Berikut deskripsi novel singkatnya.
Jennaira Hanania Mecca Nirankara tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah setelah menerima perjodohan dengan Arshaka Zayd Kalandra, pria dingin pewaris keluarga Kalandra yang sulit percaya pada cinta.
Pernikahan mereka dimulai tanpa kehangatan. Setelah akad, Shaka menetapkan batas yang jelas antara dirinya dan Jenna. Baginya, Jenna hanyalah tanggung jawab, bukan seseorang yang boleh masuk terlalu jauh ke dalam hidupnya.
Namun Jenna, dengan kelembutan, kesabaran, dan ketulusan hatinya, perlahan membuat pertahanan Shaka runtuh. Dari rasa penasaran, cemburu, hingga perhatian yang tak lagi mampu ia sembunyikan, Shaka mulai menyadari bahwa Jenna bukan sekadar istri yang dijodohkan dengannya.
Ia adalah perempuan yang diam-diam mengubah rumahnya menjadi tempat pulang, dan hatinya menjadi sesuatu yang kembali ingin percaya pada cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aiza-ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 — Rencana Mama Aruna
Kediaman keluarga Kalandra sore itu terasa tenang.
Rumah besar bergaya klasik modern itu berdiri megah di kawasan elite Jakarta Selatan. Halamannya luas, dipenuhi tanaman hijau yang tertata rapi. Di bagian belakang rumah, sebuah taman kecil menghadap langsung ke kolam ikan koi yang airnya berkilau terkena cahaya matahari senja.
Di sanalah Aditya Kalandra duduk santai dengan secangkir kopi hitam dan koran bisnis di tangannya.
Sebagai kepala keluarga Kalandra, Aditya dikenal sebagai pria tegas, berwibawa, dan sulit ditebak. Namun di rumah, ia tidak pernah membawa aura keras dunia bisnisnya. Di hadapan istri dan anaknya, ia hanya seorang suami dan ayah yang sederhana.
“Papa!”
Suara itu terdengar nyaring dari dalam rumah.
Aditya menurunkan sedikit korannya. Dahinya berkerut, tetapi senyumnya muncul tipis.
Itu suara istrinya.
“Papa!”
Kali ini suara itu semakin dekat.
“Iya, Mama,” jawab Aditya dari halaman belakang. “Papa di sini.”
Tidak lama kemudian, Aruna Ravindra Kalandra muncul dengan langkah cepat. Wajahnya tampak sangat antusias, seolah baru saja mendapatkan kabar besar yang tidak bisa ia simpan lebih lama.
Aditya melipat korannya perlahan.
“Ada apa sampai teriak-teriak begitu?” tanyanya tenang.
Aruna duduk di kursi seberang suaminya, tetapi tubuhnya tidak bisa diam. Matanya berbinar, senyumnya merekah lebar.
“Pa, Mama sudah menemukan.”
Aditya mengangkat alis. “Menemukan apa?”
“Jodoh untuk Shaka.”
Koran di tangan Aditya benar-benar diturunkan.
Ia menatap istrinya beberapa detik, memastikan bahwa Aruna tidak sedang bercanda.
“Jodoh untuk Shaka?” ulangnya.
“Iya, Pa. Kali ini Mama yakin sekali.”
Aditya bersandar di kursi. “Mama ini sudah berapa kali bilang yakin?”
Aruna mendengus kecil. “Yang dulu-dulu beda. Kali ini benar-benar beda.”
Aditya menatap istrinya dengan ekspresi sabar. Ia tahu betul kegelisahan Aruna soal putra semata wayang mereka, Arshaka Zayd Kalandra. Usia Shaka sudah matang, kariernya mapan, tanggung jawabnya jelas, tetapi urusan pernikahan selalu ia hindari.
Bukan karena tidak ada yang tertarik.
Justru terlalu banyak.
Namun Shaka selalu menutup pintu sebelum siapa pun sempat mengetuk.
“Siapa perempuan yang Mama maksud?” tanya Aditya akhirnya.
Aruna langsung duduk lebih tegak.
“Namanya Jennaira Hanania Mecca. Dipanggil Jenna.”
Aditya diam sesaat. Nama itu terdengar tidak asing.
“Jennaira…” gumamnya. “Anak siapa?”
“Putri bungsu Reza Nirankara.”
Tatapan Aditya berubah.
“Reza Nirankara? Pendiri NK Media Group?”
Aruna mengangguk cepat. “Iya, Pa. Putrinya Reza. Tadi Mama bertemu langsung di toko bunga sekaligus kafenya. Namanya Jenna’s Bloom Café. Anak itu pemiliknya sendiri.”
Aditya tampak mulai tertarik. “Dia punya usaha sendiri?”
“Iya. Dan bukan sekadar usaha main-main, Pa. Kafenya cantik, rapi, pelayanannya bagus. Jenna sendiri yang melayani Mama. Bicaranya lembut sekali. Sopan. Matanya teduh. Dia bercadar, tapi Mama bisa merasakan dia perempuan yang baik.”
Aruna berbicara dengan penuh semangat. Tangannya ikut bergerak setiap kali ia menjelaskan.
“Awalnya Mama cuma mau beli bunga untuk ruang tamu. Tapi begitu melihat Jenna, entah kenapa hati Mama langsung yakin. Dia tidak banyak bicara, tapi caranya memperlakukan pelanggan itu tulus. Tidak dibuat-buat. Padahal dia anak pengusaha besar, Pa. Putri Reza Nirankara. Tapi dia tetap berdiri di toko bunganya sendiri, melayani orang sendiri.”
Aditya menatap istrinya dalam-dalam.
Ia mengenal Aruna bukan sebagai perempuan yang mudah menilai orang. Istrinya hangat, memang. Tetapi untuk urusan anak, Aruna jauh lebih teliti daripada kelihatannya.
“Reza orang baik,” ujar Aditya pelan. “Papa sudah lama mengenalnya.”
Mata Aruna semakin berbinar. “Benar, kan, Pa? Keluarganya juga baik?”
Aditya mengangguk. “Sangat baik. Reza itu keras di bisnis, tapi prinsipnya kuat. Dia bukan tipe orang yang menjual keluarga demi kepentingan perusahaan. Istrinya juga perempuan yang lembut. Kalau Jenna dibesarkan dalam keluarga itu, besar kemungkinan dia punya dasar yang baik.”
“Berarti Papa setuju?”
Aditya tidak langsung menjawab. Ia mengambil cangkir kopinya, menyesap sedikit, lalu meletakkannya kembali.
“Papa setuju untuk mengenal keluarganya. Tapi soal menjodohkan, tetap harus bicara dengan Shaka.”
Senyum Aruna sedikit turun.
“Kalau menunggu Shaka setuju dulu, sampai uban Mama habis pun anak itu tidak akan menikah.”
Aditya tertawa pelan. “Uban Mama belum banyak.”
“Papa jangan bercanda. Ini serius.”
“Papa juga serius.” Aditya menatap Aruna lembut. “Shaka memang keras. Tapi dia bukan anak yang tidak bisa diajak bicara.”
Aruna menghela napas.
Ia tahu suaminya benar. Di luar rumah, Shaka dikenal sebagai laki-laki dingin. Wajahnya jarang menunjukkan emosi. Ucapannya singkat. Tatapannya tajam. Banyak orang segan kepadanya, bahkan sebelum ia berbicara.
Namun di rumah, Shaka berbeda.
Ia tetap pendiam, tetapi tidak pernah lalai mencium tangan orang tuanya. Ia selalu pulang untuk makan malam jika tidak ada pekerjaan mendesak. Ia tidak pandai berkata manis, tetapi setiap pagi memastikan obat tekanan darah Aditya tersedia dan setiap bulan diam-diam mengganti bunga kesukaan Aruna di ruang tengah.
Shaka bukan anak yang tidak punya hati.
Ia hanya pernah dibuat terlalu terluka sampai memilih membekukan perasaannya sendiri.
“Pa,” kata Aruna lebih pelan. “Mama tidak ingin memaksa Shaka. Tapi Mama takut dia terus hidup sendirian karena masa lalunya.”
Aditya terdiam.
Ia tahu siapa yang dimaksud istrinya.
Mantan kekasih Shaka.
Perempuan yang dulu hampir menjadi bagian dari keluarga Kalandra, tetapi pergi dengan meninggalkan luka yang terlalu dalam. Sejak pengkhianatan itu, Shaka berubah. Ia tidak lagi percaya pada cinta, tidak percaya pada janji, bahkan tidak percaya pada perempuan yang datang dengan wajah paling tulus sekalipun.
“Karena itu kita harus hati-hati,” ujar Aditya. “Jangan sampai niat baik Mama membuat Shaka merasa dipojokkan.”
Aruna menunduk sebentar.
Lalu ia mengangguk, meski jelas sekali masih menyimpan tekad.
“Mama hanya ingin dia bahagia, Pa.”
“Papa tahu.”
Aditya menggenggam tangan istrinya.
“Tapi kebahagiaan tidak bisa dipaksakan masuk ke hati orang yang masih mengunci pintunya.”
Malam itu, meja makan keluarga Kalandra tersaji lengkap.
Ada sup iga bening kesukaan Aditya, ayam panggang madu, tumis buncis, sambal matah, dan semangkuk kecil acar timun. Aruna sengaja meminta dapur menyiapkan makanan lebih banyak karena ia tahu Shaka akan pulang.
Tepat pukul tujuh malam, suara mobil terdengar memasuki halaman.
Aruna langsung menoleh ke arah pintu ruang makan.
“Shaka sudah pulang,” katanya.
Beberapa menit kemudian, Arshaka Zayd Kalandra masuk ke ruang makan.
Laki-laki itu tinggi, tegap, dan rapi. Kemeja hitamnya masih melekat sempurna meski ia baru pulang dari kantor. Wajahnya tegas dengan garis rahang kuat. Sorot matanya tenang, tetapi dingin. Ia seperti seseorang yang selalu menjaga jarak dengan dunia.
“Assalamu’alaikum,” ucapnya.
“Wa’alaikumussalam,” jawab Aditya dan Aruna hampir bersamaan.
Shaka mendekat, mencium tangan ayahnya, lalu ibunya.
“Sudah makan siang tadi?” tanya Aruna, seperti biasa.
“Sudah, Ma.”
“Bohong. Wajah kamu kelihatan seperti orang yang cuma minum kopi seharian.”
Shaka menarik kursi dan duduk. “Ada meeting panjang.”
Aruna menggeleng. “Itu bukan jawaban.”
Aditya menyembunyikan senyum di balik gelas air putihnya.
Walaupun Shaka terkenal dingin di luar, di hadapan ibunya ia tetap anak laki-laki yang tidak pernah benar-benar bisa menang. Ia bisa membuat puluhan eksekutif diam dalam rapat, tetapi tidak bisa membantah ketika Aruna menyuruhnya menambah nasi.
Makan malam berlangsung hangat.
Aditya menanyakan pekerjaan Shaka. Shaka menjawab singkat, tetapi jelas. Aruna sesekali menyela dengan komentar ringan, membuat suasana tidak terlalu kaku.
Bagi keluarga Kalandra, makan malam bukan sekadar rutinitas. Itu adalah cara mereka menjaga rumah tetap utuh.
Sesibuk apa pun, Shaka jarang melewatkannya.
Ia mungkin dingin kepada dunia, tetapi ia sangat menyayangi kedua orang tuanya.
Setelah makan selesai, pelayan membereskan piring. Aruna meminta teh hangat disajikan di ruang keluarga. Mereka bertiga pindah ke ruangan luas dengan sofa krem dan lampu gantung yang memancarkan cahaya keemasan.
Shaka duduk di sofa tunggal. Aditya duduk di samping Aruna.
Ada jeda yang terlalu rapi.
Shaka menyadarinya.
Ia menatap kedua orang tuanya bergantian.
“Ada yang ingin dibicarakan?”
Aruna langsung menoleh kepada Aditya, seolah meminta dukungan. Aditya hanya mengangguk kecil.
Aruna menarik napas.
“Shaka, Mama tadi bertemu seorang perempuan.”
Ekspresi Shaka tidak berubah. “Lalu?”
“Namanya Jenna.”
Tidak ada reaksi.
“Jennaira Hanania Mecca,” lanjut Aruna. “Dia pemilik toko bunga dan kafe yang Mama datangi tadi. Anak itu baik sekali, sopan, lembut, mandiri. Mama suka melihatnya.”
Shaka mengambil cangkir teh, tetapi belum meminumnya.
“Ma,” katanya datar, “langsung ke intinya.”
Aruna menegakkan tubuh.
“Mama ingin menjodohkan kamu dengan Jenna.”
Keheningan jatuh seketika.
Cangkir di tangan Shaka berhenti sebelum menyentuh bibirnya.
Aditya memperhatikan putranya tanpa bicara.
Shaka perlahan meletakkan cangkir itu ke meja. Gerakannya tenang, tetapi rahangnya mengeras.
“Tidak.”
Jawaban itu keluar singkat. Keras. Final.
Aruna tampak sudah menduganya, tetapi tetap terluka mendengar ketegasan itu.
“Shaka, kamu belum mendengar semuanya.”
“Aku tidak perlu mendengar semuanya, Ma.”
“Dia perempuan baik.”
“Aku tidak tertarik.”
“Dia dari keluarga baik-baik.”
“Itu tidak mengubah apa pun.”
Aruna menatap putranya dengan sedih. “Sampai kapan kamu mau seperti ini?”
Mata Shaka sedikit menajam.
“Seperti apa?”
“Menutup diri. Menolak semua orang bahkan sebelum mengenal mereka.”
Shaka tertawa kecil, tetapi tidak ada kehangatan di dalamnya.
“Mama pikir mengenal orang akan membuat semuanya lebih baik?”
Aruna terdiam.
Shaka bersandar ke sofa. Wajahnya tetap dingin, tetapi ada luka lama yang mulai naik ke permukaan.
“Aku pernah mengenal seseorang, Ma. Sangat mengenal. Aku percaya. Aku beri tempat. Aku perjuangkan.” Suaranya rendah, namun setiap katanya terasa berat. “Lalu apa yang terjadi?”
Aruna menunduk.
Aditya menghela napas pelan.
“Aku dikhianati,” lanjut Shaka. “Bukan oleh orang asing. Tapi oleh orang yang dulu paling aku percaya. Jadi maaf kalau aku tidak tertarik dengan cerita perempuan baik, keluarga baik, atau kesan baik dari pertemuan singkat di toko bunga.”
“Shaka,” panggil Aruna lirih.
“Apalagi perempuan bercadar yang Mama sebutkan tadi,” tambah Shaka, nadanya semakin dingin. “Aku bahkan tidak tahu siapa dia. Mama melihatnya sekali, lalu ingin menjadikannya istriku?”
Aruna terlihat tersentak.
Bukan karena Shaka menolak, tetapi karena cara putranya menyebut perempuan itu terdengar terlalu penuh prasangka.
Aditya akhirnya bicara.
“Jaga ucapanmu, Shaka.”
Shaka menoleh kepada ayahnya.
Aditya menatapnya tegas.
“Kamu boleh menolak. Itu hakmu. Tapi jangan merendahkan perempuan yang belum kamu kenal.”
Ruang keluarga kembali hening.
Shaka diam. Rahangnya masih mengeras, tetapi ia tidak membantah.
Aditya melanjutkan dengan suara lebih tenang.
“Jenna adalah putri Reza Nirankara. Papa kenal dekat dengan Reza. Dia orang baik. Keluarganya juga keluarga baik. Mereka bukan keluarga yang mendidik anaknya untuk bermain-main dengan perasaan orang.”
Shaka menatap ayahnya tajam.
“Papa yakin hanya karena Papa kenal ayahnya?”
“Tidak,” jawab Aditya. “Papa tidak sedang mengatakan kamu harus langsung percaya. Papa hanya mengatakan jangan menghukum seseorang atas kesalahan orang lain.”
Kalimat itu mengenai Shaka lebih keras daripada yang ia harapkan.
Ia memalingkan wajah ke arah jendela. Di luar, taman belakang tampak gelap. Bayangan pohon bergerak pelan tertiup angin malam.
Jangan menghukum seseorang atas kesalahan orang lain.
Mudah sekali diucapkan.
Sulit sekali dilakukan.
Bagi Shaka, pengkhianatan bukan hanya luka. Itu pelajaran. Dan ia bukan orang bodoh yang ingin mengulang kesalahan yang sama.
“Aku tidak percaya cinta,” kata Shaka akhirnya.
Aruna menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
“Tidak apa-apa kalau kamu belum percaya cinta,” ucapnya pelan. “Tapi jangan sampai kamu juga berhenti percaya bahwa masih ada orang baik.”
Shaka menutup mata sebentar.
Ibunya selalu begitu.
Lembut, tapi kata-katanya sering masuk ke tempat yang paling ia jaga.
“Aku tidak mau dijodohkan,” katanya, lebih pelan tetapi tetap tegas.
Aruna hendak menjawab, tetapi Aditya menahan tangan istrinya.
“Baik,” ujar Aditya.
Aruna menoleh cepat. “Pa…”
Aditya tetap menatap Shaka.
“Kami tidak akan memaksamu menikah. Tapi setidaknya, kalau keluarga Reza datang bersilaturahmi, kamu temui mereka dengan sopan.”
Shaka langsung menatap ayahnya.
“Keluarga Reza akan datang?”
Aruna terlihat sedikit salah tingkah.
“Mama tadi sudah bilang akan datang ke rumah mereka,” ucapnya hati-hati. “Belum menentukan waktu. Baru niat.”
Shaka mengembuskan napas tajam.
“Ma.”
“Mama tidak melamarmu atas nama kamu,” Aruna cepat-cepat membela diri. “Mama hanya ingin mengenal keluarganya.”
“Dan itu menurut Mama berbeda?”
“Berbeda,” jawab Aruna, meski terdengar kurang meyakinkan.
Shaka berdiri.
Pembicaraan itu sudah terlalu jauh untuknya.
“Aku lelah. Aku ke kamar.”
“Shaka,” panggil Aditya.
Langkah Shaka berhenti.
“Temui mereka nanti. Bukan untuk setuju. Bukan untuk menikah. Hanya untuk menghormati Papa dan Mama.”
Shaka terdiam cukup lama.
Ia bisa menolak banyak hal. Ia bisa mengabaikan tekanan bisnis, gosip sosialita, bahkan permintaan kolega. Tetapi permintaan ayahnya berbeda.
Aditya tidak pernah banyak meminta darinya.
Begitu pula Aruna.
Shaka mengepalkan tangan sebentar, lalu melepaskannya.
“Satu kali,” katanya dingin. “Aku hanya akan bertemu satu kali.”
Wajah Aruna langsung sedikit cerah.
“Tapi jangan berharap apa pun,” lanjut Shaka. “Aku tidak akan menikah hanya karena Mama menyukai seorang perempuan dari toko bunga.”
Setelah mengatakan itu, Shaka berjalan keluar dari ruang keluarga.
Aruna menatap punggung putranya sampai menghilang di balik tangga.
Ada lega. Ada sedih. Ada harapan yang belum berani ia ucapkan terlalu keras.
“Pa,” bisiknya, “setidaknya dia mau bertemu.”
Aditya mengangguk pelan.
Namun wajahnya tetap serius.
“Ya. Tapi jalan ini tidak akan mudah.”
Aruna menatap suaminya.
Aditya memandangi tangga tempat Shaka menghilang tadi.
“Shaka masih terluka. Dan orang yang terluka sering kali menyerang bahkan sebelum disentuh.”
Di lantai dua, Shaka masuk ke kamarnya dan menutup pintu.
Ia berdiri beberapa saat dalam gelap, tidak langsung menyalakan lampu.
Nama itu kembali muncul di kepalanya.
Jennaira Hanania Mecca.
Perempuan bercadar.
Putri bungsu Reza Nirankara.
Pemilik toko bunga.
Calon yang dipilih ibunya hanya dari satu pertemuan.
Shaka tertawa hambar.
Baginya, semua itu terdengar terlalu naif.
Namun entah mengapa, satu hal mengganggu pikirannya.
Jika Jenna benar-benar putri dari keluarga sebesar Nirankara, mengapa ia memilih berdiri di balik meja toko bunga, melayani pelanggan dengan tangannya sendiri?
Pertanyaan itu kecil.
Terlalu kecil untuk disebut rasa penasaran.
Tetapi malam itu, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Shaka memikirkan nama seorang perempuan yang belum pernah ia temui.