Kiara Song, 21 tahun, reporter magang yang berjuang sendirian sejak kakaknya koma dan ayahnya kabur meninggalkan hutang. Hidupnya berubah saat ia menikah siri dengan Rayhan Tan — AKP kepolisian berwajah dingin, tubuh atletis, dan mulut tajam yang ternyata diam-diam memasak untuknya setiap malam.
Enam bulan tinggal bersama. Tidak ada ciuman. Tidak ada "aku cinta kamu." Hanya perhatian kecil yang membuat jantung Kiara tidak bisa tenang.
Kiara punya rahasia: ia menato setangkai mawar di pinggangnya sejak SMA — di tempat yang hanya bisa dilihat oleh orang paling dekat. Untuk laki-laki yang sama, selama enam tahun.
Dan Rayhan? Rayhan punya rahasia sendiri.
Ia sudah jatuh cinta pada Kiara jauh sebelum pernikahan ini dimulai.
Nikah dulu. Cinta kemudian. Tapi bagaimana kalau cintanya sudah ada duluan?
(148 kata Indonesia)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aruna Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5
Bab 005
Kasus Pembunuhan
Kenapa jantungku...
Kiara tidak sempat menyelesaikan pertanyaan itu, bahkan di dalam kepalanya sendiri.
Rayhan melepaskan pelukan lebih dulu, pelan, seolah takut gerakan mendadak bisa membuatnya pecah lagi. Ia tidak bertanya kenapa Kiara menangis. Tidak menyuruhnya berhenti. Tidak mengatakan kalimat kosong seperti semua sudah lewat.
Ia hanya mengambil kotak P3K dari lemari ruang tamu, lalu duduk di hadapannya.
"Tangan."
Kiara menyerahkan pergelangan tanpa melawan. Bekas cengkeraman Brandon tampak makin merah. Rayhan membersihkannya dengan kapas dingin. Sentuhannya ringan, tetapi wajahnya tetap gelap.
"Sakit?"
"Sedikit."
"Kalau besok lebam, kita visum."
Kata visum membuat perut Kiara mencelos.
Rayhan mengangkat wajah. "Bukan untuk menakutimu. Untuk bukti. Kamu boleh menolak kalau belum siap."
Kiara menatapnya. Di wajah itu, ia tidak menemukan paksaan. Hanya keseriusan yang memberinya ruang untuk bernapas.
"Aku siap," katanya pelan. "Dia bukan cuma menyentuhku. Dia mungkin benar-benar membunuh seseorang."
Rayhan menutup plester di pergelangan Kiara. "Karena itu besok kamu datang ke Polda. BAP akan diambil polwan. Aku tidak akan menekanmu."
"Kak Rayhan yang menangani?"
"Aku pimpin penyelidikan awal." Ia menyimpan kapas bekas ke plastik kecil. "Tapi keteranganmu akan diambil Sari. Aku terlalu dekat dengan saksi."
Terlalu dekat.
Kata itu menempel di dada Kiara lebih lama daripada seharusnya.
Keesokan paginya, Kiara tiba di Polda Kota Barat dengan lingkar mata yang sulit disembunyikan. Rayhan mengantarnya, tetapi begitu masuk gedung, ia berubah menjadi seseorang yang berbeda. Bahunya tegak. Langkahnya cepat. Setiap anggota yang lewat memberi hormat atau menyapa, "Pagi, Pak Rayhan."
Kiara berjalan setengah langkah di belakangnya, merasa kecil di antara dinding abu-abu, papan informasi kasus, dan suara telepon kantor yang tak berhenti berdering.
Di ruang tunggu unit reskrim, seorang polwan berambut pendek mendekat dengan senyum tenang.
"Kiara Song?"
Kiara mengangguk.
"Saya Sari. Nanti saya yang ambil keterangan kamu. Kita pelan-pelan saja, ya. Kalau perlu berhenti, bilang."
Suara Sari membuat bahu Kiara sedikit turun. Ia melirik Rayhan. Pria itu berdiri di samping meja penyidik, membaca laporan sementara dari Aldi.
Aldi, yang kemarin malam masih memanggilnya Mbak, kini langsung menegakkan badan. "Pak, rekaman sudah disalin. CCTV juga sudah diamankan dari pengelola. Ada kamera yang menangkap Brandon mengikuti Mbak Kiara ke lorong."
"Saksi?"
"Pelayan dan security siap datang siang ini. Galih juga bersedia memberi keterangan."
Rayhan mengangguk. "Kirim salinan ke jaksa pendamping setelah lengkap. Dan cek ulang laporan perempuan hilang yang pernah dekat dengan Brandon."
Kiara mendengar semuanya sambil duduk di depan Sari. Ketika rekamannya diputar, suara Brandon memenuhi ruangan kecil.
Aku cuma menutup mulutnya.
Kalau dia diam, mungkin aku tidak perlu membuatnya diam selamanya.
Jari Kiara mengepal di pangkuan.
Sari segera menghentikan audio. "Mau minum dulu?"
Kiara menggeleng. "Lanjut saja, Bu."
"Panggil Sari saja." Sari tersenyum tipis. "Kamu kuat, tapi tidak harus kelihatan kuat setiap detik."
Kalimat itu hampir membuat mata Kiara panas. Ia menunduk, lalu mulai menjawab pertanyaan satu per satu. Jam berapa ia tiba. Siapa saja yang hadir. Kapan Brandon mendekat. Bagaimana ia merekam. Di bagian cengkeraman tangan, Sari memotret bekas merah itu sebagai bukti luka ringan dan menanyakan apakah Kiara bersedia visum.
Kiara menatap pintu kaca. Di luar, Rayhan sedang berbicara dengan seorang anggota. Di dada seragamnya ada papan nama dan angka NRP yang dicetak rapi.
"NRP itu penting, ya?" tanya Kiara tiba-tiba.
Sari mengikuti arah pandangnya, lalu tersenyum kecil. "Itu identitas polisi. Nomor yang melekat seumur karier. Kalau kami menandatangani laporan, bersaksi, atau bertanggung jawab atas tindakan, nomor itu ikut bicara."
Kiara mengingat cara Rayhan semalam berdiri di depannya.
Seolah seluruh identitasnya memang digunakan untuk satu hal, memastikan seseorang tidak bisa menyentuhnya lagi.
Setelah BAP selesai, Kiara keluar dari ruangan dengan kepala sedikit pening. Rayhan langsung berdiri dari kursi tunggu.
"Selesai?"
"Selesai."
"Makan dulu."
Kiara hampir tertawa lemah. "Kak Rayhan, aku baru keluar dari BAP."
"Justru itu."
Sari menyusul dari ruang pemeriksaan sambil membawa map tipis. "Kiara, ini salinan tanda terima barang bukti digital. Rekaman asli tetap di ponsel kamu, tapi salinannya sudah kami buat dan diberi nomor. Jangan hapus file apa pun sampai penyidik bilang boleh."
Kiara menerima kertas itu dengan kedua tangan. Ada nomor perkara sementara, jam pengambilan keterangan, dan tanda tangan Sari di bagian bawah. Hal-hal yang semalam terasa seperti mimpi buruk kini berubah menjadi tinta, stempel, dan prosedur.
"Kalau ada nomor asing menghubungi, jangan balas," tambah Sari. "Screenshot, kirim ke saya atau Pak Rayhan."
Ponsel Kiara bergetar lagi. Kali ini pesan dari Cici.
Cici:
Lo udah selesai BAP? Gue di kantor tapi nggak fokus kerja. Kalau perlu ditemenin, gue cabut sekarang.
Cici:
Dan Ki, serius, lo keren banget semalam. Gue masih gemeter, tapi lo sempat rekam dia.
Kiara menatap pesan itu sampai matanya panas. Untuk pertama kalinya sejak kejadian semalam, ia tidak merasa sendirian di tengah prosedur dingin kantor polisi.
Kiara:
Aku aman. Nanti aku kabari.
Sebelum Kiara menjawab, ponselnya berdering. Nama Bu Ratna muncul di layar.
Kiara mengangkat dengan cemas. "Bu, maaf soal semalam..."
"Kamu tidak perlu minta maaf karena menjadi korban," potong Bu Ratna tegas. "Saya sudah bicara dengan Galih. Kamu merekam pengakuan Brandon?"
"Iya, Bu."
"Kerja jurnalistikmu berisiko, tapi instingmu benar. Untuk sementara jangan tulis apa pun sampai polisi memberi izin. Tapi setelah kasus ini aman, saya mau kamu ikut tim kriminal. Bukan sebagai pembawa kopi."
Kiara membeku. "Maksud Bu Ratna..."
"Maksud saya, kamu punya kepala dingin. Kota Barat Post butuh itu. Istirahat hari ini. Besok kita bicara di kantor."
Telepon terputus.
Kiara menatap layar, masih tidak percaya.
"Apa katanya?" tanya Rayhan.
"Bu Ratna... mau aku ikut tim kriminal."
Untuk pertama kalinya sejak masuk Polda pagi itu, wajah Rayhan sedikit melunak. "Selamat."
Satu kata lagi. Pendek. Tapi kali ini Kiara tidak kecewa. Ia tahu dari cara Rayhan menatapnya, kata itu bukan sekadar sopan.
Aldi muncul dari ujung lorong. "Pak, Brandon dibawa ke ruang pemeriksaan dua. Pengacaranya sudah datang."
Rayhan mengangguk. "Saya ke sana."
Mereka melewati lorong yang sama. Kiara seharusnya menunggu di ruang tamu, tetapi pintu ruang pemeriksaan terbuka tepat ketika Brandon dibawa masuk oleh dua anggota. Wajah pria itu lebih pucat daripada semalam, tapi senyumnya tetap membuat kulit Kiara meremang.
Matanya langsung menemukan Kiara.
"Kau pikir satu rekaman cukup menjatuhkan aku?" Brandon berkata, suaranya serak. "Kau akan menyesal, gadis kecil."
Rayhan berhenti.
Udara di lorong seperti turun beberapa derajat.
Brandon tersenyum lebih lebar, menatap Kiara tanpa berkedip.
"Aku ingat wajahmu sekarang."