NovelToon NovelToon
Diusir Mertua, Dinikahi Diam-diam oleh CEO Dingin

Diusir Mertua, Dinikahi Diam-diam oleh CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / CEO / Cinta setelah menikah / Ibu Tiri
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Olivia Renata

"Setelah kecelakaan fatal yang merenggut nyawa suaminya, Nadhira terbangun dari koma dengan insting tajam, mampu mencium niat busuk orang lain. Setelah pulang, ia tak disambut kasih, melainkan dianiaya mertua dan ipar licik yang mengincar warisan suaminya. Mereka mengusirnya, memfitnahnya, serta memaksa ia melepas hak waris.
Bahkan ayah kandungnya menjualnya untuk dinikahkan dengan pria tua kaya demi keuntungan pribadi. Di titik paling terpuruk, Rayhan Pradipta, CEO dingin Pradipta Group dan mantan atasan suaminya, datang menawarkan pernikahan kontrak untuk saling melindungi.
Awalnya hanya hubungan transaksional, perasaan sejati perlahan tumbuh di antara mereka. Nadhira bangkit mandiri, membangun Mutiara Property menjadi perusahaan properti ternama dan membesarkan ketiga anaknya. Ia berani membalas semua perundungan keluarga masa lalu.
Namun obsesi Dinda, mantan ipar Rayhan, menyimpan rahasia gelap jaringan perdagangan manusia yang mengancam seluruh kebahagiaan barunya. Mampukah Nadhira menjaga keluarga dan cinta sejatinya sebelum semuanya hancur?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olivia Renata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 26

Bab 26

Tetangga dari Neraka

Sekitar seminggu setelah wawancara, orang-orang mulai tersenyum lagi kepada Nadhira.

Di depan PAUD, ibu yang pernah membatalkan jadwal bermain datang membawa sekotak kue dan meminta maaf. Penjual katering berhenti melontarkan pertanyaan tentang rumah bos. Grup arisan dipenuhi tautan wawancara yang sama, tetapi kini disertai kalimat tentang keberanian dan batas keluarga.

Nadhira menerima permintaan maaf tanpa menjadikannya pertunjukan. Ia juga tidak berpura-pura lupa siapa yang ikut tertawa ketika rumor pertama muncul.

Undangan arisan bulan itu datang dari rumah istri ketua RT. Bu Wulan langsung mengirim pesan pribadi.

`Datang ya. Kalau tidak datang, Bu Ratna merasa menang.`

Bu Mega menambahkan pesan lain.

`Datang kalau Ibu memang mau, bukan demi melayani mulut orang.`

Nadhira lebih menyukai alasan kedua. Pada Sabtu sore, ia datang membawa satu loyang lemper buatan dapur rumah dan mengenakan gamis hijau sederhana. Petugas pendamping menunggu di luar pagar sesuai protokol, tidak masuk ke teras.

Percakapan berhenti selama satu detik ketika Nadhira melangkah masuk.

Lalu Bu Wulan berdiri paling cepat. "Nah, bintang televisi kita datang."

Nadhira meletakkan lemper di meja. "Kalau saya bintang, honornya belum masuk."

Beberapa perempuan tertawa. Ketegangan pecah.

Bu Mega menarik kursi di sampingnya. Istri ketua RT menyambut hangat dan mengingatkan semua orang bahwa arisan itu untuk laporan kas, jadwal kerja bakti, serta silaturahmi, bukan membahas anak atau perkara pengadilan orang lain.

Bu Ratna datang sepuluh menit kemudian dengan tas bermerek dan dua kotak kue impor. Ia menyapu ruangan dengan pandangan cepat sebelum duduk tepat berhadapan dengan Nadhira.

"Wah, ramai sekali sekarang," katanya. "Ternyata masuk TV membawa berkah juga."

Bu Wulan mengunyah lemper. "Kalau berkahnya harus dipukul dulu, saya tidak mau."

"Saya cuma bercanda."

Arisan dimulai. Kas dibacakan, jadwal pengumpulan sampah dibahas, lalu daftar keluarga yang membutuhkan bantuan setelah satu rumah kebanjiran diperiksa. Nadhira menawarkan pompa air cadangan dari gudang rumah, bukan uang tunai. Istri ketua RT mencatatnya sebagai pinjaman barang agar tidak ada kesan membeli dukungan.

Ketika piring camilan beredar, Bu Ratna kembali membuka percakapan.

"Saya salut, Bu Nadhira bisa bicara selancar itu. Kalau saya punya masalah keluarga, mungkin saya tidak sanggup latihan di depan kamera."

Nada suaranya lembut. Ujung kalimatnya tajam.

Nadhira mengambil satu gelas teh. "Saya juga tidak lancar saat latihan pertama."

"Tapi hasilnya sempurna. Sampai semua orang lupa kalau cerita selalu punya dua sisi."

Bu Mega meletakkan sendok. "Pak Darmo sudah diberi ruang duluan. Itu sisi satunya."

"Saya tidak bilang siapa yang benar," sahut Bu Ratna. "Saya hanya heran orang bisa cepat sekali berubah dari janda sederhana menjadi istri CEO yang punya tim mengatur citra."

Nadhira merasakan beberapa tatapan kembali kepadanya. Dulu ia mungkin akan menjelaskan harga gamis, asal lemper, atau jumlah uang di rekening agar tidak dianggap pamer. Kali ini ia menaruh gelas dengan tenang.

"Saya memang punya bantuan profesional," katanya. "Dokumen saya diperiksa pengacara dan saya dilatih agar tidak membuka identitas anak. Itu bukan bukti cerita saya palsu. Itu cara bertanggung jawab saat bicara di ruang publik."

"Tapi foto lebam bisa dibuat dramatis."

Ruangan langsung sunyi.

Bu Wulan menatap Bu Ratna tanpa senyum. "Maksudmu dia melukis mukanya sendiri?"

"Saya tidak bilang begitu."

"Kalimatmu selalu berhenti tepat sebelum tuduhan," kata Bu Mega. "Lalu orang lain yang diminta menyelesaikannya."

Bu Ratna tertawa tipis. "Kalian sekarang membelanya karena suaminya berpengaruh."

Istri ketua RT menutup buku kas.

"Cukup, Bu Ratna. Di rumah ini, kita tidak menuduh korban memalsukan luka. Kalau Ibu punya bukti pelanggaran warga, sampaikan kepada pengurus. Kalau tidak, hentikan sindiran."

"Saya hanya menyampaikan pendapat."

"Pendapat tetap punya akibat. Ibu juga yang mengirim tautan rumor ke tiga grup sebelum ada klarifikasi. Saya sudah memeriksa riwayat kiriman."

Wajah Bu Ratna menegang.

Nadhira tidak ikut menyerang. "Kalau Bu Ratna ingin bertanya langsung, tanya. Jangan pakai orang tua saya atau kondisi anak untuk memancing reaksi."

"Saya tidak punya urusan dengan anak Ibu."

"Bagus. Berarti batas kita sama."

Bu Ratna mengambil tasnya dan berdiri. Ia mengaku ada janji lain, lalu pergi sebelum pengundian arisan selesai. Pintu pagar ditutup sedikit lebih keras dari perlu.

Di dalam mobilnya, Bu Ratna membuka WhatsApp dan mengirim pesan kepada Dinda.

`Mereka semua membela dia sekarang. Istri ketua RT mempermalukan saya.`

Balasan muncul cepat.

`Saya hanya minta Bu Ratna mengajukan pertanyaan. Bukan bertengkar.`

Bu Ratna mengetik bahwa Dinda sendiri yang mengirim tautan lama, foto kegiatan perusahaan, dan kalimat tentang Nadhira berpura-pura menjadi korban. Pesan itu dibaca, tetapi Dinda tidak menjawab selama hampir satu menit.

Lalu satu kalimat masuk.

`Jangan hubungi saya soal ini lagi. Hapus percakapan kita.`

Bu Ratna menatap layar dengan wajah memerah. Ia menghapus ruang obrolan dari ponselnya, tanpa tahu salinan cadangan masih tersimpan di akun. Hubungan mereka tetap tersembunyi dari Nadhira, tetapi bagi pembaca, sumber racun itu kini jelas.

Udara di teras terasa lega, tetapi Nadhira tidak menganggapnya kemenangan penuh. Seseorang telah memberi Bu Ratna keberanian untuk mengulang narasi yang sama dengan akun gosip. Hubungannya dengan Dinda belum bisa dibuktikan, namun pola kata-katanya terlalu serupa untuk diabaikan.

"Maaf baru menegur sekarang," kata istri ketua RT. "Kemarin saya pikir cukup kalau grup didiamkan. Ternyata diam juga bisa memberi ruang."

"Terima kasih sudah menetapkan batas," jawab Nadhira.

Arisan kembali berjalan. Bu Wulan memenangkan undian dan langsung mengumumkan uangnya akan dipakai membeli kursi pijat, membuat semua orang menertawakannya. Bu Mega membagikan lemper terakhir. Percakapan berubah ke harga cabai dan jadwal imunisasi anak.

Di ujung teras, seorang perempuan yang sejak tadi duduk paling dekat tanaman tidak ikut tertawa.

Usianya sebaya Nadhira. Wajahnya pucat, bawah matanya gelap, dan jemarinya terus meremas ujung lengan baju. Piring di depannya masih utuh. Ketika orang lain bicara terlalu keras, bahunya bergerak kecil.

"Itu Kartika," bisik Bu Mega. "Baru beberapa kali ikut."

Nadhira tidak langsung mendekati atau menanyakan mengapa perempuan itu tampak sedih. Ia hanya menggeser teko teh ke arahnya ketika gelas Kartika kosong.

"Mau teh hangat?"

Kartika mengangkat wajah. "Boleh, Mbak. Terima kasih."

Nadhira menuang tanpa memaksa percakapan. Saat mengembalikan teko, mata mereka bertemu.

Tak ada pertanyaan pribadi atau nasihat yang dilemparkan. Nadhira hanya membiarkan kursi di sampingnya tetap kosong dan terbuka.

Tatapan Kartika menyimpan kelelahan yang terlalu Nadhira kenal: wajah seseorang yang duduk di tengah banyak orang, tetapi tidak merasa punya tempat aman untuk bicara.

Untuk satu detik, pengenalan yang sama muncul di mata Kartika.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!