Dalam keadaan hamil besar Calista harus menerima kenyataan bahwa sahabatnya yang bekerja sekantor dengan suaminya berselingkuh. Dalam perjuangan membesarkan anaknya, ternyata dia harus menerima kenyataan anaknya mengidap penyakit Kanker Leukimia, sebagai dokter dia juga ketakutan. Apakah Calista yang seorang dokter mampu mengatasi semua cobaan ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wisye Titiheru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bersyukur
Setelah enam bulan bersama anak - anak, istri dan orangtua. Christian harus kembali ke Jakarta karena ada urusan perusahaan yang mau kerjasama dengan perusahaan asing, ada proyek besar yang mau Wijaya Grup buat.
Pagi ini dia sudah bangun, dan membantu Calista istrinya menyiapkan sarapan buat keluarga, mama juga sudah ikut bergabung. Setelah selesai, Daniel yang membangunkan kedua adiknya. Liam mandi, Daniel mengurus baju seragam adik perempuannya. Selesai mandi, Eliana akan turun duluan karena dia harus di ikat rambutnya oleh mami. Rutinitas ini yang selalu dilakukan.
"Kamu kuliah jam berapa kak??"
"Aku hari ini hanya satu mata kuliah jam satu siang. Jadi pagi ini aku yang antar adek - adek, mami dan papi berangkat."
"Papi mau kemana??"
"Papi ke Jakarta dulu. Ada urusan kantor yang harus papi tanda tangan." Eliana sudah berlari ke papinya
"Adek ikut."
"Sayang kan sekolah, liburan kali ini papi janji kita akan liburan. Terserah adek mau kemana." Eliana kalau sudah begini hanya papinya yang bisa mengatasi keadaannya. Tian papinya yang membujuk, mengendong dan menenangkannya. Pokoknya memberi pengertian kepadanya. Akhirnya Tian yang mengantar Liam dan Eliana sekolah. Sementara Calista menyiapkan pakaian suaminya. Sekolah mereka tidak jauh kalau menggunakan kendaraan hanya dua puluh menit. Jalanan dari rumah ke sekolah mereka tidak mecet.
"Sayang aku hanya tiga hari."
"Jadi aku kurangi."
"Iya. Sini mesraan dulu." Tian memeluk Calista istrinya. Dia sudah bersyukur memiliki tiga anak hebat dari istrinya ini. Setelah perjalanan kehidupan rumah tangga mereka.
Christian Wijaya ini adalah cinta pertama Calista, namun perjalanan kehidupnya, Calista berpisah dengan Christian dan dia bertemu dengan seorang dokter tentara Ezra Pratama yang mengajarkannya untuk tidak membenci, harus mengasihi ditengah pergumulan yang Tuhan berikan Daniel Ethan anaknya dengan Tian menderita kanker. Tama lah yang menolongnya dan menyatukan Calista ditengah kebenciannya kepada keluarga mantan suaminya. Namun Ezra Pratama pergi dan meninggalkan selama - lamanya dan menitipkan dia kembali kepada mantan suaminya. Dan benih cinta yang sudah dikubur lama kembali di gali, agar tetap bersemi.
Hari demi hari Christian Wijaya berusaha menumbuhkan benih cinta itu. Dia berjuang, agar perempuan yang sekarang sudah kembali menjadi istrinya bisa mencintai dia tulus. Keluarga, orangtua Christian membantunya, apalagi papanya adalah dalang dari perpisahan itu setelah termakan isu dari seorang menejer Hukum di perusahaannya itu Lisa. Christian juga terbantu dengan cinta anak perempuan yang di tinggalkan Ezra Pratama dari pernikahannya bersama Calista, Eliana Pratama gadis umur enam tahun ini sangat dekat dengan Tian papi sambungnya ini. Namun Tian sudah berjanji bahwa dia akan mencintai Eliana tulus, sama seperti cinta papinya yang sudah meninggal mencintai anak - anaknya dengan tulus waktu dia masih hidup.
"Aku berangkat ya sayang."
"Hati - hati ya."
"Iya. Aku akan memberitahukan kamu setiap saat keadaanku."
"Kaka,di Jakarta tinggal di??"
"Apartemen kita. Kan selantai dengan punya kak Melany."
"Oke. Jangan nakal ya." Tian menatap perempuan yang dia cintai. Di cium bibir dan kening istrinya.
"Iya sayang. Aku juga akan ke makam Tama."
"Terima kasih."
Christian sudah pamit kepada orangtuanya dan menitip keluarganya kepada mama dan papanya. Dia berjanji hanya tiga hari dia di Jakarta. Tian diantar oleh Daniel bersama Calista, anak dan istrinya ke bandara.
"Papi, titip mami dan adek - adek ya sayang."
"Siap papi. Kakak akan jaga mereka sampai papi pulang."
"Terima kasih anak hebat papi." Tian memeluk Daniel. Tadi pagi waktu mengantar kedua anaknya dia sudah pamit juga.
"Sayang, aku berangkat ya."
"Iya hati - hati ya sayang."
Lisa sudah menyelesaikan masa hukumannya. Dari waktu yang di putuskan dan remisi yang dia peroleh, akhirnya dia boleh bebas. Orang pertama yang di kunjungi adalah mantan asistennya yang sudah bekerja difirma hukum adiknya. Dari mantan asistennya Lisa tahu semua berita tentang Christian dan Calista.
"Ternyata mereka sudah bersatu lagi."
"Iya. Semenjak suami tentara Calista meninggal di Afganistan."
"Dokter Tama meninggal??"
"Iya."
"Baru rumahnya besar Wijaya, kenapa di jual ya??"
"Mereka sudah pindah. Kemana yang tidak saya tahu."
Mantan asisten Lisa ini menyewakan kosan sederhana buatnya. Rencananya Lisa akan kembali ke kampungnya. Lisa memasuki rumah kosannya ini, semua berubah kemewahan yang dia mimpikan lenyap akibat keegoisannya. Orang yang dia cintai, ternyata tidak perna mencintainya.
Dan dia sadar bahwa apa yang perna dikatakan Calista teman, sahabat dia waktu sekolah itu "Bahwa, apa yang dia curi, akan kembali dengan sendirinya." Dan benar semua yang dia ambil dari sahabatnya Calista, cinta, kehormatan, kebahagiaan semua kembali kepada Calista. Suami dan anaknya juga kembali. Lisa menangis meratapi kemalangannya. Dia harus menerima takdir ini. Seketika dia teringat tentang Liam, bayi yang dia rawat dari kecil sampai berumur sepuluh tahun dengan tulus, dia pun menangis lagi.
Christian Wijaya sudah tiba di Jakarta, setelah menempuh sembilan jam lebih perjalanan. Beno asisten Christian sudah menunggu dia.
"Bagaimana Beno, ada berita apa??"
"Ibu Lisa sudah bebas pak. Dan sekarang dia ada kosan di daerah cinere pak."
"Oke. Terus besok pertemuan dengan relasi dari Prancis bagaimana?? Apa surat - surat sudah siap."
"Sudah pak. Ibu Melany juga sudah periksa semua. Sesuai dengan draf yang sudah bapak koreksi."
"Oke. Apa besok ibu Melany ikut??"
"Rencananya ibu ikut pak."
Tian sudah menghubungi keluarganya di Wellington. Karena sekarang bulan oktober jadi selisih waktu Jakarta dengan Wellington enam jam. Sekarang waktu di Jakarta jam sebelas siang, sedangkan di Wellington sudah jam lima sore. Anak - anak dan istrinya sudah ada semua di rumah. Mereka sedang menikmati snack sore di teras belakang bersama oma dan opa mereka dengan cake keju yang dibuat oleh Calista. Dan cake keju ini, merupakan kue kesukaan kami semua.
"Have fun, kesayangan papi."
"I love you papi. Cepat selesai urusannya, biar bisa ngeteh sore sama - sama."
"Iya sayang. I love you too."
"Not, love more papi??"
"Yes big love for you."
"Mami???" Calista sudah tersenyum.
"Small." Eliana tertawa. Ketika dia pertanya apakah cinta papi ke mami lebih besar dari dirinya. Dan dijawab bahwa papi mencintainya lebih besar dari mami.
"Terima kasih papi." Eliana langsung mencium maminya. Dan memeluk sangat erat. Calista baru merasakan bahwa Eliana adalah saingannya didepan Christian. Hal yang tidak perna terjadi pada saat Ezra,papi kandungnya masih hidup.
Calista memeluk anak hasil buah cintanya dengan dokter Ezra Pratama. Satu cinta yang dia titipkan buat dirinya dan Christian. Air matanya mengalir membasahi pipinya. Daniel melihat reaksi itu. Dia langsung kearah maminya dan dipeluk dua perempuan yang disayangi papi, dia dan Liam.
"Love you more mami."
"Terima kasih."
"Mami jangan sedih ya."
Sore itu di kota Wellington Calista menikmati sore harinya bersama mertua dan anak - anaknya. Melihat keindahan alam ketika matahari mau terbenam di belakang rumah mereka. Dia bersyukur diberi kesempatan untuk menikmati semuanya dengan keluarganya orang yang dia cintai.