Lima tahun lalu, Keira diusir dari keluarga Mulyono saat perutnya baru membesar.
Tidak ada yang tahu dia sedang mengandung tiga anak sekaligus — anak-anak dari pria paling berkuasa di Jakarta: Kevin Hartono, CEO Hartono Group.
Tanpa uang, tanpa keluarga, tanpa nama — dia membesarkan ketiga anaknya sendirian. Diam-diam, dia membangun kerajaan bisnisnya sendiri. Menjadi CEO SH Corporation. Menjadi dokter jenius yang dipanggil "Dr. Mira." Menjadi ahli chip SSS-level yang dicari seluruh dunia dengan nama "Ainara."
Sekarang, dia kembali ke Jakarta.
Bukan sebagai gadis yang pernah dibuang. Tapi sebagai wanita yang bisa menghancurkan siapa saja yang pernah menyakitinya.
Masalahnya? Kevin Hartono — mantan suami yang bahkan tidak tahu dia pernah hamil — baru saja menemukan bahwa putranya, Darren, punya saudara kembar yang identik.
Dan dia tidak akan berhenti sampai menemukan ibu mereka.
"Kei... kamu bisa membenciku. Kamu bisa memukulku. Tapi aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi."
Tapi Keira sudah bersumpah: *dia yang membuangku, sekarang harus berlutut untuk mendapatkanku kembali.*
Siapa bilang balas dendam terbaik bukan hidup bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
Malam itu tidak lagi terasa aman.
Kevin duduk tegak di sofa. "Ada apa?"
Keira tidak menjawab. Ia menyerahkan ponsel kepadanya.
Kevin membaca pesan anonim itu. Matanya langsung mengeras.
"Nomornya?"
"Tidak dikenal."
Ethan muncul dari tangga, rambutnya masih berantakan karena terbangun mendengar suara ponsel Mommy. "Aku bisa lacak."
Keira menoleh cepat. "Eth, kamu tidur."
"Kalau ada yang menyebut Koko Ren, Eth tidak bisa tidur."
Kalimat sederhana itu membuat ruang tamu hening.
Kevin memandang anak laki-laki itu, lalu Keira. Terlalu banyak kepingan yang belum ia dapatkan, tetapi malam ini bukan waktunya memaksa.
Keira menarik napas panjang.
"Mereka ingin membuatku mengejar bayangan."
Rio yang baru masuk dari luar mengangguk. "Pesan itu bisa jebakan."
"Kalau begitu kita paksa mereka keluar dari bayangan."
Keesokan paginya, rumah Keira berubah menjadi ruang kendali kecil.
Tirai ditutup. Lampu ring light dipasang di ruang kerja. Tiga kamera disiapkan: satu menghadap Keira, satu ke meja bukti, satu lagi untuk close-up dokumen. Ethan duduk di depan laptop dengan wajah serius, mengenakan hoodie biru dan headset yang terlalu besar untuk kepalanya.
"Lima server cadangan siap," katanya. "Kalau satu platform diturunkan, siaran pindah otomatis. Kalau ada yang coba report massal, sistem akan lompat ke link berikutnya."
Rio memeriksa tablet. "Tim legal SH Corporation sudah siap. File asli tersimpan di tiga lokasi."
Keira berdiri di depan meja.
Di atasnya tersusun map-map yang selama lima tahun ia bawa seperti batu di dada.
Surat wasiat palsu.
Akta pengalihan saham Mulyono Group.
Rekening pajak.
Rekaman suara.
Foto malam hujan ketika ia diusir.
Kevin berdiri dekat pintu, tidak mengambil alih. Ia hanya ada di sana, seperti dinding yang tidak meminta dipuji.
"Kamu yakin?" tanyanya.
Keira menatap kamera mati di depannya.
"Lima tahun lalu mereka membuat semua orang menonton kehancuranku. Hari ini, aku yang memilih siapa yang menonton."
Pukul delapan malam, siaran langsung dimulai.
Akun resmi SH Corporation membagikan tautan. Beberapa akun gosip yang sejak kemarin membicarakan Keira langsung masuk. Dalam lima menit, penonton mencapai dua ratus ribu.
Keira duduk tegak di depan kamera.
Tidak ada musik. Tidak ada efek. Hanya wajahnya, meja bukti, dan suara yang tenang.
"Nama saya Keira Mulyono. Lima tahun lalu, saya diusir dari Rumah Mulyono dengan tuduhan mempermalukan keluarga. Malam ini saya akan menunjukkan siapa yang sebenarnya mempermalukan nama keluarga itu."
Komentar mulai berlari.
Ini dia!
Keira live!
Hendra Mulyono tamat?
Keira mengambil dokumen pertama.
"Pertama. Surat wasiat mendiang Engkong Mulyono yang dipakai Hendra Mulyono untuk mengambil alih bagian warisan saya."
Kamera kedua memperbesar tanda tangan.
"Ini tanda tangan yang mereka pakai di pengadilan keluarga. Ini hasil pemeriksaan grafologi independen dari Singapura dan Jakarta. Tanda tangan itu dipalsukan."
Ethan menampilkan perbandingan di layar: goresan asli, goresan palsu, tanggal dokumen, nomor notaris yang tidak pernah hadir pada hari itu.
Jumlah penonton melewati tujuh ratus ribu.
Di Rumah Mulyono, Hendra menatap televisi dengan wajah gelap.
"Matikan siaran itu."
Siska memegang ponsel dengan tangan gemetar. "Tidak bisa. Link-nya pindah terus. Orang-orang mengirim ke grup arisan, grup gereja, grup bisnis..."
Di layar, Keira membuka map kedua.
"Kedua. Pengalihan saham Mulyono Group yang dilakukan tanpa persetujuan wali sah saat saya masih berada dalam tekanan keluarga."
Ia tidak menaikkan suara. Justru ketenangannya membuat setiap angka terasa seperti pisau.
"Selama lima tahun, Hendra Mulyono memakai aset yang seharusnya menjadi hak saya untuk menutup utang pribadi dan memperbesar posisi keluarganya. Ini daftar transaksi."
Tabel muncul.
Nama rekening.
Tanggal.
Jumlah.
Perusahaan cangkang.
Komentar berubah liar.
Itu triliunan rupiah?
Ya Tuhan, ini bukan drama keluarga. Ini kriminal.
Mulyono Group habis.
Di kantor Hartono Group, Kevin menonton siaran dari layar besar ruang rapat. Feng berdiri di sampingnya.
"Boss, tim legal sudah standby."
Kevin tidak melepaskan pandangan dari Keira.
"Dia akhirnya bergerak."
"Perlu kita masuk sekarang?"
"Belum. Jangan ambil panggungnya." Suara Kevin rendah. "Siapkan tim hukum Hartono Group. Kalau mereka menyerang balik, kita tutup semua jalan."
Di layar, Keira mengambil flash drive kecil.
"Ketiga. Rekaman suara."
Satu klik.
Suara Siska terdengar dari speaker.
Jangan kirim pesan ke aku malam ini. Hendra ada di rumah. Kalau Dr. Yoga bertanya, bilang saja resep itu untuk pasien lama.
Suara laki-laki menjawab pelan.
Kamu cuma mencariku kalau butuh obat atau kalau suamimu pergi.
Ruang komentar meledak.
Dr. Yoga?
Itu dokter keluarga Mulyono?
Siska selingkuh?
Siska jatuh terduduk di lantai Rumah Mulyono.
"Itu bukan aku," bisiknya.
Hendra menatapnya perlahan. Kemarahan karena Keira berubah menjadi sesuatu yang lebih pribadi, lebih memalukan.
"Siska."
"Itu rekayasa!"
Televisi menampilkan gelombang suara, tanggal rekaman, dan pesan WhatsApp yang sudah dipulihkan dari ponsel lama.
Keira tidak berhenti.
"Keempat. Catatan pajak dan pembukuan ganda Mulyono Group."
Ia menggeser layar. Deretan angka muncul, begitu banyak sampai sebagian penonton hanya memahami satu hal: jumlahnya terlalu besar untuk disebut kesalahan administratif.
"Selama tiga tahun terakhir, Hendra Mulyono memindahkan pendapatan perusahaan ke rekening bayangan dan melaporkan angka yang jauh lebih kecil. Total potensi kerugian negara mencapai ribuan miliar rupiah."
Penonton melewati dua juta.
Lalu dua juta lima ratus ribu.
Ethan menatap angka di laptop. "Mommy, tiga juta dalam tiga puluh detik."
Keira tidak menoleh, tetapi Rio melihat jari-jarinya menggenggam ujung meja sebentar.
Ia tetap melanjutkan.
"Kelima. Catatan pengiriman barang ilegal melalui salah satu anak perusahaan Mulyono Group. Bukti ini sudah saya serahkan kepada pihak berwenang."
Layar menampilkan foto kontainer, nomor manifest, dan nama perusahaan logistik yang selama ini tidak pernah muncul di laporan tahunan. Keira tidak menyebut dugaan lebih jauh dari yang bisa dibuktikan. Ia hanya membaca nomor dokumen, tanggal, dan nama pejabat yang menerima setoran.
Justru itulah yang membuatnya menakutkan.
Ia tidak terdengar seperti orang yang sedang membalas dendam.
Ia terdengar seperti seseorang yang sudah selesai menyusun berkas perkara.
Di kolom komentar, beberapa akun berita mulai masuk dengan centang biru. Potongan siaran dipotong, diberi teks, lalu menyebar ke TikTok, Instagram, dan grup WhatsApp keluarga. Dalam hitungan menit, nama Hendra Mulyono tidak lagi sekadar menjadi bahan gosip. Ia menjadi kata kunci yang dicari bersama frasa penggelapan pajak, warisan palsu, dan Mulyono Group.
Rio menunjukkan layar kedua kepada Keira. "Direktorat pajak mulai ramai ditandai netizen."
Keira hanya mengangguk. "Biarkan."
Malam itu, tekanan tidak lagi datang dari satu perempuan yang pernah mereka buang.
Tekanan datang dari jutaan mata.
Di Rumah Mulyono, Hendra meraung dan melempar gelas ke televisi.
Kaca pecah.
Namun suara Keira masih keluar dari ponsel Siska yang jatuh di lantai.
"Matikan!" teriak Hendra.
Siska menangis. "Semua orang sudah lihat..."
Hendra meraih ponsel itu dan membantingnya, tetapi di luar pagar Rumah Mulyono, suara motor wartawan mulai terdengar.
Di rumah Keira, jumlah penonton melewati tiga juta.
Keira menatap kamera.
Untuk pertama kalinya, suaranya tidak hanya tenang. Ada sesuatu yang dingin, tua, dan tajam di sana. Sesuatu yang lahir dari malam hujan lima tahun lalu.
"Lima tahun lalu, kalian menyeret saya keluar dari rumah, mengambil dokumen saya, menghina saya di depan orang-orang yang dulu memanggil saya keluarga."
Komentar berhenti terasa seperti komentar. Jutaan orang seolah ikut menahan napas.
"Kalian pikir saya pergi karena kalah."
Keira meletakkan kedua tangannya di meja.
"Hari ini saya beri tahu kalian. Yang kalian usir bukan gadis yang dibuang. Yang kalian usir adalah orang yang seumur hidup kalian tidak sanggup kalian lawan."
Di ruang rapat Hartono Group, Feng tanpa sadar bergumam, "Gila..."
Kevin tidak berkata apa-apa.
Matanya hanya menatap Keira dengan kebanggaan yang begitu jelas sampai semua orang di ruangan itu berpura-pura sibuk melihat layar lain.
Lalu ia mengangkat tangan.
"Kirim tim hukum kita ke kantor pengacara Keira. Jangan bicara atas namanya, jangan ambil kredit apa pun. Beri akses, beri perlindungan, dan pastikan kalau Mulyono Group mencoba menekan saksi, mereka berhadapan dengan Hartono Group."
Feng menunduk cepat. "Baik, Boss."
"Satu lagi. Amankan semua salinan bukti pajak."
"Sudah, Boss."
"Bagus. Malam ini, jangan ada yang menyentuhnya."
Keira menutup siaran dengan satu kalimat terakhir.
"Semua bukti asli sudah dikirim kepada pengacara dan pihak berwenang. Mulai malam ini, saya berhenti meminta kalian mengembalikan milik saya. Saya akan mengambilnya sendiri."
Siaran berakhir.
Ruang kerja Keira hening.
Ethan melepas headset pelan. Rio menghela napas untuk pertama kalinya sejak siaran dimulai. Kevin berjalan mendekat, tetapi berhenti saat melihat Keira menutup mata sebentar.
Ponsel di meja bergetar.
Nomor tidak dikenal.
Keira membuka mata.
Kevin langsung menatap layar.
"Jangan angkat."
Keira justru menekan tombol terima dan mengaktifkan pengeras suara.
Beberapa detik hanya terdengar napas berat.
Lalu suara serak seorang pria masuk, pelan dan jauh.
"Kerja bagus, Keira."
Kevin menegang.
Suara itu melanjutkan, "Tapi hati-hati. Om Hendra-mu bukan orang paling berbahaya."
Keira menggenggam ponsel lebih kuat.
"Siapa ini?"
Di seberang, pria itu berkata, "Di belakangnya masih ada orang yang sudah lama menunggu kau muncul."
Lalu sambungan terputus, menyisakan sunyi yang lebih tajam daripada ancaman.
Tidak ada yang bernapas saat itu.