NovelToon NovelToon
Nikah Kilat Dengan CEO Berandal

Nikah Kilat Dengan CEO Berandal

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Anvika

Kanara gadis berusia 27 tahun dengan penampilan cupu, pulang ke kampung halamannya sebagai cara untuk melarikan diri dari rasa sakit akibat dikhianati kekasihnya yang merupakan aktor papan atas. Ia bersumpah untuk menolak cinta, tetapi takdir justru mempermainkannya. Nara terjebak dalam pernikahan kilat dengan Sagara, seorang pemuda asing berpenampilan berandal yang datang ke desanya.

Menghadapi Nara yang menutup rapat hatinya, Sagara justru hadir membawa sejuta kejutan yang menjungkirbalikkan dunia gadis itu. Kini, Nara dihadapkan pada pilihan sulit. Sanggupkah ia membuka lembaran baru dan menerima kehadiran Sagara di hidupnya? Ataukah Nara akan memilih melangkah mundur, membiarkan dirinya tenggelam dalam rencana besar untuk membalas rasa sakit hatinya pada sang mantan?

📌 Update setiap hari! Jangan lupa pasang notifikasi dan masukin ke library kalian ya! 😉✨

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anvika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4 Kebohongan yang Berlanjut

Matahari semakin naik, semakin terik. Para penghuni kos-kosan satu persatu perlahan keluar, begitu pula dengan para pekerja pabrik yang tengah berlibur. Semuanya kini mendatangi 'Warung Makan Kanara'.

"Maaf, Bu Imas. Ngobrolnya nanti lagi, ya. Saya mau bantu Ibu dulu, banyak pelanggan." Nara sangat bersyukur memiliki alasan untuk melepaskan diri dari wanita yang banyak sekali bertanya itu, belum lagi pertanyaannya yang tidak mempertimbangkan kenyamanan kawan bicaranya.

Dengan segera Nara sibuk membantu ibunya, mengabaikan Imas yang masih sesekali bertanya.

"Pantasan lama ditunggu-tunggu, ternyata kamu datang ngobrol ya, Bu. Bukannya beli nasi untuk aku sama anak-anak. Mereka sampai cegukan itu di rumah." Suami Imas datang dan langsung mengomeli istrinya itu.

"Ya ampun, sampai lupa." Imas menepuk dahinya sendiri. "Bu Ratna, pesan nasinya empat bungkus. Lauknya kaya biasa, ya," ucapnya yang langsung diangguki Ratna.

Suami Imas segera memepet. "Eh, jadi tiga bungkus aja, Neng Nara. Aku makan di sini, lebih nikmat makan di tempat," sahutnya yang langsung mendapatkan pelototan dari sang istri.

"Tidak, dibungkus aja!" kata Imas tegas. "Kamu jangan bertingkah di sini ya, Pak. Ingat sama bini 2 dan 3 mu di rumah. Lagi pula, Nara itu sudah punya calon suaminya. Jadi kamu jangan ngegatal kaya cacing kremi sama dia!" peringatnya yang melihat tingkah suaminya akhir-akhir ini. Jika pria muda akan pikir-pikir dulu untuk menggoda Nara, tidak dengan suaminya yang langsung embat siapa saja asalkan masih muda. Sampai-sampai ia harus memelihara madu 1 dan 2 di rumahnya. Jika ditambah dengan madu 3, ia yakin tensi darahnya akan naik drastis.

"Jadi, empat bungkus ya, Bu Imas, Juragan?" tanya Ratna untuk memastikan.

"Iya, Bu," jawab Imas dengan nada pasti. Sedangkan Juragan hanya bisa menganga tertahan.

Imas membayar pesanan mereka, tidak lupa juga perkedel jagung yang ia cemil tadi. Lalu menarik lengan suaminya agar pulang bersamanya.

"Huft!" Nara menghela napas, bersyukur kedua orang itu pergi.

"Kamu masih hutang penjelasan sama Ibu, lho," ingat ibunya, membuat gadis itu belum benar-benar bisa tenang.

***

Kebohongan Nara terus berlanjut, ibunya menanyakan terkait kebenaran atas ucapannya tadi pagi.

"Iya, Bu. Dia orang kota, Nara ketemu sama dia saat kerja," jelasnya, berusaha meyakinkan dan berharap ibunya tidak bertanya lagi. Namun, harapan itu hanyalah tinggal harapannya saja.

"Kenapa tidak beritahu Ibu sejak awal? Kalau tahu begitu, Ibu ndak akan sekhawatir ini." Ibunya mengembuskan napas lega, membuat Nara justru semakin merasa bersalah. "Kamu lihat, kan, Juragan? Suaminya Bu Imas tadi. Ibu perhatikan, dia itu suka curi-curi pandang sama kamu. Dari kamu datang dua bulan lalu sampai sekarang." Sebagai seorang ibu, tentu saja ia mengkhawatirkan hal itu. Tidak ada orang tua yang ingin anaknya didekati pria yang sudah berumur dan memiliki tiga istri.

Nara tidak bisa berkata-kata lagi, selain hanya mengangguk saja.

"Jadi, kapan dia datang dan memperkenalkan diri kepada Ibu? Ibu tidak sabar bertemu dengannya."

Manik coklat Nara sontak membulat, ia mulai terlihat gelagapan.

"Itu ... aku belum tahu, Bu. Dia belum punya waktu luang, masih sibuk kerja," alasannya semasuk akal mungkin.

Sejenak, Bu Ratna terdiam. Nara menjadi harap-harap cemas. Apakah ibunya akan percaya atau tidak dengan perkataannya barusan.

"Ya sudah kalau begitu, nanti kabari dia kalau Ibu pengen ketemu. Jika dia sudah punya waktu, suruh datang," ujar Ratna kemudian, Nara sigap mengangguk.

Hari semakin sore, warung siap ditutup karena semuanya sudah habis terjual. Nara dan ibunya berbondong-bondong membawa nampan dan perkakas yang telah kosong untuk dicuci di rumah.

***

Di sisi lain, seorang pemuda dengan rambut gondrong sebahu kian melajukan motornya di jalanan sepi menuju Desa Bukit Tinggi.

Dibelakang punggungnya terdapat tas gunung yang berisi beberapa potong baju, laptop, ponsel dan beberapa barang penting lainnya. Benar-benar hanya barang-barang penting yang ia masukan dengan terburu-buru saat di rumahnya tadi.

Masih terngiang perkataan ibunya yang ingin menjodohkannya dengan teman masa kecilnya. Gadis kecil yang seingatnya dulu sangat cengeng, pemaksa, dan penuh drama. Kini menjadi wanita dewasa yang cantik karena dia menjadi seorang artis, bakatnya sejak kecil ia manfaatkan dengan sangat baik. Begitu pula dengan sifatnya yang lain, yang tidak terlalu banyak berubah, malah semakin menjadi-jadi saja.

Pria itu merinding tak kala kembali teringat dengan tingkah gadis itu tiga hari yang lalu saat ia menemaninya di mall, merengek layaknya anak kecil saat keinginannya tidak dipenuhi, membawakan barang-barang belanjaannya seolah ia adalah pengawal sekaligus babunya. Tingkahnya sangat lebay, bahkan melebihi saat ia masih kecil. Di kira lucu apa bertingkah seperti itu?

"Ih, amit-amit punya istri seperti dia. Astaga ... nauzubillah, najiis ...!" umpat pria itu saling bersahutan dengan desau angin yang menerpa wajahnya. "Syukur gue punya alasan untuk kabur dari rumah, kalau tidak ... mommy pasti sudah maksa buat nemenin lagi tuh cewek banyak drama!" lanjutnya, berujar sendiri. Meluapkan segala kata-kata yang terpendam saat di rumah karena tidak diberikan kesempatan oleh sang ibu untuk berbicara.

Deringan ponselnya membuat ia menghentikan sejenak umpatannya, dan menepi ke kiri untuk menjawab telepon.

"Ya, Dad?!" sapanya ringa, telepon dari sang ayah.

"Kamu yang benar saja Sagara Radetya Adhiyaksa!!! Kenapa meninggalkan pekerjaan untuk Daddy?! Urusanmu dengan Mommy, jangan sangkut pautnya dengan Daddy. Pokoknya kamu pulang, urus pekerjaanmu. Masalah di situ, biarkan anak buahmu yang urus. Kamu tidak mesti harus turun tangan langsung, pokoknya pulang. SEGERA!!!" pria yang bernama Sagara itu menjauhkan sedikit ponsel dari telinganya, geraman suara dari sang ayah sampai membuat telinganya berdenging.

Tetapi walau begitu, sama sekali tidak membuat nyalinya menciut, apalagi berubah pikiran dan kembali ke rumah.

Pria itu terkekeh ringa, tidak terpengaruh sama sekali dangan kemarahan ayahnya nun jauh di sana.

"Sorry Dad, kali ini aku nggak bisa turutin perkataan Daddy. Aku mau refreshing dulu, mendinginkan otak, dan menjauh dari mommy untuk sementara waktu karena terus saja dijodohin sama gadis Si Paling Drama itu. Lagi pulang 'kan, aku belum pernah ambil cuti. Dan ini juga bukan sepenuhnya cuti, karena aku akan membantu menyelesaikan masalah proyek kita di Desa Bukit Tinggi," jelas pria itu, sayup-sayup ia mendengar dengusan ayahnya di seberang sana.

"Sebentar saja, Dad. Nanti juga aku minta bantuan sama Bang Juna untuk bantu Daddy ngurus perusahaan," tawarnya dengan mulut manis.

Terdengar helaan napas dari ayahnya. "Sudahlah, tidak perlu kamu ganggu Arjuna. Dia punya perusahaan sendiri yang harus ia tanggung, belum lagi istri dan anaknya yang harus ia beri perhatian."

Sagara masih mendengar penjelasan dari ayahnya, "Jadiii ...?" tanya pria itu.

"Untuk sementara dan sebentar saja, Daddy akan menghandle perusahaanmu. Kamu cepat pulang, dan jangan lama-lama di sana. Kalau memang tidak ingin dijodohkan dengan teman masa kecilmu itu. Balik nanti, kamu bawa saja istri!" ucapan ketus dari ayahnya itu menerbitkan senyuman di bibir yang suka mengumpat itu.

"Ide, bagus. Thanks Dad, you are my Hero! Hahahahah ...."

"Dasar berandal!" balas ayahnya di seberang sana, membuat tawa pria itu semakin lebar yang kemudian mengakhiri panggilan dan melanjutkan perjalanannya menuju Desa Bukit Tinggi.

***

Bersambung ...

1
Maulidia Okta
wah karna ada uwak sakit, nara sama sagara pasti bisa lebih dekat lagi, udh kayak suami istri beneran...
Maulidia Okta
gitu donk yang akur dan mendekati mesra nick.....
Maulidia Okta
duh...mulau ada bau² kedekatan nich
Maulidia Okta
duh... enteng banget aa gara, ngomong ya....
Anvika: Iya, kaya ngajak main diaa🤭
total 1 replies
Maulidia Okta
suka cefitanya....
Anvika: Makasih kak😍🥰
total 1 replies
Maulidia Okta
nara ribet banget ya
Anvika: Heheh, memang ribet dia kak🤭
total 1 replies
fabdul
Walaupun tanpa cinta, tapi tetap berkomitmen 👍
Anvika: Setuju, kak😊
total 1 replies
fabdul
Mampir💪
Anvika: Siap, Kak. Semoga suka ceritanya 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!