Di usianya yang masih belia, Amara dipaksa menghadapi kehilangan, penolakan, dan kenyataan pahit, bahwa terkadang dosa orang tua meninggalkan luka bagi anak-anaknya.
Menjadi anak dari seorang yang bersalah, bukan berarti ia harus menanggung hukuman yang sama. Mampukah Amara meyakinkan dunia tentang itu? ketika perempuan yang paling ia cintai, yang dipanggilnya mama telah lebih dulu menjauhinya. Dan di saat hatinya masih porak poranda, Amara dipaksa menikah dengan laki-laki yang berusia lebih dari dua kali usianya.
Yuk ikuti kisahnya, Akad Tanpa Cinta
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐈𝐩𝐞𝐫'𝐒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 32
Teriknya matahari yang perlahan mulai condong ke barat menemani perjalanan Abimanyu dan Amara. Seperti biasa, tak ada percakapan antara keduanya namun suasana saat ini terasa berbeda.
Biasanya, meskipun tak pernah ada obrolan selayaknya pasangan pada umumnya namun perhatian-perhatian kecil masing-masing selalu menemani kebersamaan mereka.
Wajah Abimanyu terlihat datar, tatapannya fokus pada jalanan yang mulai memadat. Sedikitpun ia tak menghiraukan keberadaan Amara, hanya sesekali terdengar decakan kasar saat ada beberapa kendaraan lain yang menyalip memotong jalurnya.
Setelah hampir dua puluh menit perjalanan dari pusat perbelanjaan, akhirnya mobil yang dikendarai Abimanyu meluncur memasuki basement apartemen. Deru mesin perlahan menghilang, berganti sunyi yang kembali menyelimuti keduanya.
Abimanyu mematikan mesin, lalu turun lebih dulu. Tanpa banyak bicara, ia membuka bagasi dan mengeluarkan satu per satu kantong belanja yang tadi mereka beli. Kedua tangannya segera dipenuhi beberapa paper bag dan kantong plastik, tetapi pria itu tetap memilih membawanya sendiri, seakan tak ingin merepotkan Amara.
Sedangkan Amara hanya mengikuti dari belakang dengan langkah pelan. Sesekali tatapannya mencuri pandang ke punggung tegap suaminya, namun buru-buru dialihkan setiap kali rasa canggung kembali menyeruak. Bibirnya beberapa kali terbuka, ingin mengatakan sesuatu, tetapi tak satu pun kata berhasil keluar.
Kenapa sih dia mendadak jadi orang bisu, ih... Gak jelas banget, dasar orang tua.
Pintu lift terbuka menyudahi gerutuan batin Amara.
Abimanyu melangkah masuk lebih dulu, disusul Amara yang berdiri di sampingnya. Ruangan sempit itu kembali dipenuhi keheningan yang terasa begitu panjang. Hanya suara dengung lift dan angka-angka di panel yang terus berganti, menjadi saksi bisu dua hati yang sama-sama keras dengan egonya masing-masing.
.
Saat keluar dari lift Amara mempercepat langkahnya mendahului Abimanyu hendak membuka pintu, sebab tidak mungkin suaminya itu bisa membuka kunci karena kedua tangannya penuh membawa belanjaan.
Abimanyu meletakkan semua barang belanjaan di lantai ruang tengah, kemudian pria itu duduk di sofa sekilas menatap Amara yang hanya berdiri di sampingnya seperti anak kecil yang habis dimarahi oleh ayahnya.
"Kamu janjian sama dia?" Ucap Abimanyu akhirnya bersuara.
Amara seketika memiringkan kepalanya menatap Abimanyu dengan kedua alis yang hampir bertautan. "Hah! Janjian apa, sama siapa?" tanya nya tak paham.
Abimanyu seketika mendengus saat melihat reaksi Amara yang terlihat bingung.
"Om! Janjian apa, sama siapa?" Amara kembali bertanya bahkan tangannya sudah terangkat hendak menyentuh bahu Abimanyu, namun gadis itu keburu sadar dan ia pun dengan cepat kembali menurunkan tangannya.
"Ya kamu, sama temen curutmu!" Jawab Abimanyu datar.
"Temen curut?" Amara membeo, tak lama kemudian ia menutup mulut dengan tangannya untuk meredam tawa yang hampir pecah. "Erik, maksudnya?" Tanya Amara kemudian mendelik. "Mana ada aku janjian sama dia! Kemarin saja dia telepon beberapa kali enggak ke jawab, jadi aku sama dia mau janjian darimana sedangkan komunikasi saja enggak." Cerocosnya lantang, matanya menatap Abimanyu dari atas sampai bawah memastikan fisik pria di hadapannya itu masih normal.
Dasar aneh, kayak orang kesambet aja huh..
"Kalau aku janjian sama Erik mana mungkin aku bareng sama om, mikir dong... Apa jangan-jangan om yang sebenarnya suka begitu ya? Pura-pura ketemu enggak sengaja padahal aslinya janjian, makanya nuduh aku begitu karena kebiasaan om sendiri suka begitu. Huh! Ketahuan..." Desis Amara kemudian menunduk meraih plastik berisi buah-buahan dan membawanya ke dapur meninggalkan Abimanyu yang hanya menghela napas.
.
.
"Rik... Kamu sudah lama kenal Amara?"
"Mayan tan, dari tiga tahun lalu pas kita sama-sama masuk SMA tap-"
"Berarti sudah lama juga dong kamu kenal om nya?" Tanya Karenina cepat, memotong ucapan Erik. Membuat pemuda itu mengerutkan kening namun tak lama kemudian Erik menggelengkan kepala. "Enggak juga, justru aku tahu Amara punya om yang tadi itu pas acara kelulusan menggantikan orang tuanya. Kan pas acara kelulusan itu papanya baru beberapa hari meninggal, dan mamanya enggak bisa hadir yang datang om nya sama nenek dan kakeknya."
"Oh gitu ya?" Karenina mengangguk. "Kirain tahu dan kenal lama juga."
Erik kembali menggeleng, "enggak lah. Memangnya kenapa tan?" Tanya Erik curiga.
"Enggak, cuma penasaran aja. Maksudnya, orangnya bikin penasaran terlihat cool dan sombong. Jujur ya, tante jadi tertantang." Ucap Karenina setengah berbisik diakhiri kekehan.
"Boleh juga tan, biar kita maju sama-sama. Tapi, jujur sih semenjak Amara tinggal sama om nya, aku agak susah komunikasi sama dia. Terlebih aku pernah bikin dia ilfeel tan." Erik menghela napas. "Tapi sekarang aku sadar, Amara enggak ada hubungannya sama kelakuan papanya bahkan Amara juga tersakiti karena ulah almarhum om Reno." Lanjutnya dengan tatapan menerawang.
"Wah, ponakanku benar-benar sudah jatuh cinta nih!" Karenina bangkit kemudian menepuk pundak Erik dengan bangga. "Ayo ke ruangan tante! Next kita benar-benar bikin janji sama Amara, dan kamu usahakan dia supaya bisa kerja di sini."
"Aman tan! btw, tante beneran kan dukung aku?"
"Pastinya." Jawab Karenina singkat, ada senyum penuh arti menghiasi sudut bibirnya.
.
.
Hari perlahan beranjak menuju penghujungnya. Matahari mulai condong ke ufuk barat, meninggalkan semburat cahaya yang perlahan mengubah warna langit. Biru yang sejak siang menaungi bumi, sedikit demi sedikit berganti menjadi jingga keemasan.
Cahaya senja menyusup di antara celah gedung dan memantul lembut di kaca-kaca besar bangunan tersebut, seolah dunia sedang diselimuti kehangatan sebelum malam benar-benar mengambil alih mengajak seluruh mahluk bumi untuk menepi dari hiruk pikuk duniawi.
Di dalam sebuah apartemen, Amara baru saja keluar dari kamar mandi setelah hampir setengah jam berendam, membersihkan tubuhnya yang terasa lelah dan lengket setelah sibuk di depan kompor. Perempuan yang hanya mengenakan bathrobe itu menghentikan langkah saat pandangannya tanpa sengaja menyapu ke arah tempat tidur, dimana Abimanyu tengah terlelap sambil mendengkur.
Kapan masuknya? Kok bisa-bisanya jam segini malah tidur di kamar orang yang habis dia omelin, ck....
Amara menarik napas sesaat, kemudian menghampiri Abimanyu. "Om, bangun! Bentar lagi Maghrib, lagian kenapa tidur disini sih? bangun!" Amara mengguncang tubuh besar Abimanyu, namun pria itu hanya bergumam sebentar dan kembali mendengkur. "Ish, malah merem lagi! Om... Sudah setengah enam, mau maghrib!" Amara kembali bersuara dan lebih keras, ia naik ke atas ranjang dan duduk bersimpuh di samping suaminya.
"Om, bangun! Ini kamar aku, kenapa tidur di sini? Enggak siang, enggak malam sukanya ngambil alih tempat ora-nghhh... Eh, aku mau pakai baju-mmppt!" Amara terjungkal menindih tubuh Abimanyu. Gadis itu membeliakkan mata saat cerocosannya dibungkam oleh suaminya.
Kedua tangannya di cekal ke atas dengan sebelah tangan Abimanyu, bahkan tengkuknya pun terkunci sehingga ia tidak bisa mundur dan mengelak.
Abimanyu perlahan melepaskan luma-tannya kemudian pria itu terkekeh tanpa melepaskan kuncian tangannya di tubuh mungil Amara. "Makanya punya bibir jangan cerewet kayak lansia." Ucapnya dalam dengan suara parau menahan sesuatu yang mulai bergejolak. Dadanya yang hanya mengenakan kaos dalam, menempel dengan tubuh dingin Amara.
"Om..." Lirih Amara, wajahnya seketika memerah saat merasakan bagian tubuh suaminya menegang. Gulungan kata-kata yang sudah menggunung yang biasanya dengan lantang ia lontarkan pada Abimanyu seketika hilang entah kemana. Hanya menyisakan gugup dan desiran hebat yang menjalar di seluruh tubuhnya.
"A-aku... Habis mandi, mau pakai baju dulu." Ucapnya tergagap setengah menahan napas. Kepalanya menunduk tak berani menatap Abimanyu, netranya mentok di dada yang dipenuhi bulu halus.
Abimanyu menggeleng, "Enggak usah pakai baju, biarin saja begini nanti juga hangat." Ucapnya dengan napas yang kian tak beraturan. Tangan Amara yang tadi dikuncinya ke atas dilepaskannya perlahan. Sedangkan tangan kekarnya mulai merayap melepaskan tali bathrobe yang membungkus tubuh istrinya.
"O-om..." Panggil Amara, suaranya nyaris hilang saat indera pengecap Abimanyu mulai menjelajahi titik-titik sensitifnya. "A-ku sudah, selesai masak... Waktunya mak-kan."
"Kamu lebih menggoda dari makanan, emh."
"Ta-pi... Ini, mau maghrib."
"Masih lama sayang... Kamu juga suka kan?" Jawab Abimanyu disela kesibukannya. Tangannya bergerak perlahan menuntun tangan Amara untuk memegang senjatanya yang sudah berdiri kokoh.
Bak kerbau yang dicucuk hidungnya, Amara pun pasrah mengikuti arahan Abimanyu. Tubuhnya yang semula kaku perlahan melentur, menerima sen-tuhan suami matangnya.
Dengan sekali gerakan Abimanyu berhasil membalikkan posisi, dengan tubuhnya yang kini berhasil mengurung Amara yang tampak pasrah. Bahkan gadis itu berkali-kali mengeluarkan suara yang sangat disukainya.
Dengan gerakan pelan untuk membuat istrinya nyaman, Abimanyu mulai mendorong senjatanya yang masih di genggam Amara untuk mulai masuk ke dalam dan menjelajahi belantara kemudian mendaki yang akhir-akhir ini menjadi kegiatan favoritnya. Bahkan sehari saja tidak mendaki otaknya yang biasa pintar mendadak ngelag, juga moodnya berubah drastis sehingga sulit mengendalikan emosi.
bab ini sesuai maunya pembaca wkwkkw
dibuat mesem mesem berjamaah kita hihihi
ahhhhh pokonya syuukaaaa syekaleee💜
bab panjang, sepanjang jalan kenangan,
tapi beras singkat bgd bacanya tteh🤣
banyakin part gumussshhhh Om tua sama amara🫣
Jenny kelaut aja buang ke samudera Atlantik 🤣
bergetar dilanda kasmaran ❤️❤️❤️
Abi oh abimanyuu..akhirnyaaa jatuh sejatuh-jatuhnya sudah cintamu untuk Amara 🤣🤣🤣 dan Amaraaa..bentar lagii yaaa sabaar tunggu kejutan Abi yg berikutnya soal perasaan 🥰 ihhh aku kan jadi senyum-senyum gemassss 😍😍
teh lagiii ya tehhh 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 mau bobok beldua lagi soalnyaaa hihiihiiii 😆
siapaaaa ini dateng sekeluarga.
ditunggu bab berikut nya tteh tayankkk🌻
nanti semoga jd om tua bucin ya🤣
sahabat macam apa kau ini?
sahabat dah nikah mau diojok2in sama mantannya😏
badai apapun nanti kedepannya semoga tetap konsisten dg kata2 ini om tua..
perlahan lahan pikiran om tua isinya istri kecilnya,,
.
lama2 nanti ga bisa jauh2 dr Amara, wkwkwk (menantikan ini)
kamu sm Amara sama² perempuan, smg aja suamimu kelak juga baik² aja yaa ga ada sipengganggu, krn semua yg menanam pasti akan menuai hasilnya.
siapa yg datang pake satu keluarga segala pula ini.. apakah Jenny dan orang tuanya yaa mau meminang Abimanyu secara kontan 🤣 ohh Tidak bisaaa... tak tutuukk ntar duo melonmu klo macem² yaa Jenn 🙄🤣 tapii klo lain Jenny siapa yaaa 🤔🤔🤔 Teh oneeeeellll jangan digantunggg aku kasih kopiii nih cepet up lagiiii yaaaa ❤️