NovelToon NovelToon
Sang Konglomerat Berlutut di Hadapannya

Sang Konglomerat Berlutut di Hadapannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / CEO
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mutiara Putri

Enam bulan menjadi "burung kenari" konglomerat paling berkuasa di Jakarta, Keira Salim menyelesaikan misinya -- membalas dendam untuk kakaknya yang koma akibat perundungan -- lalu pergi tanpa jejak.
Rayhan Hartono terbangun di apartemen kosong. Cincin berlian merah yang dipesan khusus dari Jerman masih di sakunya. Surat perpisahan Keira hanya berisi satu kalimat: *"Terima kasih. Kita impas."*
Baru saat kehilangan, sang pewaris Hartono Group menyadari -- dia bukan yang menyelamatkan Keira malam itu. Keira-lah yang merancang segalanya sejak awal.
Dan sekarang, pria yang tidak pernah berlutut di hadapan siapa pun... bersedia merangkak ke ujung dunia demi membawanya pulang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 5

Bab 5: Sang Aktris Kembali

Arena berkuda privat itu jauh dari bising Jakarta, tetapi tetap membawa bau uang yang sama.

Padang rumput dipotong rapi. Kandang kuda bersih seperti galeri. Di sisi lounge terbuka, meja kayu panjang sudah dipenuhi buah, pastry kecil, dan minuman dingin. Beberapa orang dari lingkaran sosial Rayhan berdiri di sana, tersenyum terlalu lebar saat melihat Aston Martin masuk.

Keira turun dengan kemeja putih dan celana panjang krem. Rambutnya diikat rendah. Tahi lalat merah di ujung matanya tampak lebih terang di bawah matahari sore.

Rayhan turun di sisi lain, lalu langsung berjalan ke arahnya.

“Takut kuda?” tanyanya.

“Tidak.”

“Bagus.”

“Aku juga tidak bilang mau naik.”

Rayhan tertawa. “Kamu selalu menyisakan pintu keluar.”

“Kebiasaan sehat.”

Ia baru selesai bicara ketika suara perempuan terdengar dari arah lounge.

“Rayhan.”

Vanessa Tanujaya berdiri di bawah payung putih, anggun seolah seluruh arena berkuda itu disiapkan sebagai latar fotonya. Gaun linen warna hijau pucat membungkus tubuhnya dengan rapi. Rambutnya jatuh halus di bahu. Senyumnya tenang, percaya diri, dan sudah dilatih untuk kamera.

Jessica berdiri di belakangnya dengan kacamata hitam, tangan kanannya memakai perban tipis seperti ia yang menjadi korban kemarin malam.

Keira melihat Vanessa.

Seluruh suara di sekitarnya seperti turun satu tingkat.

Vanessa melangkah mendekat. “Aku baru dengar kamu sering datang ke tempat Rayhan, Keira.”

Kalimatnya terdengar sopan. Maknanya tidak.

Keira tersenyum tipis. “Aku juga baru dengar kamu sering dibicarakan orang.”

Senyum Vanessa tidak berubah. “Risiko pekerjaan.”

Rayhan mengambil sepiring anggur dan ceri dari meja, lalu berdiri di samping Keira, seolah Vanessa hanya angin yang lewat.

“Makan,” katanya pada Keira.

Keira menatap buah itu. “Aku bisa ambil sendiri.”

Rayhan sudah menyuapkan satu anggur ke bibirnya. “Aku juga bisa.”

Beberapa orang pura-pura tidak melihat. Jessica menahan senyum sinis. Vanessa hanya menurunkan pandangan sebentar, lalu kembali menatap Rayhan.

“Mama mengundangku makan siang besok di kediaman Hartono,” kata Vanessa lembut. “Katanya sudah lama kita tidak duduk bersama.”

Rayhan memilih ceri terbaik dari piring. “Kalau begitu makanlah dengan Mama.”

“Kamu juga diminta pulang.”

“Aku sibuk.”

Keira mengunyah pelan. Manis ceri pecah di lidah, tetapi tenggorokannya terasa dingin.

Vanessa memandang Keira, kali ini lebih lama. “Tentu. Belakangan ini kamu memang terlihat sangat sibuk.”

Rayhan akhirnya menatap Vanessa. “Kalau ada yang ingin kamu katakan, katakan langsung.”

“Aku hanya senang melihatmu baik-baik saja.”

“Aku selalu baik.”

“Tidak selalu.” Vanessa tersenyum kecil. “Tapi mungkin sekarang ada yang menjagamu.”

Rayhan meletakkan piring di tangan Keira, lalu melingkarkan satu lengan ke pinggangnya. “Bukan mungkin.”

Jessica mendecak pelan. Keira mendengarnya, tetapi tidak memberi reaksi.

Setelah itu, Rayhan benar-benar mengabaikan Vanessa.

Ia membawa Keira melihat kuda hitam yang paling jinak, menunjukkan cara memegang tali, lalu saat Keira menolak naik, ia tidak memaksa. Ia hanya berdiri terlalu dekat, menyuapinya anggur lagi, dan sesekali menunduk untuk menghapus remah pastry dari sudut bibirnya dengan ibu jari.

Di mata orang lain, itu adegan romantis.

Di mata Vanessa, itu penghinaan.

Malamnya, di apartemen Keira, ponsel Rayhan berdering.

Ia sedang membuka kotak makanan yang dikirim koki Estate ketika nama Mama muncul di layar. Keira duduk di sofa, membaca email kerja di tablet.

Rayhan menjawab. “Mama.”

Suara Lilian Hartono terdengar halus, jelas, dan penuh tekanan yang dibungkus kain sutra. “Rayhan, besok pulang makan siang.”

“Aku ada jadwal.”

“Mama sudah undang Vanessa. Engkong juga di rumah.”

Rayhan menatap Keira sekilas. Keira tidak mengangkat wajah.

“Mama bisa makan tanpa aku.”

“Rayhan.” Suara Lilian tetap lembut. “Jangan membuat Engkong menunggu.”

Rayhan diam.

“Besok jam dua belas,” lanjut Lilian. “Mama tidak meminta dua kali.”

Panggilan terputus.

Keira menggeser layar tabletnya. “Pergilah.”

“Kamu tidak tanya Vanessa datang untuk apa?”

“Kalau aku tanya, jawabannya berubah?”

Rayhan duduk di sampingnya. “Tidak.”

“Berarti tidak perlu.”

Ia berkata ringan, tetapi malam itu, setelah Rayhan pergi ke kamar mandi, Keira menerima telepon dari Tari.

“Ci, tim marketing tadi bahas nama Vanessa Tanujaya untuk brand ambassador lini baru. Katanya image dia bagus banget setelah film terakhir.”

Keira berhenti di depan jendela.

Di bawah sana, lampu kota berkedip seperti sinyal yang tak pernah selesai.

“Coret,” kata Keira.

“Langsung?”

“Langsung.”

“Alasannya?”

Keira menatap pantulan wajahnya sendiri di kaca. Untuk sesaat, ia melihat bukan apartemen Jakarta, melainkan koridor sekolah. Lantai putih. Seragam kusut. Vanessa berdiri di depan, Jessica tertawa di sampingnya, Brandon Oei memegang ponsel, dan seseorang mundur sampai punggungnya menyentuh pagar lantai enam.

Suara teriakan pecah.

Tubuh itu jatuh.

Keira mencengkeram tepi meja sampai buku jarinya memutih.

“Ci?” suara Tari terdengar cemas.

Keira menarik napas pelan. Satu. Dua.

“Vanessa tidak cocok dengan nilai HEALER,” katanya. “Tulis begitu.”

“Oke. Aku urus.”

Panggilan selesai.

Keira meletakkan ponsel. Di belakangnya, suara air kamar mandi berhenti. Saat Rayhan keluar, wajah Keira sudah kembali tenang.

Keesokan siangnya, Rayhan datang ke kediaman keluarga Hartono di Menteng.

Rumah besar itu berbeda dari Hartono Estate. Lebih tua, lebih sunyi, dengan halaman luas dan pohon besar yang akarnya seperti menyimpan rahasia beberapa generasi. Di ruang makan, Lilian duduk anggun di sisi meja. Engkong Hartono berada di kursi utama, tongkat kayunya bersandar di samping. Vanessa duduk tidak jauh dari Lilian, mengenakan blus putih dan rok gelap, sempurna seperti calon menantu dalam brosur keluarga kaya.

“Engkong,” sapa Rayhan.

Engkong mengangguk. “Duduk.”

Rayhan duduk tanpa melihat Vanessa.

Lilian menuangkan teh. “Kamu makin jarang pulang.”

“Pekerjaan banyak.”

“Atau perempuan itu menyita waktumu?”

Sendok kecil menyentuh cangkir. Suaranya halus, tetapi cukup membuat ruang makan hening.

Rayhan mengangkat mata. “Namanya Keira.”

Lilian tersenyum tipis. “Mama tahu namanya.”

“Kalau begitu pakai namanya.”

Vanessa menunduk seolah tidak nyaman, tetapi sudut bibirnya hampir tidak terlihat bergerak.

Engkong menatap Rayhan. “Perempuan yang dibicarakan orang itu serius?”

Rayhan menjawab tanpa jeda. “Serius.”

Lilian meletakkan cangkir. “Rayhan, perempuan yang dipelihara di apartemen dan menantu keluarga Hartono adalah dua hal berbeda.”

“Keira tidak materialistis,” kata Rayhan. “Rumah dia tolak. Mobil dia tolak. Kartu tambahan juga dia tolak.”

“Menolak bukan berarti pantas.”

“Dia mencintaiku.”

Lilian menatap anaknya. “Kamu yakin, atau kamu ingin yakin?”

Untuk pertama kalinya, Rayhan diam setengah detik.

Engkong melihat jeda itu. Vanessa juga.

Rayhan menyandarkan punggung ke kursi. “Aku yang akan menentukan siapa yang pantas berdiri di sampingku.”

Suara Lilian tetap halus. “Keluarga juga punya suara.”

“Kalau suara keluarga membuatku menikahi orang yang tidak kusentuh, keluarga boleh bicara sendiri.”

Wajah Vanessa sedikit pucat.

Engkong mengetukkan ujung tongkat sekali ke lantai. Tidak keras, tetapi semua orang berhenti.

“Makan,” katanya.

Satu kata itu mengakhiri perdebatan, setidaknya di permukaan.

Sore harinya, Rayhan kembali ke apartemen Keira membawa kotak porselen hangat.

Keira baru selesai mandi. Rambutnya masih lembap, aroma teh putih lebih jelas di kulitnya.

“Apa itu?”

“Sarang burung walet.”

Keira menatap kotak itu. “Dari rumahmu?”

“Mama menyuruh koki bungkus.”

“Untukku?”

“Untuk siapa lagi?”

Keira mengambil mangkuk kecil. Sup itu hangat, bening, sedikit manis. Ia mencicipi satu sendok, lalu Rayhan menunduk dan mencium bibirnya.

Keira menahan dadanya. “Rayhan.”

“Aku mau cicipi rasanya.”

“Ada sendok.”

“Sendok tidak punya kamu.”

Keira menatapnya datar, tetapi telinganya memerah sedikit.

Rayhan menyukai warna merah kecil itu lebih dari seluruh makan siang di Menteng.

Ia tidak tahu bahwa perempuan di depannya bukan sedang cemburu pada Vanessa.

Kebencian Keira terhadap Vanessa Tanujaya sudah hidup jauh sebelum Rayhan Hartono masuk ke dunianya.

1
kitty ❤
lanjut Thor 😍🔥
kitty ❤
Semangat Thor 😍🔥
kitty ❤
lanjut Thor 🔥🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!