Celine butuh 200 juta untuk operasi ibunya. Dengan sisa harga diri, ia datang untuk memohon pada kekasihnya, Jason. Namun yang ia temukan justru Jason sedang meniduri wanita lain di atas meja kerjanya.
Saat dunia Celine runtuh, Damian Salvatore datang. Raja mafia yang satu tatapannya bisa membuat orang lumpuh ketakutan.
"Jadilah milikku. Teman ranjangku. Dan aku akan memberikan ibumu dokter terbaik." ~ Damian.
Celine mengira itu neraka. Padahal itu baru awal. Karena bagi Damian Salvatore, apa yang sudah ia klaim, tidak akan pernah ia lepaskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 29 : Satu janji di tengah hujan.
Hujan turun tanpa ampun, deras dan dingin, membasahi aspal pelabuhan yang sudah retak dan berkarat. Gudang pelabuhan timur berdiri gelap dan sunyi, seakan bangkai raksasa yang sudah lama mati. Hanya beberapa lampu jalan tua yang mati-nyala, cahayanya pucat dan bergoyang, memantulkan genangan air hitam di permukaan aspal yang retak.
Di dalam mobil hitam berlapis anti peluru, Damian duduk tenang di kursi belakang. Jas hitamnya sudah dilepas dan tergeletak di kursi sebelah. Kemeja hitamnya rapi, namun di bawahnya terselip rompi anti peluru yang pas di badan. Di pangkuannya, satu pistol tergeletak tenang, di tangan kanannya, earpiece terselip di telinga, tersambung langsung ke seluruh tim yang sudah bersiaga di luar sana.
"Laporan." Suaranya terdengar serak, berat, tanda kurang tidur, tanda beban di pundaknya terlalu berat untuk satu malam saja.
"Semua tim sudah di posisi, Don. Atap, kontainer, saluran air. Sesuai instruksi. Tidak ada yang terlihat oleh mata telanjang." sahut Luca.
"Penembak jitu siap." Suara lain terdengar singkat dan tegas di seberang sana.
Damian menatap layar ponsel di sampingnya, lalu melirik jam tangan di pergelangan tangan kirinya. 02.58.
Tangannya mengepal pelan. Pesan terakhir dari Celine masih terbuka di layar, belum ia hapus, belum ia balas lagi.
[Jangan mati. Pulang. Kau sudah janji.]
"Celine?" tanyanya singkat, memastikan satu-satunya kelemahannya benar-benar aman.
"Sudah di mansion, Don. Empat pengawal berjaga di dalam. Semua kamera CCTV aktif dan terpantau." jawab Luca tegas.
"Bagus." Damian menghela napas panjang yang terasa sedikit lebih lega. Satu-satunya kelemahannya aman. Dan selama dia tahu itu, dia bisa berpikir jernih, bisa bertindak tegas tanpa ragu.
02.59
Suara langkah kaki terdengar pelan namun jelas di atas aspal basah. Satu orang. Sendiri. Tanpa suara langkah lain yang menyertainya.
Dari kegelapan di ujung gudang, Romano muncul perlahan. Jas mahalnya basah kuyup, menempel di bahunya yang lebar, namun ia seakan tidak merasakan dinginnya hujan. Kedua tangannya terangkat sedikit ke samping, kosong, seakan menunjukkan tidak ada senjata tersembunyi.
"Kau benar-benar datang sendiri, Damian?" suaranya terdengar jelas, menggema di ruang gudang yang luas dan kosong itu. "Aku terkesan. Sungguh."
Damian membuka pintu mobil dan melangkah keluar. Hujan langsung menghantam wajahnya, membasahi rambut hitamnya hingga menempel di dahi, menetes ke kemeja hitamnya. Kedua tangannya terlihat kosong, tidak ada senjata di tangan. Sesuai aturan yang ditetapkan Romano.
"Lepaskan anak itu." Kalimatnya singkat, tegas, tanpa basa-basi.
Romano tertawa pelan, suara tawanya terdengar dingin dan penuh penghinaan di tengah guyuran hujan.
"Langsung pada intinya ya. Aku suka gaya kerjamu."
Ia bertepuk tangan dua kali — pelan, namun terdengar nyaring di keheningan malam itu.
Dari dalam bayang-bayang gudang, dua anak buah Romano menyeret keluar sesosok kecil. Seorang anak laki-laki, mungkin berusia tujuh tahun. Matanya tertutup rapat dengan lakban lebar, mulutnya juga disumpal, hanya terdengar suara isakan tertahan. Seragam sekolahnya kini kotor, penuh noda lumpur dan debu, seakan ia sudah diseret ke mana-mana.
"Martin punya anak yang manis, bukan?" kata Romano lembut, jarinya mengelus pipi anak itu dengan gerakan yang terlihat penuh kasih sayang namun terasa mencekam dan palsu. "Sayang sekali kalau harus mati hanya karena kesalahan bodoh bapaknya."
Otot rahang Damian mengeras, urat di lehernya menonjol samar. Ia menelan ludah yang terasa pahit.
"Apa maumu?" tanyanya rendah, menahan amarah yang siap meledak sewaktu-waktu.
"Sederhana saja." Romano berhenti tepat beberapa langkah di depannya, menatap Damian dari atas ke bawah dengan tatapan merendahkan. "Wilayah pelabuhan utara serahkan tiga puluh persen kepadaku. Dan... kau sendiri."
Ia berhenti sejenak, menikmati keheningan itu sebelum melanjutkan dengan nada menantang.
"Berlutut. Di depan semua orangku. Akui kau kalah. Minta maaf. Lalu mungkin... mungkin saja aku berbaik hati melepaskan nyawa anak ini."
Hening menyelimuti tempat itu seketika. Hanya terdengar suara hujan yang menghantam atap gudang dan genangan air di lantai. Hujan yang seakan ikut menahan napas menanti jawaban.
Sementara itu, di ruang pengawasan mansion yang hangat dan tertutup rapat, Celine duduk di depan empat layar monitor CCTV yang menampilkan berbagai sudut gudang pelabuhan timur. Tangannya mencengkeram bingkai meja hingga buku jarinya memutih, kuku menancap ke permukaan kayu yang keras. Matanya tak berkedip menatap sosok Damian yang terlihat kecil di layar, terhuyung hujan di tengah kegelapan itu.
"Damian..." bisiknya pelan, air mata akhirnya jatuh membasahi pipinya yang pucat. "Jangan lakukan itu... tolong jangan..."
Di gudang, di tengah guyuran hujan yang dingin itu, Damian perlahan menekuk satu lututnya. Lalu yang lain. Ia berlutut di atas aspal basah yang dingin dan kotor.
Semua anak buah Romano yang tersembunyi di balik tiang dan kontainer, serta seluruh tim Luca yang bersembunyi di posisi masing-masing, menahan napas serentak. Tidak ada yang menyangka Don Salvatore yang begitu bangga dan dingin ini benar-benar mau menunduk.
"Bagus," puji Romano, melangkah mendekat dengan senyum kepuasan yang tak bisa lagi ia sembunyikan. "Lebih rendah lagi. Sampai dahimu menyentuh tanah yang kotor ini. Seperti posisi sebenarnya yang pantas kau dapatkan."
Damian menundukkan kepalanya. Rambutnya yang basah menutupi sebagian wajah, membuat ekspresinya tak terbaca oleh siapa pun.
"Dua..." Romano mulai menghitung mundur, sambil perlahan mengangkat kakinya, seakan hendak menginjak kepala Damian.
Dan saat itulah, saat ujung sepatu kulit Romano hampir menyentuh rambut hitam Damian, perintah itu keluar. Pelan, rendah, namun terdengar jelas di telinga setiap orang yang memakai earpiece.
"SEKARANG!"
Semuanya bergerak dalam hitungan detik yang tak terhitung.
Lampu-lampu besar di dalam gudang yang tadinya mati seketika menyala terang benderang, menyilaukan mata siapa pun yang berada di bawahnya. Cahaya putih yang menyakitkan, membuat semua orang yang tidak siap refleks menutup mata.
DOR! DOR! DOR!
Tembakan terdengar beruntun, cepat dan terarah. Penembak jitu dari atap gudang melumpuhkan dua anak buah Romano yang berdiri menjaga anak itu dalam waktu kurang dari dua detik, tepat di lengan dan kaki, bukan membunuh, melainkan membuat mereka tak berdaya seketika.
Romano tersentak mundur selangkah, matanya menyipit menahan silau sekaligus kemarahan. "KAU—!"
Belum sempat ia menyelesaikan kata-katanya, Damian sudah berdiri tegak kembali. Dalam satu gerakan cepat dan terlatih, ia merebut pistol dari pinggang salah satu anak buah Romano yang baru saja jatuh terkapar karena tembakan penembak jitu.
BRAK!
Popor pistol itu menghantam pelipis Romano dengan keras. Pria itu terhuyung ke belakang, hampir jatuh, namun berhasil menahan keseimbangannya sambil menatap Damian dengan pandangan yang penuh kemarahan dan takjub bercampur jadi satu.
"Aku bilang aku datang sendiri," bisik Damian tepat di telinganya, suara rendah yang dingin dan mematikan. Darah menetes dari sudut bibirnya karena benturan saat berlutut, "Aku tidak bilang pasukanku tidak ikut mengawasi dari jauh."
Ia melangkah mundur sedikit, menodongkan laras pistol itu tepat ke kepala Romano. Tangan kanannya tetap stabil, tidak gemetar sedikit pun.
"Anaknya. Sekarang. Lepaskan. Atau kau yang akan jadi tumbal di sini."
Romano tertawa getir, darah segar mulai mengalir dari sisi pelipisnya yang terbentur popor senjata. "Kau kira ini kemenangan, Damian? Ini baru permulaan. Permainan ini belum selesai..."
Damian tidak menjawab ancaman itu. Ia memberi isyarat kepada anak buahnya yang maju ke depan.
"Penjarakan dia. Di sel yang sama sebelah Martin. Biarkan mereka bicara satu sama lain selama sisa hidup mereka."
Lalu ia menoleh sejenak ke arah kamera kecil yang tersembunyi di tiang sudut gudang, ia tahu ada orang lain yang sedang menonton dari seberang sana, mungkin bos sebenarnya yang menyuruh Romano melakukan semua ini.
"Sampaikan kepada bosmu," ucapnya tegas, menatap lurus ke lensa kamera itu seakan bisa menatap mata orang yang menontonnya. "Jangan pernah sentuh orang yang ada di bawah perlindunganku lagi. Siapa pun dia. Harga nyawanya akan terlalu mahal untuk kau bayar."
-
-
-
Bersambung...