Keira Liem cuma mau hidup tenang.
Setelah dikhianati mantan pacar dan dijebak rekan kerja, pilot muda ini nyaris kehilangan segalanya—karier, reputasi, bahkan harga diri. Satu-satunya jalan keluar? Nikah siri dengan pria asing yang ditemuinya di parkiran bawah tanah SCBD di malam terburuk hidupnya.
Pria itu bilang namanya Kai. Katanya pengangguran. Senyumnya menyebalkan, mulutnya pedas, tapi entah kenapa... Keira merasa aman di dekatnya.
Yang tidak Keira tahu: "Kai" adalah Kaizan Tanujaya—CEO Nusantara Airlines, pewaris konglomerat Tanujaya, dan legenda penerbangan yang fotonya sudah ditempel Keira di dinding kamar sejak SMA.
Setiap hari, Keira memuja Kapten Kaizan Tanujaya di kantor.
Setiap malam, Keira memarahi "suami kontrak pengangguran"-nya di rumah.
Mereka adalah orang yang sama.
Dan Kaizan? Dia menikmati setiap detiknya.
Tapi rahasia tidak bisa bertahan selamanya. Ketika topeng terbuka, ketika masa lalu yang kelam menyerang, ketika satu-satunya orang yang pernah membuatnya jatuh cinta berbalik pergi—Kaizan harus membuktikan bahwa cinta yang dimulai dari kebohongan bisa menjadi hal paling nyata di hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olivia Renata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31
Bab 31
Penerbangan Pertama
Tangan Kaizan tidak pernah sampai menyentuh Keira.
Dia menurunkannya perlahan. "Iya. Aku berbohong."
Keira menutup mata, mengangguk sekali, lalu berbalik. "Jangan ikuti aku."
Kaizan berhenti di lorong. Untuk pertama kalinya, dia mematuhi permintaan itu meski seluruh tubuhnya ingin mengejar.
Tiga hari berikutnya, Keira tidak menjawab satu pun pesan. Dia mengambil kamar istirahat kru pada malam pertama, lalu pulang hanya ketika aplikasi gedung menunjukkan ruang penyimpanan Kai kosong. Kaizan telah memindahkan diri ke hotel tanpa membawa banyak barang.
Keira mengajukan kembali jadwal penuh. Terbang membuat jam-jamnya memiliki checklist, batas, dan tujuan. Tidak ada ruang untuk memikirkan apakah sup di kulkas dibuat oleh pacar atau direktur utama.
Pada hari keempat, dia masuk ruang briefing dan menemukan nama kapten di layar.
Kaizan Tanujaya.
Napas Keira tersangkut. Seorang awak kabin yang berdiri di sampingnya langsung menegakkan tubuh ketika Kaizan masuk mengenakan seragam kapten.
Tidak ada kacamata gelap. Tidak ada topi. Seluruh kru kini mengenali wajahnya.
"Selamat pagi," kata Kaizan. "Untuk penerbangan ini saya bertugas sebagai kapten operasional. Semua keputusan mengikuti manual dan rantai komando penerbangan. Jabatan korporasi saya tidak mengubah kewenangan keselamatan kru."
Dia memandang setiap anggota secara bergiliran. "Kalau saya melewati prosedur, siapa pun wajib mengoreksi. Tidak ada laporan yang masuk ke penilaian kinerja tanpa proses normal. Jika ada yang merasa susunan kru ini mengganggu kesiapan tugas, katakan sekarang."
Ruangan sunyi. Semua orang tahu pertanyaan itu terutama ditujukan kepada Keira.
"Saya mampu menjalankan tugas," katanya. "Keberatan pribadi tidak memengaruhi status fit for duty saya."
Jawabannya melindungi penerbangan, bukan keputusan Kaizan memasuki jadwalnya.
Kepala awak kabin menjawab, "Selamat pagi, Kapten."
Keira menggunakan suara yang sama. "Selamat pagi, Kapten."
Kaizan telah mempertahankan medical certificate, type rating, dan recency melalui program terpisah yang tercatat di regulator. Sebelum masuk jadwal, bagian operasi memeriksa jam latihan, simulator, serta kelayakannya seperti kapten lain. Penugasan itu sah.
Namun bukan kebetulan.
Malam sebelumnya, Kaizan meminta operasi menempatkannya pada satu penerbangan inspeksi yang sama dengan Keira. Dia tidak mengubah nilai, rute, atau jam terbang Keira. Dia hanya menggunakan satu ruang yang masih tidak bisa ditolak perempuan itu tanpa mengorbankan pekerjaan.
Rasa bersalah membuat kerah seragamnya terasa sempit.
Briefing berjalan dingin. Cuaca rute menunjukkan peluang awan konvektif dan guncangan sedang. Mereka menetapkan titik pengalihan, bahan bakar tambahan, serta batas kapan layanan kabin harus dihentikan.
"First Officer, ada tambahan?" tanya Kaizan.
"Tidak ada, Kapten."
Dia tidak memanggilnya Kai. Nama itu seperti pintu rumah yang ditutup.
Di kokpit, Keira memeriksa panel tanpa melewatkan satu item. Jarak mereka kurang dari satu meter, tetapi lebih jauh daripada dua kota.
"Battery?"
"On."
"External power?"
"Connected, parameter normal."
"Flight plan?"
"Loaded and cross-checked."
Setiap jawaban tepat. Tidak ada satu kata pribadi.
Saat pesawat mulai taxi, Kaizan melihat ujung jemari Keira menekan checklist terlalu kuat.
"Kondisi fit for duty?" tanyanya.
Keira menoleh. "Fit for duty, Kapten."
Dia tidak memberi ruang untuk pertanyaan kedua.
Keira menjadi pilot flying pada sektor keberangkatan. Takeoff, climb, dan navigasi awal selesai sesuai prosedur. Kaizan menjalankan peran monitoring tanpa mengambil alih atau memberi bantuan yang tidak diminta.
Tiga puluh menit setelah lepas landas, radar cuaca menunjukkan sel aktif di depan. Mereka meminta deviasi lebih awal.
"Deviasi kanan dua puluh mil disetujui," kata Kaizan setelah kontak radio. "Sabuk pengaman dinyalakan."
Keira menyalakan tanda. "Kabin diberi informasi."
Guncangan mulai terasa di tepi awan. Kepala awak kabin melapor bahwa troli sudah diamankan dan seluruh awak duduk. Keira mempertahankan kecepatan sesuai rekomendasi turbulensi. Kaizan memantau ketinggian serta jarak dari sel cuaca.
Satu guncangan lebih keras mengangkat bahu mereka dari kursi.
Tangan Kaizan bergerak refleks ke arah lengan Keira, lalu berhenti sebelum menyentuh. Dia mengalihkannya ke panel.
"Kecepatan stabil."
"Terkendali," jawab Keira.
Mereka keluar dari awan dua belas menit kemudian. Tidak ada penumpang atau kru cedera. Layanan kabin dilanjutkan setelah kondisi dinilai aman.
Kaizan membuat pengumuman singkat kepada penumpang. Dia menyebut deviasi cuaca, perkiraan waktu tiba baru, dan meminta sabuk tetap terpasang saat duduk. Tidak ada penyebutan jabatan CEO.
"Kapten Anda, Kaizan Tanujaya," tutupnya.
Nama itu keluar melalui pengeras kokpit. Keira pernah mendengar suara sama berkata, aku pengangguran, aku banyak membaca, barang itu diskon. Jemarinya kehilangan tekanan sesaat pada pena.
"First Officer?" panggil Kaizan.
Keira kembali melihat instrumen. "Parameter normal, Kapten."
Menjelang turun, mereka menerima perubahan landasan dan angin samping ringan. Keira memperbarui perhitungan, mengulang briefing, dan mengonfirmasi ketinggian minimum. Kaizan tidak mencoba meminta maaf di sela checklist. Dia tahu satu kalimat pribadi pada fase kritis akan menjadi pelanggaran baru terhadap batas yang sudah dirusaknya.
Pendekatan stabil. Keira mendaratkan pesawat dengan koreksi kecil terhadap angin, lalu menyerahkan kendali saat taxi sesuai briefing. Kaizan hanya berkata, "Pendaratan baik," dengan nada evaluasi profesional.
"Terima kasih, Kapten."
Profesionalisme mereka bekerja sempurna. Justru itu yang menyakitkan. Mereka masih dapat membawa ratusan orang melintasi langit sambil hubungan di antara dua kursi itu runtuh tanpa suara.
Setelah mendarat, Keira menyelesaikan log, debrief singkat, dan serah terima pesawat. Dia menunggu awak lain turun lebih dulu agar tidak perlu berjalan bersama Kaizan.
Catatan keselamatan tidak menunjukkan penyimpangan. Kabin melaporkan satu gelas tumpah sebelum tanda sabuk menyala, tanpa cedera. Deviasi cuaca dan tambahan bahan bakar tercatat. Di atas kertas, penerbangan pertama mereka setelah identitas terbuka sempurna.
Tidak ada kolom untuk mencatat bahwa first officer tidak sanggup menatap kaptennya lebih dari dua detik.
Di tangga, beberapa petugas darat menatap mereka diam-diam. Foto Kaizan mengejar Keira setelah acara pembukaan sudah menjadi rumor internal, meski tidak ada yang berani bertanya.
Keira berjalan menuju kendaraan kru.
"Keira."
Dia terus melangkah.
Kaizan menyusul dan berdiri di depannya sebelum garis jalur kendaraan, cukup jauh dari area aktif. "Kita perlu bicara."
"Tadi kita sudah bicara sepanjang penerbangan, Kapten."
"Bukan tentang pekerjaan."
"Kamu memilih pekerjaan untuk memaksaku berada satu ruangan denganmu."
Kaizan menerima tuduhan itu. "Iya. Itu salah. Aku takut kamu tidak akan memberiku kesempatan lain."
"Kalau kamu ingin kesempatan, berhenti menciptakan keadaan yang membuatku tidak bisa pergi."
Dia mundur satu langkah, membuka jalan.
Keira melewatinya, lalu berhenti di pintu kendaraan kru.
"Pulang. Beri aku penjelasan yang masuk akal setelah kita sampai rumah. Semua."
Dia naik tanpa menunggu jawaban.
Moreno berdiri dekat mobil operasional dan menyaksikan kendaraan kru menjauh.
"Bos," katanya pelan, "ini mungkin kesempatan terakhir yang dia kasih."
Kaizan menatap punggung kendaraan sampai hilang dari apron.
Tangannya mengepal.