NovelToon NovelToon
Overtime With My Enemy

Overtime With My Enemy

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:473
Nilai: 5
Nama Author: Satisuci Ituaku

Aku membenci Damar Wijaya sejak hari pertama bekerja. Bagiku, dia adalah atasan paling menyebalkan yang pernah ada—dingin, arogan, dan selalu mengkritik setiap pekerjaanku.
Sayangnya, sebuah proyek besar memaksa kami lembur bersama setiap malam.
Semakin sering kami bertemu, semakin sulit bagiku mempertahankan kebencian itu. Di balik sikapnya yang menyebalkan, ada sisi Damar yang tidak pernah kulihat sebelumnya.
Namun saat aku mulai membuka hati, sebuah rahasia besar terungkap dan mengubah segalanya.
Bagaimana jika pria yang paling kubenci justru menjadi orang yang paling kucintai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Satisuci Ituaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 : Skandal yang Meledak

Setelah kejadian aneh di depan kantor kemarin, Nara masih belum bisa memahami sikap Damar.

Bagaimana bisa pria itu menghentikannya pergi makan malam dengan Farel hanya karena alasan pekerjaan...

Lalu mengaku tidak ada pekerjaan yang harus dibahas?

Semakin dipikirkan, semakin membingungkan.

Dan yang lebih menyebalkan, Nara justru memikirkan hal itu sepanjang malam.

---

Pagi hari di kantor.

Nara datang lebih awal dari biasanya.

Ia berharap bisa fokus bekerja dan melupakan semua kekacauan di kepalanya.

Namun harapan itu langsung hancur begitu memasuki ruang proyek.

Suasana terasa aneh.

Sangat aneh.

Beberapa orang berhenti berbicara saat melihatnya.

Sebagian lain langsung mengalihkan pandangan.

"Nara."

Siska muncul dengan wajah serius.

"Kamu harus lihat ini."

Jantung Nara langsung berdegup tidak nyaman.

"Apa?"

Tanpa berkata apa-apa, Siska menunjukkan layar ponselnya.

Dan dunia Nara seolah berhenti.

---

Di layar terdapat sebuah foto.

Foto dirinya.

Bersama Damar.

Namun kali ini bukan saat makan malam.

Bukan pula saat rapat.

Melainkan foto ketika Damar mengantarnya pulang malam setelah insiden parkiran.

Sudut pengambilan gambarnya sangat buruk.

Tetapi justru terlihat lebih intim.

Seolah mereka sedang berpacaran diam-diam.

Dan yang lebih parah...

Ada beberapa foto lain.

Saat mereka makan malam.

Saat berjalan berdampingan.

Saat berbicara berdua di area parkir.

Seseorang telah mengumpulkan semuanya.

---

"Waduh."

gumam Nara pelan.

"Itu baru sebagian."

ucap Siska.

Nara langsung menatapnya.

"Maksudmu?"

Siska membuka pesan lain.

Ada unggahan anonim di forum internal kantor.

Judulnya cukup membuat darah Nara mendidih.

"Karyawan Biasa atau Wanita Simpanan Pewaris Perusahaan?"

Wajah Nara langsung pucat.

---

"Kurang ajar."

desis Siska.

"Aku ingin menemukan orang yang menulis ini."

Nara tidak menjawab.

Karena emosinya terlalu kacau.

Marah.

Malu.

Kesal.

Semuanya bercampur menjadi satu.

---

Dalam waktu kurang dari satu jam, seluruh kantor sudah membicarakan hal tersebut.

Bahkan beberapa divisi lain ikut mengetahui.

Saat Nara berjalan menuju ruang rapat, ia bisa merasakan tatapan orang-orang.

Bisikan kecil terdengar di mana-mana.

Meski tidak ada yang berani mengatakannya langsung.

---

"Nara."

Suara Raka menghentikan langkahnya.

Pria itu terlihat lebih serius dari biasanya.

"Kamu baik-baik saja?"

"Tidak."

jawab Nara jujur.

Raka mengangguk pelan.

"Masuk akal."

Untuk pertama kalinya, pria itu tidak bercanda.

Karena situasinya memang tidak lucu.

---

Sementara itu.

Di lantai atas.

Suasana ruang kerja Damar jauh lebih dingin.

Pria itu sedang menatap layar laptopnya.

Membaca satu demi satu komentar yang beredar.

Semakin banyak ia membaca...

Semakin gelap ekspresinya.

---

Tok.

Tok.

Tok.

"Pakai masuk."

ucap Damar dingin.

Pintu terbuka.

Asisten direksi masuk dengan wajah tegang.

"Pak Damar."

"Ada apa?"

"Direksi meminta rapat darurat."

Tentu saja.

Damar sudah menduganya.

Karena sekarang masalah ini bukan sekadar gosip.

Nama keluarga Wijaya ikut terseret.

---

Rapat berlangsung satu jam kemudian.

Beberapa direktur senior hadir.

Termasuk beberapa pemegang saham penting.

Suasana tegang sejak awal.

"Kita harus menghentikan penyebaran berita ini."

ucap salah satu direktur.

"Media sosial internal sudah penuh."

Direktur lain mengangguk.

"Dan nama perusahaan ikut disebut."

---

Damar duduk tenang.

Namun semua orang di ruangan tahu bahwa pria itu sedang menahan amarah.

"Pak Damar."

seorang direktur senior akhirnya berkata.

"Apakah ada hubungan pribadi antara Anda dan Nara?"

Ruangan mendadak hening.

Semua mata tertuju pada Damar.

---

Pria itu terdiam beberapa saat.

Lalu menjawab.

"Tidak."

Secara teknis itu benar.

Mereka belum berpacaran.

Belum memiliki hubungan apa pun.

Namun entah kenapa jawaban itu terasa aneh bahkan bagi dirinya sendiri.

---

Di sisi lain kantor.

Nara baru saja dipanggil oleh HRD.

Lagi.

Dan kali ini suasananya jauh lebih serius.

"Kami hanya ingin mendengar langsung dari Anda."

ucap manajer HR.

Nara menarik napas panjang.

"Saya tidak melakukan apa pun yang melanggar aturan perusahaan."

"Kami tahu."

jawab manajer itu.

"Tapi situasi sudah berkembang."

---

Nara menunduk sesaat.

Lalu berkata,

"Saya bekerja di sini karena kemampuan saya."

"Saya tidak pernah memanfaatkan siapa pun."

"Saya juga tidak pernah meminta perlakuan khusus."

Suasana menjadi hening.

Manajer HR mengangguk pelan.

Karena dari rekam jejak kerja, semua yang dikatakan Nara memang benar.

---

Namun begitu keluar dari ruangan HRD...

Masalah baru menunggunya.

Bianca.

Wanita itu berdiri di koridor.

Dengan ekspresi yang sulit dibaca.

"Nara."

panggilnya.

Nara sebenarnya tidak ingin berbicara.

Namun ia tetap berhenti.

"Ada apa?"

Bianca tersenyum tipis.

"Aku dengar kabarnya."

"Tentu saja."

jawab Nara datar.

---

"Aku hanya ingin memberimu saran."

ucap Bianca.

"Simpan saja sarannya."

Untuk pertama kalinya, Nara tidak berusaha sopan.

Karena kesabarannya hampir habis.

Namun Bianca tetap tersenyum.

"Kalau aku jadi kamu..."

lanjut wanita itu.

"Aku akan mengundurkan diri."

Nara langsung menatapnya tajam.

---

"Kenapa?"

tanya Nara.

"Karena reputasimu sudah rusak."

jawab Bianca tenang.

"Dan cepat atau lambat, semua orang akan menganggapmu sebagai masalah."

Ucapan itu seperti bensin yang disiram ke api.

---

Nara melangkah maju.

Tatapannya tidak lagi ramah.

"Dengar baik-baik."

ucapnya.

"Aku bekerja keras untuk ada di posisi ini."

Senyum Bianca mulai memudar.

"Aku tidak akan pergi hanya karena beberapa gosip murahan."

Keheningan muncul di antara mereka.

---

Dan untuk pertama kalinya.

Bianca melihat sesuatu yang selama ini ia abaikan.

Nara bukan wanita lemah.

Bukan pula seseorang yang mudah dihancurkan.

Justru sebaliknya.

Semakin ditekan.

Semakin kuat ia melawan.

---

Malam mulai turun.

Namun masalah belum selesai.

Karena saat sebagian besar karyawan bersiap pulang...

Sebuah foto baru muncul di forum internal.

Foto yang jauh lebih buruk dari sebelumnya.

Foto yang seolah memperlihatkan Damar memegang tangan Nara.

Padahal kenyataannya diambil dari sudut yang menyesatkan.

Dan dalam hitungan menit...

Kantor kembali gempar.

---

"Sudah keterlaluan."

desis Siska.

Raka juga terlihat marah.

"Bukan gosip lagi."

ucapnya.

"Ini sengaja."

Nara menatap layar ponselnya.

Dan untuk pertama kalinya...

Ia merasa lelah.

Sangat lelah.

---

"Aku pulang dulu."

ucapnya pelan.

Siska langsung berdiri.

"Aku antar."

"Tidak perlu."

jawab Nara.

"Aku hanya ingin sendiri."

---

Namun saat ia keluar dari gedung perusahaan...

Sebuah mobil berhenti di depannya.

Jendela perlahan turun.

Damar.

Pria itu menatapnya beberapa detik.

Lalu berkata,

"Masuk."

---

Nara sebenarnya ingin menolak.

Namun ia terlalu lelah untuk berdebat.

Akhirnya ia masuk ke dalam mobil.

Perjalanan berlangsung sunyi.

Hanya suara mesin yang terdengar.

Sampai akhirnya Damar berbicara.

"Maaf."

Nara menoleh.

"Hm?"

"Karena kamu ikut terseret."

Suara pria itu terdengar rendah.

Dan penuh penyesalan.

---

Nara tersenyum pahit.

"Ini bukan salahmu."

"Tetap saja."

jawab Damar.

Untuk pertama kalinya.

Nara melihat kemarahan di mata pria tersebut.

Bukan kemarahan pada dirinya.

Melainkan pada orang yang telah menyakitinya.

---

Mobil berhenti di depan rumah Nara.

Namun kali ini tidak ada yang langsung turun.

Suasana menjadi hening.

Lalu Damar berkata pelan,

"Aku akan menyelesaikan ini."

Nara menatapnya.

Dan entah kenapa.

Ia percaya.

---

Sementara itu.

Di sebuah ruangan lain.

Bianca sedang melihat layar laptop.

Senyum puas perlahan muncul di wajahnya.

Rencananya berjalan sesuai harapan.

Kantor mulai berbalik melawan Nara.

Direksi mulai memperhatikan.

Dan reputasi wanita itu mulai retak.

Namun Bianca tidak tahu satu hal.

Ia telah mendorong Damar terlalu jauh.

Karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya...

Pria itu siap melawan siapa pun yang mencoba menyakiti seseorang yang ia pedulikan.

Termasuk orang yang sudah dikenalnya sejak kecil.

Bersambung...

1
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto: sama2 👌👍
total 2 replies
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Satisuci Ituaku: mksih kk sudah mampir🙏🙏🙏
total 1 replies
Tys Azka
kok selalu hujan sih
Satisuci Ituaku: iy kak biar romantis ala2
mksih kk udh mampir 🙏🙏
total 1 replies
anggita
like👍iklan☝, Nara.. Damar.
Satisuci Ituaku: Terima kasih sudah mampir kk
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!