Dibuang di tengah hujan oleh keluarganya sendiri, Keira Santoso nyaris mati — sampai sebuah lampu jalan BICARA padanya.
Sejak malam itu, dia bisa mendengar suara semua benda. Jantung yang mau mogok kerja. Kalung yang membisikkan rahasia. Berlian yang memanggilnya Tuan Putri.
Dan sentuhan seorang CEO tampan yang semua orang tak bisa menyentuhnya... adalah satu-satunya obat untuk keduanya.
Enam kakak yang dulu mengabaikannya? Sekarang rebutan memanjakannya.
Keluarga yang membuangnya? Berlutut memohon ampun.
Tapi Keira sudah menemukan rumahnya yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5
Bab 5
Keira berdiri di ruang tamu, punggung tegak, tangan kosong, dan untuk pertama kalinya sejak dilahirkan kembali di tubuh ini, ia tidak merasa perlu mundur.
Langkah kaki di tangga semakin dekat.
Seline melihat ke arah lantai dua, lalu kembali menatap Keira. Dalam satu tarikan napas, wajahnya berubah. Panik tipis di matanya meleleh menjadi rasa takut yang lembut. Bibirnya bergetar. Bahunya mengecil, seolah Keira baru saja mengatakan sesuatu yang sangat menyakiti.
"Kak Keira," bisiknya. "Aku cuma khawatir."
Keira menatapnya tanpa ekspresi. "Kalau khawatir, panggil ambulans saat aku diusir malam itu. Bukan panggil penonton saat aku pulang."
Mata Seline berkedip cepat.
"Kakak salah paham. Aku benar-benar tidak tahu kamu pergi ke mana. Papa juga marah karena kamu menghilang begitu saja."
"Aku menghilang?"
Keira baru saja mengulang kata itu ketika Seline tiba-tiba maju dan meraih pergelangan tangannya.
Sentuhan itu ringan, hampir tidak bertenaga. Namun pada detik berikutnya, Seline menarik napas tajam, tubuhnya terhuyung, lalu jatuh ke lantai dengan suara kecil yang menyedihkan.
"Aduh!"
Keira bahkan belum menarik tangan.
Seline meringkuk di lantai, satu tangan memegang pergelangan kaki. Air mata langsung menggantung di bulu matanya, cepat dan terlatih.
"Kak, kenapa dorong aku?"
Langkah di tangga berhenti.
"Seline!"
Alvin lebih dulu turun. Wajahnya keras, rambutnya masih sedikit berantakan, seolah ia baru dibangunkan dari tidur siang yang tidak pantas diganggu. Di belakangnya, Gunawan Santoso muncul dengan kemeja rumah mahal dan ekspresi seseorang yang terbiasa membuat semua orang takut hanya dengan diam.
Alvin melihat Seline di lantai, lalu melihat Keira.
Tidak ada pertanyaan.
Tidak ada jeda.
"Lo baru pulang sudah bikin masalah?"
Keira menatapnya. "Aku belum menyentuhnya."
"Seline jatuh sendiri begitu, maksud lo?" Alvin tertawa kasar. Ia berjongkok membantu Seline duduk, gerakannya penuh drama kakak pelindung. "Dasar nggak tahu diri. Tiga hari nggak pulang, sekarang balik buat nyakitin orang?"
Seline menarik lengan Alvin. "Ko Alvin, jangan marah. Mungkin Kak Keira cuma masih kesal..."
Ko Alvin.
Keira mendengar panggilan itu dan merasakan sesuatu yang dingin lewat di dalam dada. Dulu tubuh ini juga pernah ingin memanggil Alvin seperti itu. Pernah menunggu kakak laki-laki itu membela sekali saja. Yang ia dapat hanya punggung, tuduhan, dan pintu tertutup.
Gunawan turun sampai anak tangga terakhir.
"Keira." Suaranya datar, tetapi lebih tajam daripada bentakan. "Kamu belum selesai mempermalukan keluarga ini?"
Keira menoleh padanya. "Keluarga?"
"Jangan bermain kata dengan saya."
"Saya hanya memastikan. Karena terakhir kali saya berada di sini, Anda menyuruh saya keluar di tengah hujan tanpa payung, tanpa ponsel, tanpa uang."
Gunawan tidak tampak bersalah.
Justru sudut bibirnya turun, seolah Keira menyebut hal kecil yang membuang waktunya.
"Itu hukuman."
"Hukuman yang bisa membuat orang mati."
Alvin berdiri, masih memegang bahu Seline. "Kalau lo nggak dramatis dan cari perhatian, lo nggak akan hampir mati."
Kata hampir mati membuat ruang tamu mendadak terasa lebih dingin.
Di atas kepala mereka, Lampu Gantung tua bergetar sangat pelan.
"Hampir mati katanya..." suara serak terdengar di kepala Keira. "Anak ini biru-biru dibuang hujan, masih dibilang cari perhatian. Manusia di bawah sini sudah karatan semua otaknya."
Keira mengangkat mata sebentar.
Lampu Gantung itu besar, kristalnya sudah kusam, rangkanya tua. Dalam ingatan tubuh ini, benda itu sudah bertahun-tahun tidak dirawat. Bautnya longgar, tetapi keluarga Santoso selalu menunda perbaikan karena "masih bisa menyala".
Di meja kaca, gelas hias ikut bergetar kecil.
"Aku mau pecah boleh nggak?" bisik Gelas Kaca. "Sekali aja. Gemes."
Pintu ruang tamu berderit panjang, padahal tidak ada angin.
"Tenang," gumam Pintu. "Kita lihat dulu."
Keira menurunkan pandangan. Dadanya penuh oleh emosi yang bukan hanya miliknya. Kemarahan pemilik tubuh asli bergerak seperti air banjir di balik bendungan, membawa semua malam panjang, semua tuduhan, semua momen ketika ia mencoba menjadi anak baik dan tetap tidak dipilih.
"Malam itu," kata Keira pelan, "Anda tahu hujan deras sejak sore."
Gunawan menatapnya dingin. "Lalu?"
"Anda tahu saya tidak membawa apa-apa."
"Lalu?"
"Anda tahu jalan depan kompleks sepi kalau sudah malam."
Alvin mendengus. "Kalau takut, harusnya lo minta maaf. Bukannya jalan entah ke mana."
Keira menatapnya. "Jadi kalian tahu."
Untuk pertama kalinya, Alvin terdiam setengah detik.
Gunawan mengangkat dagu. Ia percaya rumah ini miliknya, orang-orang di dalamnya miliknya, dan Keira tidak punya siapa pun di luar sana. Karena itu ia tidak merasa perlu berhati-hati.
"Saya tahu kamu keras kepala. Saya tahu kalau dibiarkan di luar, kamu akan belajar konsekuensi."
"Belajar konsekuensi?"
"Kamu tidak akan mati kalau tidak mencari masalah."
Alvin menambahkan dengan nada lebih kejam, "Dan kalaupun waktu itu lo nggak diselamatkan, mungkin rumah ini malah lebih tenang."
Seline menunduk, tetapi Keira melihat sudut bibirnya bergerak sangat tipis.
Itu dia.
Kalimat yang selama ini menunggu bentuk.
Mereka tahu. Mereka benar-benar tahu.
Keira merasakan kuku jarinya menekan telapak tangan. Tidak sakit. Atau mungkin sakit, tetapi tubuh ini sudah pernah menerima yang lebih buruk.
Yang paling menyakitkan bukan pengakuan itu sendiri, melainkan betapa ringannya mereka mengucapkannya. Seolah nyawa Keira memang tidak pernah lebih berat daripada hujan di halaman rumah.
Dalam hatinya, ia berbicara pada jiwa kecil yang tertinggal di tubuh ini.
Aku dengar. Aku ingat. Aku akan menagih semuanya untukmu.
Lampu Gantung di atas kepala Gunawan bergetar lebih keras.
"Nona kecil," suara benda itu terdengar tua, seperti pelayan lama yang akhirnya muak melihat tuannya. "Minggir sedikit."
Keira tidak bergerak besar. Ia hanya mundur setengah langkah, cukup untuk membuat posisinya keluar dari bawah lingkaran cahaya.
Seline melihat gerakan itu. Matanya menyipit.
"Kak Keira, kamu mau pergi lagi? Papa belum selesai bicara."
"Papa kamu," kata Keira dingin, "bukan urusan saya."
Wajah Gunawan menggelap.
"Apa kamu bilang?"
Keira menatap langsung ke matanya. "Saya bilang, Papa kamu. Bukan saya."
Alvin maju satu langkah. "Jaga mulut lo!"
Saat itulah suara logam tua berbunyi.
Krek.
Semua orang mendongak.
Lampu Gantung bergoyang sekali, dua kali, lalu baut terakhir yang menahannya menyerah dengan suara patah yang kering.
"Permisi jatuh!" teriak Lampu Gantung di kepala Keira. "Target utama, kepala batu!"
Kristal dan rangka logam jatuh tepat ke arah Gunawan.
Gunawan sempat mengangkat tangan, tetapi tubuhnya tidak cukup cepat. Lampu itu menghantam bahu dan kakinya, memecah meja kecil di sampingnya. Suara kaca pecah memenuhi ruang tamu. Alvin melompat mundur terlalu lambat, serpihan kristal menggores lengannya.
Seline menjerit.
ART di belakang rumah ikut berteriak.
Gunawan jatuh ke lantai, wajahnya berubah merah oleh sakit. "Aduh! Kaki saya!"
Alvin memegang lengannya yang berdarah tipis. "Sial! Apa-apaan ini?"
Keira berdiri beberapa langkah dari kekacauan, tak tersentuh satu serpihan pun.
Di lantai, Lampu Gantung mengerang bangga.
"Aduh, pinggangku. Tapi puas. Puas banget."
Gelas Kaca berbisik kagum, "Legend."
Gunawan menatap Keira dengan mata penuh kebencian. "Dasar pembawa sial! Kamu masuk rumah ini, langsung ada bencana!"
Keira menunduk melihat rangka lampu yang patah. Ada rasa hangat aneh di dadanya, bukan karena gembira melihat orang terluka, tetapi karena untuk pertama kalinya, rumah ini tidak sepenuhnya diam.
"Mungkin bukan saya yang sial," katanya. "Mungkin rumah ini yang sudah muak dengan penghuninya."
Wajah Seline pucat. Namun bahkan dalam panik, ia masih mencoba berpikir cepat. Ia merangkak mendekati Gunawan, menangis sambil memegang lengannya.
"Papa, jangan bergerak. Kak Keira, tolong bantu! Kamu yang paling dekat. Ambil kotak P3K, panggil dokter, sesuatu!"
Keira tahu rencana itu saat melihat mata Seline.
Kalau Keira tinggal, ia akan dipaksa mengurus Gunawan. Kalau ia menolak, ia akan disebut anak durhaka. Kalau ia pergi, Seline akan punya cerita baru untuk semua orang: Keira pulang, membuat ayahnya terluka, lalu kabur.
Keira berjongkok, bukan ke arah Gunawan, melainkan ke arah Lampu Gantung yang tergeletak.
Dengan hati-hati, ia mengambil satu bagian rangka yang masih utuh.
"Terima kasih," bisiknya.
Lampu Gantung terisak bangga. "Aku... aku masih bisa diperbaiki?"
"Bisa."
"Jangan bohong ya. Aku masih mau lihat muka mereka kalau nanti kamu bahagia."
"Aku janji."
Alvin menatapnya seperti melihat orang gila. "Lo malah ngomong sama rongsokan?"
Keira berdiri, membawa bagian lampu itu. "Setidaknya rongsokan ini lebih tahu melindungi orang daripada kalian."
Gunawan memukul lantai dengan telapak tangan. "Keira! Kamu tidak akan keluar dari rumah ini sebelum bertanggung jawab!"
"Bertanggung jawab atas kelalaian perawatan rumah Anda?"
"Atas semua kekacauan yang kamu bawa!"
Keira membuka mulut untuk menjawab.
Namun sebelum suaranya keluar, pintu depan terbuka.
Udara siang masuk bersama aroma hujan yang tertinggal di halaman. Pak Chen berdiri di luar dengan wajah kaku. Di depannya, seorang wanita melangkah masuk dengan blus sutra warna gelap, rambut tersanggul rapi, dan mata yang dalam satu detik menyapu seluruh ruangan.
Gunawan di lantai.
Alvin dengan lengan berdarah.
Seline berlutut di samping mereka, wajah penuh air mata palsu yang mendadak tertahan.
Keira berdiri tegak di tengah pecahan kristal, memegang bagian Lampu Gantung yang rusak.
Mei Lin berhenti di ambang pintu.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, mantan istri Gunawan Santoso kembali berdiri di rumah itu, bukan sebagai wanita yang dipaksa pergi, melainkan sebagai ibu yang datang menjemput putrinya.
semangat thor💪