Siapa sangka Bayang, sosok misterius yang kerap membantu polisi membongkar jaringan narkoba pelabuhan, hanyalah gadis berusia delapan belas tahun bernama Alya Maheswari. Setelah dibangkitkan kembali ke masa lalu sebelum kematian tragis di tangan keluarga kandungnya, Alya menerima jemputan keluarga Wiratama yang membuangnya sejak bayi.
Dengan dendam tersembunyi dan kecerdasan di atas rata-rata, ia menghadapi ibu tiri licik penuh intrik, adik tiri bermuka dua, serta tunangan bisnis yang kejam dan tidak setia. Bersama Rafi sang pengawal setia, Alya menyusun langkah demi langkah balas dendam. Tidak ada lagi gadis desa yang lemah tertindas — kali ini, semua orang yang pernah mengkhianatinya akan membayar mahal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
Bab 20
Hasil pemeriksaan sampel keluar sebelum siang.
Vitamin yang dibawa orang dari Jakarta bukan vitamin. Di dalam kapsulnya ada campuran obat penurun tekanan darah dosis kecil dan zat penenang ringan. Tidak cukup untuk membunuh Eyang Laras, tetapi cukup membuat perempuan seusianya jatuh, lemas, dan terlihat seperti serangan penyakit mendadak.
Alya membaca hasil itu di ruang tunggu klinik.
Raka berdiri di sampingnya, wajahnya pucat karena marah. Rafi bersandar di dinding, matanya dingin. Di luar, dua orang Rafi sedang mengejar kurir yang membawa paket itu.
"Siapa yang mengirim?" tanya Raka.
"Nama pengirim palsu."
"Tapi dari Jakarta."
"Ya."
Raka mengepalkan tangan. "Maya?"
Alya menatap kertas hasil lab. "Terlalu mudah kalau hanya Maya."
"Santoso?"
"Mungkin."
"Atau orang yang mengirim foto makam Mama?"
Alya mengangguk pelan. "Mereka semua sedang berdiri di jalan yang sama. Entah bekerja sama, entah saling memakai."
Raka menatap pintu kamar Eyang. "Aku selama ini benar-benar tidak tahu apa-apa."
"Sekarang Mas tahu."
"Dan rasanya menjijikkan."
Alya melipat kertas. "Biasakan. Ini baru permukaan."
Raka menatapnya, ingin bertanya bagaimana adiknya bisa bicara seolah sudah melewati semua ini. Namun ia tidak bertanya. Ada beberapa luka yang tidak bisa dipaksa terbuka.
Eyang Laras bersikeras pulang sore itu juga. Alya menolak, dokter menolak, bahkan Bu Sulastri ikut memarahi, tetapi Eyang hanya menatap mereka sampai semua menyerah. Akhirnya ia pulang dengan pengawasan dokter pribadi yang Rafi datangkan dan dua penjaga yang menyamar sebagai tukang kebun.
Di teras rumah Kaliurang, Eyang duduk dengan selimut di bahu. Alya berjongkok di depannya.
"Eyang ikut aku ke Jakarta sementara."
"Tidak."
"Eyang."
"Kalau aku pergi, mereka tahu aku takut."
"Aku yang takut."
Eyang menatapnya lembut. "Kamu boleh takut. Tapi jangan biarkan takut membuatmu salah memilih perang."
Alya menunduk.
"Tentang Mama..."
Eyang menghela napas. "Ada hal yang belum bisa kuceritakan karena kalau kamu tahu setengah, kamu akan mengejar setengah lainnya tanpa melihat jurang."
"Eyang selalu menganggap aku anak kecil."
"Karena kamu cucuku."
Jawaban itu sederhana dan membuat dada Alya sakit.
Eyang menyentuh pipinya. "Selesaikan dulu urusan yang ada di depan. Keluarga Santoso, keluarga Wiratama, hak ibumu. Setelah itu, aku akan bicara."
Alya tidak puas, tetapi ia tahu memaksa Eyang saat tubuhnya lemah hanya akan menyakitinya.
"Janji?"
"Janji."
Menjelang malam, Alya kembali ke Jakarta bersama Raka dan Rafi. Dalam perjalanan, pesan dari Baskara masuk bertubi-tubi. Panggilan tak terjawab dari Maya, Dinda, bahkan nomor kantor. Alya tidak menjawab satu pun sampai Raka menerima telepon dari ayahnya.
Raka mengaktifkan speaker.
"Kalian di mana?" suara Baskara keras.
"Di jalan pulang," kata Raka.
"Rapat keluarga dimulai satu jam lagi. Keluarga Santoso datang."
Alya membuka mata.
Raka menegang. "Setelah semua yang terjadi, mereka masih datang?"
"Justru karena semua yang terjadi. Kita harus menyelesaikan. Mereka menuntut pertunangan tetap diumumkan untuk meredam isu."
Alya tertawa pelan.
Baskara mendengar. "Alya, jangan tertawa."
"Aku hanya kagum. Eyang baru saja hampir celaka karena paket dari Jakarta, dan Papa masih mau duduk dengan Santoso membahas pertunangan."
Hening sebentar.
Baskara berkata, "Kita belum tahu itu dari Santoso."
"Tapi Papa sudah tahu aku tidak mau menikah."
"Ini bukan lagi soal mau atau tidak mau. Kalau kita mundur sekarang, mereka akan menyeret nama Wiratama, menggugat pembatalan kerja sama, dan membuka semua konflik keluarga ke media."
"Silakan."
"Alya!"
Raka memotong, "Pa, kita harus bicarakan ancaman ke Eyang dulu."
"Raka, kamu jangan memperkeruh. Pulang sekarang."
Telepon terputus.
Mobil menjadi sunyi.
Raka memijat pelipis. "Dia benar-benar..."
"Tidak apa-apa," kata Alya.
"Tidak apa-apa bagaimana? Dia mau memaksamu tetap bertunangan."
"Bagus."
Raka menoleh. "Bagus?"
"Kalau mereka masih ingin bermain setelah semua ini, berarti mereka belum takut. Orang yang belum takut akan membuat kesalahan lebih besar."
Rafi berkata dari kursi depan, "Kamu yakin tubuhmu kuat?"
"Aku baik."
"Kamu belum tidur."
"Nanti."
"Alya."
"Rafi, kalau aku berhenti setiap kali lelah, mereka akan memakai lelahku sebagai tali."
Rafi tidak menjawab lagi.
Mereka tiba di rumah Wiratama pukul delapan malam. Di halaman sudah ada mobil Santoso. Ada juga mobil beberapa kerabat dan satu mobil notaris. Rupanya Baskara benar-benar ingin menjadikan malam itu keputusan resmi.
Begitu Alya masuk, semua orang di ruang tengah menoleh.
Pak Hendra duduk dengan wajah dingin. Bu Santoso di sampingnya. Kevin berdiri dekat jendela, memakai kemeja hitam, matanya penuh kebencian. Maya duduk di sebelah Baskara, wajahnya tampak lebih pucat daripada kemarin, tetapi ia tetap berusaha anggun. Dinda berdiri di belakang sofa, tidak berani menatap Alya.
Baskara berkata, "Duduk."
Alya tidak duduk. "Aku berdiri saja."
Pak Hendra menyeringai. "Masih keras kepala."
Bu Santoso menatapnya. "Kamu sudah membuat cukup banyak kerusakan. Sekarang kita bicara sebagai keluarga dewasa."
"Keluarga dewasa tidak mengancam nenek orang."
Kevin meledak. "Kamu selalu menuduh tanpa bukti!"
Alya menatapnya. "Aku sedang mengumpulkan."
Pak Hendra berkata, "Cukup. Kami datang memberi kesempatan terakhir. Pertunangan tetap diumumkan. Sebagai gantinya, kami tidak akan memperpanjang masalah rekaman. Proyek tetap berjalan. Nama kedua keluarga selamat."
Raka tertawa tidak percaya. "Kalian menyebut itu kesempatan?"
Baskara berkata, "Raka, diam."
Alya akhirnya duduk. Semua orang tampak mengira ia mulai menyerah.
"Kalau aku menolak?" tanyanya.
Pak Hendra menatapnya tajam. "Maka keluarga Wiratama akan membayar sangat mahal."
"Berapa?"
Semua orang terdiam.
Alya mengulang, "Berapa harga yang harus dibayar agar aku tidak menikah dengan Kevin?"
Baskara menatapnya seolah tidak mengenalinya. "Alya."
Pak Hendra tertawa. "Kamu pikir bisa membeli jalan keluar?"
"Bukankah dari awal kalian menganggap semuanya bisa dibeli?"
Kevin berkata, "Aku tidak akan membiarkanmu mempermalukanku lalu pergi begitu saja."
Alya menatapnya. "Jadi ini soal harga diri?"
"Ini soal kamu belajar tempatmu."
Rafi bergerak sedikit di belakang Alya. Kevin melihatnya dan mencibir.
"Pengawal kampungmu tidak bisa melindungimu dari kontrak bisnis."
Alya tersenyum. "Benar. Karena itu aku tidak memakai dia untuk kontrak."
Ia mengeluarkan map dari tas.
Pak Hendra mengerutkan kening.
Alya meletakkan map di meja. "Ini salinan bukti ancaman terhadap keluarga Livia, rekaman suara Kevin, laporan medis Livia, bukti transfer orang yang memotret rumah Eyang, dan alur dana dari perusahaan yang terhubung dengan yayasan. Satu salinan ada di pengacara. Satu lagi dipegang notaris. Kalau malam ini ada satu orang memaksaku menandatangani apa pun, semuanya terkirim otomatis."
Maya menatap map itu dengan wajah mati rasa.
Baskara tampak tidak bisa bicara.
Pak Hendra membuka map, membaca halaman pertama, lalu menutupnya keras.
"Kamu berani mengancam kami?"
"Tidak. Aku memberi kalian kesempatan terakhir."
Raka hampir tersenyum mendengar kalimat itu dibalik.
Alya mencondongkan badan. "Pertunangan tidak bisa dibatalkan? Baik. Kalau begitu kita ubah syaratnya. Kevin meminta maaf terbuka pada Livia. Keluarga Santoso membayar biaya perawatan dan kompensasi resmi tanpa perjanjian bungkam. Keluarga Wiratama menarik diri dari proyek yang memakai namaku. Setelah itu, baru aku pertimbangkan apakah aku masih perlu menghancurkan kalian."
Kevin berteriak, "Gila!"
"Belum," kata Alya. "Aku masih sangat waras."
Bu Santoso berdiri, wajahnya pucat karena marah. "Hendra, kita pergi."
Pak Hendra menatap Baskara. "Keluarga kalian akan menyesal."
Alya berkata, "Antri. Banyak yang sudah mengatakan itu."
Keluarga Santoso pergi dengan kemarahan yang kali ini tidak bisa mereka sembunyikan.
Baskara duduk lemas.
Maya menutup mata.
Dinda menatap Alya dengan campuran takut dan kagum.
Raka berdiri di belakang Alya, seolah akhirnya tahu di sisi mana ia harus menetap.
Malam itu, pertunangan memang belum resmi batal.
Namun untuk pertama kalinya, keluarga Santoso pulang bukan karena tersinggung.
Mereka pulang karena takut.
sekarang malah jadi Rafi yang berubah jadi "bayang"🤔