"Bayu Prasetyo kehilangan segalanya dalam satu hari.
Dipecat dari kantor karena posisinya diberikan kepada anak bos. Diputus pertunangan karena ""belum mapan."" Dan keris pusaka titipan sahabatnya tertipu terjual Rp 2 juta — padahal nilainya miliaran.
Di titik terendah hidupnya, Bayu Prasetyo menerima Mata Dewa dari kakek misterius — mata yang menembus batu, membaca nilai, dan membongkar kepalsuan. Dari judi batu ke meja lelang, dari pemuda miskin Pacitan ke puncak daftar orang terkaya — sampai ia menatap musuh terakhirnya: sindikat pemalsu pusaka yang dilindungi nama paling dihormati di Indonesia."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fajar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7
Bab 7: Lukisan Raden Saleh dan Keris Kaki Lima
Pagi berikutnya, sebuah pesan dari Intan masuk ke ponsel Bayu.
Audit gerai dimulai. Polisi sudah memeriksa pelat motor. Datang makan siang. Eyang ingin tahu siapa yang menolak cek satu miliar.
Bayu membaca bagian terakhir dua kali.
Ia membalas bahwa dirinya belum siap bertemu kepala keluarga Wibowo dengan kaus pudar. Intan menjawab singkat: Eyang sedang ke luar kota. Yang mengundang saya.
Rumah keluarga Wibowo di Citraland memiliki halaman luas, dinding batu berwarna terang, mobil mahal di garasi, dan lampu gantung besar. Langkah Bayu baru berhenti ketika melihat lukisan di atas meja konsol.
Adegan perburuan memenuhi kanvas: seekor rusa berlari di antara semak gelap, dua penunggang kuda muncul dari kabut, dan langit merah kecokelatan menekan seluruh pemandangan. Bingkainya bagus, tetapi posisinya membuat karya itu tampak seperti dekorasi mahal biasa.
Cahaya emas menyelubunginya.
Lebih pekat daripada cahaya dari giok high-ice.
"Mas Bayu?"
Intan berdiri di ujung tangga. Melati ada di belakangnya, masih dengan tatapan yang seolah ingin membongkar setiap jawaban Bayu.
"Maaf," kata Bayu. "Saya melihat lukisannya."
"Itu sudah ada sejak Ibu masih kecil," ujar Intan. "Dibeli Eyang dari rumah keluarga lama di Semarang. Kenapa?"
Bayu mendekat tanpa menyentuh kanvas. Ia memusatkan pandangan hanya beberapa detik. Lapisan cat terbuka di matanya. Di bawah kaki kuda terdapat sketsa awal dengan posisi berbeda. Seniman telah mengubah garis bahu rusa, menutup satu batang pohon, lalu membangun kembali cahaya langit dengan beberapa lapis pigmen.
Retak halus di permukaan mengikuti usia lapisan cat dan tidak membentuk pola buatan yang seragam. Serat kanvas rapat tetapi tidak sepresisi kain mesin modern. Bekas pemasangan ulang pada paku menunjukkan bahwa bingkainya pernah diganti.
Semalam, meski lelah, Bayu membaca katalog digital karya-karya Raden Saleh. Setiap halaman tersimpan utuh dalam ingatannya. Ia mengingat bentuk huruf R, tarikan akhir pada nama Saleh, kebiasaan mengubah komposisi perburuan, dan jenis warna tanah yang sering muncul pada karya studinya.
"Ada kemungkinan ini karya Raden Saleh," katanya.
Melati hampir menjatuhkan cangkir. "Kemarin batu. Sekarang Raden Saleh?"
Intan tidak tertawa. "Seberapa yakin?"
"Cukup yakin untuk meminta lukisan ini diturunkan dari dinding, tapi belum cukup untuk membuat sertifikat."
"Alasannya?"
Bayu menunjukkan bagian-bagian yang bisa dilihat tanpa Mata Dewa: arah retak, jahitan tepi kanvas, perubahan kecil pada komposisi yang tampak di bawah cahaya miring, dan karakter tanda tangan.
"Pelukisnya membuat revisi saat bekerja. Salinan biasanya hanya meniru hasil akhir, sementara lukisan ini menyimpan perubahan di bawah lapisan. Tapi pigmen dan kanvas tetap harus diuji. Riwayat kepemilikannya juga perlu ditelusuri."
Melati menyilangkan tangan. "Kamu ini sebenarnya siapa? Tukang batu tiba-tiba jadi ahli seni?"
"Orang yang membaca terlalu banyak semalam."
"Satu malam tidak membuat orang bicara seperti kurator."
"Karena itu saya bilang perlu ahli lain."
Intan sudah menghubungi seseorang. Ia menyalakan pengeras suara.
"Pak Wiryo, saya mau minta pendapat. Ada pemuda yang melihat lukisan lama Eyang dan menduga ini Raden Saleh."
Suara tua di seberang terdengar waspada. "Atas dasar apa?"
Intan menyerahkan telepon kepada Bayu.
Bayu menjelaskan struktur kanvas, craquelure yang mengikuti lapisan, sketsa bawah yang bergeser, susunan pigmen, serta tarikan tanda tangan. Ia sengaja tidak menyebut apa pun yang tak bisa diperiksa ulang.
Beberapa detik tidak ada jawaban.
"Itu deskripsi tingkat kurator," kata Pak Wiryo akhirnya. "Siapa anak ini?"
"Bayu Prasetyo, Pak."
"Jangan bersihkan lukisannya. Jangan lepas dari spanram sendiri. Tiga hari lagi bawa ke tempat saya, atau saya datang dengan peralatan."
Setelah telepon ditutup, Melati memandang Bayu dengan curiga yang kini bercampur kagum.
Intan membuka lemari arsip di ruang kerja kecil. Ia menemukan foto lama saat lukisan itu pertama dipasang, kuitansi pembelian rumah beserta daftar isi, dan surat pendek dari keluarga pemilik sebelumnya. Tidak ada nama pelukis, tetapi tahun perpindahan barang tercatat jelas.
"Ini membantu provenance," kata Bayu. "Simpan dokumen asli dalam map bebas asam. Pindai salinannya, lalu catat siapa saja yang memegangnya."
"Kamu yakin sekali orang akan berebut," ujar Melati.
"Saya justru ingin mencegah orang berebut sebelum bukti lengkap. Jangan unggah lukisan ini. Kalau kabar bocor, akan muncul ahli dadakan, pembeli murah, dan cerita kepemilikan palsu."
Intan menyerahkan semua dokumen kepada staf arsip rumah dan memerintahkan agar lukisan tidak dipindahkan tanpa dirinya. Bayu menjelaskan nilainya sambil tetap menjaga prosedur, sehingga dugaan itu terasa jauh lebih serius.
"Aku belum percaya," katanya.
"Tidak apa-apa. Catnya tidak berubah karena kamu percaya atau tidak."
Intan menahan senyum. "Mas Bayu belum makan, tapi sudah mulai menyebalkan."
Mereka makan siang singkat. Sesudahnya, Bayu meminta diantar ke Pasar Antik Surabaya untuk mencari buku dan membandingkan beberapa benda. Intan ikut. Melati ikut karena, menurut pengakuannya sendiri, ia tidak mau Intan membeli barang lain dari pria misterius tanpa pengawasan.
Lorong pasar jauh berbeda dari rumah Wibowo. Kipas tua berputar lambat. Radio dangdut bersaing dengan suara pedagang. Jam dinding, kamera analog, keramik retak, dan bilah-bilah keris berjajar tanpa urutan.
Di sebuah lapak kaki lima, cahaya emas kembali menyentak pandangan Bayu.
Sebuah keris tua tergeletak di antara pembuka surat dan pisau hias. Warangkanya tergores, gagangnya pernah diganti, dan bilahnya tertutup minyak gelap.
"Berapa yang ini?" tanya Bayu.
Penjual mengangkat bahu. "Lima ratus ribu. Buat pajangan. Kalau Mas turis, saya kasih sarung kain."
Melati berbisik, "Jangan bilang ini juga harta nasional."
Bayu meminta izin membuka bilah. Di bawah minyak, pola pamor tidak berhenti pada permukaan. Lapisan logamnya menyatu dalam lipatan tidak seragam, ciri tempa berulang. Garis hasil asam pada bilah modern tidak akan menembus sedalam itu. Bentuk gandik, lekuk, dan peralihan baja mengingatkannya pada ilustrasi keris Majapahit akhir dalam katalog yang dibaca semalam.
Ia membayar Rp500 ribu dan meminta kuitansi sederhana.
Penjual itu tersenyum kepada lapak sebelah saat menerima uang. "Dapat wisatawan lagi."
Di ujung lorong, Intan menyentuh lengan Bayu. "Sekarang jelaskan."
"Pamor-nya terbentuk dari lapisan tempa. Etsa hanya meninggalkan pola permukaan. Proporsi bilah dan gandiknya sesuai tradisi Majapahit akhir. Warangkanya sudah diganti, jadi orang menganggapnya suvenir."
"Nilainya?" tanya Melati.
"Kalau dugaan empu dan periodenya benar, lebih dari sepuluh miliar. Tapi saya tidak akan menyebut angka pasti sebelum Pak Wiryo memeriksa."
Melati menatap kembali ke lapak, lalu ke keris di tangan Bayu. "Lima ratus ribu jadi sepuluh miliar?"
"Baru dugaan."
Namun Bayu tahu cahaya emas itu tidak berbohong.
Ia menggenggam bilah bersarung tersebut dengan hati-hati. Teknik tempa, bentuk gandik, dan susunan pamornya berasal dari zaman yang sama dengan Keris milik Rizal—bahkan mungkin dari lingkungan empu yang berdekatan.
Pak Karto telah membawa pusaka sahabatnya masuk ke sebuah jaringan.
Keris seharga lima ratus ribu ini mungkin menunjukkan jalan untuk mengambilnya kembali.