Di usia 20 tahun, hidup Keira Seng sudah diberi deadline.
Kanker lambung stadium awal. Dokter bilang masih ada harapan, tapi tubuhnya berkata lain. Di tengah ketakutan dan kesendirian — karena keluarganya sudah lama bukan tempat bersandar — sebuah HP Nokia tua yang selalu ada di tasnya tiba-tiba mengirim pesan:
[SISTEM IMITASI AKTIF. TARGET DITETAPKAN: XAVIER SIA. SELESAIKAN MISI UNTUK MENDAPAT POIN KEHIDUPAN.]
Xavier Sia. Cucu konglomerat Sia Corporation. Mahasiswa hukum semester 5 yang wajahnya selalu muncul di @unparfess sebagai "Campus Crush No.1." Dingin. Tajam. Dan — atas kebetulan yang absurd — tinggal di unit sebelah apartemen Keira.
Misi pertama: berpakaian seperti dia selama satu minggu.
Yang tadinya hanya "survival strategy" perlahan berubah bentuk. Baju yang sama membawa mereka ke percakapan. Percakapan membawa kedekatan. Kedekatan membawa perasaan yang Keira tidak mampu — dan tidak berhak — untuk miliki.
Karena bagaimana bisa kamu jatuh cinta kalau kamu sendiri tidak tahu berapa lama bisa hidup?
Dan bagaimana bisa Xavier tahu bahwa gadis yang selalu tersenyum di depannya sedang menghitung waktu di belakangnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zara Melati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6
Bab 6: Pembelaan
Ia tidak bisa berhenti.
Kalimat itu terdengar heroik kalau ditaruh di poster motivasi. Dalam hidup Keira, artinya jauh lebih menyedihkan: ia harus tetap memakai outfit mirip Xavier Sia meskipun akun gosip kampus sedang membahasnya seperti ia karakter tambahan dalam drama murahan.
Hari kedua, Keira memilih kemeja putih dan celana jeans gelap karena Nokia menampilkan target pagi itu memakai warna serupa. Ia berangkat lebih awal agar tidak bertemu Xavier di lobi.
Ia tetap bertemu Xavier di parkiran kampus.
Tidak hanya itu, Kevin juga ada.
"Hari kedua!" Kevin berseru sambil menunjuk mereka bergantian. "Ini bukan kebetulan lagi. Ini sudah program kerja."
Xavier hanya menatap Kevin.
Kevin langsung menurunkan tangan. "Oke. Gue diam. Tapi secara visual, kalian kompak."
Keira lewat dengan wajah setenang mungkin, padahal isi kepalanya sudah seperti grup WA keluarga saat ada hoaks baru.
Hari ketiga lebih buruk.
@unparfess mengunggah ulang foto baru dari seseorang yang melihat Keira dan Xavier di gedung berbeda tetapi dengan warna outfit yang lagi-lagi mirip. Kali ini komentarnya tidak lagi sekadar bercanda.
Keira membaca di kamar sambil duduk di lantai, punggung menempel pada kasur. Di dekatnya ada gelas air hangat dan obat lambung. Nokia di meja memperlihatkan `Hari 3/7`, seolah tidak peduli bahwa pemiliknya sedang dikuliti online.
`Ini cewek siapa sih? Ngeri amat ngikutin outfit orang.`
`Stalker vibes. Kalau cowok yang diginiin, harusnya lapor.`
`Peniru banget. Nggak punya style sendiri?`
`Cewek murahan cari perhatian Xavier.`
Komentar terakhir membuat jari Keira berhenti.
Ia tahu orang internet bisa jahat. Ia juga tahu sebagian dari mereka mungkin hanya mengetik sambil rebahan, tanpa benar-benar peduli siapa yang terluka. Tapi tetap saja, kalimat itu seperti dilempar ke wajahnya.
Murahan.
Keira menatap dirinya di cermin lemari. Tubuh kecil, wajah pucat, mata kurang tidur, kemeja putih yang ia pakai karena sistem menyuruhnya. Ia ingin tertawa. Kalau mereka tahu alasan sebenarnya, mungkin mereka tidak akan memanggilnya murahan.
Mungkin mereka akan memanggilnya gila.
HP utamanya berdering. Celine.
Keira menatap nama itu beberapa detik sebelum mengangkat.
"Lo baca?" tanya Celine tanpa pembukaan.
"Yang mana? Yang bilang gue stalker atau yang bilang gue murahan? Banyak pilihan menu."
"Kei."
Nada Celine turun. Itu lebih buruk daripada omelannya.
Keira menggulung ujung lengan kemeja. "Aku baik-baik aja."
"Kalimat itu otomatis bohong kalau keluar dari orang yang suaranya kayak habis nelen batu."
Keira diam.
Di seberang sana, Celine menghela napas. "Biarin aja orang ngomong, yang penting kamu happy."
Keira hampir menjawab, `Aku bukan happy, aku cuma mau hidup.` Kalimat itu sudah sampai di lidah, tetapi peringatan sistem muncul dalam ingatannya: dilarang memberi tahu pihak ketiga.
Jadi ia hanya berkata, "Aku nggak happy."
"Kalau gitu berhenti."
Keira menatap Nokia.
`Hari 3/7.`
"Nggak bisa."
Celine terdiam cukup lama. "Ini soal Xavier?"
Keira memejamkan mata. "Bukan sepenuhnya."
"Jawaban macam apa itu?"
"Jawaban orang yang belum bisa cerita."
Untuk pertama kalinya, Celine tidak memaksa. "Oke. Tapi kalau ada yang ganggu lo langsung, kasih tahu gue. Gue bisa bacot, tapi gue juga bisa galak."
Keira tertawa kecil. Dadanya sedikit longgar.
"Siap, bodyguard."
"Dan makan. Jangan cuma minum air hangat kayak lansia."
"Iya."
Setelah telepon ditutup, Keira kembali membuka @unparfess meskipun tahu itu ide buruk. Komentar terus bertambah. Ada yang membelanya, ada yang memperkeruh. Ada yang mulai mencari akun IG-nya.
Tangannya dingin.
Lalu satu komentar baru muncul di atas karena mendapat banyak likes dalam hitungan menit.
`Kebetulan berpakaian mirip bukan kejahatan. Berhenti mengganggu orang lain.`
Keira membaca komentar itu sekali.
Lalu nama akunnya.
`@xav.offline`
Untuk beberapa detik, suara AC di kamar terasa terlalu keras.
Xavier.
Ia benar-benar berkomentar dengan akun utamanya. Tidak anonim, tidak lewat teman, tidak lewat sindiran halus. Ia masuk ke kolom komentar yang sedang ramai, memakai namanya sendiri, dan menyuruh mereka berhenti.
Komentar balasan langsung berubah arah.
`ANJIR XAVIER TURUN GUNUNG.`
`Oke guys bubar, yang punya badan sudah ngomong.`
`Wait, berarti mereka kenal?`
`Xavier bela dia? Aku pingsan.`
`Maaf bang, siap.`
Keira menekan layar HP dengan ibu jari yang gemetar. Rasanya aneh. Ia malu karena menjadi pusat perhatian, tetapi ada sesuatu yang hangat dan tidak diminta menyebar dari dadanya.
Chat dari Celine masuk hampir bersamaan.
`KEI.`
`Dia bela lo.`
Keira menatap dua kalimat itu, lalu melihat lagi komentar Xavier. Celine mengirim screenshot dengan lingkaran merah besar di akun `@xav.offline`, seolah Keira mungkin melewatkan fakta paling jelas sedunia.
`Lo masih mau bilang ini bukan apa-apa?`
Keira mengetik lama.
`Dia cuma orang baik.`
Celine membalas cepat.
`Orang baik banyak. Yang berani turun ke kolom komentar unparfess buat bela cewek yang baru digosipin? Itu spesies langka.`
Keira tidak punya jawaban untuk itu.
Ia hanya memegang HP lebih erat. Untuk pertama kalinya sejak postingan itu naik, ia tidak merasa sendirian di tengah ratusan komentar asing.
Ia membuka chat Xavier, mengetik `makasih`, menghapusnya, mengetik lagi `soal unparfess`, lalu menghapusnya juga.
Akhirnya ia tidak mengirim apa pun.
Sore itu, unggahan @unparfess masih ada, tetapi nadanya sudah berubah. Orang-orang mulai bercanda bahwa Xavier galak kalau "kembarannya" diganggu. Beberapa komentar buruk tenggelam. Bukan hilang seluruhnya, tapi tidak lagi terasa seperti kerumunan yang mengepung sendirian.
Malamnya, Keira turun ke minimarket lobi untuk membeli biskuit tawar. Saat kembali ke lantai 16, lift terbuka dan ia melihat Xavier baru keluar dari unitnya, memakai hoodie gelap, rambut masih lembap setelah mandi.
Mereka berhenti bersamaan di koridor.
Keira memegang plastik belanja lebih erat.
"Xavier."
Ia menoleh.
Kalimat terima kasih sudah siap di ujung lidah. Pendek saja. Tidak perlu dramatis. `Makasih soal tadi.`
Tapi begitu melihat wajahnya, semua kata mendadak berantakan.
Xavier menatap plastik belanja di tangannya. "Makan biskuit buat malam?"
Keira otomatis menyembunyikan plastik ke belakang. "Cadangan."
"Cadangan hidup?"
"Kurang lebih."
Xavier diam sebentar, lalu membuka pintu unitnya. "Jangan telat makan."
"Xav..."
Ia sudah masuk.
Pintu tertutup pelan.
Keira berdiri di koridor dengan kalimat terima kasih yang tidak sempat keluar. Jantungnya berdetak terlalu cepat untuk sesuatu yang bahkan bukan adegan romantis. Dia hanya membelanya di internet. Dia hanya menyuruhnya makan.
Tapi bagi Keira, yang beberapa hari terakhir merasa tubuh dan hidupnya sedang dipermalukan satu per satu, itu terasa seperti seseorang berdiri di depannya dan berkata, cukup.
Di dalam kamarnya, Nokia tua bergetar.
`Nilai Replika +5%.`
`Catatan: semakin dekat hubungan dengan target, semakin efektif imitasi.`
Keira menatap kalimat itu lama sekali.
Semakin dekat.
Ia menelan ludah.
"Berarti," bisiknya, "gue harus lebih dekat sama Xavier?"