama, dan nasib beberapa karakter. Bagian mengenai Aveline sendiri tidak pernah menjadi fokus cerita. Aveline hanyalah karakter sampingan yang kematiannya disebut sebagai salah satu kejadian tragis dalam keluarga Valois.

Eve bahkan tidak tahu apakah kematiannya terjadi sebelum cerita utama dimulai atau setelah konflik tertentu berlangsung.

'Kalau sebelum cerita utama, gue punya waktu entah berapa lama.'

Tatapannya turun pada cangkir teh.

'Tapi kalau waktunya tinggal beberapa tahun...'

Eve mengembuskan napas perlahan. Dia tidak boleh terlalu senang hanya karena mendapat satu informasi. Timeline memang mulai terlihat, tetapi masih ada terlalu banyak bagian kosong yang belum bisa dia isi.

Dan satu-satunya cara untuk mengisinya adalah mencari informasi lebih banyak.

Eve mengangkat wajah lagi dan menatap Lucien.

Pria tersebut sedang mengambil cangkirnya tanpa sedikit pun mengetahui bahwa satu jawaban pendek darinya baru saja membuat Eve menyusun ulang seluruh perkiraan mengenai masa depan.

Eve menggigit bibir bagian dalam.

'Kalau begini, mungkin duduk sama Duke bocah ini gak sia-sia juga.'

Dia menahan senyum kecil. Kemudian, seolah tidak terjadi apa-apa, Eve kembali meraih camilan di atas meja. Eve baru saja meraih sepotong kue berikutnya ketika terdengar ketukan dari pintu ruang kerja. Suara tersebut membuat tangannya berhenti di udara.

Lucien juga mengangkat pandangan dari cangkirnya, meski ekspresinya tetap tenang. Beberapa detik kemudian, pintu terbuka dan Vins muncul, kali ini ia tidak sendirian. Seorang pria tua berjalan masuk di belakangnya, rambutnya yang sudah memutih tersisir rapi ke belakang, menyisakan beberapa helai tipis di dekat pelipis. Wajahnya dipenuhi garis-garis usia, terutama di sekitar mata dan sudut bibir.

Dia mengenakan mantel panjang berwarna gelap dengan sulaman benang keemasan pada bagian kerah dan ujung lengan. Sebuah tongkat berkepala gagak berwarna perak berada di tangan kanannya, meski dari cara dia membawanya, benda tersebut tampaknya lebih berfungsi sebagai pelengkap daripada alat bantu berjalan.

"Yang Mulia Duke," sapa pria tua tersebut sambil sedikit menundukkan kepala.

Suara berat dan serak itu membuat Eve membeku.

'Suara ini...' Alis Eve perlahan berkerut. Dia pernah mendengarnya.

Ingatan mengenai lorong mansion beberapa waktu lalu muncul kembali dengan cukup jelas. Saat tersesat dan berusaha mencari tahu mengenai Lucien, Eve pernah berhenti di balik pintu dan mendengar percakapan antara Lucien dengan seorang bangsawan tua. Suara yang sama terdengar ketika pria tersebut membicarakan Kekaisaran dan bahkan menyatakan kesediaannya mendukung Lucien apabila Duke Valois memutuskan memberontak.

'Jadi orangnya.' Jantung Eve berdetak sedikit lebih cepat.

Tatapannya diam-diam mengikuti pria tua tersebut ketika dia berjalan mendekati meja kerja Lucien.

"Marquess Guzman." Tegur Lucien.

Nama tersebut langsung muncul di kepalanya dari potongan ingatan yang dia miliki mengenai keluarga bangsawan dalam novel. Di dalam novel The Rose and Crown, marquess Guzman merupakan pengikut setia Duke Valois. Eve tidak pernah menyangka akan bertemu dengannya secepat ini. Terlebih setelah mengetahui pria tersebut terlibat dalam pembicaraan politik yang cukup serius.

Marquess Guzman awalnya sama sekali tidak memperhatikan Eve. Seluruh perhatiannya tertuju kepada Lucien. Namun setelah beberapa langkah, tatapan pria tua tersebut akhirnya bergeser ke sofa dan berhenti tepat pada Eve.

Pria itu tersenyum tipis ke arah anak kecil yang duduk di sofa.

"Rupanya ada putri kecil di sini," ujar Guzman sambil mengamati Eve dari kepala sampai kaki. "Apakah dia putri angkat yang belakangan ini sering dibicarakan?"

Eve mempertahankan wajah polosnya. Namun dalam hati, alisnya sudah terangkat tinggi.

'Putri angkat katanya?.'

Cara pria tersebut mengucapkan dua kata tersebut terdengar terlalu jelas. Seolah-olah dia sengaja memberi penekanan pada status Eve, bukan sekadar menanyakan identitasnya. Eve belum menjawab ketika Guzman melanjutkan dengan nada yang terdengar sopan, tetapi justru semakin membuatnya tidak nyaman.

"Menarik. Saya kira keluarga Valois akan lebih memilih darah bangsawan untuk melanjutkan nama keluarga. Rupanya Yang Mulia memiliki selera yang berbeda." Senyum tipis muncul di wajah tuanya. "Mungkin darah bangsawan memang tidak selalu diperlukan ketika seseorang hanya membutuhkan seorang anak untuk mengisi tempat kosong di rumah."

Eve berkedip, kalimatnya terdengar halus.Tidak ada satu pun kata yang secara terang-terangan menyebut rakyat jelata.

Namun Eve yang bukan anak kecil sungguhan.

'Jadi maksudnya gue cuma bocah dari kalangan rakyat biasa yang kebetulan dipungut Lucien.'

Dia hampir mendengus.

'Apasih, SKSD banget ni orang tua.'

Eve mengusap ujung roknya, lalu memasang senyum kecil yang menurutnya cukup polos. Disisi lain, Vins yang berdiri tidak jauh dari pintu langsung menundukkan wajahnya.

Sementara Lucien hanya menatap Eve selama beberapa detik. Tatapannya kemudian berpindah kepada Guzman. Dari ekspresi pria tersebut, jelas dia memahami maksud perkataan Marquess tadi. Namun Lucien tidak membantah maupun membela Eve. Dia hanya mengambil cangkir teh dan meletakkannya kembali di atas meja dengan gerakan tenang.

"Kenapa kau datang?" tanyanya datar.

Senyum Guzman kembali muncul.

"Saya datang membawa kabar yang mungkin lebih penting daripada pembicaraan mengenai putri kecil Anda, Yang Mulia."

Eve yang masih duduk di sofa langsung memasang telinga.

Guzman berjalan mendekati meja. "Saya mendengar sebuah rumor dari beberapa bangsawan yang baru kembali dari ibu kota. Kabarnya, Kaisar sedang mempertimbangkan untuk menempatkan pasukan tambahan di wilayah perbatasan Valois."

Gerakan tangan Lucien berhenti.

Ruangan yang sebelumnya terasa santai mendadak berubah. Lucien meletakkan cangkirnya perlahan, kemudian menatap Guzman dengan sorot mata yang jauh lebih tajam.

"Pasukan Kekaisaran?" tanyanya memastikan.

Guzman mengangguk. "Begitulah kabar yang saya dengar."

Tangan Lucien tiba-tiba menghantam permukaan meja.

Brak!

Suara keras tersebut membuat Eve tersentak. Cangkir teh di atas meja bergeser dan sebagian isinya tumpah. Piring camilan ikut terguncang hingga beberapa potong kue jatuh ke permukaan meja dan lantai.

'Kue..gue... ' Eve menatap lurus ke arah kue yang jatuh itu.

Lucien berdiri dengan rahang mengeras.

"Berani sekali dia," gumamnya rendah.

Guzman tidak terlihat terkejut. Dia hanya melirik meja yang berantakan, kemudian tatapannya bergerak perlahan kepada Eve.

"Yang Mulia," katanya tenang, "sebaiknya Anda mengendalikan emosi. Ada anak kecil di ruangan ini."

Tatapan Guzman kembali jatuh kepada Eve. Cara matanya berhenti pada Eve sudah cukup jelas, seolah-olah keberadaan seorang anak kecil membuat pembicaraan mereka menjadi terganggu.

Eve mengerucutkan bibir.

'Jadi maksudnya gue pengganggu gitu?'

Lucien akhirnya mengikuti arah pandangan Guzman. Matanya jatuh kepada Eve yang kini duduk diam di sofa.

"Aveline."

Eve langsung menatapnya.

"Kembalilah ke kamarmu."

Eve menggeleng.

"Tapi acu macih mawu cama Papa," protesnya dengan suara kecil.

Lucien menatapnya tajam.

Beberapa detik mereka saling diam, Eve sebenarnya ingin bertahan. Bagaimanapun, percakapan mengenai pasukan Kekaisaran jelas jauh lebih menarik daripada kembali ke kamar dan membaca buku anak-anak bersama Cecil. Namun tatapan Lucien membuatnya sadar bahwa pria tersebut tidak sedang bercanda.

Dia juga sudah mendapat cukup banyak informasi.

Kalau terus memaksa tinggal, kemungkinan besar Lucien justru akan semakin curiga.

Eve mengembuskan napas kecil.

"Ya udah." gumamnya dengan wajah sedikit murung. Eve turun dari sofa lalu berjalan mendekat dengan langkah kecil. Sebelum keluar, dia sempat menoleh kepada Lucien.

"Papa nanti ketemu Ape yagi?" tanyanya dengan wajah penuh harap.

Lucien menatapnya sejenak sebelum menjawab singkat, "Nanti."

Eve mengangguk kecil.

"Otey."

Vins sudah membuka pintu untuk Eve, tetapi Eve belum sempat mendekatinya ketika tubuh kecilnya melewati sisi Marquess Guzman.

Langkah Eve tiba-tiba melambat, hidungnya menangkap aroma yang sangat samar, aroma tersebut cukup familiar bagi seseorang yang pernah bertahun-tahun bekerja di kamar mayat.

Eve mengernyit.

'Hm?'

Dia menoleh sedikit ke arah Guzman. Pria tua tersebut masih berdiri di dekat Lucien, seolah tidak menyadari perubahan kecil pada ekspresi Eve.

Eve menarik napas pendek lagi. Aroma lembap, samar, dengan sedikit kesan manis yang tidak menyenangkan.

'Bau mayat?'

Kening Eve berkerut. Dia tidak bisa memastikan hanya dari aroma. Lingkungan, pakaian, bahan tertentu, bahkan ruangan yang baru saja dimasuki seseorang bisa menghasilkan bau yang mirip. Dia juga tidak mungkin langsung menuduh seorang Marquess hanya karena hidungnya menangkap sesuatu yang mencurigakan.

Namun Eve tetap menatap Guzman beberapa detik lebih lama.

'Kenapa dia punya bau kayak begitu?'

Vins akhirnya memanggilnya pelan dari pintu.

"Nona Aveline?"

Eve tersadar. Dia segera mengalihkan pandangan dan kembali memasang wajah polos.

"Yuk."

Dia berjalan mengikuti Vins meninggalkan ruang kerja Lucien.

1
Nisa Nisa
wadau lucu kali ngomong nya siapa jadi capa🤣
Nisa Nisa
belum tentu bunuh diri juga kan bisa jdi dia di bunbun🤭
Myz Pena
eve dan ape atau epe ?? 🤣🤣🤣
Myz Pena
wkwkkwkwk tunggu thor aku ngakak ya Allah 🤣🤣🤣
Myz Pena
banyak banget makanannya.. emang bia dihabisin ??🤧
Myz Pena
ya Tuhan,, bukannya kemarin di bilang mirip cacing.. sekarang pendek lagi 🤣🤣
ginevra
jangan2 kamu yang dicari Mel... wah auto kaya raya
Myz Pena
sudah dibilang kamu cari alasan aja biar nggak makan sama tuh orang 🤧
ginevra
Amelia nggak bakalan takut soalnya jiwanya kan orang dewasa
ginevra
namanya makanan bayi ya hambar donk... kalau pakai Masako nanti tenggorokan sakit
Cimol krispy
tapi Ave dan eve beda tipis aja kok
Cimol krispy
tapi apa eve bisa makan itu semua
Cimol krispy
ya jelas ada dia lah eve, orang memang dia yg bawa kamu kesini
Cimol krispy
mau bilang eve kurus kan lo
Cimol krispy
ya iyalah mau dimandiin. kan baru 4 th
Cimol krispy
kamu harus bisa jadi pawang buat Lucien
🩷 ⃟🌴⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🥑⃟YAYA℘ℯ𝓃𝓪
hoo iya nama jangan di ganggu gugatt, mantapp Evelyn 🤣
Xlyzy
mungkin ceritanya udah melenceng semenjak kehadiran kamu
Xlyzy
ya enakan kamu lah berubah jadi anak kicik lagi bisa manja manja lagi weh🤣
Xlyzy
Sabar ya tunggu 10 tahun lagi nanti balas dendam 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!