Misty, seorang penulis novel misteri yang tengah naik daun karena karyanya "Siapa Membunuh Siapa?" menjadi buku best-seller, menerima sebuah paket misterius di depan pintu apartemennya.
Isi paket itu adalah naskah lama yang pernah Misty tulis, namun tak pernah dia selesaikan. Misty membaca lagi naskah lamanya yang berjudul "The Novelist" dan menemukan ada tulisan baru —yang bukan tulisannya— tersisip di dalam naskah lama itu. Tulisan baru itu menceritakan tentang skema pembunuhan seorang wanita di unit 205 sebuah apartemen.
Keesokan paginya, Misty dikejutkan dengan berita bahwa wanita penghuni unit sebelah —kamar 205— dibunuh dengan cara yang sama seperti yang tertulis dalam naskah lama Misty.
Wajah panik Misty yang sempat tertangkap oleh Anjas, wartawan yang meliput kasus pembunuhan di apartemen Misty, membuat Anjas penasaran dan berusaha mendapat informasi dari Misty.
Siapakah pengirim paket misterius itu? Akankah Misty dicurigai sebagai tersangka pembunuhan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Satu Nama di Balik B 1351 AY
Arga menuju ruang Regident Ranmor untuk meminta data mengenai petunjuk yang didapat dari Anjas.
"B 1351 AY," gumam salah satu petugas yang mengakses database registrasi kendaraan bermotor sambil menekan tombol keyboard laptopnya. Saat petugas menekan tombol enter, informasi terkait B 1351 AY muncul di layar komputer.
Nomor Registrasi : B 1351 AY
Merek / Type : Honda / Jazz Rs
Jenis : Mobil penumpang
Warna : Merah
Status Kepemilikan:
2020 - sekarang: Raharja Santosa → aktif
2020 : balik nama
2017 - 2020: Dani Hendrawan → aktif
2017 : balik nama
2016 - 2017: Rani Indrawati → aktif
2016 balik nama
2016: Indra Rahardian → aktif
Arga dan Gerry segera mencondongkan tubuhnya ke layar komputer. Keduanya kemudian saling tatap dengan alis mengerut. Arga kemudian menatap layar komputer lagi.
"Pak," panggil Gerry pada Arga. Arga menoleh lalu mengangguk.
"Tolong cetak," perintah Arga pada petugas database. Petugas itu mengangguk dan segera mencetak informasi terkait B 1351 AY.
Arga dan Gerry keluar dari ruang akses database ranmor sambil menatap informasi yang mereka dapat.
"Seperti dugaan," kata Arga.
"Akan sangat mengherankan jika pelaku tabrak lari tetap mengendarai mobil yang sama selama sepuluh tahun," kata Arga sambil kembali menatap informasi yang dia dapat.
Gerry mengikuti Arga, menatap kertas berisi informasi lengkap mobil dengan plat B 1351 AY. Keduanya menatap daftar status kepemilikan kendaraan tersebut.
"Kalau tabrak lari itu terjadi sepuluh tahun lalu, Pak," kata Gerry sambil menatap daftar kepemilikan di tahun 2016.
"Saya rasa data ini cukup janggal," kata Gerry sambil menunjuk nama pemilik pertama mobil itu. Arga mengangguk setuju.
"Bukankah aneh membeli mobil baru dan menjualnya lagi dalam rentan waktu yang begitu pendek?" tanya Gerry. Arga segera membalik kertas dan mencari data lebih detail tentang hal itu.
Arga membaca cepat data yang berisi tanggal kapan balik nama dilakukan. Matanya membulat saat menangkap satu tanggal.
"Tiga puluh Mei," gumam Arga. Gerry yang juga menatap data itu menaikkan kedua alisnya.
"Sepuluh hari setelah kecelakaan," bisik Gerry dengan wajah tercengang.
Arga dan Gerry saling tatap. Keduanya bergegas menuju mobil dan bergerak secepat yang mereka bisa.
'Apakah dia pengemudi mobil itu malam itu?'
***
Anjas masih berdiri di depan pintu unit apartemen Misty sambik tertunduk. Dia masih memikirkan sosok yang dia lihat di dalam lift sesaat sebelum pintu lift tertutup.
"Aku yakin," gumam Anjas.
"Nggak salah lagi. Tadi itu Dokter Maya," Anjas masih menggumam meyakinkan dirinya.
Mata Anjas menatap pintu unit apartemen Misty. Bola matanya bergerak perlahan, mengingat percakapannya dengan Misty sebelum dia meninggalkan Misty tadi.
"Saya punya kenalan dokter. Biar nanti saya hubungi dia,"
"Apa mungkin yang dia maksud... Dr. Maya Wijaya?" gumam Anjas dengan dahi mengerut.
'Apa dia juga nerima jasa konsultasi panggilan?'
'Apa psikiater jaman sekarang seperti itu?'
Banyak pertanyaan berputar-putar di kepala Anjas hingga dia lupa untuk menekan bel pintu.
"Cekrek,"
Anjas terkejut saat pintu unit apartemen Misty terbuka. Misty terkejut saat akan keluar, mendapati Anjas berdiri di depan pintunya.
"Ah!"
"Saya tidak tahu ada orang di depan pintu," kata Misty.
"Anda baik-baik saja, Nona? Kenapa Anda keluar?" tany Anjas bingung.
"Ah! Saya sudah merasa lebih baik. Dokter kenalan saya sudah kemari dan memberi beberapa obat," kata Misty.
Anjas manggut-manggut, Misty memang terlihat lebih baik daripada saat dia tinggalkan tadi.
"Saya merasa lapar. Lalu, tiba-tiba saya pengen nasgor di kedai samping apartemen. Jadi, saya memutuskan untuk keluar," lanjut Misty.
"Nasgor sebelah?" tanya Anjas. Misty mengangguk.
"Kebetulan! Saya baru saja mau menekan bel pintu Anda untuk mengantarkan ini," kata Anjas sambil mengangkat kantong plastik yang dibawanya. Misty mengerutkan alisnya.
"Nasgor," kata Anjas.
"Saya beli di kedai sebelah," lanjutnya sambil tersenyum. Misty mengerjapkan kedua matanya.
"Eh?"
"Anda tak perlu keluar," kata Anjas sambil menyodorkan kantong plastik di tangannya ke arah Misty.
Misty menatap kantong plastik itu ragu-ragu. Dia dapat melihat hanya ada satu bungkus di dalamnya.
"Saya sudah makan disana tadi, sambil nunggu pesanan yang ini jadi," kata Anjas sambil memegang perutnya.
"Oh ya! Saya pesan yang pedes sedang," lanjut Anjas. Misty tersenyum tipis.
"Terimakasih," ucap Misty sambil menerima nasi goreng dari Anjas. Anjas tersenyum.
"Syukurlah. Saya lega Anda sudah lebih baik," kata Anjas.
"Kalau begitu... saya permisi, Nona," kata Anjas, membuat kedua alis Misty naik.
"Jangan lupa segera dimakan. Mumpung masih panas," kata Anjas sambil berjalan menuju lift.
Misty menatap Anjas yang berlalu. Dia kemudian menatap kantong plastik di tangannya. Entah mengapa, saat dia melihat Anjas di depan pintu, ada rasa lega yang menjalar dalam dirinya.
"Ding," pintu lift terbuka. Misty melihat Anjas berjalan masuk ke lift.
Misty kembali menatap kantong plastik di tangannya. Sedetik kemudian, kakinya berlari menuju lift. Saat pintu lift akan tertutup, Misty dengan cepat mengulurkan tangannya.
Anjas yang sedang sibuk dengan ponselnya, terkejut saat melihat Misty menahan lift.
"Nona Misty?"
Misty ragu-ragu sesaat. Dia mengatur napasnya sebelum akhirnya bicara.
"Bisakah..."
Kalimat Misty terhenti. Tangannya meremas kantong plastik erat-erat. Anjas menyimpan ponselnya kembali ke dalam saku celananya.
"Anda..."
Anjas menunggu dengan sabar.
"...mampir sebentar?" lanjut Misty.
Anjas menaikkan kedua alisnya sesaat lalu tersenyum.
"Saya rasa..." kata Anjas sambil melihat arlojinya.
"Saya masih punya waktu untuk mampir sebentar," lanjutnya lalu berjalan keluar lift.
Misty tersenyum lega. Dia berjalan kembali menuju unitnya. Anjas menatap punggung Misty yang berjalan di depannya.
'Haruskah aku menanyakan tentang Dokter Maya padanya sekarang?'
'Tunggu, Njas. Jangan buru-buru,'
'Dia baru mulai mempercayaimu. Jangan sampai dia curiga lagi denganmu,'
***
"Saya yakin, cepat atau lambat polisi akan menemui saya," kata Indra Rahardian pada seseorang via sambungan telepon.
"Kamu nggak perlu panik," kata suara di seberang sambungan.
"Katakan saja seperti apa yang pernah aku katakan padamu sebelumnya," lanjutnya.
Indra tak menjawab. Di berjalan mondar-mandir di kamarnya. Sejak berita pembunuhan Hani menjadi viral di media massa, Indra menjadi panik. Dia tahu seketika itu juga bahwa pembunuhan Hani bukan hanya sekedar pembunuhan biasa.
"Ingat..." kata suara di seberang sambungan, menyadarkan Indra dari lamunannya.
"Katakan seperti yang pernah aku katakan," lanjutnya.
Napas Indra tercekat. Dia berhenti mondar-mandir tepat di depan cermin. Dia menatap pantulan dirinya di cermin. Selama sepuluh tahun dia hidup dalam kepura-puraan, menutupi hal yang seharusnya dia ungkap. Dan kini, sepuluh tahun kemudian, teror yang tak terlihat seolah sedang merayap perlahan, mendekat dalam diam, seolah siap menghardiknya kapan saja.
'Apa yang harus aku lakukan?'
'Haruskah aku mengatakan yang sebenarnya?'
'Atau... mengikuti arahan orang ini?'
***