NovelToon NovelToon
"OTORITAS TANPA BATAS: SAGA EMPAT DEWA MULTIVERSE"

"OTORITAS TANPA BATAS: SAGA EMPAT DEWA MULTIVERSE"

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi
Popularitas:246
Nilai: 5
Nama Author: Mara Nata

Asap kelabu dari sisa pembakaran minyak mesin siber menyelinap masuk melalui celah pilar obsidian Aula Gerhana, berputar-putar menciptakan bayangan kaku di atas lantai batu yang dingin. Di luar menara istana, langit Planet Akuma sedang memuntahkan badai hujan merkuri cair yang paling pekat sepanjang satu abad sejarah klan Shinto. Ketukan logam mendidih yang menghantam atap baja terdengar konstan, menciptakan simfoni bising yang meredam detak kehidupan normal. Dengan gaya tarik bumi yang bekerja seratus kali lipat lebih ekstrem, atmosfer di dalam bilik bersalin itu terasa begitu menjepit raga, memaksa setiap hela napas yang keluar dari tenggorokan terasa berat dan membakar sistem pernapasan seutuhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mara Nata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Membuat Musuh Saling Hantam

Udara di sekeliling lempengan Altar Baja Utama seketika berubah kaku. Bau belerang dan karat besi mengapung pekat, memotong pasokan napas siapa pun yang berdiri di dekat arena. Badai merkuri di luar kompleks Perguruan Batu Hitam menderu semakin liar, memutar kabut abu-abu menjadi pusaran angin yang menyesakkan dada. Di atas lantai baja raksasa seberat ratusan ribu ton ini, tidak ada lagi ruang untuk basa-basi politik. Tiga remaja yang berdiri di sana sudah saling mengunci pandangan, siap menumpahkan darah.

Tanpa aba-aba, Ren melesat lebih dulu. Kuda-kuda sepatunya yang dilapisi zirah ungu berderit kencang waktu mesin generator di punggungnya dihentak ke titik maksimal. Sentakan mesin itu melontarkan tubuh kekar Ren maju ke depan secepat kilat, meninggalkan jalur cahaya berwarna ungu yang membakar udara kosong.

BZZZZZZT!

Pedang ungu di tangan Ren mengayun mendatar, menebas lurus ke arah tenggorokan Ryuken dengan kecepatan yang sadis. Gelombang energi ungu setebal satu meter memotong ruangan, cukup kuat untuk meremukkan baja padat dalam sekejap. Angin tebasan itu begitu besar sampai-sampai sisa baju hitam Ryuken yang sudah compang-camping robek berhamburan ke udara, memicu kepulan debu batu yang beterbangan acak.

Di saat bersamaan, Valen Vorash bergerak menutup jalur pelarian Ryuken di sudut kanan arena. Sebagai saingan yang bernafsu merebut Sayuri, dia tidak mau memberi ampun. Kaki zirah raksasanya menghantam lantai altar sampai batu hitam di bawahnya amblas sedalam sepuluh sentimeter. Valen menarik tuas senjatanya, memuntahkan rentetan badai cahaya merah dari balik moncong senjata mesinnya dengan tawa yang penuh rasa meremehkan.

"Mampus kau, Cacing Kotor!" raung Valen Vorash di tengah bisingnya deru mesin. "Anak cacat tidak layak mengotori nama baik Kuil Tinggi di depan kami semua!"

Di tribun atas, Tetua Kaelen dan selir tiri Renka serentak berdiri dari kursi mereka dengan senyum licik yang puas. Mereka sangat yakin, gabungan tebasan pedang cahaya Ren dan gempuran meriam milik Valen akan langsung menghancurkan tubuh Ryuken dari tanah Akuma untuk selamanya. Di mata para penguasa yang sudah buta oleh teknologi luar angkasa itu, kekuatan mesin modern adalah segalanya. Tradisi pedang murni masa lalu sudah mereka anggap kuno dan tidak berguna.

Namun, sebuah kejadian gila yang berada di luar hitungan radar komputer Kekaisaran Vorash meletus tepat di depan mata mereka. Ryuken tidak mengangkat katana berkaratnya untuk menangkis. Dia bahkan tidak bergerak satu milimeter pun, membiarkan tubuh kurusnya diam membeku sampai ujung pedang ungu Ren dan senjata cahaya Valen berada tepat satu jari di depan permukaan kulit lehernya yang melepuh.

Tepat pada detik yang menegangkan itu, jantung aneh di dalam dada Ryuken mendadak berhenti berdetak total. Detak yang hilang itu memancarkan hawa dingin tak terlihat yang meretas waktu di sekeliling tubuhnya. Seketika itu juga, warna di seluruh Altar Baja memudar dengan cepat, berubah dari kegelapan pekat menjadi dunia hitam dan putih yang kaku. Seluruh dunia dipaksa membeku tanpa ada gerakan sedikit pun di udara bebas.

Tebasan energi Ren membeku di udara; semburan cahaya merah Valen terhenti kaku bagai patung kristal. Dalam dunia yang sunyi dan membeku ini, Ryuken menggerakkan tumit kaki kirinya, memutar tubuh kurusnya setengah langkah ke arah belakang lantai batu. Ia bergerak murni mengandalkan kekuatan memori otot tubuhnya yang sudah ditempa bertahun-tahun di dalam gudang kayu lapuk. Gerakannya mengalir sangat halus dan senyap, bagai hantu yang meloloskan diri dari jala maut tanpa membutuhkan baju zirah pelindung sedikit pun.

DUB!

Jantung Ryuken kembali berdegup gila-gilaan, memutus pembekuan waktu secara mendadak. Warna-warna asli semesta kembali dalam sekejap mata. Momentum kecepatan murni dari dorongan dua mesin raksasa musuh yang kehilangan sasarannya langsung pecah berantakan tidak terkendali.

BOOOOOOOOOOM!

Gelombang tebasan ungu Ren dan hantaman senjata mesin Valen Vorash yang melesat kosong akhirnya saling bertubrukan telak satu sama lain. Ledakan balik yang luar biasa hebat meletus, melelehkan batu hitam altar hingga amblas membentuk kawah kehancuran sedalam puluhan meter. Hantaman kuat itu melontarkan tubuh raksasa Ren dan Valen mundur paksa sejauh sepuluh langkah melintasi lantai batu yang licin.

Sistem mesin zirah mereka berderit parau, mengeluarkan kepulan asap hitam yang berbau hangus menyengat hidung. Ren dan Valen Vorash terengah-engah dengan wajah pucat pasi menahan rasa terkejut dan malu yang luar biasa mendalam di depan semua orang. Lampu peringatan di bagian dada baju besi mereka berkedip merah, rusak total karena gagal membaca gerakan fisik Ryuken yang secara tidak masuk akal melompati hukum alam perguruan.

Di dalam kawah batuan yang mendidih ditiup angin badai, Ryuken sudah berdiri tegak kembali di sudut lain arena. Tangan kanannya tetap mencengkeram erat gagang katana tua berkaratnya dengan ketenangan murni yang setenang kematian. Tidak ada setitik pun rasa takut di wajah pucat nya

.Sayuri menyaksikan gerakan gila itu dari balik pakaian gaun sutra putih mewahnya di tribun Kuil Tinggi. Jantungnya berdetak kencang di luar kendali, dan air mata frustrasinya kian deras membasahi pipinya yang putih bersih. Seluruh dinding keangkuhan dan kesombongan sedingin es yang biasa ia pamerkan mendadak runtuh menjadi rasa gelisah yang luar biasa membingungkan.

Tangisan itu murni meletus karena rasa takut yang mendalam terhadap runtuhnya seluruh gengsi kasta bangsawannya. Dia menyaksikan sendiri bagaimana pria kurus yang kemarin sore ia siram dengan air kehinaan dan ia ejek sebagai cacing tanah tak berguna, kini sedang mengatur jalannya pertempuran, mempermainkan kehebatan teknologi dua ksatria terkuat Sektor Delapan murni menggunakan ketajaman otot tubuhnya yang jujur. Perjodohan paksa yang dijatuhkan oleh ayahnya kini telah resmi menjadi belenggu takdir yang mengunci seluruh perhatian jiwanya masuk ke dalam pertempuran paling menegangkan ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!