"Mulai sekarang, setiap satu jam sekali, kamu harus mencium bibirku! Aku tidak akan menerima penolakan," tegas Nathan lagi. "Kamu wajib menciumku di mana pun kita berada, bahkan di dalam kelas atau di tempat umum."
Jenny mulai merasa panik, "Tu - tuan, tapi itu sungguh tidak masuk akal!"
"Jenny, jika ingin ibumu selamat dan semua alat medis tetap terpasang di tubuhnya yang lemah itu, turutilah apa mauku!" ujar Nathan dengan nada mengancam. Ancaman tersebut membuat lamunan Jenny terhenti seketika.
****
Jenny terkejut saat mendengar apa yang baru saja diucapkan Nathan, tuan muda culun yang menjadi murid terbodoh di antara 450 siswa di SMA Taruna. "Jadi, jika kamu ingin aku sembuh dari semua luka trauma yang ditimbulkan oleh ayahmu, mulai sekarang kamu harus menciumku setiap satu jam sekali," ucap Nathan tegas.
****
Jenny adalah seorang perempuan yang sedari kecil hidup penuh kebahagiaan, bahkan hidupnya nyaris sempurna.
Ia terlahir dengan paras yang cantik, hidup penuh kebahagia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20.
Ceklek
Pintu ruang Unit Kesehatan Sekolah nampak di buka dari arah luar, menampilkan seorang murid laki laki yang sedang menggendong seorang murid perempuan.
Tiga orang perawat yang ada di dalam Unit Kesehatan Sekolah itu nampak melongo, kala melihat banyak murid yang mengekor di belakang murid laki laki itu.
"Apa yang terjadi?" tanya seorang perawat sembari menghentikan langkah kaki Galen yang menggendong Jenny.
"Di - dia di siram air bubuk cabe oleh temannya. Dan banyak ruam yang muncul di kulit dan wajahnya, bahkan ke dua kelopak matanya nampak lebam!" jelas Galen dengan suara terbata. Ia tidak membayangkan berapa menderitanya Jenny data ini, lalu ia memilih untuk tetap nyelonong masuk dan merebahkan tubuh lemah Jenny di atas brangkar yang ada di dalam ruang Unit Kesehatan Sekolah.
"Apa? Kok bisa hal seperti itu terjadi di sekolah ini?" celetuk salah satu perawat. Karena perawat itu sungguh di buat heran, tindakan yang baru saja di katakan oleh Galen bukankah sebuah tindakan yang tidak mungkin di lakukan oleh orang orang kaya.
Karena sekolah ini memang sekolah elite yang di isi oleh murid murid dari keluarga berada.
"Tolong, lebih baik kalian semua keluar dulu! Ruangan ini akan terasa sesak jika kalian semua itu masuk!" kata salah di satu perawat, kala melihat semua murid yang mengekor Galen itu memaksa masuk ke dalam Unit Kesehatan Sekolah.
"Iya kalian semua keluar lah!" Galen terlihat mengusir para bawahannya.
Semua bawahan Galen pun terlihat menurut pada perintah bossnya, mereka terlihat langsung berbondong bondong keluar dari dalam Unit Kesahatan Sekolah yang terlihat begitu sesak dan juga padat itu.
Mereka semua terlihat menjauh dari ruangan itu.
"Termasuk kau juga, kau harus segera keluar dari dalam ruangan ini!" titah salah satu perawat yang berjaga di Unit Kesehatan Sekolah itu dengan suara yang terdengar lumayan ketus.
"Apa? Apakah aku juga harus keluar dari dalam ruangan ini?" tanya Galen memstikan.
"Iya, kamu tetap harus keluar dari dalam ruangan ini! Karena kami harus memberikan pertolongan pada murid yang kesakitan itu, bahkan kami juga harus membersihkan tubuhnya itu terlebih dari air bubuk cabe yang membasahi tubuhnya!" timpal seorang perawat.
Hembusan nafas kasar terasa di hidung Galen. "Apakah di sini aku benar-benar tidak bisa membantu kalian untuk membersihkan tubuh Jenny yang terkena cairan cabai?" ujarnya dengan kebingungan.
"Tentu saja tidak bisa! Kami harus melepaskan semua kain yang menempel di tubuhnya untuk menghilangkan cairan bubuk cabai itu," jelas salah satu perawat dengan tegas.
"Kalau tidak segera keluar, bukankah kamu itu malah hanya menambah kesakitan pada tubuh temanmu itu! Karena kami tidak bisa segera melakukan tindakan," timpal salah satu perawat.
Galen terdiam sejenak, mencoba merasakan apa yang sedang dirasakan Jenny saat itu. "Apakah benar aku hanya akan menambah kesakitan Jenny jika aku tetap di sini? Apakah aku tak bisa berbuat apa-apa untuk meringankan kesakitan yang di alaminya sekarang ini? Atau mungkin perasaan ini lebih didorong oleh kegugupan karena kekhawatiran ku padanya?" Dalam keheningan itu, akhirnya Galen memutuskan untuk berjalan meninggalkan Unit Kesehatan Sekolah. Ia menyadari bahwa apa yang dikatakan oleh perawat tadi memang benar, keberadaannya hanya akan memperlambat tugas mereka.
Sebagai orang yang sangat dekat dengan Jenny, mungkin yang bisa dilakukan Galen sekarang adalah memberikan ruang bagi para perawat untuk bekerja.
"Sekarang yang harus aku lakukan adalah memberikan peljaran pada Tiara dan juga Kamila! Karena berani beraninya mereka itu menyakiti Jenny!" gumam Galen dalam hatinya dengan sebuah amarah memuncak, bahkan ia juga terlihat mengepalkan tangannya.
"Loh Boss mau kemana?" Richard terlihat bingung kala melihat ketua geng terbesar di SMA Taruna ini tiba tiba pergi meninggalkan area Unit Kesehatan Sekolah.
"Gue mau ngasih pelajaran sama Kamila dan juga Tiara! Gara gara mereka, Jenny harus kesakitan seperti ini! Bukankah sebelumnya Kamila maupun Tiara itu dekat dengan Jenny? Tapi kenapa mereka itu tega melakukan hal ini pada teman dekatnya sendiri," sahut Galen sembari menggertakkan gigi giginya, guna menahan amarah yang sekarang ini menguasai dirinya.
Apalagi bayang bayang wajah Jenny saat kesakitan dan mengeluarkan air mata benar benar terus terngiang ngiang di dalam pikiran Galen.
"Tapi Boss, sepuluh menit lagi bel masuk kelas itu akan berbunyi! Boss tidak akan akan puas kalau memberikan pelajaran berharga untuk Tiara dan juga Kamila."
Mendengar ucapan salah satu anak buahnya pun, Galen terlihat langsung menghentikan langkah kakinya.
"Terus waktu kita kita hanya terbatas Bos untuk ikut mengerjai Tiara dan juga Kamila, hanya sepuluh menit saja. Padahal sampai sekarang kita saja belum menemukan keberadaan Tiara dan juga Kamila! Takutnya gini boss, kalau sampai Tiara dan juga Kamila itu kabur setelah pulang sekolah, karena pasti waktu sepuluh menit itu tidak akan membuat Tiara dan juga Kamila itu jera. Pasti akan kita lanjut sepulang sekolah, nah Tiara dan Kamila kan tahu kalau sepulang sekolah akan di lanjut, ya pasti ke duanya itu udah kabur duluan!"
"Elo benar Rio," sahut Galen dengan wajah datar, bahkan kemarahan yang tadi di terlihat jelas dari wajahnya lambat laun berangsur angsur menghilang.
"Nah, lebih baik sekarang ini Boss Gelan nungguin Jenny aja di depan Unit Kesehatan Sekolah! Siapa tahu nanti setelah para perawat memberikan pertolongan pada Jenny, Si Boss itu bisa menunggu Jenny di dalam ruangan Unit Kesehatan Sekolah. Dan kalian berdua bisa berduaan di sana. Gue jamin si Jenny bakalan tambah klepek klepek dan terpesona dengan pesona sang Dewa penolong. Apalagi sekarang lihat baju Boss! Banyak sekali bercak merahnya, karena terkena bubuk cabai yang tadi tertempel dari seragam milik Jenny. Itu kan bisa menjadikan alasan buat Jenny agar segera menerima ungkapan Cinta dari Boss," jelas Ricard panjang lebar.
"Makanya Boss itu jangan buru buru ganti baju! Terus buat urusan kelas, biar kami semua yang handle jika ada guru yang menanyakan keberadaan Boss," timpal Rio.
Akhirnya Galen memilih untuk mengikuti rencana anak buahnya, sekarang ia dan gerombolan anak buahnya pun terlihat berpisah.
Jika gerombolan anak buahnya itu terlihat berjalan ke arah kelas mereka masing masing, hal yang berbeda di tunjukkan oleh Galen. Ia terlihat berjalan kembali ke arah Unit Kesehatan sekolah, ia memilih untuk menunggu gadis yang sangat di cintainya itu.
Bel masuk kelas segera berbunyi, dan Galen segera mengikuti Jenny yang sudah selesai mendapatkan pertolongan di unit kesehatan sekolah.
Sementara itu, di ruangan kepala sekolah, Nathan terlihat mengepalkan tangannya. Diam-diam hatinya bergejolak menahan amarah, karena pelayannya tidak kunjung kembali hingga batas waktu yang ia tentukan.
Bahkan sedari tadi kedua bola mata Nathan terus saja melotot ke arah layar monitor CCTV yang dipasang di bangku duduk pelayannya. "Kenapa dia belum kembali? Jenny benar-benar tidak kembali ke tempat duduknya yang ada di kelas," batin Nathan. Pikirannya pun semakin kalut, membayangkan kemungkinan-kemungkinan yang mungkin saja terjadi. "Apa dia sudah tahu akan rencanaku? Ah, tak mungkin! Atau dia sengaja melarikan diri dariku?" "Sebenarnya kau itu ke mana, Jenny?" gumam Nathan, tak mampu menahan amarahnya lagi.
"Awas jika kau itu berniat untuk pergi kabur dari ku! Karena kau itu milikku, Jenny!" ancam Nathan seraya berdiri dan melangkah cepat ke arah pintu ruangan kepala sekolah, dengan niatan untuk segera mencari keberadaan Jenny.
Keegoisannya semakin terlihat, berusaha mengekang agar Jenny itu selalu berada di sisinya. Karena Nathan merasa memiliki hak penuh atas Jenny. Perempuan yang menjadi pelayannya saat ini.
kalo berkenan mampir juga ya😉