Seorang Hakim Ketua yang menjunjung tinggi keadilan harus memilih antara hukum, ayahnya, dan cinta kelamnya pada seorang buronan nomor satu yang pernah menghancurkan masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yrp putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gema yang Tidak Pernah Mati
Dua tahun telah berlalu sejak badai salju di Pegunungan Alpen meruntuhkan neraka operasi Baskara, dan Selandia Baru telah menjadi surga yang sempurna. Hidup sebagai keluarga Wiraya di tepi Danau Wakatipu adalah segalanya yang pernah Aluna impikan: damai, terpencil, dan penuh cinta. Palu hakim telah Aluna tinggalkan, digantikan oleh aroma lavender dan tawa lepas di tanah bebas. Arjuna, Sang Algojo, kini telah mengubur bayang-bayang masa lalunya, menghabiskan waktunya untuk memahat kayu dan membangun masa depan mereka di bawah sinar matahari.
Mereka telah mengikrarkan janji untuk melupakan semua rute logistik, semua pelabuhan, dan semua warisan sindikat. Hanya ada mereka berdua,pai apel, dan surga yang mereka bangun bersama.
Namun, kedamaian itu hanyalah ilusi berumur pendek.
Sesuai dengan kutukan dunia gelap yang tidak pernah benar-benar mati, 'echoes Masa Lalu' tidak bisa selamanya diabaikan. Malam itu, di teras rumah kayu modern mereka, Aluna berbaring mesra di dada Arjuna, menatap Danau Wakatipu yang damai. Arjuna memeluk istrinya erat, menghirup aroma lavender di rambutnya. Tapi Aluna terlalu diam, perhatiannya tidak tertuju pada pemandangan malam yang indah, melainkan pada sebuah perangkat genggam kecil di tangannya—sebuah tablet transparan yang memancarkan cahaya redup.
Arjuna, yang merasa Aluna terlalu tegang, menundukkan kepalanya, wajahnya sangat dekat dengan wajah istrinya.
"Na," bisik Arjuna lembut, menangkup pipi Aluna. "Kita sudah berjanji, tidak ada lagi logistik, tidak ada lagi rute pelabuhan. Hanya ada pai apel dan kebun bunga."
"Aku tahu, Juna," jawab Aluna, suaranya sedikit parau, matanya tidak berkedip menatap layar tablet. "Tapi sistem ini... ini warisan ayahmu."
Aluna mengoperasikan antarmuka layar sentuh, menampilkan serangkaian kode AI terenkripsi yang berkedip merah. Di tengah kekacauan kode itu, dua kata muncul dengan jelas, menusuk jantung mereka:
'Baskara Hunt'
Arjuna terdiam, napasnya seolah terhenti. Ia melepaskan pelukan longgar di pinggang Aluna, lalu meraih tablet itu dari tangan istrinya, matanya melebar dalam horor.
"Bagaimana mungkin..." gumam Arjuna, suaranya sedingin es. "Sistem itu... itu algoritme otomatis yang ayahku siapkan untuk pemerintah sebagai tawaran outsourcing layanan elit. Dia berjanji sistem itu mati jika aku mati. Ayahku mati, Baskara mati, sistem ini seharusnya mati."
"Itu tidak mati, Juna. Itu sedang 'aktif' kembali," Aluna duduk tegak, memutar tubuhnya untuk menatap Arjuna, wajahnya diterangi oleh cahaya tablet. "Dua hari yang lalu, sistem warisan ini dipicu. Seseorang... sebuah faksi bayangan di intelijen, mungkin 'The Watchers' yang pernah kita dengar... sedang mencoba menghidupkan kembali perburuan Baskara. Mereka menggunakan AI lama ayahmu untuk mencari 'sidik jari digital' taktik, transaksi, dan pola operasi Baskara."
"Mereka mencari hantu," desis Arjuna, mengepalkan tangannya.
"Dan 'pemerintah' ini akan terus mencari sampai mereka menemukannya, atau sampai kita mematikannya selamanya," Aluna meraih tangan Arjuna yang gemetar. "Cinta tidak membuat kita lemah, Juna. Tapi cinta memberiku alasan untuk memastikan hantu-hantu ini tidak akan pernah menyentuh tanah bebas kita lagi."
Aluna menarik tablet itu kembali. "Kita akan mematikan hantu ini bersama-sama. Tidak ada lagi Baskara, tidak ada lagi Aluna Hakim. Hanya ada Wiraya, Ratu Es dan Algojo yang damai."
Arjuna menatap Aluna, sorot matanya yang kelam kini kembali memancarkan tekad absolut yang Aluna rindukan. Ia menarik Aluna kembali ke dalam pelukannya, mencium keningnya dengan penuh pemujaan. Utopia mereka tidak lagi damai secara otomatis, tapi malam itu, di bawah cahaya bulan, mereka mengikrarkan janji baru: untuk melindungi surga mereka dari gema masa lalu, selamanya.