NovelToon NovelToon
Supir Ketos Nona Manja

Supir Ketos Nona Manja

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Anak Genius / Action
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Markario Putra

Kenalkan, namaku Arkan Jaya. Aku bekerja sebagai supir di salah satu rumah orang kaya yang ada di daerahku.

Kebetulan, putri dari orang kaya tempat saya bekerja adalah orang yang sering saya hukum di sekolah dulu karena suka membuat onar.

Awalnya aku ragu untuk bekerja di rumah anak ini. Namun, karena aku terlahir miskin, mau tidak mau, suka tidak suka, aku harus menerimanya.

Orang tuanya bernama Pak Frans Sanjaya dan Bu Sofia.
Pria itu adalah Pak Frans Sanjaya. Di sampingnya, pintu mobil lain terbuka dan muncul sosok wanita anggun yang tak lain adalah Bu Sofia, ibunya. Hari itu adalah kali pertama aku melihat langsung kedua orang tua Clara secara jarak dekat. Aku yang saat itu hanya seorang Ketua OSIS dari keluarga biasa, tentu tidak pernah membayangkan bahwa bertahun-tahun kemudian, Pak Frans Sanjaya dan Bu Sofia-lah yang akan membayar gajiku sebagai supir pribadi putri manja mereka ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Pasukan Kosmetik dan Misi Subuh

Keesokan harinya, pukul 05.30 pagi.

Langit masih remang-remang, embun pagi masih menetes, dan burung-burung pun rasanya belum sempat sarapan. Namun, di depan gerbang utama sekolah yang masih terkunci rapat, dua sosok manusia sudah berdiri tegap bak prajurit siap perang.

Siapa lagi kalau bukan Clara dan Diana.

Keduanya memakai seragam sekolah lengkap, tetapi penampilan mereka benar-benar mengenaskan. Karena tidak memakai kosmetik kesayangan mereka sejak kemarin sore, wajah dua anak kaya ini terlihat polos tanpa riasan, pucat, dan lingkaran hitam tebal tercetak jelas di bawah mata mereka akibat kurang tidur. Mereka tampak seperti dua ekor panda yang terdampar di depan sekolah.

"Ra... kita beneran sampai jam lima lewat tiga puluh menit?" bisik Diana sambil menguap lebar, sampai matanya berair.

"Ayam tetangga aku aja tadi belum berkokok pas kita berangkat, Di..."

"Harus, Diana!" seru Clara dramatis, memegangi dadanya yang terasa sesak. "Kamu tahu kan kemarin sore aku harus ikut acara makan malam keluarga tanpa liptint dan catokan?

Sepupu-sepupuku sampai nanya apa aku kena penyakit tipes! Ini tragedi nasional, Diana! Hari ini kosmetik kita harus kembali!"

Tepat pukul 06.00 pagi, suara deru mesin motor butut peninggalan almarhum bapakku terdengar dari kejauhan. Ngeeeeng... krotok-krotok-krotok...

Aku menghentikan motor di depan gerbang. Begitu melepas helm, mataku melotot kaget. Aku mengucek mata berulang kali, memastikan kalau aku tidak sedang melihat dua hantu lokal penunggu pohon beringin sekolah.

"Astaga... kalian berdua kesurupan apa datang jam segini?" tanyaku heran, menatap jam tangan yang baru menunjukkan pukul enam lewat sedikit.

Clara dan Diana langsung melangkah maju bersamaan, menempelkan wajah mereka ke besi gerbang yang masih terkunci, menatapku dengan mata melotot tanpa kedip.

"Mana... barang... kami... Kak..." bisik Clara dengan suara dibuat serak menyeramkan, seperti zombie haus darah.

"Kak Arkan jahat... kembalikan alat catokku..." timpal Diana, menyenggolkan dahi cantiknya ke besi gerbang sampai berbunyi Klak.

Aku sampai melangkah mundur satu pijakan karena geli melihat kelakuan ajaib mereka. "Heh! Mundur-mundur! Kalian ini mau ambil barang atau mau demo buruh?"

Setelah Pak Sumanto membuka kunci gerbang sambil tertawa terpingkal-pingkal melihat kelakuan dua siswi itu, aku berjalan menuju ruang OSIS dikuntit ketat dari belakang. Jarak mereka denganku tak sampai setengah meter, persis seperti pengawal pribadi yang siap menempeleng jika aku mencoba kabur.

Klek.

Begitu pintu ruang OSIS kubuka, aku mengambil kantong plastik berisi tumpukan kosmetik milik mereka dari dalam lemari kunci. Belum sempat aku menyerahkannya secara formal, dua pasang tangan cepat bak kilat langsung menyambar kantong itu dari genggamanku!

Sreeet!

"ASIKKKK! CATOKANKU KEMBALI!" jerit Diana histeris sambil memeluk erat alat catok rambutnya seolah baru saja menemukan harta karun kerajaan yang hilang.

Clara langsung merogoh cushion dan liptint-nya, lalu secara refleks bercermin di kaca jendela ruang OSIS. Dengan kecepatan cahaya, jemari lentiknya menepuk-nepuk bedak ke

wajahnya.

"Ah, akhirnya... jiwaku kembali," gumam Clara legak luar biasa setelah memoleskan liptint merah muda di bibirnya, menatap pantulannya di kaca dengan penuh rasa bangga.

"Wajah cantik Clara Adelin telah terlahir kembali ke dunia!"

Aku yang berdiri di dekat pintu hanya bisa melipat tangan di dada, memperhatikan tingkah absurd mereka dengan gelengan kepala.

"Luar biasa," sindirku datar. "Datang jam lima subuh bukan karena mau belajar atau kejar prestasi, tapi cuma demi menepuk bedak ke muka. Benar-benar rekor baru dalam sejarah sekolah kita."

Clara membalikkan badan, menepuk bajunya yang agak kusut, lalu menatapku sambil mengangkat dagunya tinggi-tinggi dengan penuh percaya diri.

"Biarin! Yang penting hari ini aku enggak terlambat, kan? Janji jam enam pagi datang sudah aku tepati!" tantang Clara bangga, menepuk dadanya sendiri.

"Iya, Kak Arkan! Jangan harap Kakak bisa hukum kita lagi hari ini!" tambah Diana sambil mengibaskan rambutnya yang kini sudah rapi kembali.

Aku tersenyum tipis, merogoh saku celanaku, lalu mengeluarkan sebuah buku catatan kecil berwarna hitam.

"Kalian memang tidak terlambat," kataku santai sambil membuka lembaran buku itu. "Tapi kalian lupa satu hal."

Raut wajah percaya diri Clara dan Diana mendadak luntur. Keduanya saling pandang dengan tatapan penuh curiga.

"Maksud Kakak apa?" tanya Clara cemas.

Aku menunjuk ke arah papan tata tertib sekolah yang tertempel besar di dinding ruang OSIS.

"Poin aturan nomor empat: Siswa dilarang keras memasuki area dan ruangan sekolah sebelum pukul 06.15 WIB tanpa izin tertulis dari guru piket atau Pembina OSIS." Aku mendongak, menatap mereka dengan senyuman penuh kemenangan. "Kalian datang jam 05.30 dan masuk ruangan tanpa izin resmi. Selamat, Nona-Nona... kalian dapat poin pelanggaran baru!"

"APA-APAAN?!" jerit Clara dan Diana kompak, suaranya menggema hebat hingga membuat burung di luar jendela terbang terkejut.

Clara menunjuk dadaku dengan jari telunjuknya yang gemetar menahan geram. "KAK ARKAN! KAKAK MEMANG KETUA OSIS PALING MENCARI-CARI KESALAHAN DI DUKUN MANAPUN!"

"Awas Kakak ya! Aku sumpahin besok motor butut Kakak mogok di tengah jalan!" seru Diana liar, sebelum keduanya berbalik badan dan berlari keluar ruang OSIS sambil menghentak-hentakkan kaki mereka dengan sangat heboh.

Aku tertawa lepas di dalam ruangan yang sepi itu. Hari baru belum resmi dimulai, tapi mengerjai dua anak kaya ini selalu berhasil membuat pagiku terasa sangat berwarna.

1
Alissia
hai thor🤭🤭🤭🤭
Markario Putra: malas nih,kok cerita aku nggak ada yang mau baca sih
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!