Sepuluh tahun lalu, seorang bocah laki-laki menolong Keira dari tangan kakak angkatnya yang kejam. Wajahnya terekam di ingatan — dan di hatinya.
Sepuluh tahun kemudian, Keira bertemu lagi dengannya di zona perang. Kali ini, dia bukan bocah. Dia Brigadir Jenderal Darren Tanuwijaya, komandan pasukan elite TNI yang paling ditakuti di medan pertempuran.
Keira memberanikan diri menyatakan cinta. Ditolak.
Tapi malam itu, Darren datang ke tendanya dan berkata:
"Bukan pacaran. Tapi menikah."
Pernikahan kilat di KUA. Suami yang memasak sarapan tapi bisa membunuh dengan satu peluru. Keluarga mertua yang ternyata keturunan jenderal besar. Dan keluarga angkat yang tidak pernah berhenti mempermalukannya.
Kamu cuma anak angkat. Nikah sama tentara miskin. Kasihan.
Tapi mereka tidak tahu — tentara "miskin" itu adalah Brigjen termuda dalam sejarah TNI. Kakeknya mantan Panglima. Dan suami yang mereka hina... tidak pernah membiarkan siapa pun menyakiti istrinya.
Yang lebih tidak mereka sangka:
Keira bukan anak angkat biasa.
Dia adalah pewaris Lim Group International — konglomerat terbesar kedua di Indonesia — yang diculik musuh bisnis saat berusia enam tahun dan dianggap sudah meninggal.
Satu per satu, empat kakak kandungnya mendekati secara diam-diam. Aktor terkenal. Ilmuwan antariksa. Atlet bela diri. Pengusaha misterius. Mereka sudah mencarinya selama tujuh belas tahun.
Sementara itu, kakak angkatnya semakin nekat: alergi yang hampir membunuhnya, narkoba, dan pisau di tengah malam.
Antara tugas negara dan cinta yang tak pernah goyah, antara keluarga yang hilang dan keluarga yang dipilih — Keira harus menemukan siapa dirinya yang sebenarnya.
Dan ketika seluruh kebenaran terungkap...
Yang dulu menghina, sekarang berlutut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33
Bab 33
Cokelat
Vera Santoso membawa dua cangkir kopi ke dalam lift Studio Keira.
Namanya tercatat di buku tamu gedung. Kepada petugas lobi, ia mengatakan hendak menyerahkan dokumen lama milik Keira dan meminta maaf tentang kasus hotel. Satu cangkir bertuliskan nama Vera. Cangkir lain bertuliskan Keira.
Sebelum masuk gedung, segel minuman kedua sudah dibuka dan dipasang kembali. Di dalam kopi itu tersembunyi bahan yang mengandung kakao, tanpa warna yang mudah dibedakan dari minuman gelap.
Vania menunggu di mobil dua blok dari sana.
Pesan terakhirnya masih terlihat di ponsel Vera.
Pastikan dia minum. Jangan hubungi aku lagi setelah ini.
Satu jam sebelumnya, Vera masih mencoba mundur.
"Mbak Vania bilang cuma mau membuat Keira sakit dan membatalkan pertemuan," katanya di dalam mobil. "Kalau alerginya separah dulu, dia bisa mati."
Vania menatapnya melalui kaca spion. "Kamu sudah terlibat sejak hotel. Kalau mundur sekarang, semua pesan dan pembayaran akan kuberikan kepada polisi seolah rencana itu milikmu."
"Tapi ini berbeda."
"Yang kubutuhkan hanya kopi sampai ke mejanya. Setelah itu, pergi."
Vera memegang cangkir dengan kedua tangan. Ia tahu cukup banyak untuk memahami risiko. Rasa takut kepada Vania tidak menghapus pilihan yang dibuatnya ketika tetap membuka pintu mobil.
Vera menekan lantai tujuh.
Pada saat yang sama, Keira sedang menyelesaikan rapat editorial. Hampir seluruh tim akan berangkat merekam wawancara lapangan setelah makan siang. Keira memilih tinggal untuk meninjau dokumen dan menyiapkan pertemuan dengan William serta Felicia tiga hari lagi.
"Mbak, ada tamu," kata petugas depan ketika Vera tiba.
Keira keluar dari ruang rapat. Wajahnya langsung mengeras.
"Kenapa kamu datang?"
Vera meletakkan map dan kopi di meja penerima tamu. "Aku mengembalikan catatan yang tertinggal di kantor. Aku juga mau minta maaf."
"Minta maaf kepada penyidik dengan keterangan yang benar."
"Aku sudah menjawab semua."
"Keteranganmu berubah tiga kali."
Vera menunduk. "Kopi ini dari tempat yang dulu sering kita pesan. Aku ingat pesananmu. Americano, tanpa gula."
Keira tidak menyentuhnya. "Bawa pulang."
"Aku tidak memasukkan apa pun. Gelasnya masih tersegel."
Kalimat itu membuat Keira semakin curiga. Ia tidak pernah menuduh kopi tersebut.
"Pertemuan selesai."
Petugas depan mengantar Vera ke lift. Namun ketika tim berangkat lima belas menit kemudian, cangkir itu masih berada di meja bersama dua minuman pesanan mereka sendiri. Seorang reporter yang mengira itu bagian dari pesanan memindahkannya ke meja Keira.
Keira tenggelam dalam pekerjaan dan lupa siapa yang membawa cangkir tersebut. Saat kopi buatannya sendiri sudah dingin, ia mengambil cangkir yang masih hangat di sisi laptop.
Tegukan pertama terasa pahit.
Ada aroma tipis yang tidak dapat ia kenali di balik kopi.
Keira berhenti, melihat tulisan namanya, lalu mengingat wajah Vera.
Ia mendorong cangkir menjauh.
Terlambat.
Rasa panas menyebar dari leher ke wajah. Kulit lengannya gatal, lalu bentol merah muncul dalam hitungan menit. Bibirnya mulai kesemutan.
Keira melihat gelang peringatan medis di pergelangan tangannya sendiri. Setelah kejadian hotel, Darren meminta semua informasi darurat diperbarui, tetapi Keira yang memilih mengenakan gelang dan membawa dua autoinjektor setiap hari. Ia bahkan melatih tim menggunakan alat latihan tanpa jarum.
Hari ini seluruh orang yang tahu prosedurnya sedang berada di lapangan.
Keira berdiri untuk mengambil tas.
Ruangan berputar.
Napas berikutnya berbunyi sempit. Tenggorokannya terasa menebal dan suara yang keluar hanya serak kecil.
"Tolong..."
Tidak ada orang di ruang redaksi.
Ponselnya berada di meja rapat seberang. Tas yang menyimpan dua autoinjektor epinefrin tergantung di belakang kursi.
Keira mencoba mencapainya tanpa berjalan cepat. Lututnya kehilangan tenaga sebelum tangannya menyentuh tali tas. Ia jatuh di samping meja, menahan tubuh agar kepala tidak menghantam sudut lemari.
Napas semakin sulit. Dada seperti diikat dari dalam. Bercak merah sudah menyebar ke kedua tangan.
Pintu kaca studio terbuka.
Dimas masuk.
Ia melihat cangkir di meja lebih dulu, lalu tubuh Keira di lantai.
Di parkiran, ia sempat melihat Vera keluar tergesa-gesa dan menundukkan wajah ketika berpapasan. Dimas hampir mengejarnya. Lalu ia teringat pesan Vania dan memilih naik terlebih dahulu.
"Keira!"
Dimas berlari dan berlutut. Wajah Keira memerah, bibirnya membengkak, dan setiap tarikan napas menghasilkan bunyi yang membuat darahnya dingin.
Ia mengenali reaksi itu bukan karena berani atau terlatih. Ia mengenalinya karena pernah menjadi penyebabnya.
"Cokelat?"
Keira tidak mampu menjawab. Matanya bergerak ke tas.
Dimas menarik tas itu, membuka saku bertanda medis, dan menemukan dua autoinjektor bersama kartu tindakan darurat.
Ia menelepon layanan gawat darurat dengan pengeras suara.
"Perempuan dewasa, alergi cokelat berat, sulit bernapas, bibir bengkak, masih sadar," katanya cepat. Ia memberi alamat gedung, lantai, dan nomor unit.
Petugas meminta epinefrin diberikan segera.
Dimas membaringkan Keira di lantai dan tidak membiarkannya berdiri. Karena Keira sangat kesulitan bernapas, ia membantu tubuhnya berada pada posisi yang diperbolehkan kartu tindakan, dengan kaki tetap lurus. Ia membuka pengaman autoinjektor dan menekankan ujungnya ke bagian luar paha tengah melalui kain, sesuai petunjuk alat.
Bunyi klik terdengar.
Dimas melihat jam dan menyebutkan waktu pemberian kepada petugas telepon. Autoinjektor bekas diletakkan di samping kartu agar dapat diserahkan kepada paramedis.
"Ambulans dalam perjalanan," katanya kepada Keira. "Jangan berdiri. Lihat gue."
Mata Keira setengah terbuka. Napasnya belum membaik cukup cepat.
Dimas teringat satu sore ketika mereka masih anak-anak. Ia pernah memberikan biskuit cokelat kepada Keira setelah tahu Sri melarangnya. Ia hanya ingin melihat Keira gatal dan dimarahi karena mengambil makanan. Keira justru muntah, membengkak, dan hampir kehilangan kesadaran sebelum dibawa ke klinik.
Saat itu Dimas berbohong bahwa ia tidak tahu.
Hari ini seseorang menggunakan pengetahuan yang sama untuk hasil yang jauh lebih buruk.
Lima menit berlalu. Sesuai instruksi petugas karena gejala berat masih bertahan, Dimas menggunakan autoinjektor kedua di paha lain dan kembali mencatat waktunya.
"Keira, tetap sama gue."
Ia tidak memberi minum atau obat lain. Ia hanya menjaga posisi, memantau napas, dan terus menjawab pertanyaan petugas sampai suara langkah memenuhi koridor.
Paramedis masuk membawa oksigen, monitor, dan tandu. Mereka menerima dua autoinjektor bekas beserta waktu pemberian, memasang alat pemantau, lalu melanjutkan penanganan sesuai kondisi Keira.
"Dosis pertama pukul tiga belas lewat delapan, kedua tiga belas lewat tiga belas," kata Dimas sambil menunjukkan jam pada kartu. "Kesulitan napas mulai sebelum saya tiba. Dia tidak minum obat lain."
Paramedis mengulang informasi itu untuk memastikan, lalu menuliskannya. Salah satu dari mereka memeriksa gelang medis dan meminta identitas, berat badan perkiraan, serta riwayat asma. Dimas hanya menjawab yang ia tahu dan tidak menebak sisanya.
"Ada kontak keluarga?"
"Mami Yuliana di kartu. Suaminya sedang tugas dan mungkin tidak bisa langsung dihubungi."
Petugas keamanan menggunakan telepon kantor untuk menghubungi Yuliana dan Eric. Tim studio yang baru kembali dihentikan di luar garis pembatas. Reporter penerima tamu mengonfirmasi Vera datang membawa dua kopi dan menunjukkan buku tamu kepada keamanan.
"Paparan apa?" tanya salah satu paramedis.
Dimas menunjuk cangkir. "Kemungkinan kakao di kopi. Jangan buang. Ada CCTV dan tamu bernama Vera Santoso."
Petugas keamanan gedung tiba. Dimas meminta area meja tidak dibersihkan dan rekaman lobi/lift diamankan untuk polisi. Ia tidak menyentuh cangkir lagi.
Saat tandu dibawa ke lift, Keira membuka mata sedikit.
"Ren..."
"Dia sedang bertugas," kata Dimas. "Mami sudah dihubungi dari kartu darurat. Lo tidak sendirian."
Pintu lift menutup.
Dimas mengikuti ambulans ke rumah sakit. Di sepanjang jalan, tangannya gemetar begitu kuat hingga ia gagal memasang sabuk pengaman pada percobaan pertama.
Keira langsung dibawa ke ruang gawat darurat. Tim medis memberikan oksigen, akses infus, obat lanjutan, dan pemantauan ketat karena pembengkakan jalan napas serta kemungkinan reaksi berulang. Pintu menutup sebelum Dimas dapat melihat lebih jauh.
Seorang perawat meminta Dimas mengulang kronologi. Karena ia bukan wali atau pasangan, ia tidak diberi kewenangan membuat keputusan medis. Ia hanya menyerahkan kartu alergi, waktu injeksi, dan nomor Yuliana. Mami sedang menuju rumah sakit, sementara petugas penghubung mencoba mengirim kabar kepada Darren tanpa membuka lokasi tugas.
Polisi datang ke studio lebih dulu, lalu mengirim petugas ke rumah sakit. Cangkir, penutup, map Vera, buku tamu, dan salinan CCTV diperlakukan sebagai barang yang harus diuji, bukan bukti yang sudah membuktikan pelaku. Namun pesan di ponsel Dimas memberi alasan untuk segera meminta penyimpanan data komunikasi sebelum hilang.
Dimas membuat tangkapan layar, lalu menyerahkan ponselnya untuk dicatat. Untuk sekali ini, ia tidak menghapus bagian yang menunjukkan dirinya sudah tahu sesuatu akan terjadi.
Ia berdiri di koridor dengan noda kopi di lengan bajunya.
Ponselnya berisi pesan yang membuatnya datang ke studio hari ini.
Vania: Vera akan menemui Keira. Jangan ikut campur kalau kamu masih peduli pada keluarga.
Dimas sebelumnya hanya menduga Vania ingin menakut-nakuti atau merusak pekerjaan Keira. Ia memilih mengikuti Vera dari jauh, bukan memperingatkan Keira atau polisi. Pilihan pengecut itu hampir membuatnya terlambat.
Di balik pintu, alarm monitor berbunyi cepat. Seorang dokter meminta obat tambahan. Perawat berlari membawa peralatan.
Dimas menekan nomor Vania.
Panggilan dijawab.
"Apa?" suara Vania terdengar kesal.
Dimas menatap pintu ruang gawat darurat.
"Vania, kali ini kamu benar-benar mencoba membunuh orang?"
kalian bakalan stroke kalo tau keluarga asli Keira 🤣🤣🤣🤣
review bintang 🌟 5 untuk pemula 😲😲😲😲👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻