Nara menatap Zaid dengan perasaan campur aduk. Pria berhati dingin ini baru saja melemparkan skenario paling menakutkan dalam hidupnya, memaksa Nara untuk memilih. "terus bersembunyi dalam ketakutan, atau mempertaruhkan segalanya demi cinta yang selama ini ia sembunyikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fazry Fazriyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. Memikul Beban
Lampu-lampu taman hiburan yang terang mulai terasa berpendar buram di mata Nara. Di balik kemudi sedan hitamnya, jemarinya menggenggam erat lingkar kemudi hingga buku-buku jarinya memutih.
Sesekali, matanya melirik ke kaca spion tengah. Di sana, dari jarak yang sangat terjaga, sepasang lampu depan dari SUV hitam milik Zaid mengikutinya secara konstan, menjadi pengawal tak kasat mata di tengah lalu lintas malam yang mulai melengang.
Perhatian yang teratur dan tanpa tuntutan itu justru membuat dada Nara makin bergemuruh.
Zaid adalah pria yang asing, dingin, dan nyaris seperti misteri. Namun di saat yang sama, cara Zaid melindunginya terasa begitu nyata, kontras dengan Devino yang selalu menuntut pertanggungjawaban atas emosi dan penundaannya sendiri.
"Kenapa harus jadi seperti ini, Dev?" batin Nara, menghela napas panjang yang terasa berat.
Ada sesal yang menggantung, tapi teguran tegasnya di taman tadi adalah bentuk batas terakhir yang harus ia pancangkan. Ia tak bisa lagi mengorbankan masa depannya demi memelihara ego seseorang yang enggan melangkah maju.
Beberapa kilometer di belakang mereka, jauh dari jangkauan sorot lampu mobil Zaid, sebuah taksi tua melaju pelan.
Di jok belakang, Devino menyandarkan kepalanya yang berdenyut ke kaca jendela yang dingin. Rasa nyeri di ulu hatinya akibat pukulan Zaid belum sepenuhnya reda, namun rasa panas di dadanya jauh lebih membakar.
Ia memperhatikan dua mobil di depannya dengan tatapan kosong yang dipenuhi kabut dendam.
Pria itu merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel dengan layar yang retak. Jemarinya yang gemetar mengetik sebuah nomor, lalu menempelkan benda itu ke telinganya.
"Halo?" suara parau seorang pria terdengar dari seberang telepon setelah beberapa detik.
"Lakukan sekarang," bisik Devino, suaranya dingin tanpa intonasi. "Cari tahu semua hal tentang Zaid. Usahanya, koneksinya, dan siapa saja orang-orang di sekitarnya. Aku mau tahu kelemahannya sebelum minggu ini berakhir."
"Dev? lu yakin? Bukannya lu bilang masalah perjanjian tanah dan bisnis itu sudah—"
"Gue gak peduli!" potong Devino tajam, memutus kalimat lawan bicaranya. "Lakukan saja apa yang kukatakan, Bimo. Jangan banyak bertanya. Soal bayaran, aku yang urus."
Tanpa menunggu jawaban, Devino mematikan sambungan secara sepihak. Ia memejamkan mata, membiarkan bayangan wajah Nara yang menatapnya penuh kekecewaan melintas di benaknya.
"Kamu pikir kamu bisa bahagia di atas penderitaanku, Nara? Kita lihat seberapa tahan pria pilihanmu itu saat semuanya mulai hancur."
Dua puluh menit kemudian, sedan hitam Nara melaju pelan memasuki pekarangan rumahnya.
Begitu mesin mobilnya dimatikan, SUV hitam Zaid yang mengekor sejak tadi berhenti tepat di depan pagar luar.
Nara turun dari mobil, merapikan dress tipisnya yang sedikit kusut sebelum berjalan mendekati gerbang.
Zaid menurunkan kaca jendela sebelah kiri. Wajah tegas pria itu tampak samar di bawah temaram lampu jalan, dengan bekas luka kecil di sudut bibirnya yang mulai mengering.
"Terima kasih sudah mengantarkan saya sampai rumah, Zaid," kata Nara, suaranya terdengar pelan dan masih menyimpan sedikit getaran lelah.
Zaid mengangguk pelan. Tidak ada ekspresi berlebihan di wajahnya, namun tatapannya yang tajam terkunci pada mata Nara.
"Masuk dan Istirahatlah yang cukup dan kompres matamu. Kamu terlihat sangat lelah.
Nara mengulum bibir, merasa canggung sekaligus tersentuh.
"Luka di bibirmu... tolong segera diobati. Saya sungguh minta maaf atas kejadian tadi. Devino seharusnya tidak—"
"Itu bukan salahmu, Nara," pangkas Zaid datar namun mantap. ... "Dan pria itu hanya melampiaskan apa yang tidak mampu ia tanggung sendiri. Kamu tidak perlu merasa bertanggung jawab atas tindakan orang lain."
Kalimat itu sederhana, tapi anehnya sanggup mengurai sebagian beban yang menumpuk di pundak Nara sejak tadi sore.
Zaid tidak menyalahkannya, tidak juga menuntut penjelasan panjang lebar. Pria itu menyikapi kekacauan ini dengan kedewasaan yang tak pernah Nara dapatkan dari Devino.
"Baiklah," bisik Nara akhirnya. "Hati-hati di jalan pulang, Zaid."
"Ekspektasi saya tidak berubah untuk acara makan malam keluarga lusa," tambah Zaid sebelum menaikkan kaca mobilnya. "Saya akan jemput kamu jam tujuh malam."
Nara hanya sempat mengangguk sebelum SUV mewah itu perlahan bergerak menjauh, menyusuri jalanan kompleks yang sepi. Nara berdiri di balik pagar hingga sorot lampu merah mobil Zaid menghilang di belokan.
Saat ia berbalik hendak melangkah masuk ke dalam rumah, ponsel di dalam tasnya bergetar pendek. Sebuah pesan singkat masuk dari nomor yang amat ia kenal—nomor Devino.
'Kamu mungkin berpikir kamu sudah menang malam ini, Nara. Tapi ingat kata-kataku: pernikahan yang diawali dari kehancuran orang lain tidak akan pernah bertahan lama. Aku akan pastikan kamu menyesali pilihanmu.'
Nara mematungi layar ponselnya. Angin malam yang berembus pelan terasa menusuk hingga ke tulang. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu tanpa keraguan sedikit pun, jemarinya menekan tombol block pada kontak tersebut.
Bayang-bayang masa lalunya mungkin belum benar-benar pergi, namun malam ini Nara tahu, ia tak boleh lagi melangkah mundur.
.
.
Suara engsel pintu depan berderit pelan saat Nara melangkah masuk ke dalam rumah. Langkahnya terasa berat, membawa beban yang tak kasat mata. Di ruang keluarga, Pak Rahardja tampak sedang membaca buku, sementara Bunda Mayang berdiri tak jauh dari sana.
Dari balik jendela depan, mata Bunda Mayang sempat menangkap momen beberapa saat lalu. Nara yang berdiri mematung di samping mobil Zaid, terlibat dalam perbincangan yang tampak sarat beban.
Melihat raut wajah Nara yang begitu layu dan menyirat kelatihan luar biasa, rasa cemas seorang ibu langsung membuncah. Bunda Mayang bergegas menghampiri putrinya.
"Nara..." sapa Bunda Mayang lembut, matanya menatap cemas ke arah wajah Nara. "Kamu baru pulang, Nak? Tadi Bunda lihat dari jendela, kamu kayaknya lagi ngobrol sama Zaid di depan. Ada masalah?"
Nara menghentikan langkahnya. Ia memejamkan mata sejenak, menghela napas panjang yang terdengar berat. Tubuhnya terlalu lelah, dan hatinya terlalu riuh untuk mengurai apa yang baru saja terjadi.
"Bunda... Nara capek banget hari ini," potong Nara halus, berusaha menghindari tatapan penuh selidik ibunya. "Nara mau langsung istirahat dulu, ya. Jangan dibahas dulu sekarang."
Bunda Mayang hendak bersuara lagi, tetapi Pak Rahardja yang mengamati dari sofa memberi isyarat pelan dengan gelengan kepala—meminta istrinya memberi Nara ruang.
Tanpa menunggu balasan lagi, Nara memutar badan menuju arah dapur. Matanya menangkap sosok asisten rumah tangga mereka yang sedang membereskan cangkir.
"Bi Jumi... tolong buatkan Nara jus buah ya, Bi. Nanti langsung dibawakan ke kamar Nara aja," pinta Nara dengan suara lirih.
"Oh, iya, Non Nara. Siap, nanti Bibi antarkan ke atas," sahut Bi Jumi sigap.
Nara hanya mengangguk tipis, lalu melanjutkan langkahnya memanjat tangga menuju lantai dua. Ia mengunci pintu kamarnya rapat-rapat, membiarkan keheningan malam menyambut rasa lelah yang siap ia tumpahkan sendirian.
selamat ya Nara dan Zaid semoga samawa ya🙏