Di Benua Awan Merah, bakat surgawi, garis keturunan, dan dukungan klan besar adalah segalanya. Awan tidak memiliki satupun dari hal itu. Lahir dengan meridian sempit sebagai anak seorang pandai besi miskin, dunia telah menakdirkannya untuk hidup dan mati sebagai manusia fana.
Namun, Awan menolak bertekuk lutut pada takdir. Tanpa bantuan artefak dewa purba, tanpa roh guru sakti, dan tanpa pil mujarab, ia menempuh jalan kultivasi melalui siksaan fisik yang ekstrem. Saat para jenius menyerap energi alam dengan mudah sambil duduk bermeditasi, Awan mengayunkan pedang besinya puluhan ribu kali di bawah terik matahari dan badai hujan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Air Terjun Penusuk Tulang
Di bagian belakang Puncak Daun Gugur, tersembunyi dari hangatnya sinar matahari, terdapat sebuah lembah sempit yang tak pernah disentuh musim semi. Di sana, Air Terjun Sumsum Es mengalir turun dari tebing setinggi seratus meter.
Airnya tidak sekadar dingin. Air terjun itu mengandung Qi Yin ekstrem yang bisa membekukan darah seorang manusia biasa hanya dengan cipratannya. Di bawah hempasan air yang menderu layaknya raungan naga es itulah, Awan berdiri.
Tubuh telanjangnya yang berwarna perunggu kini berubah menjadi biru pucat. Bibirnya bergetar hebat, giginya gemeretak tanpa bisa dikontrol. Bahkan Esensi Darah Fana Purba di dalam nadinya dipaksa bekerja di luar batas untuk memompa panas, melawan suhu beku yang mencoba menghentikan detak jantungnya.
Namun, rasa dingin bukanlah musuh utama Awan hari ini.
Ia berdiri dengan lengan kanan terangkat ke atas. Di ujung jari telunjuknya, ia harus menyeimbangkan pedang besi berkarat Bumi Pijar yang berbobot tiga ratus kilogram.
BAM!
Untuk yang keseratus kalinya di pagi itu, keseimbangan Awan goyah. Air terjun yang menghantam punggung pedang besar itu merusak titik beratnya. Pedang seberat tiga ratus kilogram itu tergelincir, jatuh menghantam bahu Awan.
"Ugh!" Awan terjerembap ke dalam kolam es sedalam pinggang. Tubuhnya tenggelam sesaat sebelum ia kembali muncul ke permukaan, terengah-engah mencari udara.
Dari tepi kolam, Penatua Kuang duduk santai di atas kursi rotan, mengenakan mantel bulu tebal dan menyesap teh panas dari cangkir porselennya.
"Kau menahannya dengan ototmu, Bocah," seru Penatua Kuang santai. "Ototmu akan bergetar saat kedinginan. Ototmu akan bereaksi saat air seberat puluhan ton menghantamnya. Selama kau menggunakan tenaga fisik untuk menyeimbangkan pedang itu, kau akan terus gagal!"
Awan mengusap air beku dari wajahnya. Ia menarik pedang Bumi Pijar dari dasar kolam, kembali berdiri di bawah titik jatuh air terjun.
"Jika saya tidak menggunakan otot, lalu pakai apa?!" balas Awan menembus suara gemuruh air. "Saya tidak punya Qi untuk menahan pedang ini di udara!"
"Pakai niatmu!" Penatua Kuang menunjuk ke arah kepalanya sendiri. "Saat kau melepaskan Niat Pedang Semu di arena, kau memfokuskan keinginan membunuhmu untuk membelah ruang di depanmu. Sekarang, balikkan arahnya! Tarik niat itu ke dalam! Jadikan keinginanmu sebagai cangkang, biarkan ia menyelimuti kulitmu dan pedangmu. Buat pikiranmu menjadi batu pijakan yang lebih padat dari bumi!"
Awan memejamkan mata. Ia mengangkat lengan kanannya lagi, meletakkan sisi datar pedang Bumi Pijar di ujung jari telunjuknya. Beban tiga ratus kilogram ditambah hantaman air terjun langsung menekan tulang jarinya hingga nyaris patah.
Tarik niat ke dalam, batin Awan.
Ia mencoba memanggil kembali insting predatornya. Niat membunuh yang biasa ia lecutkan bagai cambuk ke arah musuh, kini ia paksa untuk berbalik menahan dirinya sendiri.
Ini adalah sensasi yang luar biasa ganjil. Ia seperti menyuruh seekor harimau yang sedang menerkam untuk berbalik menelan dirinya sendiri. Kepalanya langsung berdenyut sakit. Rasa mual menyerang perutnya. Pikirannya menolak untuk dikurung.
KRAK! Pedang itu kembali tergelincir dan menghantam kepalanya. Awan kembali terjatuh ke dalam air.
"Lagi!" teriaknya pada dirinya sendiri, menolak untuk menyerah. Ia bangkit, mengangkat pedangnya, dan kembali memejamkan mata.
Hari demi hari berganti. Dari pagi hingga malam, Awan berdiri di bawah Air Terjun Sumsum Es. Ia bahkan tidak kembali ke paviliun untuk tidur. Ketika staminanya habis, ia hanya duduk bersila di tepi kolam, memakan daging siluman kering, lalu bermeditasi.
Siksaan ini jauh melampaui rendaman Teratai Magma. Teratai Magma menyiksa dagingnya, namun Air Terjun Es dan tekanan keseimbangan ini menyiksa akal sehat dan jiwanya secara langsung. Beberapa kali Awan nyaris pingsan karena otaknya kehabisan energi akibat terlalu lama memusatkan Niat.
Memasuki hari kelima belas.
Awan berdiri di posisi yang sama. Namun kali ini, ada yang berbeda dari posturnya.
Napasnya tidak lagi terburu-buru. Getaran di bibir dan kulitnya akibat rasa dingin telah berhenti sepenuhnya. Ia tidak melawan arus air terjun, melainkan berdiri tegak di bawahnya layaknya patung perunggu yang telah ada di sana selama ribuan tahun.
Di ujung jari telunjuk kanannya, Bumi Pijar bertengger dengan sempurna.
Awan tidak melihat pedang itu dengan matanya, namun ia "merasakan" seluruh dimensinya. Ia memusatkan kehendaknya. Alih-alih membayangkan membelah sesuatu, Awan membayangkan kekosongan absolut di sekitar kulitnya. Ia menekan insting membunuhnya sedalam mungkin, mengubahnya dari api yang berkobar menjadi sebongkah es abadi yang melapisi jiwanya.
Zirah Niat.
Seketika, sebuah fenomena aneh terjadi.
Air Terjun Sumsum Es yang berton-ton menghantam tubuh Awan tiba-tiba terbelah beberapa milimeter sebelum menyentuh kulitnya. Bukan karena Qi spiritual, melainkan karena kehendak (Niat) Awan telah memadat, menciptakan sebuah distorsi udara sangat tipis—sebuah tameng hampa tak kasat mata—yang menyelimuti seluruh tubuh dan pedangnya.
Pedang Bumi Pijar berdiri stabil bukan karena otot jari Awan menahannya, melainkan karena Domain Niat miliknya telah mengunci titik berat pedang itu ke dalam ruang. Di dalam radius setengah meter dari tubuh Awan, pikirannyalah yang menjadi hukum gravitasi mutlak.
Di tepi kolam, Penatua Kuang yang sedang memegang cangkir tehnya terdiam. Matanya memancarkan ketidakpercayaan.
Bocah ini... Dia benar-benar melakukannya, batin Penatua Kuang, tangannya sedikit gemetar. Mencapai tahap Domain Niat (Intent Domain) sebelum menyentuh Alam Inti Emas adalah hal yang dianggap mustahil, bahkan bagi jenius pedang terkuat di Benua Tengah sekalipun. Dia membentuknya murni lewat jalan kefanaan dan rasa sakit.
Tentu saja, zirah niat Awan masih sangat tipis, hanya berjarak beberapa milimeter dari kulitnya. Namun, "Cikal Bakal" itu telah tertanam secara permanen di dalam jiwanya.
Awan membuka matanya. Ia perlahan menggenggam gagang Bumi Pijar dan menurunkannya. Saat ia mengendurkan fokusnya, Zirah Niat itu menghilang, dan air es kembali mengguyur tubuhnya.
Ia berjalan keluar dari kolam, tubuhnya mengepulkan uap putih panas saat Esensi Darah Fananya kembali menormalkan suhu tubuhnya.
"Aku merasakannya, Guru," ucap Awan tenang. "Jika ada serangan sihir atau aura spiritual yang mencoba mengunci tubuh atau jiwaku, niatku akan memotongnya tepat di atas permukaan kulitku."
Penatua Kuang mengangguk puas. "Itu adalah Zirah Niat tahap awal. Itu tidak bisa menahan serangan fisik seberat gunung, tetapi itu adalah kutukan bagi segala jenis sihir ilusi, pembekuan ruang, maupun racun jiwa. Sekarang, kau memiliki perlindungan dari serangan para Tetua pengecut itu."
"Apakah saya sudah selesai berlatih di bawah air terjun ini?" tanya Awan.
"Untuk saat ini, ya. Tapi kau harus kembali ke sini sesering mungkin untuk memperluas radius Domain Niatmu," Penatua Kuang berbalik, melangkah menuju jalan setapak. "Ayo kembali. Ada tikus yang datang membawa pesan dari Aula Utama."
Di ruang tamu paviliun Puncak Daun Gugur, seorang murid utusan dari Aula Administrasi Sekte sedang berlutut gemetar.
Ia adalah murid dari klan netral, tetapi merasakan tekanan tak kasat mata dari Penatua Kuang dan aura liar Awan yang baru saja masuk dengan jubah setengah basah, membuat lututnya lemas.
"Melapor kepada Penatua Kuang dan Murid Langsung Awan," suara murid utusan itu bergetar. "Dewan Tetua telah mengeluarkan Dekrit Misi Tingkat Merah."
"Misi Tingkat Merah?" alis Penatua Kuang bertaut. "Itu adalah misi untuk elit Sekte Dalam. Mengapa laporannya dikirim ke puncakku?"
Murid utusan itu menelan ludah. "B-Berdasarkan laporan dari Kota Perbatasan Batu Merah, sebuah desa penambang fana yang berada di bawah perlindungan sekte... Desa Tambang Besi Hitam... telah diserang oleh wabah mematikan dan indikasi aktivitas kultivator iblis (Demonic Cultivator). Semua Murid Luar yang dikirim untuk menyelidiki, hilang tanpa jejak."
Mendengar nama Desa Tambang Besi Hitam, mata Awan sedikit menyipit. Itu bukan sekadar desa biasa. Itu adalah desa penghasil bijih besi kualitas tinggi yang menyuplai Dapur Selatan sekte, tempat para pelayan fana dulu didatangkan.
"Lalu, apa hubungannya dengan muridku?" tuntut Penatua Kuang dingin.
"T-Tetua Wu dan Tetua Zhao yang memimpin Dewan Misi hari ini, mengajukan usul," utusan itu buru-buru membacakan gulungan di tangannya. "Karena Murid Langsung Awan belum mengambil misi sekte sama sekali sejak pengangkatannya, dan karena ia memiliki latar belakang fana yang membuatnya tidak terpengaruh oleh kutukan penghisap Qi milik kultivator iblis... Dewan menugaskannya sebagai pemimpin regu investigasi."
Brak!
Penatua Kuang menghancurkan meja giok di sampingnya hanya dengan satu ketukan jari.
"Licik sekali dua rubah tua itu!" desis Penatua Kuang. "Mereka tahu mereka tidak bisa membunuhmu di dalam sekte karena Zirah Niatmu dan perlindunganku. Jadi, mereka merancang skenario ini. Jika kau menolak Misi Tingkat Merah, kau akan dicap pengecut dan melanggar sumpah Murid Langsung. Jika kau pergi, mereka pasti telah menyiapkan seratus pembunuh bayaran atau formasi jebakan di luar sana untuk menghabisimu."
"Guru benar," Awan mengambil gulungan dari tangan utusan yang gemetar itu. Ia membacanya dengan tenang.
"Awan, kau tidak perlu pergi," Penatua Kuang berdiri. "Aku akan pergi ke Aula Utama sekarang dan membalikkan meja dewan mereka. Aku bisa menggunakan hak vetonya sebagai Penegak Hukum untuk membatalkan penugasan ini."
"Tunggu, Guru," Awan mengangkat tangannya, menghentikan langkah sang Penatua.
Mata Awan tertuju pada bagian bawah gulungan misi tersebut. Matanya memancarkan kilatan ketertarikan yang sangat buas.
"Ada apa?"
"Hadiah dari Misi Tingkat Merah ini... selain lima ribu poin kontribusi sekte," Awan membaca baris terakhir, bibirnya perlahan melengkung membentuk senyuman tipis yang sangat berbahaya. "...adalah sebongkah Batu Jantung Naga Tanah."
Penatua Kuang terdiam. Ia mengerti sekarang mengapa Tetua Wu dan Zhao sangat yakin Awan akan mengambil umpan ini.
Batu Jantung Naga Tanah bukanlah artefak spiritual. Itu adalah harta alamiah tingkat tinggi yang dihasilkan dari inti bumi. Bagi kultivator spiritual, batu itu sulit diolah karena energi Yin buminya terlalu berat.
Namun bagi seorang praktisi fisik purba seperti Awan? Batu itu adalah suplemen penguat tulang dan otot paling ekstrem yang pernah ada, jauh melampaui Teratai Magma.
"Mereka menggunakan umpan yang tidak mungkin bisa saya tolak," gumam Awan, menggulung perkamen itu. Ia menatap Penatua Kuang. "Saya akan pergi, Guru."
"Awan, ini murni misi bunuh diri. Cultivator iblis, ditambah pembunuh bayaran klan Wu dan Zhao. Tanpa perlindungan sekte, kau akan diburu dari langit dan bumi."
"Bumi adalah pijakanku, Guru. Dan jika mereka menyerang dari langit..." Awan menepuk gagang pedang besi berkarat tiga ratus kilogram di punggungnya. "...saya baru saja belajar cara membuat zirah penangkal sihir mereka. Saya butuh Batu Jantung Naga Tanah itu untuk menyempurnakan otot saya. Ini kesempatan untuk membersihkan sampah sekte yang mengikuti saya ke luar."
Penatua Kuang menatap muridnya dalam diam. Ia melihat tidak ada keraguan di mata fana itu, melainkan keyakinan mutlak seorang pemangsa yang siap keluar dari sarangnya.
"Baiklah," Penatua Kuang menghela napas, tersenyum bangga. "Jika langit di luar sana mencoba meruntuhkanmu... pastikan kau membelahnya hingga berkeping-keping."