Shen Yu dikenal sebagai tuan muda paling bermasalah di Kota Qinghe. Ia gemar menghamburkan uang, membuat keributan, dan menghabiskan waktunya di rumah hiburan. Anehnya, setiap kali ia membuat masalah, sang nenek selalu berada di belakangnya.
Nyonya Lin bukanlah wanita tua biasa. Ia adalah legenda dunia persilatan, pendiri Aliansi Seratus Perguruan, dan sosok yang pernah menjaga kedamaian Dunia.
Namun ketika bayang-bayang perang kembali muncul dan musuh-musuh lama mulai bergerak, Shen Yu harus menghadapi kenyataan bahwa perlindungan neneknya tidak akan ada selamanya. Demi menjaga warisan orang yang paling ia cintai, ia perlahan berubah dari seorang tuan muda manja menjadi pendekar yang akan menentukan masa depan Kekaisaran dan dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mirage Ink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Gelombang benturan antara Shen Yu dan Kaisar Dewa Kegelapan belum juga mereda.
Langit di atas Kota Qinghe dipenuhi retakan ruang. Petir emas dan hitam saling bertabrakan tanpa henti.
Namun...
Kaisar Dewa Kegelapan tidak melanjutkan serangannya. Ia hanya melayang tenang di udara, seolah sedang mengamati seekor anak naga yang baru belajar bertarung.
Tatapannya kemudian bergeser.
"Bunuh semuanya."
Hanya tiga kata.
Namun cukup membuat lima Raja Kegelapan langsung mengangkat kepala.
"Perintah diterima!"
BOOOOM!!
Lima aura hitam meledak bersamaan. Mereka tidak lagi mengejar Shen Yu. Sebaliknya...
Mereka menerjang Kota Qinghe dari lima arah berbeda. Lin Xue langsung menyadari tujuan mereka.
"Mereka ingin memecah kekuatan kita!"
Han Tian menghunus pedangnya.
"Kalau begitu kita sambut mereka!"
SREET!
Tubuh Han Tian melesat ke langit. Di saat yang sama...
Raja Kegelapan Pertama sudah lebih dulu muncul di hadapannya.
"Kali ini kau tidak bisa lari."
Han Tian tersenyum dingin.
"Aku juga tidak berniat lari."
Claaang!!
Dua pedang bertabrakan. Gelombang kejut menghancurkan awan di atas mereka. Pertarungan kedua pemimpin itu kembali dimulai. Di sisi barat kota...
Raja Kegelapan Kedua memutar tombaknya.
"Biarkan aku melihat apakah Penjaga Langit masih layak disebut legenda."
SREET!!
Ia menusuk lurus ke arah Qin Feng.
Qin Feng mengangkat pedangnya.
"Teknik Pedang Langit. Langkah Ketiga. Langit Membelah Matahari."
SRAAAANG!!
Satu garis cahaya putih membelah langit. Tombak dan pedang bertabrakan. Ledakan yang terjadi membuat sungai di bawah mereka terbelah menjadi dua.
Raja Kegelapan Kedua tertawa keras.
"Bagus! Akhirnya ada lawan yang pantas!"
Qin Feng tidak menjawab.
Pedangnya kembali bergetar. Puluhan bayangan pedang muncul di belakang tubuhnya. Pertempuran mereka langsung berubah menjadi hujan cahaya putih dan hitam. Di gerbang utara...
Yan Luo mengangkat tombak peraknya. Di hadapannya berdiri Raja Kegelapan Ketiga.
Pria berjubah ungu itu tersenyum tipis.
"Kau bukan lawanku."
Yan Luo tertawa.
"Aku memang tidak sepintar Qin Feng. Tapi aku suka memukul orang sombong."
BOOOOM!!
Tombak perak menghantam tanah. Seekor naga petir raksasa muncul dari balik awan.
"Teknik Tombak. Naga Petir Mengamuk!"
Auuunng!!
Naga petir menerjang. Raja Kegelapan Ketiga hanya mengangkat satu telapak tangan. Kabut hitam memenuhi langit.
Kedua serangan saling bertabrakan hingga gunung di kejauhan runtuh.
Di sisi timur kota...
Wanita berjubah hitam berhadapan langsung dengan Lin Xue.
Wanita itu tersenyum.
"Pendiri Aliansi Seratus Perguruan. Akhirnya kita bertemu."
Lin Xue memegang tongkat kayunya.
Tatapannya tenang.
"Dulu gurumu juga pernah berkata seperti itu."
Wanita berjubah hitam mengernyit.
"Kau mengenal guruku?"
Lin Xue mengangguk.
"Aku yang memotong lengan kirinya."
Ekspresi wanita itu berubah dingin.
"Kalau begitu aku akan membalas dendam."
Puluhan rantai hitam keluar dari balik jubahnya. Namun...
Lin Xue hanya mengetukkan tongkatnya sekali.
Tok!
Seluruh rantai membeku. Wanita berjubah hitam membelalakkan mata.
"Mustahil!"
Lin Xue tersenyum.
"Anak muda. Jangan kira seratus tahun aku hanya duduk minum teh."
BOOOOM!!
Energi putih meledak dari tubuhnya. Seluruh langit timur berubah menjadi lautan salju.
Di sisi selatan...
Raja Kegelapan Keempat yang sebelumnya terluka kini kembali menyerang. Namun kali ini...
Puluhan tetua Aliansi Seratus Perguruan sudah menunggunya.
"Serang!"
Ratusan pedang terbang memenuhi langit.
Raja Kegelapan Keempat tertawa sinis.
"Hanya serangga."
Tubuhnya berubah menjadi ribuan bayangan. Pertempuran besar langsung pecah.
Ledakan.
Benturan senjata.
Seluruh Kota Qinghe berubah menjadi medan perang raksasa.
Sementara itu...
Shen Yu kembali berdiri di hadapan Kaisar Dewa Kegelapan. Tidak ada lagi yang mengganggu mereka. Kaisar melirik ke arah pertempuran di bawah.
"Rekan mu cukup kuat."
Shen Yu menjawab tenang.
"Begitu juga anak buahmu."
Kaisar tersenyum tipis.
"Lalu menurutmu siapa yang menang?"
Shen Yu mengangkat pedang emasnya.
"Orang yang masih berdiri sampai akhir."
Begitu kalimat itu selesai...
Keduanya menghilang bersamaan.
BOOOOM!!
Benturan terjadi tepat di tengah langit. Tidak ada yang sempat melihat gerakan mereka. Yang terlihat hanyalah ledakan demi ledakan.
Langit terus retak. Awan terus menghilang. Gunung-gunung di sekitar Kota Qinghe mulai runtuh akibat gelombang kejut.
Di bawah...
Semua orang hanya mampu melihat dua cahaya.
Satu emas.
Satu hitam.
Keduanya saling bertabrakan berkali-kali dalam satu tarikan napas.
Claaang!
Claaang!
Claaang!
Pedang Shen Yu dan dua jari Kaisar kembali bertemu.
Api keemasan dan kegelapan memenuhi langit.
Kaisar mulai tersenyum lebih lebar.
"Bagus. Kau berkembang jauh lebih cepat daripada dugaanku."
Shen Yu mengerahkan tenaga.
"Masih banyak yang belum kau lihat."
BOOOOM!!
Keduanya terpental ke arah berlawanan. Namun belum sempat berhenti...
Mereka kembali menghilang. Di bawah, Qin Feng yang sedang bertarung sempat melirik ke langit.
Ekspresinya berubah serius.
"Mereka bahkan belum menggunakan teknik sejati."
Han Tian yang menahan tebasan Raja Kegelapan Pertama ikut mengangkat kepala.
"Itu berarti..."
Pertempuran yang sedang berlangsung sekarang. Di balik retakan ruang yang terus membesar...
Sepasang mata merah tua perlahan terbuka, mengamati perang di Benua Tianxia dari kehampaan.
Tidak ada seorang pun di medan perang yang menyadari keberadaan sosok itu. Hanya Kaisar Dewa Kegelapan yang sesaat mengangkat pandangan, lalu senyum tipis muncul di wajahnya.