Yolanda Liem baru 23 tahun ketika menjadi janda.
Suaminya—Kevin Liem, putra sulung keluarga konglomerat Liem—meninggal karena sakit setelah lima tahun pernikahan tanpa cinta (dan tanpa konsumasi). Yola memilih tetap tinggal di mansion keluarga, mengurus rumah tangga, dan menjalani masa berkabung dengan tenang.
Sampai Rayhan Liem kembali.
Adik iparnya. CEO Liem Group. Pria paling dingin dan berbahaya di Jakarta.
Rayhan menatapnya bukan seperti kakak ipar. Tatapannya gelap, posesif, dan penuh rahasia. "Sejak kapan kau melihatku seperti itu?" tanya Yola dengan suara gemetar. Rayhan tidak menjawab. Dia hanya tersenyum — senyum yang membuat Yola ingin berlari.
Dan Yola memang berlari. Dua kali.
Tapi Rayhan selalu menangkapnya kembali.
Di antara ciuman paksa dan pengorbanan diam-diam, di antara luka pisau yang ditanggung demi Yola dan rahasia yang tak pernah ia ucapkan — Yola mulai mempertanyakan segalanya.
Apakah ini obsesi? Atau cinta yang sudah terlalu lama ditahan?
Ketika akhirnya ia berdiri di depan nisan Kevin dan berkata, "Aku sudah jatuh cinta pada orang lain" — apakah dunia akan memaafkannya?
⚠️ Peringatan: Mengandung adegan dewasa (steamy), hubungan possessive, dan grey-area consent di beberapa chapter. HE guaranteed.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
Bab 026
Pertunangan yang Dibatalkan
"Berani sentuh dia, aku patahkan tanganmu."
Marco baru sempat menghirup udara.
Rayhan menekan pergelangan tangannya ke arah yang salah.
Suara yang terdengar tidak besar. Hanya retak pendek, tertelan jeritan Marco yang pecah di koridor hotel. Namun justru karena kecil, bunyi itu membuat semua orang yang melihat serempak mundur setengah langkah.
Celine menutup mulutnya.
Daniel memalingkan wajah sesaat.
Yola tidak bergerak. Jemarinya meremas tepi jas hitam di dadanya sampai kain itu berkerut. Ia tidak melihat tangan Marco. Ia melihat wajah Rayhan, dan untuk pertama kalinya ia mengerti bahwa ketenangan pria itu bukan tidak adanya amarah.
Ketenangan itu adalah tempat amarah disimpan sebelum dipakai.
Rayhan melepaskan tangan Marco.
Marco jatuh ke lantai, memeluk pergelangan tangannya, wajahnya pucat seperti kertas basah. Semua keberaniannya yang tadi digunakan untuk menyebut Yola janda lenyap menjadi napas putus-putus.
"Panggil ambulans," kata Rayhan.
Security hotel baru berani bergerak setelah Ardi mengangguk.
"Dan catat dia tidak boleh meninggalkan Jakarta sampai pemeriksaan selesai," lanjut Rayhan. "Kalau Yola memutuskan lapor polisi, dia langsung didampingi pengacara."
"Pak," jawab Ardi.
Celine tersentak dari kebekuannya. "Rayhan, kamu sudah gila! Kamu melukai tamu di acaraku."
Rayhan berdiri.
Baru sekarang ia menatap Celine penuh.
"Acaramu?"
Satu kata itu membuat Celine berhenti.
Di lantai bawah, suara musik sudah dimatikan. Dari tangga jauh, beberapa tamu berdiri berkelompok, tidak berani naik tetapi terlalu penasaran untuk pergi. Nama Liem, Tan, Wijaya, semua tersangkut dalam satu koridor. Tidak ada lagi ruang untuk menyapu semuanya ke bawah karpet.
"Ya," Celine memaksa dagunya naik. "Ini acaraku. Kalau ada masalah, kita bisa bicarakan secara pribadi. Tidak perlu mempermalukan semua orang."
"Kamu baru ingat malu setelah orangmu gagal mempermalukan Yola?"
Wajah Celine memerah.
"Jaga ucapanmu."
"Aku sedang menjaganya," kata Rayhan. "Kalau tidak, aku sudah menyebut semua yang kulihat di depan tamumu satu per satu."
Marco mengerang dari lantai, tetapi tidak ada yang mendekat selain petugas hotel dan security. Bahkan orang-orang yang tadi ingin membantu pun ragu, seolah status Marco sebagai putra keluarga Wijaya tiba-tiba tidak cukup besar untuk menutupi rasa jijik mereka.
Celine menatap Yola.
Tatapan itu cepat, penuh benci, dan cukup tajam untuk membuat Sari otomatis berdiri sedikit lebih depan.
"Ini semua karena dia?" tanya Celine. Suaranya tidak lagi manis. "Rayhan, kamu mau menghancurkan hubungan dua keluarga hanya karena perempuan yang bahkan tidak tahu tempatnya?"
Koridor itu kembali sunyi.
Yola merasakan semua mata berpindah kepadanya.
Jas Rayhan di bahunya mendadak terasa lebih berat. Ia ingin mengatakan bahwa ia tidak meminta siapa pun menghancurkan apa pun. Ia hanya ingin keluar dari ruang ganti, keluar dari skandal yang tidak ia buat, keluar dari mulut orang-orang yang selalu menjadikan statusnya sebagai hukuman.
Tetapi Rayhan sudah melangkah satu langkah ke depan.
Ia tidak berdiri di samping Yola.
Ia berdiri di depan tuduhan itu.
"Jangan pakai dia sebagai alasan untuk menutupi kebusukanmu."
"Kebusukanku?" Celine tertawa, pendek dan bergetar. "Kamu serius menuduhku? Aku tunanganmu, Rayhan. Aku yang selama ini berdiri di sampingmu di acara keluarga, di depan media, di depan semua orang. Dia siapa?"
Kata terakhir itu jatuh terlalu keras.
Dia siapa.
Yola menunduk sebentar, bukan karena kalah, melainkan karena ia butuh satu detik untuk menahan tubuhnya agar tidak gemetar lagi.
Rayhan menjawab tanpa menoleh.
"Dia keluarga Liem."
Celine seperti tidak percaya mendengarnya.
"Keluarga Liem? Dia janda kakakmu."
"Dan kamu hampir membuat keluarga Liem difitnah di acaramu."
"Aku tidak melakukan apa pun!"
"Justru itu masalahmu."
Celine berkedip.
Rayhan menatapnya seperti menatap angka buruk dalam laporan keuangan yang sudah tidak bisa diselamatkan.
"Kamu ingin menjadi Nyonya Liem, tetapi tidak bisa menjaga acara kecilmu sendiri. Kamu ingin berdiri di sampingku, tetapi membiarkan pria seperti Marco masuk ke ruang ganti tamu perempuan. Kamu ingin dihormati keluarga ini, tetapi saat seorang perempuan hampir diseret ke skandal, yang pertama kamu lindungi adalah namamu."
"Aku..."
"Aku tidak butuh perempuan yang tidak bisa menjaga dirinya sendiri, apalagi menjaga keluarga ini."
Kalimat itu jatuh jelas, tajam, dan terbuka.
Tidak ada yang bisa berpura-pura tidak mendengar.
Celine memucat.
Sari menahan napas. Daniel menunduk sedikit, seolah memahami bahwa malam ini bukan hanya tentang Marco lagi. Ardi berdiri di sisi Rayhan dengan wajah tanpa ekspresi, tetapi ponselnya sudah menyala, siap menerima perintah berikutnya.
Yola sendiri merasa dadanya kosong sesaat.
Ia tahu Rayhan marah.
Ia tidak tahu ia akan membatalkan sesuatu sebesar itu di depan semua orang.
"Kamu tidak bisa memutuskan sendiri," bisik Celine.
"Bisa."
"Ini kesepakatan keluarga."
"Keluarga Liem sudah kuwakili."
"Papaku tidak akan menerima."
"Maka katakan pada Hendra Tan," suara Rayhan turun lebih rendah, "mulai malam ini, tidak ada pertunangan antara aku dan kamu."
Seseorang di ujung tangga mengeluarkan suara kecil, entah kaget atau puas. Setelah itu bisik-bisik pecah seperti kaca yang retak. Nama Celine terdengar. Nama Yola juga. Kata janda melintas sekali, lalu mati ketika Rizal menoleh ke arah kelompok itu.
Celine menatap Rayhan seperti baru pertama kali menyadari pria di depannya benar-benar tidak akan kembali ke barisan yang sudah disusun keluarganya.
"Kamu memilih dia," katanya.
Yola ingin mundur.
Rayhan menjawab sebelum ia sempat bergerak.
"Aku memilih tidak menikahi perempuan yang menganggap jebakan sebagai strategi."
Wajah Celine berubah dari pucat menjadi merah.
"Kamu akan menyesal."
"Antri di belakang semua orang yang pernah mengatakan itu."
Kalimat itu membuat beberapa tamu menunduk cepat, takut terlihat mendengar terlalu banyak.
Budi datang setengah berlari dari arah ruang meeting, membawa ponsel Daniel yang layarnya masih menyala. Ia berhenti di dekat Daniel, lalu menatap Rayhan dengan ragu.
"Pak Rayhan," katanya. "Supervisor hotel mengirim laporan awal. Kamera koridor servis dekat ruang ganti mati tiga menit sebelum Nona Yola masuk. Permintaan maintenance-nya tercatat dari panitia acara."
Wajah Celine berubah.
"Itu tidak membuktikan aku yang meminta."
Daniel menerima ponsel dari Budi, membaca sekilas, lalu mengangkat mata. "Nama PIC panitia yang terdaftar ada di bawah vendor Celine."
"Vendor acara banyak," balas Celine cepat. "Kamu juga keluarga Wijaya, Daniel. Jangan pura-pura netral."
Daniel tidak terpancing. "Saya tidak netral soal orang yang hampir dijebak."
Kalimat itu pelan, tetapi cukup untuk membuat Yola menoleh.
Daniel tidak memandangnya terlalu lama. Ia hanya menunduk sedikit, seperti mengatakan bahwa ia tahu batasnya. Di momen lain, Yola mungkin akan berterima kasih. Malam itu, ia hanya sanggup bernapas.
Rayhan melihat laporan di ponsel, lalu menyerahkannya kepada Ardi.
"Kirim salinan ke Jason. Simpan aslinya dari hotel. Jangan lewat panitia Tan."
"Siap, Pak."
Celine tertawa kecil, suaranya mulai pecah. "Kamu bahkan tidak bertanya langsung pada Yola. Kamu langsung percaya semua orang yang ingin menjatuhkanku."
Rayhan menoleh ke Yola.
Semua orang ikut menoleh.
Yola merasakan tekanan tatapan itu menekan kulitnya. Namun kali ini ia tidak berdiri sendirian di tengah ruang ganti terkunci. Sari ada di sisinya. Daniel berdiri tidak jauh. Staf hotel perempuan yang tadi menemaninya masih berada di belakang pintu, wajahnya cemas tetapi siap bicara. Dan Rayhan tidak meminta jawaban di depan orang banyak.
"Yola," kata Rayhan. Suaranya turun, berbeda dari nada yang ia pakai pada Celine. "Kamu mau pulang sekarang?"
Pertanyaan itu sederhana.
Tetapi karena pilihan itu diberikan di depan semua orang, sesuatu dalam dada Yola yang tadi terikat mulai longgar.
Ia mengangguk pelan. "Saya ingin menunggu di mobil. Dengan Sari."
"Rizal."
"Siap, Pak."
"Bawa mereka ke mobilku. Lewat lift staf. Tidak ada kamera tamu, tidak ada wartawan, tidak ada panitia."
"Baik."
Celine langsung maju. "Tidak. Dia tidak bisa pergi begitu saja. Kalau dia korban, biar dia bicara di sini."
Sari mengangkat wajah, untuk pertama kalinya tidak menunduk di depan Celine.
"Nona Yola sudah cukup dipaksa malam ini."
Ucapan itu pendek, tetapi beberapa tamu perempuan di ujung koridor saling melirik. Ada yang menunduk, ada yang menatap Celine dengan ekspresi berbeda dari sebelumnya.
Yola berjalan melewati Rayhan.
Saat melewatinya, ia berhenti setengah detik. Tidak menatap lama. Hanya cukup untuk melihat bahwa tangan Rayhan yang tadi mematahkan tangan Marco kini menggantung di sisi tubuh, terkepal begitu kuat sampai buku jarinya memutih.
"Terima kasih," katanya nyaris tanpa suara.
Rayhan tidak menjawab dengan kata.
Ia hanya sedikit menurunkan dagu, lalu memberi ruang agar Yola bisa pergi tanpa tersentuh siapa pun.
Rizal dan Sari membawa Yola menjauh. Begitu pintu lift staf tertutup, bisik-bisik yang tadi tertahan mulai hidup lagi. Tapi kali ini tidak lagi sepenuhnya mengarah ke Yola.
Nama Celine lebih sering terdengar.
Nama Tan menyusul.
Petugas medis akhirnya datang dengan tandu lipat. Marco yang tadi berani menghina mulai merengek saat tangannya dipasang penyangga sementara. Tidak ada seorang pun yang berkomentar. Bahkan Celine tidak sempat memandangnya lama.
Ponselnya bergetar.
Nama `Papa` muncul di layar.
Celine menjawab dengan tangan gemetar. Ia belum sempat berkata apa-apa ketika suara Hendra Tan terdengar dari seberang, cukup keras untuk ditangkap orang di dekatnya.
"Apa maksudnya Rayhan membatalkan pertunangan di depan umum?"
Celine menelan ludah. Matanya masih menatap Rayhan.
"Papa..."
"Tahan dia di sana. Papa datang sekarang."
Panggilan terputus.
Celine menurunkan ponsel pelan-pelan.
Di koridor yang sudah penuh saksi, Rayhan hanya melihat jam di pergelangan tangannya.
"Suruh dia cepat."
up lagi, Author. banyak-banyak!😅