Hannah pernah kehilangan segalanya—rumah tangga, impian menjadi seorang ibu, dan kepercayaan pada cinta. Saat ia mulai menata hidupnya kembali, Rayyan hadir tanpa memaksa, hanya perlahan membuktikan bahwa cinta yang tulus tidak pernah lahir dari paksaan. Namun ketika masa lalu kembali muncul, Hamnah harus memilih, tetap hidup bersama luka, atau memberi kesempatan pada hati untuk percaya sekali lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nathasya90, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DBL9
SIAPA JELITA?
Malam itu, sepulang dari perjalanan dinas, Hannah meletakkan koper kecilnya di sudut kamar. Tubuhnya terasa lelah setelah menempuh perjalanan berjam-jam, tetapi ada rasa lega karena akhirnya bisa kembali ke rumah. Rumah yang beberapa hari terakhir hanya bisa ia lihat melalui layar ponsel.
"Hannah?" suara Romi terdengar dari ruang tengah.
"Iya, Mas."
Romi segera berdiri dari sofa begitu melihat istrinya keluar dari kamar sambil masih mengenakan pakaian kerja. Wajah pria itu langsung terlihat jauh lebih hidup dibanding beberapa hari terakhir.
"Kapan sampainya?"
"Baru sekitar setengah jam yang lalu."
"Kok nggak bilang? Kan bisa aku jemput tadi."
Hannah tersenyum kecil.
"Kan Mas juga lagi kerja."
"Iya, tapi kan bisa izin bentar."
Hannah menggeleng pelan.
"Nggak usah. Aku juga tadi sekalian naik taksi dari bandara."
Romi mendekat, lalu tanpa banyak bicara mengambil koper kecil yang masih berada di dekat pintu kamar.
"Biar Mas simpan."
Hannah hanya tersenyum memperhatikan tingkah suaminya. Sejak hasil pemeriksaan beberapa hari lalu, Romi memang berubah. Bukan menjadi dingin, justru sebaliknya. Ia menjadi lebih perhatian, lebih sering memastikan dirinya baik-baik saja, dan entah kenapa juga lebih sulit membiarkannya pergi jauh.
"Kamu sudah makan?" tanya Romi.
"Sudah di perjalanan. Mas sendiri?"
"Sudah."
"Kok cepat?"
"Tadi makan sama tim proyek."
Hannah mengangguk pelan. Beberapa hari terakhir komunikasi mereka memang tidak sesering biasanya. Hannah sibuk dengan pekerjaannya di luar kota, sedangkan Romi juga sedang mengejar penyelesaian proyek yang harus selesai tepat waktu. Meski begitu, setiap pagi dan malam mereka tetap saling berkabar. Sesederhana mengirim pesan bahwa mereka sudah makan, sudah sampai di tujuan, atau sekadar mengucapkan selamat tidur. Tidak banyak, tetapi cukup membuat keduanya tahu bahwa tidak ada yang berubah.
Malam itu mereka mengobrol ringan mengenai perjalanan dinas Hannah. Tentang klien yang cukup merepotkan, hotel yang pendingin ruangannya sempat rusak, sampai Romi ikut tertawa ketika Hannah menceritakan salah satu rekan kerjanya yang salah masuk ruang rapat. Suasana rumah kembali terasa hangat, seolah beberapa hari terakhir berjalan seperti biasa.
Setelah obrolan mereka selesai, Hannah masuk ke kamar untuk membongkar isi koper. Pakaian kotor dipisahkan ke keranjang cucian, dokumen kantor diletakkan di atas meja kerja, sementara perlengkapan mandi dikembalikan ke tempat semula. Saat membuka laci meja rias untuk menyimpan beberapa barang kecil, jemarinya menyentuh sesuatu yang terasa asing.
Ia mengernyit, lalu perlahan menarik benda itu keluar.
Sebuah kartu nama.
Warnanya putih gading dengan tulisan hitam sederhana. Di bagian atas tertera logo sebuah perusahaan properti. Tepat di bawahnya tertulis sebuah nama.
Jelita Putri
Konsultan Properti
Alis Hannah langsung berkerut. Ia membalik kartu itu, tetapi tidak ada tulisan apa pun di bagian belakangnya. Hanya nomor telepon dan alamat kantor.
Hannah mencoba mengingat-ingat. Selama ini ia tidak pernah mendengar Romi menyebut nama perempuan itu.
Lalu...
Kenapa kartu nama perempuan lain bisa berada di dalam laci kamar mereka?
Perasaan yang semula tenang perlahan berubah menjadi gelisah. Bukan karena ia langsung menuduh yang macam-macam, melainkan karena ia benar-benar tidak tahu kartu itu berasal dari mana. Semakin lama memandang kartu nama tersebut, semakin banyak pertanyaan bermunculan di kepalanya.
Akhirnya Hannah menarik napas panjang.
Daripada terus berprasangka sendiri, lebih baik ia bertanya langsung kepada orang yang seharusnya bisa memberikan jawaban. Dengan kartu nama yang masih berada di tangannya, Hannah pun melangkah keluar kamar.
"Mas..."
Romi yang sedang membereskan beberapa dokumen di meja ruang tengah langsung menoleh.
"Iya?"
Namun begitu melihat kartu yang berada di tangan istrinya, ekspresinya berubah dalam hitungan detik.
Hening. Wajah yang semula tenang mendadak menegang.
"Kartu itu..." suaranya terdengar pelan. "Kamu dapat dari mana?"
Hannah tidak langsung menjawab.
"Di laci meja rias."
Tatapannya tidak pernah lepas dari wajah suaminya.
"Siapa Jelita, Mas?"
Kalimat itu membuat Romi memejamkan mata sejenak.
Ia tahu, cepat atau lambat momen ini memang akan datang. Dan ia juga tahu, kesalahannya bukan karena pernah bertemu perempuan itu, melainkan karena memilih menyimpan cerita tersebut sendirian.
***
Romi memejamkan mata beberapa saat sebelum akhirnya mengembuskan napas panjang.
"Ayo duduk dulu, Na."
Nada suaranya terdengar pelan, nyaris seperti orang yang sedang mengumpulkan keberanian.
Hannah mengikuti langkah suaminya menuju sofa ruang tengah. Kartu nama itu masih berada di tangannya. Begitu keduanya duduk, suasana kembali hening. Romi beberapa kali meremas kedua telapak tangannya sendiri sebelum akhirnya membuka suara.
"Aku minta maaf."
Hannah tidak langsung menjawab.
"Maaf karena baru cerita sekarang."
Tatapan Hannah tidak pernah lepas dari wajah suaminya.
"Siapa Jelita, Mas?"
Romi mengembuskan napas panjang.
"Ingat hari waktu kita ambil hasil pemeriksaan di rumah sakit?"
Hannah mengangguk pelan. "Ingat."
"Hari itu... setelah Mas keluar dari ruang dokter lebih dulu, Mas nggak sengaja ketemu sama dia."
Hannah masih diam mendengarkan.
"Waktu itu kami cuma ngobrol sebentar."
"Tentang hasil pemeriksaan?" tanya Hannah pelan.
"Iya." Romi mengangguk.
"Dia juga baru selesai konsultasi di klinik fertilitas. Sama seperti Mas, hasil yang dia dapat juga nggak sesuai harapan."
Hannah mengingat kembali hari itu. Hari ketika ia masih berada di ruang dokter sementara Romi pergi lebih dulu tanpa mengatakan apa-apa.
"Itu saja?"
"Iya."
"Nggak tukaran nomor?"
"Nggak."
"Media sosial?"
"Nggak juga."
"Kartu nama?"
Romi menggeleng pelan. "Belum.”
"Setelah beberapa menit kami langsung pulang ke arah masing-masing. Mas pikir, mungkin memang cuma kebetulan."
Hannah mengangguk kecil.
"Lalu kartu ini?"
Romi kembali mengusap tengkuknya.
"Itu terjadi waktu kamu lagi dinas."
Tatapan Hannah kembali mengarah kepadanya.
"Mas sempat survei proyek ke luar kota."
"Iya."
"Perusahaan klien yang bekerja sama dengan Mas ternyata menggunakan jasa konsultan properti."
Romi berhenti sejenak sebelum melanjutkan, "Dan ternyata..."
Ia menunjuk kartu nama yang masih berada di tangan Hannah.
"...konsultan yang datang adalah Jelita."
Hannah tampak sedikit terkejut.
"Mas juga kaget waktu itu."
"Dia yang lebih dulu nyapa."
"'Pak Romi, ya? Kita pernah ketemu di rumah sakit.'"
Romi tersenyum tipis mengingat kejadian tersebut.
"Baru setelah dia ngomong begitu, Mas benar-benar ingat."
"Kalian ngobrol lagi?"
"Iya. Tapi semuanya soal pekerjaan."
"Dia jelasin kondisi lahannya, Mas jelasin kebutuhan proyek. Nggak ada pembicaraan lain di luar itu. Semuanya murni soal pekerjaan."
Hannah masih mendengarkan tanpa menyela.
"Pas pertemuan selesai, dia baru kasih kartu nama ini."
"Katanya kalau nanti ada berkas atau data yang perlu dikonfirmasi, Mas bisa langsung hubungi dia."
"Terus Mas terima?"
Romi tersenyum tipis. "Diterima dong, Na, masa ditolak sih? Nanti jatuhnya Mas dianggap nggak profesional lagi.”
Hannah mengembuskan napas berat.
"Lalu kartu itu Mas simpan di dompet. Harusnya begitu pulang, Mas langsung cerita sama kamu."
Suara Romi semakin pelan.
"Mas bukan sengaja nyembunyiin soal Jelita. Mas cuma belum sanggup membuka lagi semua yang terjadi hari itu. Rasanya baru mau cerita aja, dada Mas langsung sesak."
Ia menundukkan kepalanya. "Apa pun alasannya, itu tetap salah. Dan Mas minta maaf."
Ruangan kembali hening. Romi tidak berani mengangkat kepalanya. Ia memilih menunggu apa pun yang akan dikatakan Hannah, meski dalam hati ia sudah menyiapkan diri untuk menerima kemarahan istrinya.
Hannah tidak langsung menjawab. Tatapannya masih tertuju pada kartu nama yang sejak tadi berada di tangannya. Dadanya dipenuhi berbagai macam perasaan. Kecewa karena Romi memilih memendam semuanya sendirian. Cemburu karena, untuk sesaat, ada perempuan lain yang mengetahui luka suaminya lebih dulu daripada dirinya. Namun di saat yang sama, ia juga tidak bisa mengabaikan satu kenyataan. Pertemuan itu bukan bermula dari pengkhianatan, melainkan dari dua orang asing yang sama-sama sedang terluka. Romi tidak sedang mencari perempuan lain. Saat itu, suaminya hanya sedang kehilangan arah.
Jangan lupa kasih ⭐⭐⭐⭐⭐ biar othor makin semangat up nya ya.
Ditunggu semua komenannya.
Love sekeboon buat kalian💐