Bagi Aris dan ibunya, Tita adalah istri sempurna: kaya, penurut, dan sabar. Saat Tita divonis tak bisa memberi keturunan, mereka berlagak menerima dengan lapang dada. Padahal di belakangnya, Aris diam-diam menikah siri demi mendapatkan anak sambil terus menikmati kemewahan dari uang Tita.
Mereka pikir Tita bodoh. Padahal, Tita sudah tahu segalanya.
Tanpa air mata atau labrakan emosional, Tita tersenyum dingin. Ia mulai memutus aliran dana, merebut asetnya, dan menjebak bisnis Aris ke jurang utang.
"Kalian pikir bisa hidup mewah di atas penderitaanku? Mari kita lihat seberapa lama kalian bertahan tanpa sepeser pun uangku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Skenario
Lantai dua puluh gedung Glowinc Tower selalu memancarkan aura dingin yang mengintimidasi. Di balik meja kerja kayuku yang luas, aku duduk menyilangkan kaki, menyesap kopi hitam sembari memeriksa berkas laporan analisis risiko bisnis Aris Kitchen.
Setiap angka di lembaran ini adalah bukti betapa hancurnya bisnis suamiku sendiri tanpa suntikan dana dariku.
Pukul sepuluh pagi, pintu ruang kerjaku diketuk. Siska melangkah masuk dengan senyum tipis yang sarat akan arti.
"Bu Tita, Pak Aris sudah menunggu di ruang tamu luar sejak tiga puluh menit yang lalu," lapor Siska. "Beliau memaksa ingin langsung masuk, tapi sesuai instruksi Ibu, sekretaris depan menahannya karena Ibu sedang ada jadwal evaluasi internal."
Aku tersenyum tipis, memutar-mutar pena mewah di jemariku. "Bagus. Biarkan dia merasakan bagaimana rasanya menjadi orang luar dan bawahan di perusahaan ini. Tahan dia di luar tiga puluh menit lagi, Siska. Biar kepala suamiku yang sok hebat itu agak dingin sedikit."
Siska tersenyum paham. "Baik, Bu Tita."
Tepat satu jam Aris dibiarkan gelisah bagaikan pengemis di ruang tunggu VIP, barulah aku memberi sinyal agar pria itu diperbolehkan melangkah masuk ke ruang kerjaku.
Pintu ganda ruang kerjaku terbuka. Aris melangkah masuk dengan wajah yang jauh dari kata segar. Kemeja kerjanya agak kusut, matanya merah karena kurang tidur, dan langkah kakinya ragu-ragu. Pria yang biasanya berlagak bagaikan pengusaha sukses itu kini tampak begitu kerdil di dalam ruangan besarku.
"Tita..." sapa Aris dengan suara parau. Ia mencoba melangkah mendekat dan hendak memeluk bahuku seperti biasanya.
Aku dengan cepat mengangkat tangan kanan, memberi isyarat agar dia berhenti tepat di depan meja kerja.
"Selamat pagi, Mas Aris. Duduklah," kataku dengan nada suara yang sangat profesional, formal, dan tanpa kehangatan seorang istri. "Di ruangan ini, saat jam kerja, aku adalah CEO Glowinc Group dan kamu adalah Manajer Operasional dari anak perusahaan baru kami, Aris Kitchen. Kita bicara profesional ya."
Aris mematung, agak terkejut dengan pembatas tegas yang kubuat. Namun karena posisinya yang sedang terdesak utang, dia menahan rasa gengsinya dan duduk di kursi di hadapanku.
"Tita... Mas ke sini mau tanya soal proses akuisisi kemarin," kata Aris cepat, menyandarkan kedua tangannya ke meja. "Suplier bahan baku terus menagih uang delapan ratus juta hari ini. Dua cabang restoranku sudah tutup total karena tidak ada bahan baku. Kapan dana talangan empat miliar dari perusahaanmu bisa ditransfer ke rekening operasional Mas?"
Aku membuka map tebal berlogo Glowinc Group di hadapanku, membalik-balik halamannya dengan tenang.
"Justru itu yang mau aku bahas, Mas," kataku sembari menatap matanya yang cemas. "Berdasarkan laporan awal dari tim auditor hukum kami pagi ini, ada banyak ketidaksesuaian laporan keuangan di Aris Kitchen selama enam bulan terakhir. Ada aliran dana gelap sebesar puluhan juta rupiah setiap bulannya yang ditarik dari rekening operasional ke rekening pribadi yang tidak terdaftar atas nama bisnis."
Deg.
Wajah Aris seketika memucat bagaikan kertas pasif. Tangannya yang berada di atas meja mendadak gemetar halus. Aliran dana gelap puluhan juta itu adalah uang yang secara rutin dikirimkannya ke Larasati untuk membiayai apartemen mewah dan gaya hidup istri sirinya!
"A-aliran dana gelap?" gagap Aris, menyapu keringat dingin yang mulai muncul di dahi dan pelipisnya. "N-nggak ada dana gelap, Tita! Itu... itu cuma biaya operasional tidak terduga untuk entertainment klien!"
Aku menaikkan sebelah alisku, mengulas senyum prihatin yang begitu manis.
"Begitu ya, Mas? Tapi tim auditor kami sangat ketat," desahku berpura-pura prihatin. "Karena adanya indikasi kebocoran dana pribadi itu, dewan komisaris memutuskan bahwa pencairan dana talangan empat miliar tidak bisa dilakukan minggu ini. Pencairan dibekukan sampai kamu bisa membuktikan ke mana perginya uang puluhan juta setiap bulan itu."
"D-dibekukan?!" Aris terperanjat, hampir melompat dari kursinya. Suaranya melengking tinggi oleh kepanikan yang meluap. "Tita, kamu bercanda?! Kalau dana itu dibekukan minggu ini, suplier akan melaporkan Mas ke polisi atas kasus penipuan cek kosong! Restoran Mas bisa disita total!"
"Aku tidak bercanda, Mas. Ini prosedur legal perusahaan," kataku dingin namun tetap memasang raut muka sedih yang manis. "Sebagai istri, aku sangat kasihan padamu. Tapi sebagai CEO, aku tidak bisa melanggar aturan dewan komisaris. Kalau aku memaksakan mencairkan dana itu, aku yang bisa dituntut oleh pemegang saham."
Aris memegangi kepalanya dengan kedua tangan. Di matanya saat ini, aku adalah istri bucin yang sedang terikat tangan dan kakinya oleh 'aturan dewan komisaris', padahal akulah yang menyusun seluruh skenario pembekuan itu!
Bip. Bip. Bip. Bip.
Di tengah suasana mencekam itu, ponsel pribadi Aris yang tergeletak di paha atas celananya bergetar hebat. Layar ponselnya menyala bertubi-tubi. Pesan obrolan masuk dengan nama kontak "Klien Properti".
Meski Aris buru-buru menutup layar ponselnya dengan telapak tangan, posisiku yang duduk di kursi CEO yang agak tinggi membuatku bisa membaca beberapa potongan kalimat di pop-up layarnya dengan sangat jelas.
Klien Properti (Larasati).
"Mas! Sewa apartemen jatuh tempo jam 12 siang ini! Kalau uangnya nggak masuk, aku bakal datang ke kantor istri mu sekarang juga! Aku nggak peduli ya!"
Klien Properti (Larasati).
"Transfer 20 juta sekarang atau aku bongkar nikah siri kita di depan Tita!"
Keringat dingin Aris makin bercucuran deras. Napasnya memburu kasar. Pria itu tampak seperti orang yang berada di ambang serangan jantung terjepit antara ancaman kebangkrutan bisnis di depanku dan ancaman pembongkaran skandal di luar sana.
Aku menatap Aris dengan binar mata yang polos dan penuh keprihatinan.
"Mas Aris... kenapa ponselmu dari tadi bergetar terus?" tanyaku dengan suara sangat lembut dan menenangkan. "Apakah itu telepon dari suplier yang menagih utang? Atau dari klien penting?"
Aris menelan ludah dengan susah payah, suaranya gemetar hebat saat menjawab, "I-iya, Tita... ini... ini dari klien properti yang agak rewel. Urusan pekerjaan biasa."
"Kenapa tidak diangkat saja?" tawar polosku, menyandarkan tubuh ke kursi kulitku yang nyaman. "Angkat saja di sini, Mas. Siapa tahu penting. Nanti kalau soal suplier, kamu bisa minta tenggat waktu beberapa hari lagi."
"N-nggak usah, Tita! Nggak perlu!" Aris buru-buru mematikan ponselnya total dan memasukkannya dalam-dalam ke saku celananya dengan gerakan panik.
Ia memandagku dengan mata memerah, memohon-mohon bagaikan pengemis. "Tita... Mas mohon sama kamu... tolong bicara lagi sama dewan komisaris kamu. Kasih Mas talangan lima puluh juta saja dulu hari ini... pakai uang pribadimu, Tita. Mas butuh uang itu banget siang ini..."
Aku menatap suamiku dengan pandangan mata yang sangat teduh, mengabaikan permohonan putus asanya dengan senyuman paling beracun.
"Uang pribadiku kan juga sedang diaudit oleh bank demi pemeriksaan pajak, Mas," jawabku lirih, menggelengkan kepala pelan. "Aku sama sekali tidak bisa mengeluarkan uang tunai hari ini. Kamu harus sabar ya, Mas? Selesaikan dulu urusan laporan aliran dana gelap itu dengan tim auditku."
Aris bersandar di kursinya dengan tubuh yang benar-benar lemas. Wajahnya pucat tanpa warna, menyadari bahwa siang ini dia harus menghadapi ancaman Larasati tanpa membawa sepeser pun uang dari kantor ini.
Aku mengambil cangkir porselenku, menyesap kopi hitamku perlahan, menikmati pemandangan kehancuran mental pria pengkhianat di hadapanku ini.
Selamat berjuang menghadapi istri siri mudamu jam dua belas siang nanti, Mas Aris. Ini baru permulaan dari skenario kehancuranmu.
tp bgus lh...saatnya ngejar cntamu kmbli y felix...
dlunya nabur kjhtan,skrng mnuai akibtnya....slmt jd gembel.....😛😛😛
😂😂😂 jgn sampe deh pindah ke jempol kaki ,, 😁😁😁😁
tu laa akibat dr keserakahan berkedok pengen punya anak ,, 😒😒😒😒
😱😱😱😱😱
pdahl msh byk cara lain supaya punya anak ,, bisa adopsi anak kn ,, emnk dasar pgen selingkuh aj ,, 😒😒😒😒
tp yg pling ngeri,nsibnya aris d pnjra.....scra kknya tita udh blik buat ngsih doa pljran......
udh buka aib sndri,skrng mlah msuk kandang singa......ga ykin kl pad kluar dia msih utuh.....🤣🤣🤣