NovelToon NovelToon
Menggembala CEO Pemalas

Menggembala CEO Pemalas

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Konglomerat berpura-pura miskin / Romantis
Popularitas:488
Nilai: 5
Nama Author: Althea Shalmaira

Menjadi sekretaris di KALUMPERRI CORP seharusnya menjadi puncak karier Aulia Putri yang elegan. Namun, realitanya jauh dari ekspektasi. Alih-alih mengurus agenda bisnis bernilai triliunan, pekerjaan Aulia lebih mirip seorang peternak: menggembala Khatyr Ali Fatih, sang CEO super malas!

Khatyr itu jenius, tapi moto hidupnya adalah rebahan. Ia hobi bolos rapat, sembunyi di bawah meja, dan tidur di gudang arsip. Saat dewan direksi mulai gerah dan mengancam posisi Khatyr, sebuah kesepakatan rahasia terjalin. Aulia menjadi "otak" di balik layar, sementara Khatyr menjadi tameng korporatnya.

Di antara kejar-kejaran kocak di lorong kantor dan intrik politik perusahaan, Aulia sadar bahwa di balik kemalasan Khatyr, ada kejeniusan berbahaya yang siap melindungi dirinya. Mampukah Aulia menjinakkan bos ajaib ini, atau justru ia yang ikut terperangkap dalam pesona santainya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Serangan Balik

Aulia menyodorkan selembar kertas The Lazy Cheat Sheet yang baru saja ia cetak. Di atas kertas itu, ia menuliskan tiga langkah taktis yang harus dilakukan Khatyr:

Langkah Pertama: Biarkan Lawan Menyerang. Jangan memotong presentasi Andra. Biarkan dia mengeluarkan semua argumen dan 'bukti' palsunya di depan dewan direksi hingga dia merasa berada di atas angin.

Langkah Kedua: Jatuhkan Bom Data. Ketika Andra selesai berbicara, tunjukkan bukti metadata visual yang membuktikan bahwa foto limbah tersebut palsu, diikuti dengan laporan hasil uji lab lingkungan independen yang menyatakan proyek PLTB kita seratus persen bersih.

Langkah Ketiga: Skakmat Konspirasi. Tunjukkan dokumen hubungan kepemilikan saham Andra di media yang menyebarkan berita palsu tersebut. Tuduh balik dia atas tindakan sabotase aset perusahaan dan manipulasi pasar saham yang bisa berujung pada hukuman pidana.

Khatyr membaca poin-poin tersebut dengan saksama. Setiap baris strategi yang disusun Aulia sangat presisi, memanfaatkan celah hukum dan psikologi lawan dengan sangat cerdas.

Khatyr melipat kertas itu, memasukkannya ke dalam saku jas hitamnya yang kini ia kenakan dengan sangat rapi. Ia bangkit berdiri, merapikan kerah kemeja putihnya, lalu menatap Aulia dengan senyum percaya diri yang sangat menawan.

"Strategi yang sempurna, Sekretaris Aulia. Sekarang, mari kita pergi ke ruang rapat dan tunjukkan pada sepupuku yang ambisius itu apa akibatnya jika dia mencoba mengganggu waktu tidur siangku," ucap Khatyr dengan nada suara yang mantap dan berwibawa.

Aulia tersenyum tipis, merapikan blazernya sendiri. "Saya akan berada tepat di belakang Anda, Pak."

Tepat pukul 11.00 WIB, suasana di dalam Ruang Rapat Direksi Utama terasa sangat tegang. Seluruh direktur senior, perwakilan pemegang saham, dan Pak Haryo selaku Direktur Senior sudah duduk di kursi masing-masing dengan wajah cemas.

Andra berdiri di depan layar proyektor besar, memamerkan grafik penurunan saham Kalumperri Corp yang terus merosot.

"Situasi ini sangat kritis, para hadirin!" seru Andra dengan suara lantang yang dramatis. "Kegagalan mitigasi risiko lingkungan di proyek Sumatra telah merusak reputasi hijau yang selama ini dibangun oleh Kalumperri Corp! Dan di mana CEO kita saat krisis ini terjadi? Mengapa tidak ada tindakan cepat dari kepemimpinan tertinggi?!"

Pintu ruang rapat terbuka perlahan. Khatyr Ali Fatih melangkah masuk dengan gaya yang sangat tenang, tegap, dan penuh karisma yang mendominasi seluruh ruangan. Di belakangnya, Aulia berjalan anggun dengan tablet di tangannya, memancarkan aura profesionalisme yang tenang.

"Maaf saya terlambat beberapa menit," ujar Khatyr santai, mengambil tempat duduknya di kursi utama pimpinan rapat. Ia menatap Andra dengan tatapan datar. "Silakan lanjutkan presentasimu, Andra. Aku sangat tertarik mendengar analisis hebatmu mengenai situasi di Sumatra."

Andra tersenyum sinis, mengira Khatyr sedang mencoba bersikap tenang untuk menutupi kepanikannya. Selama lima belas menit berikutnya, Andra memaparkan semua tuduhan pencemaran lingkungan, menunjukkan foto-foto limbah hitam di media sosial, dan menuntut agar proyek PLTB Sumatra dihentikan sementara serta posisi CEO dievaluasi ulang oleh dewan komisaris.

"Demikian analisis saya," ujar Andra mengakhiri presentasinya dengan senyum kemenangan yang tertuju langsung pada Khatyr. "Bagaimana penjelasan Anda mengenai kelalaian fatal ini, Pak CEO?"

Seluruh mata di dalam ruangan kini tertuju pada Khatyr.

Khatyr tidak terlihat panik sedikit pun. Ia hanya menatap Aulia, memberi isyarat halus dengan anggukan kepalanya. Aulia dengan cekatan menghubungkan tabletnya ke sistem proyektor ruang rapat, menggantikan presentasi Andra dengan tampilan dokumen baru.

"Terima kasih atas analisis emosionalmu yang sangat menghibur, Andra," ujar Khatyr tenang, suaranya yang berat bergaung mantap di dalam ruangan. "Tapi sebagai CEO, aku lebih menyukai keputusan yang didasarkan pada fakta dan data ilmiah, bukan pada rumor media sosial yang murahan."

Khatyr mengetuk layar tabletnya.

"Pertama, mengenai foto limbah beracun yang kamu tunjukkan tadi. Sekretaris pribadiku baru saja melakukan analisis metadata digital pada file asli foto tersebut. Seperti yang bisa kalian lihat di layar proyektor, foto itu diambil pada tanggal 12 April 2024 di lokasi tambang batubara ilegal milik PT Artha Sumatra, yang berjarak lima puluh kilometer dari lokasi proyek PLTB kita. Proyek PLTB kita bahkan baru mulai dibangun tiga bulan setelah foto itu diambil."

Bisikan terkejut langsung terdengar di antara para direktur senior. Pak Haryo memajukan tubuhnya, menatap layar proyektor dengan mata terbelalak.

"Kedua," lanjut Khatyr, suaranya semakin tegas dan tajam, "ini adalah laporan resmi hasil uji kualitas tanah dan air di sekitar lokasi PLTB Sumatra yang baru saja dirilis oleh Kementerian Lingkungan Hidup dua jam yang lalu. Hasilnya? Tingkat pencemaran nol persen. Proyek kita seratus persen ramah lingkungan."

Wajah Andra yang semula memancarkan kemenangan, kini perlahan-lahan mulai memucat. "Itu... itu pasti manipulasi data! Bagaimana dengan laporan dari media lokal yang begitu masif?!"

Khatyr tersenyum tipis, senyuman yang sangat dingin hingga membuat Andra merinding. "Ah, pertanyaan yang bagus sekali, Sepupuku. Mari kita lihat siapa sebenarnya di balik penyebaran berita palsu yang merusak reputasi perusahaan kita ini."

Aulia menggeser tampilan proyektor, memunculkan dokumen kepemilikan saham dari Sinar Sumatra Media yang menampilkan nama sebuah perusahaan cangkang bernama Golden Venture Ltd yang terdaftar di Singapura, lengkap dengan dokumen legalitas yang menunjukkan bahwa Andra Ali Fatih adalah pemilik manfaat akhir dari perusahaan tersebut.

"Andra Ali Fatih, menggunakan media yang dia miliki secara rahasia untuk menyebarkan berita bohong mengenai perusahaannya sendiri demi memicu penurunan harga saham dan menciptakan krisis buatan," ucap Khatyr dengan nada suara yang sangat tenang namun menghujam langsung ke jantung pertahanan Andra. "Tindakan ini bukan sekadar pelanggaran etika berat, tapi sudah masuk ke ranah sabotase korporat dan manipulasi pasar modal yang melanggar hukum pidana."

"Ini... ini tidak benar! Ini fitnah!" teriak Andra panik, wajahnya kini sepenuhnya memutih dengan keringat dingin yang mulai membasahi dahinya. Ia menatap ke sekeliling ruangan, mencari dukungan dari direktur lain, namun semua orang kini menatapnya dengan pandangan dingin dan penuh kemarahan.

Pak Haryo menggebrak meja dengan sangat keras. "Cukup, Andra! Dokumen ini sangat jelas! Berani-beraninya kamu menyabotase proyek penting perusahaan demi ambisi pribadimu?!"

"Paman, dengarkan penjelasan saya dulu—"

"Penjelasanmu bisa kamu sampaikan di depan tim audit hukum dan kepolisian, Andra," potong Khatyr dingin, berdiri dari kursinya. "Mulai detik ini, jabatanmu sebagai Direktur Pengembangan Bisnis Regional dinonaktifkan sementara hingga proses investigasi hukum selesai. Rapat darurat hari ini resmi saya tutup."

Tanpa memedulikan Andra yang berdiri mematung dengan tubuh gemetar di depan layar proyektor, Khatyr melangkah keluar dari ruang rapat dengan langkah tegap yang dipenuhi kemenangan.

Di belakangnya, Aulia merapikan tabletnya dan menyusul dengan langkah anggun, menahan senyum puas di wajah cantiknya saat melewati Andra yang kini hancur total.

Kembali ke lantai 42, suasana korporat yang tegang tadi seketika lenyap, digantikan oleh keheningan yang menenangkan.

Khatyr menghempaskan tubuhnya ke sofa mewah di ruang kerjanya, melepaskan jas hitamnya dan melonggarkan kancing kemejanya dengan helaan napas lega yang sangat panjang.

Wajah serius dan berwibawanya saat di ruang rapat tadi lenyap dalam sekejap, kembali bertransformasi menjadi sosok CEO pemalas yang sangat santai.

"Aulia..." panggil Khatyr dengan suara manjanya yang kembali muncul. "Kepalaku rasanya mau pecah karena harus berakting serius selama satu jam tadi. Otakku benar-benar kehabisan energi."

Aulia yang baru saja meletakkan map dokumen di mejanya, berjalan menghampiri sofa dengan senyum tipis yang tulus. "Anda melakukan akting itu dengan sangat baik, Pak Khatyr. Dewan direksi benar-benar terpukau dengan ketegasan Anda."

"Tentu saja, karena aku memiliki sutradara dan penulis naskah terbaik di sisiku," jawab Khatyr sambil menatap Aulia dengan binar mata yang hangat dan penuh rasa terima kasih yang tulus. "Terima kasih, Aulia. Tanpa analisis cepat dan strategimu, hari ini mungkin aku sudah dipaksa mengemas barang-barangku dari ruangan ini."

"Saya hanya melakukan tugas saya untuk melindungi investasi masa depan saya, Pak," jawab Aulia santai, merujuk pada jaminan promosi kariernya. "Dan karena krisis hari ini sudah selesai dengan sangat sukses..."

Aulia melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul 12.30 WIB.

"...sesuai dengan kesepakatan tertulis kita di poin pertama, Anda memiliki waktu tidur siang sakral selama satu setengah jam mulai pukul 13.00 nanti. Tanpa gangguan apa pun dari saya."

Khatyr langsung tersenyum lebar, matanya berbinar-binar gembira layaknya anak kecil yang baru saja mendapatkan hadiah mainan baru. "Luar biasa! Aku akan segera memesan makanan ojek online terenak di Jakarta untuk kita makan siang bersama sebelum aku tidur. Kamu mau makan apa, Partner?"

Aulia tertawa kecil, merasakan kehangatan yang aneh di dalam dadanya. Kerja sama rahasia mereka baru saja dimulai, dan meskipun jalan di depan penuh dengan intrik korporat yang berbahaya, Aulia tahu bahwa selama mereka saling melengkapi dengan kejeniusan santai Khatyr dan kedisiplinan taktis dirinya, tidak ada satu pun badai di KALUMPERRI CORP yang tidak bisa mereka taklukkan.

"Saya ingin martabak manis keju pandan lagi, Pak. Dan kali ini, pastikan Anda yang membayar menggunakan kartu kredit Anda sendiri," jawab Aulia dengan binar jenaka di matanya.

Khatyr terkekeh geli. "Tentu saja, Asistenku yang galak. Apapun untuk gembala terbaikku."

1
falea sezi
nyimak klo bagus q ksih hadiah thor🤭
Althea Shalmaira: semoga suka kak/Smile//Whimper/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!