"Tolong hentikan, tolong!" teriak Zena.
Saat ini gadis dalam ketakutan itu hanya pasrah, tidak bisa berbuat apa-apa, pria yang sudah pasti dipengaruhi alkohol itu melecehkannya dengan menyobek pakaian Zena.
Tidak ada satupun yang menolong gadis malang itu.
"Tolong jangan lakukan itu!"
"Tolong..."
"Tolong...."
Zena menghindar dengan memukul-mukul dada pria tersebut.
"Aaaaaaaaaa!" Zena seketika berteriak menahan rasa sakit disaat tubuhnya digagahi tanpa ampunan.
Zena pada akhirnya pasrah dengan air matanya menetes, dengan penuh hawa nafsu pria di atas tubuhnya terus mencari kenikmatan.
Zena tampak setengah sadar dengan mata yang terbuka, namun pasrah, sosok pria di atas tubuhnya benar-benar tidak terlihat dan hanya kalung yang tampak bergoyang dan perlahan mata Zena tertutup.
Siapakah sosok pria misterius tersebut dan apakah Zena mampu menjalani kehidupannya setelah kejadian kelam?
Jangan lupa untuk membaca dari bab 1 sampai akhir
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20 Sama-sama Di Tempat Itu
Flashback.
Matahari yang tampak terik di dalam gedung yang sudah terbengkalai, sinarnya begitu cerah dari atasannya yang tampak memancar tepat di wajah Zena yang saat ini tertidur.
Situasi di dalam gedung itu masih sama seperti tadi malam, hanya saja di sekitarnya jauh lebih berantakan, pakaian yang dikenakan sudah tidak layak untuk dipakai, tampak sobekan, dengan posisi Zena yang berbaring dengan tangan direnggangkan tampak pasrah.
Perlahan matanya terbuka, tangisnya seketika pecah mengingat apa yang terjadi tadi malam.
Hiks-hiks-hiks-hiks.
Zena tidak menyangka bahwa dirinya benar-benar dihancurkan oleh pria yang tidak ia kenal, entah siapa pria itu, wajahnya tidak dapat dikenali, pria itu tanpa ampunan menggagahi tubuhnya, suara teriakannya bahkan tidak didengarkan.
Dan di saat dia bangun tidak ada siapa-siapa di tempat itu, tidak ada orang yang telah memperkosanya. Zena berusaha untuk kuat dengan mencoba untuk duduk, tetapi terasa begitu sakit di area selangkanya.
Zena berusaha untuk kuat dengan mengambil hijabnya dan kemudian berdiri, berkali-kali dia harus kembali jatuh, tetapi semangatnya tidak runtuh yang membuatnya berdiri tegak meninggalkan tempat tersebut dengan berjalan sempoyongan.
Noda darah yang tertinggal di lantai kotor itu sebagai tanda bahwa kehormatan dan kesuciannya telah direnggut oleh orang yang tidak dikenal.
Flashback off.
Zena membuka mata dengan cepat, nafasnya memburu tidak terkendali, keringat dingin membasahi wajahnya. Karena berusaha untuk mengingat masa lalu membuat Zena harus kembali terluka dan mentalnya harus berperang dengan rasa trauma.
Zena kemudian duduk, menyibak rambutnya ke belakang yang terurai panjang, Zena masih berusaha mengatur nafas yang naik turun.
"Zena kamu pasti bisa melewati semua ini, kamu sudah mengalah selama beberapa tahun, dan sekarang kamu tidak boleh kalah, kamu harus menemukan orang itu, dia harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi kepada kamu saat ini, dia harus mendapatkan hukuman yang setimpal," ucap Zena dengan air mata yang jatuh.
Tenggorokannya terasa begitu kering membuat Zena ke dapur untuk mengambil air putih, di saat menghidupkan lampu dan ternyata Samudra juga ada di dapur, Samudra sembari meneguk air putih melihat ke arah Zena.
Zena mengalihkan pandangannya, tidak menegur suaminya dan mengambil apa yang dia butuhkan.
Keduanya sama-sama diam dengan pekerjaan masing-masing. Zena mengambil air putih dan meneguknya.
Setelah tenggorokannya sudah tampak reda kembali membuat Zena meninggalkan dapur tanpa berbicara sepatah kata pun dengan suaminya.
Samudra menghela nafas dan juga akhirnya meninggalkan dapur, hal seperti ini sering terjadi dalam pernikahan mereka, sekarang sudah tidak tinggal satu kamar dan masa libur Samudra masih sangat panjang.
*****
Zena memutuskan untuk bangkit, harus mencari tahu siapa orang yang telah memperkosanya dan menghancurkan hidupnya.
Zena memberanikan diri untuk datang kembali ke gedung tersebut, dengan turun dari taksi.
Zena mengumpulkan beribu keberanian, berusaha untuk tenang, dan melangkahkan kakinya dengan menghilangkan rasa traumanya untuk kembali ke tempat yang telah menghancurkan hidupnya.
Zena melangkah perlahan, memasuki gedung itu, sudah pasti setiap langkahnya teringat dengan hal-hal yang terjadi, teringat bagaimana hujan deras membawanya berlari ke tempat yang menurutnya aman.
Ternyata justru tempat itu tidak aman, saat memasuki pintu yang sempat dia tutup, zena juga mengingat bagaimana orang yang tidak dikenal itu menendang pintu tersebut sehingga kembali terbuka.
Zena ternyata kurang mampu, ketika membalikkan tubuhnya dan seolah-olah melihat sosok orang yang tidak dikenal berjalan ke arahnya membuat Zena tiba-tiba saja takut, refleks Zena mempercepat langkahnya dengan berlari kecil, sembari kepalanya terus menoleh kearah belakang.
Brukk
"Aaaaaa!"
Alhasil Zena bertabrakan dengan seseorang yang membuatnya kaget, berteriak dengan menatap matanya.
"Zena!" suara itu sangat dia kenali membuat Zena dalam ketakutan membuka matanya dan ternyata pria yang memegang kedua bahunya itu tak lain adalah Samudra.
"Kak....." lirih Zena tidak menyangka bertemu dengan Samudra di tempat seperti itu dan begitu juga dengan Samudra.
Zena masih mengendalikan nafasnya naik turun, kembali menoleh ke belakang yang memang sejak tadi tidak ada siapa-siapa, hanya halusinasinya yang terlalu berlebihan karena trauma yang dialami.
"Kamu ngapain di sini?" tanya Samudra.
"Hmmm, aku_ aku_ aku_ memeriksa tempat produksi dari produk ku dan Anggi," jawabnya sedikit gugup.
"Kakak sendiri kenapa bisa ada di sini?" tanya Zena jika kebingungan melihat keberadaan Samudra yang sudah pasti tidak memiliki kepentingan apapun.
Samudra tampak gelisah yang tidak bisa menjawab apapun.
"Kakak kenapa berada di sini?" tanya Zena lagi yang membutuhkan jawaban yang pasti.
"Oh, itu tadi kebetulan hanya lewat dan saya mengingat kemarin kamu histeris di tempat ini, Papa menyuruh untuk melihat apakah ada orang yang tidak baik di tempat ini," jawab Samudra.
"Memang Kakak dukun?" tanya Zena.
"Tanya saja pada Papa kenapa menyuruh saya untuk melihat aura di tempat ini baik atau tidak," jawab Zena.
"Ohhh, ya sudah Zena ingin melihat-lihat tempatnya lagi," ucap Zena.
Samudra mengganggukan kepala, Zena menghela nafas, merasa aman karena ada orang di dalam tempat itu, tetapi sebenarnya justru itu menghalangi dirinya untuk mencari tahu siapa orang yang telah memperkosanya, kejadian itu sudah begitu lama, sudah 5 tahun yang lalu saat dirinya masih menduduki bangku SMA.
Tetapi Zena yakin jika benar-benar memiliki niat dan sudah pasti akan menemukan orang tersebut. Zena hanya berusaha semampunya.
Zena tidak menemukan apapun di gedung tua itu karena memang tidak ada petunjuk apapun dan apalagi Samudra juga berada di sana yang sudah pasti tidak bisa membuat Zena leluasa untuk mencari sesuatu.
Zena akhirnya memutuskan untuk meninggalkan gedung itu dan Samudra juga sebelumnya sudah pergi.
Zena terlihat berjalan dengan tidak semangat di pinggir trotoar.
"Sebelum gedung tua itu dibongkar, aku harus menemukan sesuatu, mimpi buruk yang menghampiriku adalah pertanda bahwa aku akan menemukan hal yang besar di dalam gedung itu. Aku harus percaya pada diriku, jika semua akan baik-baik saja dan aku akan menemukan orang jahat itu," batin Zena berusaha untuk meyakinkan dirinya.
Tin-tin-tin -tin-tin.
Tiba-tiba terdengar suara klakson mobil yang membuat Zena menoleh ke belakang.
"Mobil kak Samudra," ucapnya mengenali mobil suaminya dan membuat kaca mobil itu terbuka.
"Masuk!" tita Samudra yang benar-benar pemilik mobil tersebut.
Zena menghela nafas dan ternyata bukan memasuki mobil dan malah melanjutkan langkahnya sendiri menolak permintaan Samudra, membuat Samudra mengerutkan dahi.
"Dia menolak ku?"
"Apa maksudnya?" tanya Samudra kesal.
Samudra kemudian membuka sabuk pengamannya dan langsung keluar dari mobil tersebut.
"Zena!" Zena mengabaikan panggilan suaminya.
Samudra kemudian langsung berjalan menghampiri Zena dan langsung memegang pergelangan tangan Zena.
"Kamu mengabaikan saya?" tanya Samudra.
"Apaan sih kak, lepas!" Zena berusaha melepaskan tangannya dari Samudra.
"Apa-apaan kamu? mengabaikan saya seperti ini hah!" ucap Samudra.
"Kenapa jadi marah bukankah selama ini Kakak juga mengabaikan saya, tidak peduli kepada saya dan sekarang kenapa harus marah-marah?" tanyanya.
"Saya mau pergi dan jangan pernah ganggu saya!" tegas Zena kemudian langsung berlalu dari hadapan Samudra.
"Hah!" Samudra geleng-geleng kepala merasa tersinggung dengan sikap istrinya yang blak-blakan kepadanya.
Zena sudah pasti muak dan lebih baik meninggalkan tempat tersebut.
Bersambung....
cepet terungkaplah kasusnya..
klo bener samudra ayahnya..jangan biarkan dia mengetahuinya..biar menyesal seumur hidupnya..