Kenalkan, namaku Arkan Jaya. Aku bekerja sebagai supir di salah satu rumah orang kaya yang ada di daerahku.
Kebetulan, putri dari orang kaya tempat saya bekerja adalah orang yang sering saya hukum di sekolah dulu karena suka membuat onar.
Awalnya aku ragu untuk bekerja di rumah anak ini. Namun, karena aku terlahir miskin, mau tidak mau, suka tidak suka, aku harus menerimanya.
Orang tuanya bernama Pak Frans Sanjaya dan Bu Sofia.
Pria itu adalah Pak Frans Sanjaya. Di sampingnya, pintu mobil lain terbuka dan muncul sosok wanita anggun yang tak lain adalah Bu Sofia, ibunya. Hari itu adalah kali pertama aku melihat langsung kedua orang tua Clara secara jarak dekat. Aku yang saat itu hanya seorang Ketua OSIS dari keluarga biasa, tentu tidak pernah membayangkan bahwa bertahun-tahun kemudian, Pak Frans Sanjaya dan Bu Sofia-lah yang akan membayar gajiku sebagai supir pribadi putri manja mereka ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Keceplosan Tante Fani dan Senyum Tipis Sang Pengawal
Pagi harinya, suasana di meja makan kediaman megah keluarga Sanjaya terasa sangat hangat. Aroma kopi hitam segar dan roti panggang mentega memenuhi udara. Di sela-sela sarapan pagi, Fania mengutarakan niatnya kepada sang kakak, Pak Frans, serta Ibu Sofia untuk mengantarkan Clara pergi ke sekolah.
"Papi, Mami... Hari ini biar Fani aja ya yang mengantar Clara berangkat ke sekolah?" izin Fania seraya menyeruput teh hangatnya. "Fani sekalian mau jalan-jalan pagi melihat suasana kota."
Ibu Sofia tersenyum manis seraya mengangguk setuju. "Boleh banget, Fani. Mami malah senang kalau kamu mau menemani Clara."
Pak Frans pun memberikan anggukan setuju. Meskipun Fania yang mengantar, standar keamanan tetap diutamakan. Pak Jhon tetap ikut bertugas sebagai pengawal pribadi khusus Clara, sedangkan Egi bersiap sebagai pengawal pribadi Fania yang mengemudikan sedan hitam tersebut.
Setelah menyelesaikan sarapan, mereka semua bergerak menuju area depan. Clara, Fania, Pak Jhon, dan Egi masuk ke dalam mobil, meluncur membelah kesejukan jalanan pagi menuju SMA Tiara Nusa.
Suasana di depan gerbang SMA Tiara Nusa pagi itu cukup ramai oleh hilir mudik para siswa. Aku berdiri tegap di sudut gerbang dengan pakaian seragam OSIS yang rapi, menjalankan tugas pemantauan rutin.
Sebuah mobil sedan hitam mewah yang sangat familiar berhenti mulus tepat di depan gerbang. Pintu belakang terbuka, dan Clara melangkah keluar disusul oleh seorang wanita muda berparas sangat cantik dan anggun—Tante Fania. Ini adalah kali pertama dalam hidupku melihat dan bertemu langsung dengan Ibu Fania, adik kandung dari Pak Frans Sanjaya sekaligus ipar dari Ibu Sofia.
Aku menundukkan kepala sedikit dengan sopan untuk memberi salam. Namun, baru saja aku hendak menyapa, Tante Fania yang melihat wajahku langsung menoleh ke arah Clara dengan ekspresi berbinar dan ucapan yang sangat ceplas-ceplos tanpa disaring!
"Oh... Jadi ini Ketua OSIS yang ganteng itu, yang kamu ceritakan dan kamu puji-puji kemarin malam, Sayang?!" seru Tante Fania dengan suara renyah yang cukup nyaring.
BARRR!
Seketika itu juga, atmosfer di depan gerbang sekolah seolah membeku! Beberapa siswa dan anggota OSIS yang berada di sekitar area gerbang langsung menghentikan langkah dan memutar kepala mereka, menatap lurus ke arahku dengan pandangan terkejut bercampur godaan!
Pipi dan telingaku mendadak terasa panas bukan main. Rasa malu luar biasa menyengat dadaku secara instan! Namun, rasa maluku ternyata tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kepanikan dahsyat yang menyerang Clara Adelin.
Wajah cantik Clara seketika memerah padam hingga ke leher!
Matanya memelotot kaget setengah mati mendengar pembongkaran rahasia secara terang-terangan dari tantenya sendiri di depan umum!
"Ihh... Tante Fania!" jerit Clara melengking dengan nada panik luar biasa seraya menghentakkan kakinya ke tanah.
"Siapa juga yang bilang si Ketos jahat ini ganteng?! Enggak pernah ya! Ihh... amit-amit jabang bayi!"
Jeritan pembelaan diri dari Clara yang sangat heboh itu justru membuat suasana makin canggung.
Sementara itu, di dalam kabin mobil sedan, Egi yang duduk di kursi kemudi mengamati seluruh pemandangan menggelikan itu dari balik kaca. Melihat raut wajahku yang salah tingkah berat serta kepanikan Clara yang luar biasa, bibir Egi yang biasanya selalu terkatup datar dan dingin mendadak mengukir senyuman tipis yang sangat geli.
Fania yang hendak masuk kembali ke dalam mobil secara tak sengaja menangkap garis senyum di wajah pengawalnya lewat kaca spion.
"Egi... Kenapa kamu senyum-senyum begitu?" tegur Fania dengan alis terangkat.
Egi dengan cepat menarik kembali ekspresi wajahnya menjadi datar dan profesional. "Maaf, Bu Fania," balas Egi cepat dan sigap.
Setelah Clara berjalan masuk melewati gerbang didampingi oleh Pak Jhon yang mengawal dari jarak aman, mobil sedan hitam itu kembali melaju meninggalkan area sekolah, melanjutkan perjalanan Fania dan Egi.
Di area lorong sekolah yang menuju ke arah kelas, suasana antara aku dan Clara terasa sangat panas dan dipenuhi tegangan tinggi. Clara berjalan menghentak-hentakkan kakinya tepat di sampingku, memasang raut wajah super judes yang sangat menggebu-gebu.
"Heh, Ketos jahat! Gak usah Ge-Er ya kamu!" semprot Clara tiba-tiba dengan nada suara yang sangat judes, namun entah mengapa wajah meronanya justru membuat paras cantiknya makin bertambah berkali-kali lipat. "Apa yang Tante Fani bilang tadi itu bohong besar! Gak mungkin lah aku memuji orang jahat dan menyebalkan kayak kamu itu ganteng! Jangan mimpi!"
Jujur saja, di dalam lubuk hatiku yang paling dalam, kata-kata penolakan kasar dan celaan tajam dari Clara bahwasanya aku "orang jahat" cukup menyengat dan membuat perasaan hatiku terasa agak sakit. Namun, gengsiku sebagai Ketua OSIS dan laki-laki tentu saja tidak boleh runtuh di depannya.
Aku menyilangkan tangan di dada, membalas tatapannya dengan raut wajah dingin dan nada bicara yang tajam serta cepat.
"Siapa juga yang Ge-Er?" balasku menohok. "Lagian lu pikir gua mau dan sudi dibilang ganteng sama gadis manja dan bodoh kayak lu? Enggak usah ke-PD-an!"
Deg!
Kalimat pungkasku yang menyebutnya "gadis manja dan bodoh" rupanya menghantam perasaan Clara dengan sangat telak. Aku bisa melihat dengan sangat jelas bagaimana raut wajah Clara yang tadinya garang mendadak berubah.
Matanya yang indah mulai berkaca-kaca menahan genangan air mata yang siap menetes, bibirnya bergetar menahan rasa sakit hati dan amarah yang membuncah.
Melihat ekspresinya yang tampak seperti akan menangis dalam hitungan detik, rasa tidak tega mendadak menyenggol dadaku.
Aku sadar situasi ini bisa makin kacau jika diteruskan. Tanpa membuang waktu untuk memperpanjang perdebatan konyol ini, aku memilih untuk segera memutar badan dan melangkah pergi dengan cepat meninggalkan tempat itu.
Dari balik punggungku yang makin menjauh, aku masih bisa mendengar samar-samar suara tangisan tertahan dan caci maki kekesalan Clara yang mengumpat sebut namaku. Namun, aku memilih untuk terus melangkah cepat menghindar menuju kelas 12, sebab lima menit lagi lonceng nyaring tanda masuk pelajaran pertama akan segera berbunyi.
Tinggalkan komentar kamu ya gan