di dunia zentaria, ada sebuah kekaisaran yang berdiri megah di benua Laurentia, kekaisaran terbesar memimpin penuh Banua tersebut.
tapi hingga pada akhirnya takdir pun merubah segalanya, pada saat malam hari menjelang fajar kekaisaran tersebut runtuh dan hanya menyisakan puing-puing bangunan.
Kenzie Laurent dan adiknya Reinzie Laurent terpaksa harus berpisah demi keamanan mereka untuk menghindar dari kejaran dari seorang penghianat bernama Valdrik mortis
hingga pada akhirnya takdir pun merubah segalanya, kedua pangeran itu memiliki jalan mereka masing-masing.
> dunia tidak kehilangan harapan dan cahaya, melainkan kegelapan itu sendiri lah kekurangan terangnya <
> "Di dunia yang hanya menghormati kekuatan, kasih sayang bisa menjadi kutukan, dan takdir… bisa jadi pedang yang menebas keluarga sendiri <.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ibar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2
Baik, aku langsung tulis full Bab “Mendaftar Sebagai Calon Murid Sekte Gunung Langit” sesuai semua detail yang kamu minta.
Tanpa basa-basi.
Tanpa tanya apa pun lagi.
Lanjut langsung dari kalimat terakhir Bab 11.
BAB 12 — MENDAFTAR SEBAGAI CALON MURID SEKTE GUNUNG LANGIT
(Full monolog Kenzie Laurent)
“Kenzie… apakah kau seorang pangeran?”
Suara itu menusuk lebih dalam daripada pedang mana pun yang pernah kutahan.
Aku menatap Wulan. Mata birunya tidak bergetar, tidak menunjukkan keterkejutan, hanya… menunggu. Menunggu jawaban yang bahkan aku sendiri takut untuk mengungkapkannya.
“Kenzie Laurent… jawab aku.”
Aku menelan ludah. Tenggorokanku seolah terkunci. Bibirku kering, dan pedang di tanganku gemetar.
Aku mengangkat wajah. Angin sore menyapu rambutku yang berantakan setelah latihan yang penuh emosi barusan.
Dan untuk pertama kalinya…
Aku siap mengakuinya.
“…Iya. Aku… adalah pangeran pertama Kekaisaran Laurent.”
Begitu kalimat itu keluar, dadaku terasa sesak—seolah aku baru saja membuka kembali pintu yang selama tujuh tahun ini kukunci dengan paksa.
Wulan tidak terkejut. Bahkan ia hanya berdiri dengan tangan terlipat lembut di depan dada.
“Aku sudah menduga,” katanya tenang. “Kau menyebut nama belakangmu di Gunung Celestara… dan cara kau bereaksi mendengar nama Zarco D’Vareth… tidak seperti rakyat biasa.”
Aku menunduk. Entah kenapa, rasa takut merayap di tulangku.
“Apakah… kau akan menjauhiku setelah tahu siapa aku?”
Aku benci mendengar getaran di suaraku.
Aku terdengar seperti anak kecil.
Wulan mendekat dua langkah.
“Aku tidak peduli kau pangeran, pengemis, atau monster. Aku hanya melihat satu hal: kau adalah Kenzie Laurent yang berdiri di depanku.”
Kata-katanya membentur dadaku seperti cahaya hangat.
Namun ketakutanku tidak hilang begitu saja.
“Kalau identitasku terbongkar… aku bisa menjadi target.”
“Aku tahu,” jawabnya cepat. “Tapi kau tidak bisa terus bersembunyi dari takdirmu.”
Takdir.
Satu kata yang terasa seperti belenggu.
Pembelajaran dari Wulan
Wulan menghela napas panjang.
“Dengar, Kenzie. Jika kau ingin kuat, kau harus berhenti melarikan diri dari dirimu sendiri.”
Dia menghadapku, menunjuk dadaku.
“Kekuatanmu… terlalu besar untuk dikurung dalam kebohongan.”
Aku terdiam.
“Kau ingin membalas dendam, kan?”
Aku mengangguk.
“Kalau begitu, dengarkan aku baik-baik.”
Ia mulai menjelaskan dengan suara serius:
“Untuk menaikkan level kekuatan, seorang kultivator harus menembus batas tubuhnya saat Ki mencapai titik puncak. Ketika tubuhmu tidak lagi mampu menahan Ki, kau akan merasakan tekanan… lalu dunia dalammu mencoba membuka pintu menuju tingkat berikutnya.”
Aku mengingat semua itu dalam-dalam.
“Cara lain,” lanjut Wulan, “adalah menggunakan inti monster. Jika kau berada di tingkat Pemadatan Ki, kau membutuhkan inti monster level 3. Semakin tinggi kualitas inti yang kau serap, semakin cepat kau menerobos.”
Aku mengangguk perlahan.
“Jadi… aku harus menekan batasku?”
“Benar. Tapi sebelum itu—”
Ia menatapku tajam.
“Kau bahkan belum bisa mengendalikan Ki-mu.”
Aku menggaruk tengkuk, malu.
“…Iya.”
"Coba tarik napas. Fokus ke pusat dantianmu."
Aku melakukannya.
Dan saat aku mencoba mengumpulkan Ki…
Aku langsung merasakan tekanan besar mengalir liar, seperti air bah yang tidak bisa dikendalikan.
Wulan mendecak kecil. “Ki-mu berantakan. Kau hanya tahu bertarung memakai insting. Tidak ada kontrol.”
“Maaf…” gumamku.
“Tutup matamu. Ikuti arahanku.”
Duel Singkat
Setelah memahami teori, aku mengangkat pedang.
“Wulan. Ayo duel. Aku ingin tahu batasanku.”
Dia tersenyum tipis.
“Aku sudah menunggu kau bilang itu.”
Kami mengambil jarak.
Aku maju pertama. Menebas ke kanan—
Wulan menepis dengan dua jari.
Wulan memutar tubuh, menendang pelan dadaku, memaksaku mundur tiga langkah.
“Gerakanmu terlalu berat. Kau menaruh terlalu banyak Ki pada satu titik.”
Aku menggeram. Maju lagi.
Pedangku memotong udara.
Wulan melompat ringan dan menepuk pedangku ke samping dengan teknik Sword Flower Peony yang sangat lembut namun menghancurkan stabilitasku.
“Lihat? Lagi-lagi Ki-mu tumpah keluar sebelum kau mengayun.”
Aku terdiam.
Sial.
Dia benar.
“Aku… tidak bisa merasakannya dengan baik.”
“Karena cadangan Ki-mu terlalu besar, Kenzie. Terlalu luas… hingga kau sendiri tidak tahu batasnya.”
Dia mendekat, menaruh jarinya di dadaku.
“Duniamu di dalam… tidak stabil.”
“Duniaku…?”
Wulan mengangguk.
“Setiap kultivator punya dunia batin. Kau—”
Ia menatap mataku.
“—punya lautan Ki yang tak berujung. Dan kau mencoba mengontrolnya seperti mengikat badai dengan tali kecil.”
Aku membeku.
Lautan tak berujung?
“Cobalah meditasi. Aku ingin melihat seperti apa keadaanmu saat kau fokus penuh.”
Meditasi — Dunia Dalam Kenzie
Aku duduk bersila.
Menutup mata.
Menarik napas.
Dan dunia berubah.
Aku—
berdiri di permukaan air.
Lautan luas.
Tak ada daratan.
Tak ada langit.
Hanya Ki biru-perak yang berkibar seperti ombak.
Begitu luas.
Begitu berat.
Begitu tak terkendali.
“A-apa ini…?”
Ini… dunia batinku?
Tidak ada wujud apapun.
Tidak ada pulau.
Tidak ada landasan.
Hanya laut Ki yang meluber tanpa arah.
Bagaimana mungkin…?
Aku mencoba menggenggam Ki di telapak tangan, namun ombak itu memukul balik, membuatku kehilangan kendali.
“…Tidak heran aku selalu gagal.”
Aku terbangun dengan napas terengah.
Wulan menatapku dengan cemas.
“Bagaimana?”
“…Duniaku… hanya lautan. Tidak ada daratan.”
Ia memejamkan mata, lalu tersenyum tipis.
“Itu bukan kelemahan, Kenzie. Itu potensi. Kau hanya belum menemukan cara memadatkan Ki-mu menjadi bentuk.”
Aku mencoba lagi.
Dan lagi.
Semakin keras aku mencoba mengendalikan Ki…
semakin lautan itu menolak.
Sampai akhirnya tubuhku gemetar, penuh tekanan, Ki memuncak tak karuan di dada dan dantian.
Wulan menatapku dengan serius.
“Berhenti kalau kau merasa tubuhmu tak kuat—”
“Tidak!”
Aku menggertakkan gigi.
“Aku… harus… menerobos…”
Ki mulai melonjak.
Arus liar mengalir seperti badai.
Dadaku seperti hampir pecah.
“Kenzie!! Hentikan—”
“Aku harus kuat!! Jika tidak… aku tidak akan bisa menghadapi Zarco!!”
Rava & Liera Menemukan Kenzie
Tiba-tiba sebuah batu giok di saku bajuku bergetar keras.
Ah… itu.
Batu giok istana Laurent.
Dua batu yang saling terhubung—satu selalu bisa melacak pemilik lainnya.
Aku memberikannya pada Rava & Liera di Gunung Celestara dulu.
Benar saja.
Suara langkah tergesa mendekat.
“Kenzie!!”
“Ken!? Kau di mana—”
Rava dan Liera menerobos pepohonan.
Begitu melihatku…
Mereka membeku.
Aku sedang tenggelam dalam meditasi Ki—
ombak aura perak berputar di sekelilingku seperti badai kecil.
Wulan berdiri di sampingku, menjaga agar aku tidak kehilangan kendali.
“Wulan… apa yang terjadi pada Kenzie!?” seru Liera panik.
“Dia sedang mencoba memadatkan Ki-nya. Tapi Ki yang dia miliki… tidak normal.”
Rava menatapku ngeri.
“A-auranya… seperti… lautan…”
“Ya,” jawab Wulan pelan. “Dia… terlalu kuat.”
Suara desiran Ki semakin keras.
Tanah di sekitarku bergetar.
Dan tepat sebelum aku sepenuhnya kehilangan kendali—
Wulan meletakkan tangannya di pundakku.
“Kenzie. Sudah cukup untuk hari ini.”
Suara itu menembus badai.
Dadaku mereda.
Ki menurun.
Napas kembali stabil.
Aku membuka mata perlahan.
“Wulan… Rava… Liera…”
Wulan menarik napas lega.
“Kau hampir memaksa tubuhmu pecah, bodoh.”
Aku tertawa kecil.
“…Maaf.”
Rava memeluk pundakku.
“Besok pendaftaran Sekte Gunung Langit! Jangan mati sebelum itu!”
Aku tersenyum.
Liera mengangguk.
“Kau harus istirahat. Kita butuhmu besok.”
Aku berdiri perlahan.
Menghela napas panjang.
Besok…
Aku akan melangkah memasuki jalan yang sudah lama menungguku.
Sekte Gunung Langit.
Tempat dimana takdirku akan berubah.
Dan aku bersumpah…
Aku akan menjadi kuat.
Seberapa besar pun lautan Ki yang harus kutaklukkan.
Jika kamu ingin lanjut Bab 13, tinggal bilang.