Di tengah gemerlap kehidupan SMA favorit di kota, dua dunia yang bertolak belakang terpaksa bersinggungan karena sebuah keterlambatan di pagi yang terik.
Alya Saraswati adalah representasi dari perjuangan dan ketenangan. Parasnya yang cantik alami berpadu dengan sifatnya yang pendiam, dingin, dan sangat cerdas. Bagi Alya, SMA bukanlah tempat untuk memadukan tren atau mencari popularitas, melainkan medan pertempuran untuk mengubah takdir ekonomi keluarganya. Berada di kelas sosial bawah, tujuan hidupnya sangat tegas: belajar sekuat tenaga, lulus dengan nilai sempurna, lalu bekerja demi membawa keluarganya keluar dari garis kemiskinan.
Keseharian Alya yang tenang disemarakkan oleh dua sahabat karibnya Adel dan jesica dua gadis dari keluarga kelas menengah yang berisik, hiperaktif, ekstrovert, dan tidak bisa diam sebentar pun. Meski kontras, kedua sahabatnya inilah yang selalu menjadi pelindung dan hiburan di tengah beban hidup Alya.
Di sisi lain garis takdir, ada Devan Narendra. Tampan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jihan dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Suara nyaring bel sekolah pertanda berakhirnya jam istirahat bergema ke seluruh sudut bangunan. Siswa-siswi yang tadinya memenuhi koridor dan kantin berhamburan kembali ke kelas masing-masing. Alya, Adel, dan Jesica berjalan bersisian menuju kelas 11 IPA 1, membiarkan riuh rendah suasana sekolah perlahan mereda seiring dengan tertutupnya pintu-pintu ruangan.
Suasana kelas yang tadinya ramai mendadak hening begitu pintu depan terbuka. Langkah kaki teratur menyapa pendengaran seluruh murid saat Bu Ani—guru sejarah senior yang terkenal tegas namun sangat bijaksana—melangkah masuk membawa tumpukan buku dan sebuah map besar berwarna biru tua.
"Selamat siang, anak-anak. Silakan duduk di tempat masing-masing," sapa Bu Ani dengan suara beningnya yang menenangkan, meletakkan perlengkapannya di atas meja guru.
"Siang, Bu!" sahut para siswa serempak, segera merapikan posisi duduk mereka.
Alya sudah siap dengan buku catatan sejarah dan pulpen di tangannya. Sikap tubuhnya tegap, memfokuskan seluruh perhatian pada papan tulis. Di sebelahnya, Adel dan Jesica masih tampak sibuk merapikan sisa-sisa napas sengal mereka setelah bergegas dari kantin.
Bu Ani berdiri di depan kelas, menatap seluruh muridnya dengan ulasan senyum yang tak biasa. Ada binar penuh kejutan di mata beliau yang membuat seisi ruangan bertanya-tanya.
"Sebelum kita memulai materi sejarah bab tiga hari ini, Ibu ada satu pengumuman penting yang harus disampaikan," Bu Ani membuka map biru di mejanya, mengambil selembar kertas bertuliskan surat edaran resmi sekolah. "Minggu depan, sekolah kita akan mengadakan kegiatan tahunan yang sangat krusial untuk pendalaman materi pembelajaran."
Suasana kelas mendadak hening, menunggu kelanjutan kalimat sang guru.
"Kita akan mengadakan *study tour* ke kawasan situs bersejarah dan museum arkeologi nasional," lanjut Bu Ani tegas. "Kegiatan ini bersifat *wajib* untuk seluruh siswa kelas 11, baik jurusan IPA maupun IPS. Selain untuk memenuhi nilai tugas kelompok, perjalanan ini dirancang agar kalian bisa melihat langsung peninggalan sejarah yang selama ini hanya kalian baca di buku teks."
Seketika, gemuruh sorak-sorai pecah di dalam kelas 11 IPA 1.
"YES! Jalan-jalan!" teriak salah satu murid laki-laki di barisan belakang sambil mengepalkan tangan ke udara.
"Asyik! Akhirnya bisa penyegaran otak juga! Ini sih namanya rekreasi berkedok tugas!" celetuk murid lainnya disambut gelak tawa dan tepuk tangan meriah dari seisi ruangan. Adel dan Jesica bahkan saling bertos ria dengan wajah berbinar-binar, membayangkan betapa serunya perjalanan luar kota bersama seluruh angkatan.
Namun, di tengah gelombang kegembiraan yang meluap-luap itu, ada satu titik yang mendadak membeku.
Alya.
Jemari Alya yang memegang pulpen mendadak kaku. Sorak gembira teman-temannya mendadak terdengar sayup-sayup dan samar di telinganya. Tatapan matanya terpaku pada papan tulis, namun pikirannya melayang jauh.
"Mengenai rincian biaya," suara Bu Ani kembali memotong keriuhan kelas, membuat riuh rendah para murid mereda perlahan. "Setiap siswa dikenakan biaya administrasi untuk transportasi bus, penginapan satu malam, tiket masuk seluruh situs, serta konsumsi. Surat pemberitahuan beserta rincian biaya dan nominal yang harus dibayar akan Ibu bagikan hari ini. Pembayaran paling lambat dilunasi hari Jumat."
Bu Ani mulai berjalan mengitari barisan meja, membagikan lembaran kertas putih berstempel resmi sekolah kepada setiap murid. Ketika lembaran kertas itu mendarat di atas meja Alya, matanya langsung tertuju pada deretan angka nominal yang tertera di bagian bawah.
Sebuah angka yang mungkin terlihat biasa saja bagi anak-anak dari keluarga berkecukupan seperti teman-teman sekelasnya. Namun bagi Alya, angka tersebut bagaikan gunung tinggi yang meremukkan dadanya.
Hati Alya berdesir perih. Tenggorokannya mendadak menyempit, terasa kering dan menyiksa.
Ia teringat kondisi rumahnya. Ayahnya bekerja serabutan hari ini ada panggilan mengecat rumah orang, esoknya belum tentu ada pekerjaan sama sekali. Ibunya berjuang keras menjual kue-kue basah di pasar subuh yang hasilnya sering kali hanya cukup untuk menyambung makan sehari-hari dan membeli keperluan dapur yang sangat mendasar. Biaya sekolah Alya sendiri bergantung penuh pada beasiswa prestasi yang ia perjuangkan mati-matian. Namun, biaya kegiatan luar sekolah seperti *study tour* ini tidak ditanggung oleh beasiswa tersebut.
'Dari mana aku bisa dapat uang sebanyak ini dalam waktu tiga hari?' batin Alya menjerit pilu dalam keheningan.
Perasaan bingung, cemas, dan sedih berkecamuk hebat di dalam dada Alya. Wajahnya yang biasanya tenang dan dingin kini memucat. Ia menundukkan kepala dalam-dalam, berpura-pura sangat fokus membaca rincian kertas di tangannya hanya untuk menyembunyikan matanya yang mulai terasa panas dan berkaca-kaca.
Alya benci situasi ini. Ia benci harus merasa begitu kecil dan tak berdaya hanya karena urusan finansial. Namun yang paling ia takuti adalah jika harus pulang dan melihat raut wajah ibunya yang serba salah, atau melihat ayahnya memijit pelipis dengan wajah lelah saat mendengar tagihan baru dari sekolah. Alya sama sekali tidak mau menambah beban berat yang sudah memikul pundak kedua orang tuanya.
"Wah, Al! Keren banget, kita nginep di daerah cagar budaya!" seru Adel heboh tanpa menyadari perubahan raut wajah sahabatnya. "Nanti di bus kita duduk bertiga ya! Pokoknya gue yang dekat jendela!"
"Iya! Nanti malamnya kita bisa *pillow talk* di kamar hotel!" timpal Jesica antusias. Namun, ketika Jesica menoleh ke arah Alya, ia menyadari sahabatnya itu hanya diam terpaku. "Al? Lo kenapa? Kok mukanya pucat gitu?"
Alya tersentak pelan. Dengan cepat, ia mengedipkan matanya beberapa kali untuk menghalau bulir air mata yang nyaris menetes, lalu memaksakan sebuah ukiran senyum tipis yang amat tipis di bibirnya.
"Gak apa-apa, Jes," jawab Alya pelan, suaranya sedikit serak namun berusaha ia tahan agar tetap stabil. "Cuma... rada pusing sedikit kena panas di lapangan tadi."
"Tuh kan! Efek dihukum Pak Jaka tadi nih," omel Adel prihatin. "Nanti pas istirahat kedua lo minum obat ya, Al."
Alya hanya mengangguk pelan, berpura-pura menyetujui alasan itu. Ia kembali menatap kertas di tangannya dengan jemari yang meremas pinggiran kertas tersebut hingga agak kusut.
Satu hal yang pasti dalam diri Alya Saraswati: ia memiliki harga diri dan rasa kasih sayang yang sangat besar untuk keluarganya. Ia tidak akan merengek meminta uang kepada orang tuanya jika tahu kondisi ekonomi mereka sedang terjepit. Ia juga menolak keras pikiran untuk meminjam uang atau merepotkan kedua sahabatnya, Adel dan Jesica. Meski ia tahu kedua sahabatnya itu pasti dengan senang hati akan membantunya, harga diri Alya dan rasa tidak ingin menjadi beban bagi orang lain melarangnya melakukan hal tersebut.
'Aku harus cari cara sendiri,' tekad Alya dalam hati, meski kepalanya terasa mau pecah memikirkan pekerjaan apa yang bisa menghasilkan uang sebanyak itu dalam kurun waktu beberapa hari saja.
Di saat Bu Ani mulai menuliskan garis besar materi sejarah di papan tulis, pikiran Alya sepenuhnya terkunci pada lembaran kertas di mejanya. Di luar jendela kelas, angin berhembus kencang, membawa mendung tipis yang mulai menutupi terik matahari seakan mencerminkan badai kebingungan yang kini tengah melingkupi jiwa gadis pendiam itu.