Semua orang menyebut Aelora anak kutukan. Ia dibuang, diburu, dan dibiarkan mati di hutan iblis. Tapi nasib berkata lain: Raja Iblis sendiri memungutnya dan menjadikannya putri kecil Nocthara. Kini Aelora harus menyembunyikan dua rahasia: ia pernah hidup di masa depan yang hancur, dan ia adalah anak malaikat yang dicari oleh Surga. Demi menyelamatkan ayah angkatnya dan mencegah perang tiga dunia, Aelora kecil harus mengubah takdir sebelum orang-orang yang ia cintai mati untuk kedua kalinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Enzelynn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ayah Angkat
Tangan Asterion menutup bayangan Kael.
Bukan pergelangan tangannya. Bukan lengannya. Yang ditangkap lelaki di balik gerbang itu adalah bagian hitam yang terhubung langsung dengan tubuh Kael.
Raja Nocthara tersentak.
Pedang besi terlepas dari tangannya. Untuk pertama kalinya sejak Aelora mengenalnya, satu lutut Kael menghantam lantai.
“Ayah!”
Aelora menarik tangan kecilnya, berusaha memutus bayangan yang menghubungkan mereka. Namun semakin ia menarik, semakin erat bayangan itu melilit pergelangan Kael.
Asterion tersenyum dari tengah Laut Abu.
“Panggilan yang tepat,” katanya. “Kasih sayang selalu menjadi rantai paling kuat.”
Ia menarik.
Tubuh Kael bergeser di atas lantai. Ujung sepatu botnya menggores batu, mendekati pusat gerbang sedikit demi sedikit.
Aelora menggenggam kunci hitam-emas menggunakan kedua tangan. Angin dari pusaran menarik rambut dan pakaiannya ke depan. Eirna masih memeluk pinggangnya dari belakang, tetapi telapak kaki tabib itu juga mulai tergelincir.
“Lepaskan hubungan bayangannya!” teriak Elianor.
“Aku sedang mencoba!”
“Bukan kuncinya. Nama perlindungannya!”
Aelora menoleh kepada cincin Vesperion yang tergantung di lehernya.
Batu bulan merah pada cincin itu menyala. Dari sanalah tangan bayangan yang mengikat Kael berasal.
“Kalau kulepas, Kael akan ditarik!”
“Kalau tidak dilepas, kalian berdua akan menjadi jangkar gerbang!”
Asterion menarik lagi.
Kael maju hampir satu langkah.
Bayangan di bawah tubuhnya bergerak tidak beraturan, seperti kain yang dicabik dari dua arah. Sebagian masih mengikuti Kael. Sebagian lain telah menyeberang ke Laut Abu dan berkumpul di sekitar kaki Asterion.
Lelaki bermantel abu-abu itu semakin jelas.
Rambutnya berwarna keemasan pucat. Wajahnya tampan dengan cara yang terasa dingin, seolah dibentuk terlalu sempurna untuk terlihat manusia. Pada pelipis kirinya terdapat retakan hitam yang terus mengeluarkan asap.
Aelora akhirnya mengingat di mana ia pernah mendengar namanya.
Asterion adalah nama yang tertulis pada salah satu pilar Gerbang Tiga Dunia di masa depan.
Bukan sebagai penjaga.
Sebagai pembuatnya.
“Kau yang membuka gerbang pertama,” kata Aelora.
Asterion tersenyum lebih lebar.
“Dan kau yang akan menyempurnakannya.”
“Aku tidak akan membantumu.”
“Kau sudah membantu.”
Ia memperlihatkan cincin matahari terbelah di tangannya.
Di dalam retakan cincin itu tersimpan setetes darah hitam.
Darah Kael.
Aelora tidak tahu kapan Asterion mengambilnya. Mungkin saat bayangan mereka bersentuhan. Mungkin sejak perjanjian tujuh tahun lalu.
Asterion menggerakkan jarinya.
Setetes darah tersebut jatuh ke Laut Abu.
Langit di dunia kosong itu langsung berubah hitam. Ombak debu bangkit tinggi, membentuk pilar yang berputar mengelilingi tubuhnya.
“Darah penjaga malam telah diterima,” katanya.
Garis hitam pada gerbang Nocthara menyala.
Aelora merasakan tusukan pada telapak tangan.
Kulitnya terbelah tepat di atas nama Mirael yang sudah memudar. Hanya luka kecil, tetapi satu tetes darah emas muncul dari sana.
Darah itu tidak jatuh.
Ia terangkat oleh tarikan gerbang dan melayang menuju pusat lingkaran.
“Tidak!” Kael mengangkat tangan.
Bayangannya menyambar tetesan tersebut sebelum mencapai pusaran.
Tindakan itu membuat pegangan Asterion semakin kuat.
Kael terjatuh dengan kedua tangan menahan tubuh. Garis hitam muncul pada lehernya dan merambat ke rahang.
Aelora pernah melihat garis itu.
Pada masa depan, garis yang sama muncul beberapa hari sebelum Kael kehilangan kendali atas Umbra. Setelah itu bayangannya menyerang siapa saja yang mendekat, termasuk dirinya sendiri.
“Asterion meracuni bayanganmu,” kata Aelora.
“Aku tahu.”
“Kita harus memutusnya.”
“Aku juga tahu.”
“Kenapa kau masih memegang darahku?”
Kael melihat tetes emas yang terkurung di dalam bayangannya.
“Karena darahmu tidak boleh masuk ke sana.”
“Aku bisa membuat darah lain.”
“Itu bukan rencana yang menenangkan.”
Aelora meraih cincin Vesperion.
Jika Elianor benar, hubungan nama itulah yang membuat mereka menjadi satu jangkar. Ia hanya perlu melepasnya.
Namun jarinya tidak mau membuka rantai.
Nama Vesperion bukan sekadar sihir.
Nama itu adalah roti hangat di dapur. Kamar yang pintunya dibiarkan terbuka. Mantel yang menutup tubuhnya ketika ketakutan. Seseorang yang datang saat ia menjerit dalam tidur.
Nama itu adalah rumah pertama yang tidak memintanya menjadi orang lain.
Aelora memandang Kael yang sedang ditarik menuju gerbang.
“Aku tidak mau melepaskannya.”
Kael mengangkat wajah. “Apa?”
“Nama pemberianmu.”
“Aelora, lakukan.”
“Tidak.”
“Kali ini jangan keras kepala.”
“Kalau aku melepaskannya, apa yang terjadi?”
“Ikatan kita putus.”
“Lalu Asterion tidak bisa menarikmu?”
Kael tidak menjawab.
Aelora langsung mengerti.
“Dia tetap bisa menarikmu.”
“Aku bisa menahannya.”
“Kau sudah hampir masuk.”
“Aku pernah berada dalam keadaan lebih buruk.”
“Kapan?”
Kael berpikir sebentar. “Saat kau meminta ayam hidup untuk tinggal di kamar.”
“Itu belum terjadi.”
“Aku sedang mempersiapkan diri.”
Bahkan ketika garis hitam sudah mencapai wajahnya, Kael masih mencoba membuatnya tidak terlalu takut.
Aelora justru semakin tidak mau melepaskan cincin itu.
Kubah bayangan dari bros akhirnya pecah.
Sisa para peniru menerobos masuk. Eirna berdiri di depan Aelora dengan pisau kecilnya, sementara malaikat pembawa dokumen melepaskan burung-burung cahaya dari gulungan terakhir.
Elianor membuka keempat sayap dan melindungi sisi kiri mereka.
Salah satu peniru berhasil mencengkeram sayap bawahnya.
Elianor berbalik dan menebas, tetapi tubuh palsu itu tidak menyerangnya. Tangannya justru menempel pada punggung Elianor.
Lambang matahari terbelah muncul di antara kedua tulang belikatnya.
Aelora teringat peringatan dirinya dari masa depan.
Jangan percaya Elianor.
“Elianor, menjauh dari lingkaran!” teriaknya.
Perempuan itu menoleh. “Apa?”
“Ada tanda di punggungmu!”
Sebelum Elianor sempat memeriksa, seluruh tubuhnya menegang.
Keempat sayapnya terbuka lebar.
Cahaya keluar dari matanya.
Asterion mengangkat dua jari dari seberang gerbang, menggerakkannya seperti seseorang yang sedang menarik tali boneka.
Elianor mengangkat pedangnya.
Ujung bilah mengarah kepada Aelora.
“Tidak,” katanya melalui gigi yang terkatup. “Aku tidak—”
Tangannya bergerak sendiri.
Kael melempar pedang besi yang tadi terjatuh. Bilah itu menghantam pedang Elianor di tengah udara dan mengubah arahnya. Cahaya menebas lantai beberapa sentimeter dari kaki Aelora.
Eirna menarik anak itu mundur.
Elianor berusaha menjatuhkan senjatanya, tetapi jari-jarinya tidak mau terbuka.
“Lumpuhkan aku!” teriaknya.
Malaikat pembawa dokumen mengucapkan mantra. Rantai cahaya melilit tubuh Elianor, menahan kedua lengan dan sayapnya.
Namun simbol di punggungnya terus menyala.
Cahaya dari tubuh Elianor mengalir ke gerbang.
“Dia membawa otoritas Elyrion,” kata Eirna. “Asterion memakai kedatangannya untuk mengesahkan jalur dari sisi Surga.”
“Jadi itu sebabnya dia datang bersama utusan,” kata Aelora.
Elianor bukan sekutu Asterion.
Namun ia telah digunakan tanpa mengetahui apa-apa.
Sama seperti Ryn.
Sama seperti Orin.
Asterion tidak membutuhkan pengikut yang setia. Ia hanya membutuhkan orang-orang yang membawa pintu masuk ke tempat yang diinginkannya.
Gerbang kini mempunyai tiga unsur.
Darah Aelora.
Bayangan Kael.
Cahaya Elianor.
Tiga dunia.
Lingkaran jam pasir di lantai terbuka penuh.
Laut Abu menghilang.
Di belakang Asterion muncul tiga pemandangan yang saling bertumpuk: langit Elyrion, Katedral Fajar di Asteria, dan aula Istana Bulan Merah yang sedang mereka tempati.
“Akhirnya,” bisik Asterion.
Ia menarik bayangan Kael dengan kedua tangan.
Tubuh Kael terlempar ke depan.
Aelora melepaskan kunci dan menangkap lengannya.
Tarikan itu langsung menyeretnya ikut bergerak.
Eirna berusaha memegang Aelora, tetapi salah satu peniru menerjang dari samping. Tabib itu terpaksa melepaskan pegangan untuk melindungi diri.
Kini hanya Aelora dan Kael yang saling menahan.
Tangan kecil Aelora menggenggam dua jari Kael.
“Lepaskan,” kata Kael.
“Tidak.”
“Kalau tidak, kau ikut masuk.”
“Kalau kulepas, kau masuk sendirian.”
“Aku bisa kembali.”
“Kau bohong.”
Kael tidak menjawab.
Asterion tertawa dari balik pusaran.
“Dia selalu berbohong saat ingin mati sendirian.”
Aelora menatapnya marah. “Diam!”
“Kau sudah melihat masa depan. Kau tahu bagaimana kisahnya berakhir. Raja Iblis mati, dan anak malaikat membuka gerbang karena rasa kehilangan.”
“Itu tidak akan terjadi lagi.”
“Semua bagian sudah kembali ke tempatnya.”
Asterion menunjuk pedang besi yang tergeletak di lantai.
Pedang itu bergetar.
Darah hitam dan emas merambat di sepanjang bilahnya. Bentuk pedang mulai berubah, memanjang dan menghitam seperti senjata dalam ingatan Aelora.
Pedang yang pernah ia gunakan untuk menusuk Kael.
Napas Aelora berhenti.
Kael melihatnya juga.
“Jangan lihat pedangnya.”
“Aku ingat.”
“Lihat aku.”
“Aku membunuhmu dengan itu.”
“Belum.”
“Di masa depan—”
“Tidak ada di ruangan ini selain kita sekarang.”
Kael mengeratkan genggamannya meskipun tubuhnya terus ditarik.
“Kau belum membunuhku. Aku belum mati. Dan selama kau masih memegang tanganku, kita belum mengulang apa pun.”
Aelora mencoba bernapas.
Pedang itu terangkat ke udara.
Ujungnya berputar menghadap dada Kael.
Asterion tidak menyentuhnya. Senjata tersebut bergerak mengikuti kehendak gerbang.
“Satu kematian,” katanya, “untuk membuka tiga kehidupan.”
Pedang melesat.
Aelora menjerit.
Ia menarik Kael menggunakan seluruh kekuatannya, meskipun tahu tubuh kecilnya tidak mungkin cukup.
Cincin Vesperion di lehernya pecah.
Bukan rantainya.
Batu bulan merah di tengah cincin terbelah menjadi dua.
Bayangan hitam keluar dari satu sisi. Cahaya emas keluar dari sisi lainnya. Keduanya membungkus tangan Aelora dan Kael yang saling menggenggam.
Pedang berhenti satu jari dari dada Kael.
Asterion mengerutkan dahi.
“Apa ini?”
Sebuah tulisan lama muncul di lantai, menimpa simbol Gerbang Tiga Dunia.
Huruf-huruf Nocthara bergerak mengelilingi Aelora.
Eirna membacanya dengan napas tercekat.
“Ritual keluarga.”
Kael menatap simbol yang terbentuk di bawah mereka.
“Tidak mungkin. Ritual itu membutuhkan pernyataan dari kepala keluarga.”
Aelora memandangnya.
“Kalau begitu nyatakan.”
Kael terdiam.
Di tengah semua suara pertempuran, ledakan cahaya, dan jeritan para peniru, keraguan singkat itu terasa lebih menyakitkan daripada apa pun.
Aelora menunduk.
“Mungkin kau tidak mau.”
Kael mengeratkan genggamannya.
“Bukan itu.”
“Lalu apa?”
“Ritual ini tidak bisa dibatalkan.”
“Kau memberiku nama yang juga tidak bisa dibatalkan.”
“Itu perlindungan. Ini berbeda.”
“Bagaimana?”
Kael memandang tulisan di lantai.
“Kalau ritual selesai, kau menjadi anakku menurut hukum darah Nocthara. Bukan hanya putri yang kulindungi. Bukan anak yang bisa kuserahkan ketika keadaan menjadi terlalu berbahaya.”
“Aku memang tidak mau diserahkan.”
“Kau juga akan ikut menanggung musuh keluargaku, kutukan takhta, dan kewajiban sebagai pewaris.”
“Aku sudah punya pemburu, malaikat palsu, kutukan, dan gerbang yang mengejarku. Sepertinya nama keluargamu tidak membuat keadaan jauh lebih buruk.”
Asterion menarik bayangan Kael lagi.
Jari mereka hampir terlepas.
“Ayah,” kata Aelora.
Kael menatapnya.
Kali ini panggilan itu tidak keluar karena panik, demam, atau ingatan masa depan.
Aelora mengucapkannya dengan sadar.
“Aku tidak memilih darah yang melahirkanku,” katanya. “Tapi aku memilih rumahku.”
Mata Kael berubah.
Tidak banyak. Hanya ketegangan di sekitar wajahnya yang menghilang, digantikan sesuatu yang lebih tenang dan jauh lebih kuat.
Ia memindahkan genggaman dari jari Aelora ke seluruh telapak tangannya.
“Baik.”
Bayangannya berhenti melawan tarikan Asterion.
Sebaliknya, bayangan itu bergerak mengelilingi Aelora seperti mantel.
Kael berbicara menggunakan bahasa Nocthara lama. Setiap kata membuat tulisan di lantai menyala semakin terang.
“Aelora Arvand Vesperion.”
Untuk pertama kalinya ia menyebut kedua nama itu bersamaan.
“Aku menerimamu bukan sebagai utang kepada Mirael, bukan sebagai kunci yang harus dijaga, dan bukan sebagai darah Seraphiel yang diperebutkan dua dunia.”
Pedang di udara mulai retak.
Asterion menarik lebih keras. “Hentikan!”
Kael tidak melihatnya.
“Di hadapan takhta, bayangan, dan seluruh darah rumah Vesperion, aku mengakui Aelora sebagai anakku.”
Tulisan di lantai terangkat seperti pita cahaya.
“Aku menjadi ayahmu selama kau masih menginginkannya.”
Aelora merasakan tenggorokannya sakit.
“Bagaimana kalau aku selalu menginginkannya?”
Kael menatapnya lurus-lurus.
“Kalau begitu selamanya.”
Ritual selesai.
Tidak ada ledakan.
Hanya satu suara kecil.
Duk.
Seperti detak jantung.
Lalu seluruh bayangan di Istana Bulan Merah bergerak.
Bayangan pilar, meja, penjaga, tirai, bahkan bunga-bunga di luar aula mengarah kepada Aelora. Mereka tidak menyerang. Semuanya membungkuk.
Lambang baru muncul pada pergelangan tangannya.
Matahari emas tenggelam di dalam bulan hitam.
Gerbang Tiga Dunia bergetar hebat.
Asterion melepaskan bayangan Kael seolah tersentuh api.
“Tidak,” katanya.
Untuk pertama kalinya, ketenangan di wajahnya hilang.
“Darah itu tidak boleh terikat kepada Umbra.”
Aelora masih memegang tangan Kael.
“Sudah terlambat.”
Bayangan Kael kembali ke tubuhnya.
Garis hitam pada lehernya menghilang. Ia bangkit, menarik Aelora ke dalam pelukannya, lalu membentangkan satu tangan ke arah gerbang.
Kali ini bayangannya menyentuh lingkaran.
Namun gerbang tidak membesar.
Simbol matahari tenggelam di pergelangan Aelora menyerap cahaya, darah, dan bayangan yang selama ini dipakai Asterion sebagai jangkar.
Para peniru menjerit.
Tubuh mereka runtuh menjadi bulu palsu. Cincin-cincin matahari terbelah retak bersamaan.
Elianor jatuh ke lantai ketika kendali atas tubuhnya putus. Lambang di punggungnya padam, meski bekasnya masih tertinggal seperti luka bakar.
Asterion mundur ke dalam Laut Abu.
“Kael!” serunya. “Kau tidak tahu apa yang baru kauangkat sebagai anak!”
Kael memeluk Aelora lebih erat.
“Aku tahu dia sulit disuruh tidur, tidak suka bubur, dan menyembunyikan roti di bawah serbet.”
“Itu bukan maksudku!”
“Penjelasanmu kurang jelas.”
Aelora mengangkat wajah. “Aku juga tidak menyembunyikan roti lagi.”
“Bagus.”
Gerbang mulai menutup.
Asterion menancapkan tangannya di antara kedua sisi pusaran, berusaha menahannya.
“Dengarkan aku! Anak itu bukan sekadar keturunan Seraphiel. Jiwanya telah melewati waktu. Darahnya membawa sisa terang pertama dan malam pertama!”
Kael memandang lambang di pergelangan Aelora.
Asterion terus berteriak.
“Elyrion akan membakar dunia untuk mendapatkannya. Asteria akan membelah tubuhnya untuk membuka gerbang. Bahkan bayanganmu sendiri suatu hari akan berlutut kepadanya!”
Gerbang tinggal selebar pintu.
Asterion menatap Aelora.
Ketakutan pada wajahnya berubah menjadi kekaguman yang tidak sehat.
“Putri Solumbra,” bisiknya.
Kata itu membuat semua rune di aula menyala.
Kael menegang.
Elianor yang masih berlutut mengangkat kepala dengan wajah pucat.
“Apa yang dia katakan?”
Asterion tertawa ketika Laut Abu menelannya.
“Nama yang bahkan Surga takut menyebutnya.”
Gerbang menutup.
Pusaran menghilang, meninggalkan lantai yang retak dan pedang hitam yang patah menjadi dua.
Keheningan turun perlahan.
Aelora masih berada dalam pelukan Kael. Salah satu tangannya mencengkeram mantel sang raja, sementara tangan lain memegang Piko yang telinganya kembali hampir putus.
Eirna menjadi orang pertama yang bergerak.
Ia berjalan mendekat dan memeriksa wajah Aelora.
“Kau terluka?”
“Telapak tanganku sedikit.”
“Pusing?”
“Sedikit.”
“Sayap?”
“Aku tidak tahu. Aku tidak bisa melihat punggung sendiri.”
Eirna melihat Kael. “Turunkan dia.”
“Dia bisa diperiksa di sini.”
“Yang Mulia memegangnya terlalu erat.”
Kael melihat kedua lengannya, seolah baru menyadari Aelora hampir tidak dapat bergerak.
Ia sedikit melonggarkan pelukan, tetapi tidak benar-benar melepaskan.
Aelora menyandarkan kepala ke bahunya.
“Jadi sekarang kau benar-benar ayahku?”
Kael memandang rambut putih yang menempel di dagunya.
“Secara hukum, sihir, dan semua masalah yang akan mengikuti, ya.”
“Bagus.”
“Hanya itu?”
“Aku capek.”
“Itu lebih masuk akal.”
Aelora menutup mata sebentar.
Di seluruh istana, bayangan masih membungkuk ke arah aula. Bukan kepada Kael.
Kepada lambang baru pada pergelangan Aelora.
Di ruang takhta utama yang kosong, mahkota tua Nocthara bergerak sendiri. Retakan pada bagian tengahnya mengeluarkan cahaya hitam-putih.
Suara perempuan terdengar dari bawah takhta.
Suara yang sudah terkubur sejak malam pertama dunia diciptakan.
“Darah terang telah memilih rumah dalam kegelapan.”
Mahkota tersebut terbelah menjadi dua bagian.
Satu tetap hitam.
Satu lagi berubah putih keemasan.
Lalu seluruh istana mendengar bisikan yang sama.
Putri Solumbra telah kembali.