NovelToon NovelToon
Istriku Dan Rahasia Kelahirannya

Istriku Dan Rahasia Kelahirannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Crazy Rich/Konglomerat / Kutukan
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Arni Arlinawati

Arien Riena Ridwanto menyembunyikan identitas sejatinya Kaisar Arbella J. Milea Inesh, penguasa Vinesha. Ratusan tahun ia hidup terpisah dari enam saudaranya, terus bereinkarnasi menggunakan segel sihir Mata Elang — menjadi bayangan mereka karena rasa bersalah masa lalu.

Di kehidupan ke-17 ini, ia hanya wanita biasa, istri dan ibu yang mencintai keluarga kecilnya. Namun ancaman terhadap Alan dan Arumie memaksanya membuka rahasia yang akan mengguncang dunia!

"Akulah asal mula semua yang telah terjadi. Akulah sang Pengendali...! sang Segel Elang…! Kaisar Suci Vinesha...! Kaisar Arbella!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arni Arlinawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Malam semakin larut. Dila dan Arumie pulang dengan wajah lelah setelah seharian bermain dan jalan-jalan sore. Dila pun pamit untuk tidur lebih awal.

Teh... Neng bobo ti payun nya, tunduh! Pangku si Dedena ka kamar, bobona jeung Neng we...!

"Kak... Dila tidur duluan ya, ngantuk! Gendong Dedenya dong ke kamar, bobonya sama Dila aja...!" ucap Dila sambil menguap.

Nya sok, hayu...!

"Ya sudah, ayo...!" jawab Arien.

Arien menggendong anaknya yang sudah terlelap lebih dulu menuju kamar tidur. Dila mengekor di belakang sambil mendekap erat semua boneka dan mainan Arumie. Barang-barang itu harus selalu ada di atas kasur, karena Arumie pasti akan menangis histeris jika barang kesayangannya tidak tidur di sampingnya. Tidak butuh waktu lama, kedua orang itu sudah tertidur lelap sambil berpelukan.

Tinggallah Arien seorang diri yang masih terjaga di ruang tengah. Ia sengaja menunggu suaminya pulang karena ingin mendengar penjelasan langsung dari mulut pria itu.

Waktu terus bergulir hingga jarum jam menunjukkan pukul 23.00 WIB. Suasana malam yang sunyi tiba-tiba dipecahkan oleh suara dari arah pintu depan.

Ceklek...

Krieeet...

Brak!

Arien yang mendengar suara itu tersentak. Matanya membulat, kepalanya langsung menoleh ke arah pintu. Ia segera melangkah cepat menghampiri sumber suara. Alan sudah pulang.

Aba...!

"Ayah...!" panggil Arien pelan namun menuntut.

Alan terkejut mendengarkan suara familier yang menyambutnya. Ia sama sekali tidak menyangka istrinya masih terjaga pada jam selarut ini.

Sayang...? Teu acan bobo wayah kieu...!

"Sayang...? Belum tidur jam segini...!" tanya Alan, mencoba mencairkan suasana.

Arien yang sudah berdiri tegak di hadapannya hanya menatap lurus ke dalam manik mata sang suami. Ia sama sekali tidak berniat menjawab pertanyaan basa-basi itu. Napasnya dihela panjang, mengumpulkan seluruh kekesalan yang dipendamnya sejak pulang kerja tadi, lalu langsung menyambar ke inti masalah.

Jelaskeun...! Kunaon saminggu ieu Aba teu lebet damel?!

"Jelasin...! Kenapa seminggu ini Ayah enggak masuk kerja?!"

Aba kamana?! Uih wae wengi!!!

"Ayah kemana?! Pulang malam terus!!!"

Sok, Ba… jelaskeun!

"Ayo, Yah… jelasin!" tuntut Arien dengan suara bergetar, menatap lurus ke manik mata suaminya.

Alan tersentak. Langkah kakinya terhenti seketika di ambang pintu. Jantungnya berdegup agak kencang—bukan karena bersalah, melainkan karena kaget luar biasa mendapati sambutan dingin sang istri di tengah malam. Dahinya mengernyit heran, bingung dari mana Arien bisa mendapatkan informasi keliru seperti itu.

Sakedap, Neng… hiji-hiji atuh naros teh. Terang timana Neng Aa teu lebet damel tos saminggu?!

"Sebentar, Yang… satu-satu dong nanyanya. Tahu dari mana Neng kalau Ayah tidak masuk kerja sudah seminggu?!" Alan berusaha menenangkan suasana, meski rasa lelahnya kian terasa berat.

Alan menghela napas panjang, melirik sekilas ke arah dalam rumah yang sepi.

Aa teh uih damel ieu teh. Calik heula atuh, yu… ma enya nyarios di dieu,

"Ayah ini baru pulang kerja. Duduk dulu yuk… masa bicaranya di pintu begini?" ajaknya halus sambil memberi isyarat agar mereka berbicara di ruang tengah yang lebih santai.

Alan segera menyadari akar masalahnya. Arien pasti mendapatkan kabar itu dari tempat kerjanya. Mereka memang sama-sama mengais rezeki di lingkungan pasar kelontong grosir yang besar. Bedanya, Arien bekerja di area depan toko melayani pembeli, sedangkan Alan bekerja sebagai buruh yang mengurus pengangkutan barang.

Seminggu yang lalu, si Koko—pemilik grosir—meminta bantuan Alan secara mendesak untuk diperbantukan di gudang penyimpanan baru. Jaraknya sekitar sepuluh menit dari toko utama. Masalahnya, si Koko tampaknya lupa memberi tahu istrinya sendiri, si Cici, yang sehari-hari mengawasi toko depan tempat Arien mencari informasi.

Sambil melangkah ke ruang tengah, Alan berbalik dan menatap istrinya dengan pandangan meyakinkan.

Sok… ayeuna kumaha, Neng ambek ka Aa? Pedah Aa dialihkeun damelna ka gudang?

"Ayo… sekarang bagaimana, Sayang masih marah sama Ayah? Karena Ayah dipindahkan kerjanya ke gudang?" tanya Alan lembut.

Hilapeun panginten si Koko na teu ngawartosan si Cici!

"Lupa, kiranya si Koko tidak memberi tahu si Cici!" lanjut Alan membela diri.

Dipiwarang ku si Koko Aa mah! Teu kamana-mana ieuh, Neng…!

"Disuruh si Koko kok! Tidak ke mana-mana, Sayang…!" Alan meyakinkan sekali lagi agar prasangka buruk istrinya luruh.

Meski penjelasan Alan terdengar masuk akal, sisa-sisa kecurigaan masih menggelayuti benak Arien. Dadanya naik-turun menahan emosi yang sedari tadi bergejolak. Dengan raut wajah yang masih sedingin es, dia menatap suaminya lekat-lekat, berusaha mencari kebohongan di mata pria itu.

Namun, yang ia temukan hanyalah ketulusan yang sudah bertahun-tahun ia kenal. Tidak ada keraguan, tidak ada kecemasan yang disembunyikan—hanya kelelahan yang tulus dan kesabaran yang tak pernah pudar. Perlahan, ketegangan di bahu Arien luruh. Pikirannya yang semula dipenuhi dugaan-dugaan buruk perlahan tergantikan rasa bersalah yang menyesakkan dada.

Dia sadar. Dia terlalu cepat menyimpulkan. Terlalu mudah menaruh curiga pada pria yang selama ini selalu pulang, yang tak pernah sekalipun memberi alasan untuk diragukan.

Suasana hening sejenak. Hanya suara napas mereka yang terdengar di ruangan itu.

Arien membuang muka, menatap lantai yang dingin, lalu kembali menatap wajah suaminya yang terlihat lelah namun tetap lembut menantinya. Amarahnya lenyap, berganti rasa haru yang menyesak di tenggorokan.

Hampura… Neng nu lepat, teu naros heula, teu milarian terang heula memehna…

"Maaf… aku yang salah, tidak bertanya dulu, tidak mencari tahu kebenarannya lebih dulu…" ucapnya pelan, suaranya bergetar tertahan rasa bersalah.

Arien melangkah mendekat, lalu meraih tangan kasar milik suaminya—tangan yang penuh bekas luka kecil dan kapalan, bukti kerja keras membelai keluarganya. Hangat merambat dari telapak tangan itu ke seluruh tubuhnya, seketika meluruhkan sisa-sisa ketegangan yang masih tersisa.

Neng nu teu percanten ka Aba… padahal salami ieu Aba teu nyimpen rusiah nanaon ka abi,

"Aku yang tidak percaya padamu… padahal selama ini kamu tidak menyimpan rahasia apa pun dariku." lanjutnya dengan suara yang makin lirih, matanya mulai berkaca-kaca.

Alan tertegun sejenak, lalu senyum tipis merekah di bibirnya. Dia mengusap lembut punggung tangan istrinya, lalu menarik Arien ke dalam pelukan hangat dan menenangkan.

Hampura Aba oge, Neng… kedahna ngawartosan ti payun. Ulah sedih, nya?

"Maaf aku juga, Sayang… seharusnya memberi tahu dari tadi. Jangan sedih, ya?" bisik Alan lembut di telinga istrinya.

Arien memeluk erat pinggang suaminya, menyandarkan pipi di dada bidang yang selama ini menjadi tempat ternyaman baginya. Detak jantung Alan yang teratur terdengar jelas di telinganya, menenangkan badai emosi yang sempat mengamuk di dalam dirinya.

Tos lami ngantosan di dieu, nya? Katingal capé pisan rarayna,

"Sudah lama menunggu di sini, ya? Terlihat sangat lelah wajahnya." ucap Arien pelan, tangannya terangkat menyisir rambut hitam suaminya yang sedikit berantakan.

Teu nanaon. Anu penting ayeuna tos terang, teu aya deui nu di sumput sumput,

"Tidak apa-apa. Yang penting sekarang sudah jelas, tidak ada lagi yang perlu dicurigai." jawab Alan lembut sambil mengecup kening istrinya.

Malam itu, keheningan kembali menyelimuti rumah—namun kali ini bukan keheningan yang penuh ketegangan, melainkan kehangatan yang pulih kembali. Di antara pelukan itu, Arien menyadari: kepercayaan bukan berarti tidak pernah ragu, melainkan berani bertanya dengan jujur dan berani memaafkan dengan tulus.

Hayu… mam heula, teras istirahat. Neng tadi nyimpen mam kanggo Aa,

"Ayo… makan dulu, lalu istirahat. Aku sudah menyimpan makanan untukmu." ajak Arien melepaskan pelukan, namun tangannya tetap menggenggam tangan suaminya erat, seakan takut kehilangan.

Alan tersenyum, senyum yang selalu mampu meluruhkan segala beban di hati Arien.

Mereka pun berjalan beriringan menuju dapur, langkah yang sempat renggang kini kembali sejajar—saling mengingatkan bahwa di dalam rumah tangga, kejujuran dan kesabaran adalah rumah tempat hati pulang.

^^^Bersambung...^^^

1
Yue xin🥀(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)
/Whimper/ andai kedamaian ini bisa dirasakan setiap anak dalam keluarga mereka pasti kehidupannya bahagia tanpa depresi yang menyelimuti /Grimace/
Yue xin🥀(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)
aaw ayahnya sayang banget yah ama anak nya jadi iri nih
Alia Chans
perkara cincin nya gak siap siap🤣🤣🤣
꧁𝓘𝓷𝓭𝓪𝓱𝓡𝓪𝓶𝓪𝓭𝓱𝓪𝓷𝓲꧂
Waduh, jadi lapar. Mana udah jam malam begini🤭
naws
masalahnya, kayaknya eren gak siap kalo harus bertaruh nyawa /Facepalm/
⋆˚𝜗𝜚˚⋆Blue_Sea⋆˚𝜗𝜚˚⋆
duh gawat
naws
lah? kok si arien bisa gak sadar udah ngebuang cincinnya ke sampah?
naws
semoga suaminya ngerti.
liat gekagatnya arien yg sefrustrasi itu cincin hilang aku jadi ikutan ngeri, takut suaminya galak 😭
naws: *gelagatnya
total 1 replies
Nalara amora
arumie selamat ko kan aku istri nya bara jadi aman bundaa🤭
Nalara amora: ga papa ka asal ganteng plus uangnya kaa😭😭🤭🤣
total 2 replies
Nalara amora
cepettt baraa😭😭
Nalara amora
bisalah aku jadi yg ke 8 😄🤭
Nalara amora
ahhh gimnaa kasihan bang real 🫠
Nalara amora
ikutt itu aku KA Caesarea tenang aja ma aku aman heheh😭😭🤭
Nalara amora: ahhh pasti itumah 🤭😭
total 2 replies
Nalara amora
ehh itu aku ngintil yaa, ikut ke bandung 😭🤭
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
keren ya. mereka orang yang sangat mensyukuri nikmat dari sang kuasa
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
kayaknya suami nya juga bisa merasakan aura itu ya
My_Lucia
oohh arien ini punya kelebihan ya
My_Lucia
emas lagi melambung tinggi emng 😂
tapi ini konteks nya benda sakral .. seharusnya mending di jadiin kalung atau simpen di rumah .. jadi repot kan kalau ilang begini ... beda cerita kalau emng cincinnya yang bisa teleportasi 🤭
My_Lucia
wajar sih, apalagi kalau itu benda penting ... tapi kalau penting mending taro aja di berangkas ga usah di pake.. kan aman 🤭
My_Lucia
saking gelapnya kali ya kekuatan dan auranya sampe orang lain mau napas aja susah ...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!