NovelToon NovelToon
Gadis yang Terbuang

Gadis yang Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ayu Kirana

Delapan belas tahun yang lalu, seorang gadis kecil bernama Taotao hilang di tengah keramaian festival lampion. Keluarga Wijaya — salah satu dinasti paling berkuasa di Jakarta — tidak pernah berhenti mencari.

Seline tidak ingat apa-apa tentang malam itu. Yang dia tahu: orang tua angkatnya sudah meninggal, adiknya butuh sekolah yang layak, dan satu-satunya pilihan adalah menumpang di rumah besar keluarga Hartono — bibi jauhnya yang ternyata punya agenda tersembunyi.

Di rumah itu, Seline belajar bertahan. Dari tatapan merendahkan sepupu-sepupu, dari jebakan bibinya yang ingin menjodohkannya dengan anak tiri, dari rivalnya yang cantik dan licik. Tapi juga — dari tatapan Kevin Hartono yang tidak pernah bisa dia baca.

Kevin adalah pewaris utama. Dingin. Tidak tersentuh. Semua orang takut padanya.

Tapi dia yang pertama menyadari surat palsu di kamar Seline. Dia yang berlari menembus api saat festival meledak. Dan dia yang diam-diam menyimpan lukisan karya "Tao" — tanpa tahu pelukisnya tidur di sayap rumahnya sendiri.

Ketika kebenaran akhirnya terungkap — siapa Seline sebenarnya, siapa yang mencurinya dulu, dan mengapa Kevin bersikeras mempertahankannya — seluruh Jakarta akan tahu:

Gadis yang mereka buang... adalah pewaris yang sebenarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 26

Bab 026

Menjelang Imlek

Kertas kecil dari payung hitam itu akhirnya tidak Seline buang.

Ia menyelipkannya di halaman belakang buku sketsa, bukan karena ingin menyimpan sesuatu dari Kevin, begitu ia berkata pada dirinya sendiri, melainkan karena kertas itu bisa menjadi bukti kalau suatu hari ia perlu mengembalikan payung dengan benar.

Alasan itu terdengar lemah bahkan di telinganya sendiri.

Waktu bergerak menuju akhir tahun. Hujan Jakarta datang dan pergi. Wilson dan Vivian tidak diumumkan bertunangan, tetapi pembicaraan keluarga tentang mereka tidak pernah benar-benar hilang. Jason tetap mengantar Darren sesekali, meski Seline mulai lebih sering memilih mobil sekolah agar tidak memberi Vivian bahan baru. Kevin tetap sibuk, sering keluar kota, tetapi anehnya selalu ada satu atau dua kali dalam seminggu ketika Seline melihatnya di tempat yang tidak ia duga: dekat ruang utama saat ia mengantar teh, di koridor saat ia membawa dokumen Oma, di taman saat ia memetik daun pandan untuk kue.

Tidak pernah lama.

Tidak pernah cukup untuk disebut mendekat.

Namun cukup untuk membuat Oma Mei tersenyum sendiri.

Memasuki Januari, rumah Hartono berubah wajah untuk Imlek. Lampion merah dipasang di halaman, vas bunga diganti dengan meihua dan anggrek, kotak angpao disusun di meja khusus, dan aroma kue keranjang mulai memenuhi dapur.

Tante Chen kembali sibuk sebagai nyonya rumah. Kali ini kesibukannya bercampur gelisah karena keluarga Wijaya termasuk dalam daftar tamu utama.

"Opa Herman mungkin datang," kata Jessica suatu pagi sambil membantu Seline memotong pita merah. "Kalau beliau datang, semua orang akan berdiri lebih tegak."

Seline mencoba terlihat biasa. "Kenapa?"

"Karena beliau bukan cuma orang kaya. Beliau kenal semua orang penting."

Nama Wijaya membuat jari Seline berhenti sebentar. Sejak pertemuan dengan Bryan di pernikahan Michelle, ia belum bertemu pria itu lagi. Namun beberapa kali ia merasa seperti ada pertanyaan yang berjalan di belakangnya. Tidak terlihat, tetapi ada.

"Stephanie juga datang?" tanya Seline, seolah hanya ingin memastikan daftar tamu.

Jessica mendengus. "Kemungkinan besar. Kalau ada acara keluarga besar dan Ko Kevin hadir, kenapa dia tidak datang?"

Seline menunduk pada pita. "Jess."

"Apa? Aku cuma menyebut fakta."

Fakta itu membuat suasana hati Seline sedikit turun, tetapi ia tidak punya waktu untuk memikirkannya terlalu lama. Ia sedang menyiapkan hadiah Imlek untuk Oma.

Hadiah itu bukan barang mahal. Bukan perhiasan, bukan selendang sutra, bukan teh langka seperti yang dibawa tamu-tamu lain. Seline membuat album kecil berisi ilustrasi rumah Hartono selama dua tahun terakhir: kursi Oma di ruang utama, pohon kamboja setelah hujan, dapur saat kue lapis dikukus, Darren belajar di teras, tangan Oma memegang cangkir teh, dan satu halaman kosong di akhir untuk tahun berikutnya.

Ia menggambarnya bukan sebagai Tao.

Garisnya dibuat lebih sederhana, lebih hangat, tidak terlalu dramatis. Namun tetap saja, setiap halaman menyimpan sesuatu yang hanya bisa dilihat orang yang benar-benar memperhatikan rumah ini.

Darren melihatnya malam sebelum Imlek dan langsung terdiam.

"Kak, ini bagus banget."

"Jangan berlebihan."

"Kalau Oma nangis, aku tidak tanggung jawab."

"Oma tidak mudah nangis."

"Kalau Kakak yang kasih, mungkin."

Seline menutup album pelan. "Kamu terlalu percaya pada Kakak."

"Memang harus begitu."

Kalimat Darren membuat dada Seline hangat.

Pagi Imlek datang dengan suara petasan elektronik dari speaker taman, ucapan selamat, dan langkah tamu yang tidak berhenti. Seline membantu Oma menerima angpao untuk anak-anak kecil, lalu sesekali mundur ke sisi ruangan agar tidak menghalangi keluarga inti.

Kevin turun menjelang siang, mengenakan kemeja merah marun gelap yang membuat beberapa tante langsung berkomentar bahwa ia akhirnya terlihat seperti sedang merayakan Imlek, bukan menghadiri rapat pemegang saham. Kevin hanya menjawab dengan anggukan singkat.

Saat melewati kursi Oma, matanya turun pada album kecil di tangan Seline.

"Hadiah?" tanyanya.

Seline refleks memeluk album lebih rapat. "Untuk Oma."

"Aku tidak mengambilnya."

Jessica yang mendengar langsung menahan tawa. Seline merasa wajahnya panas.

Kevin melihat sampul album yang dihias pita merah sederhana. "Buatan sendiri?"

"Iya."

"Oma akan suka."

Ia pergi sebelum Seline bisa menjawab. Kalimat itu pendek, tetapi membuat album di tangan Seline terasa lebih berat. Seolah sebelum Oma melihatnya pun, hadiah itu sudah lebih dulu dinilai oleh seseorang yang jarang memberi pujian.

Seline menunduk pada pita merah, mencoba menahan senyum kecil yang datang terlalu cepat, sebelum Jessica sempat melihat wajahnya jelas.

Menjelang siang, Bi Zheng membawa daftar tamu tambahan ke ruang utama.

"Oma, keluarga Wijaya sudah di jalan."

Tangan Seline yang memegang album kecil langsung menegang.

Oma Mei melihatnya. "Kamu kenal mereka?"

Seline menggeleng terlalu cepat. "Hanya pernah bertemu Ko Bryan sebentar di pernikahan Ci Michelle."

Oma menatapnya beberapa detik, lalu mengalihkan mata ke pintu utama.

Di luar, suara mobil berhenti satu per satu.

Jessica berbisik di dekat telinga Seline, "Bersiaplah. Kalau Stephanie datang, Vivian biasanya berubah jadi lebih rajin tersenyum."

Seline memeluk album untuk Oma lebih erat.

Pintu utama terbuka, dan nama keluarga Wijaya diumumkan oleh pelayan.

Di antara rombongan itu, Seline melihat Bryan lebih dulu.

Lalu Stephanie berjalan masuk di belakangnya, cantik, putih, dan tersenyum seperti perempuan yang tidak pernah ragu semua mata akan mengarah padanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!