HELENA KANAYA ATMAJAYA gadis enam belas tahun yang masih duduk di bangku sekolah, sejak kecil Helena sudah di jodohkan dengan anak teman mendiang Ibunya, yang bernama RAVELO TRIAN ADITAMA yang sama sama masih duduk di bangku sekolah, kebetulan Helena dan Velo masih satu sekolah namun beda kelas.
Dari dulu Helena memang sudah menyukai Velo, dan saat tahu kalau keduanya di jodohkan Helena semakin menempel pada Velo, membuat Velo terkadang merasa risih sendiri.
Helena sebenarnya gadis yang baik, hanya saja dia memiliki sifat posesive pada sesuatu yang memang sudah jelas jelas miliknya termasuk pada Velo. Helena tahu kalau Velo dekat dengan gadis satu kelasnya yang bernama HANA LARASATI, jadi Helena selalu berusaha menjauhkan Hana dan Velo.
Dan sikap Helena yang seperti itu, membuat semua murid di sekolahnya mengecap Helena sebagai gadis Antagonist, awalnya Helena tidak terima dirinya di anggap Antagonist, namun pada akhirnya Helan benar benar memerankan sosok Antagonist yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zakiya el Fahira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Helen menatap Velo yang menggenggam tangan sembari berjalan keluar dari gedung tempat basket.
''Vel, tunggu''
Velo langsung menghentikan langkahnya, dan membalikkan badannya menghadap Helen.
''Iya Hel?''
''Gue mau tanya sama lo''
''Kamu mau tanya apa?''
''Beneran lo gak suka sama Hana?'' tanya Helen penasaran, karna beberapa saat tadi Helen sedikit kaget, saat mendengar pernyataan Velo kalau dia tidak pernah menyukai Hana, sekalipun dirinya tidak hadir di tengah tengah mereka.
Velo mengangguk. ''Aku memang tidak pernah memiliki perasaan apapun padanya, perhatianku sama dia, itu karna janji yang pernah aku ucapkan di waktu kita masih kecil'' jelas Velo.
Helen terdiam mendengar penjelasan Velo, benarkah tunangannya ini tidak pernah menyukai Hana pikirnya.
''Aku tahu kamu tidak akan percaya semudah itu dengan apa yang aku katakan'' ucap Velo seakan akan tahu apa yang di fikirkan oleh Helen.
''Tentu, siapa yang mau percaya dengan modelan cowok plinplan seperti lo'' sahut Helen ketus.
''Aku tahu kalau selama ini aku selalu membuatmu kecewa, jadi aku tidak minta kamu untuk percaya denganku'' tukas Velo.
''Bagus deh, kalau lo sadar'' ketus Helen.
Velo tersenyum sembari mengambil tangan Helen untuk di genggamnya.
''Dari awal kamu selalu berusaha mengejarku, jadi sekarang izinkan aku yang mengejarmu balik, aku akan buktikan kalau aku benar benar ingin hidup dengan kamu'' pinta Velo.
Helen seketika terdiam, benar selama ini memang dirinya yang selalu mengejar Velo, walaupun Velo tidak pernah menghindarinya, namun sikap Velo yang selalu berpihak pada Hana membuatnya sakit hati.
''Terserah lo'' cetus Helen, lalu dia menghempaskan tangan Velo yang menggenggamnya, lalu berjalan masuk kembali ke dalam gedung.
Velo tersenyum, dari jawaban Helen Velo langsung menyimpulkan kalau Helen mengizinkan dirinya untuk mengejarnya.
''Hel, kamu mau kemana?'' seru Velo.
''Mau lihat si benalu lari'' sahut Helen.
Velo langsung bergegas menyusul Helen yang sudah masuk ke dalam gedung.
Suasana di dalam gedung begitu heboh, dengan sorakan para murid untuk Hana yang sedang berlari mengitari lapangan basket sembari berkalungkan kardus dengan tulisan gue hanya benalu, seperti yang di inginkan oleh Helen.
''Hel gimana?, sesuai keinginan lo ga?'' tanya Exel.
Helen mengangguk sembari mengangkat jempolnya, lalu dia duduk di tepi lapangan untuk menyaksikan Hana, yang sedang menjalani hukuman yang di berikan olehnya, karna kalah taruhan bermain basket.
Sedangkan Hana dia mulai merasa lelah, karna sudah mengitari lapangan sebanyak tujuh kali, dan masih kurang tiga kali lagi, bukan hanya merasa lelah saja, Hana juga malu karna menjadi bahan tontonan dan ejekan teman satu angkatannya.
Maxim yang berdiri di samping Exel hanya bisa menatap kasihan pada Hana yang berlari mengitari lapangan, kini dirinya tidak punya alasan untuk membantu Hana, karna Hana sendiri yang menantang Helen, dan Hana juga yang memutuskan siapa yang kalah maka harus terima dengan hukuman yang di berikan oleh yang menang.
Brukk
''Hana!'' pekik Maxim, saat melihat Hana tiba tiba jatuh pingsan.
Maxim langsung berlari menghampiri Hana, lalu mengangkat Hana yang tak sadarkan diri, dan membawanya keluar dari dalam gedung tempat lapangan basket.
''Huh, lemah sekali'' decak Helen, membuat Velo, Exel dan Rania serentak menoleh ke arahnya.
Helen lalu bangkit dan berjalan keluar, begitu juga dengan Velo, Rania dan Exel, mereka bertiga juga ikut keluar.
Di ruang kesehatan Maxim dengan setia menemani Hana yang masih tak sadarkan diri, barusan dokter jaga mengatakan kalau Hana pingsan di karnakan kelelahan, gimana Hana gak kelelahan coba pikir Maxim, Hana baru saja menghabiskan tenaganya untuk bermain basket, setelah itu dia harus menjalani hukuman, dengan lari mengitari lapangan basket sebanyak sepuluh kali.
Ugh
Maxim yang duduk di kuris samping ranjang pasien, langsung berdiri saat melihat Hana mengerjapkan matanya.
''Han, akhirnya lo sadar juga'' ucap Maxim dengan bernafas lega.
''Gue dimana?'' tanya Hana lemah.
''Lo di ruang kesehatan, tadi lo pingsan'' jawab Maxim.
Hana terdiam sembari memijit kepalanya yang terasa pusing, dia ingat kalau tadi dirinya habis lari mengitari lapangan bakset.
Melihat Hana ingin duduk, Maxim dengan sigap membantunya, dia meletakkan bantal di belakang punggung Hana untuk bersandar.
''Max, apa dari tadi lo yang nemenin gue?'' tanya Hana.
Maxim mengangguk dengan tersenyum, namun senyumnya langsung lenyap seketika, saat mendengar pertanyaan yang di lontarkan Hana.
''Apa Velo gak kesini?'' tanya Hana.
''Han, bisa tidak lo lupain Velo'' tukas Maxim.
Hana menggelengkan kepalanya. ''Enggak bisa, sampai kapanpun gue hanya mau sama Velo'' tolak Hana.
''Tapi Velo gak suka sama lo, Han'' ucap Maxim menegaskan.
''Gue gak perduli, gue cuma mau sama Velo, karna tidak ada cowok yang lebih baik dari dia'' timpal Hana.
''Lalu, gimana dengan gue?, apa gue tidak lebih baik dari Velo'' tanya Maxim.
''Tentu, sampai kapanpun tidak akan ada yang bisa menyaingi Velo, apa lagi lo, huh, jauh tau gak'' jawab Hana menusuk.
Maxim mengepalkan tangannya. '' Apa gue serendah itu di mata lo?'' tanya Maxim menggertakkan giginya.
''Yang jelas, lo gak setampan dan sepintar Velo, apa lagi dari segi materi, lo masih kalah jauh dari Velo, mending juga Exel, lo itu ga ada apa apanya tau gak di banding mereka berdua'' jawab Hana, dia terang terangan menunjukkan sifat aslinya di depan Maxim tanpa ada yang di tutupinya lagi.
Tangan Maxim terkepal kuat, sampai sampai kuku kukunya memutih, menahan emosi yang bergejolak di dadanya, ternyata Hana menolaknya bukan karna dia tidak mencintainya, melainkan karna dirinya tidak sekaya Velo ataupun Exel.
Memang di antara Velo, Exel dan Maxim, hanya Maxim saja yang orang tuanya hanya bekerja sebagai ketua meneger di perusahaan Aditama Group, yang penghasilannya tentu tidak terlalu banyak, namun masih cukup untuk membiayai sekolah Maxim, karna selain menjadi meneger, Ayah Maxim memiliki usaha lain, ya itu restoran yang sudah memilik beberapa cabang di luar kota, dan memang pendapatan Ayah Maxim setiap bulan tidak bisa mengimbangi pendapatan dari Papanya Velo yang memipin Aditama Group, ataupun Papanya Exel yang memimpin Ananta Group, tapi setidaknya Maxim masih bersyukur karna dirinya tidak pernah kekurangan apapun.
''Kenapa lo natap gue seperti itu, ha, lo gak terima dengan kenyataan yang gue katakan'' tukas Hana.
Maxim tersenyum devil dengan menatap jijik Hana.
''Kenapa lo gak ngaca sendiri saja, ha, lo itu hanya anak pembantu, jadi jangan mimpi terlalu tinggi, untuk mendapatkan pria kaya seperti Velo atau Exel'' cetus Maxim lalu melenggang pergi meninggalkan Hana di ruang kesehatan sendirian.
''Maxim sialan!, walaupun gue anak pembantu, setidaknya gue selalu juara kelas, gak kayak elo, bodoh!'' teriak Hana marah.
coba KLO dicabut apa kamu masih bisa sekolah disitu,
saat kamu dan ibumu di usir dari rumah majikan🤣🤣🤣
kan Hana yg keliling lapangan
bukan Hellen,,
kan malu sendiri udah nantangin masa dibatalin👊👊