Kirana cuma pengen kuliah tenang. Tapi dosen paling galak sekampus malah jadi orang yang bikin jantungnya berdebar tanpa alasan.
Status dosen dan mahasiswi jadi tembok pemisah. Masa lalu kelam Alden jadi ancaman yang siap menghancurkan semuanya.
Satu pertanyaan tersisa: berani nggak, Kirana, jatuh cinta pada orang yang paling dilarang buat dicintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon W_ Wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32: DIJODOHKAN TEMAN SEKELAS LAGI
Kirana baru saja mengunci sepeda motornya di parkiran kampus ketika ponselnya bergetar, notifikasi grup kelompok gabungan yang sudah lama sepi tiba tiba ramai lagi. Dia membuka pesan itu, mendapati Dinda mengirim sesuatu yang membuat dahinya berkerut.
"Guys, ada acara buka bareng kelompok gabungan sore ini di kafe deket kampus, buat rayain hasil presentasi kemarin. Yang bisa dateng absen ya."
Kirana ragu sejenak sebelum membalas, mengingat kesepakatannya dengan Alden untuk lebih berhati hati dalam segala hal yang berkaitan dengan interaksi publik. Tapi acara ini sepertinya murni inisiatif teman teman kelompok, tanpa melibatkan Alden sama sekali, jadi seharusnya aman aman saja.
"Aku bisa dateng," balasnya, bergabung dengan beberapa nama lain yang sudah lebih dulu mengonfirmasi kehadiran.
Sore itu, kafe kecil dekat kampus dipenuhi suasana ceria, sembilan anggota kelompok gabungan duduk mengelilingi dua meja yang disatukan, tertawa dan bercerita santai setelah beberapa minggu terakhir dipenuhi tekanan deadline dan drama yang tidak terduga.
"Akhirnya bisa santai juga," Bagas menghela napas lega, menyeruput es kopi susu yang baru dia pesan. "Rasanya udah lama banget nggak kumpul tanpa mikirin tugas."
"Bener banget," Ferra menimpali, tertawa kecil. "Padahal baru sebulan jalan, tapi rasanya kayak udah setahun ngerjain proyek ini."
Kirana duduk di antara Nadia dan Tesa yang sengaja diajak ikut meski bukan bagian dari kelompok, ikut tertawa mendengar celoteh teman temannya, meski pikirannya sesekali masih melayang pada situasi rumitnya dengan Alden yang belum juga menemukan jalan keluar yang jelas.
"Eh, Kir," Dinda tiba tiba memanggil dari ujung meja, "Reza tadi nanya, boleh nggak dia gabung sebentar ke acara kita."
Kirana sedikit terkejut mendengar nama itu lagi. "Reza yang kemarin itu?"
"Iya, dia masih penasaran banget sama kamu, Kir," Dinda menjawab, tersenyum jahil.
"Aku bilang aja nggak apa apa kan kalau dia mampir sebentar."
Sebelum Kirana sempat menjawab, sosok Reza sudah muncul di pintu kafe, melambaikan tangan ke arah meja mereka dengan senyum ramah seperti biasa. Dia berjalan mendekat, membawa tas ransel yang menunjukkan dia baru saja selesai dari kelas.
"Hai semua," sapa Reza, duduk di kursi kosong yang kebetulan berada di sebelah Kirana. "Denger - denger kalian abis presentasi sukses ya, selamat."
"Makasih," jawab beberapa orang serempak, sementara Kirana hanya tersenyum kecil, sedikit tidak nyaman dengan posisi duduk yang tiba tiba jadi berdekatan itu.
"Kir, kamu gimana kabarnya? Denger denger kemarin sempet ada drama soal foto gitu," Reza bertanya langsung, membuat suasana meja sedikit hening sejenak.
"Aku baik baik aja kok," Kirana menjawab singkat, berharap topik itu tidak berlanjut lebih jauh di tengah keramaian teman teman lainnya.
"Untung aja cepet selesai masalahnya," Reza melanjutkan, tidak menyadari kecanggungan yang mulai muncul. "Kirain bakal jadi masalah besar."
Tesa yang duduk di seberang Kirana melirik sahabatnya dengan tatapan khawatir, mencoba mencari cara untuk mengalihkan pembicaraan. "Eh, ngomong ngomong, ada yang tau nggak jadwal ujian akhir semester kapan?"
Alih topik itu berhasil sedikit mencairkan suasana, obrolan kembali beralih ke hal hal ringan seputar perkuliahan. Tapi Reza tetap sesekali mengarahkan perhatiannya ke Kirana, mencoba mengajak bicara di sela sela obrolan kelompok yang lebih umum.
"Kir, kamu ada rencana liburan semester ini?" tanya Reza, mencoba memulai percakapan yang lebih personal.
"Belum kepikiran sih, mungkin cuma di kos aja," jawab Kirana, mencoba menjaga jawabannya tetap singkat dan tidak terlalu membuka peluang untuk pertanyaan lebih lanjut.
"Kalau gitu, mau nggak nanti kita jalan bareng? Aku tau beberapa tempat asik yang belum banyak orang tau," Reza melanjutkan, senyumnya penuh harap.
Kirana terdiam sejenak, mencari cara paling sopan untuk menolak tanpa menyakiti perasaan Reza yang terlihat begitu antusias. "Makasih tawarannya, Za, tapi aku rasa aku lagi pengen fokus istirahat aja semester ini, nggak banyak jalan jalan."
"Oh, gitu ya," Reza sedikit kecewa, tapi tetap mencoba tersenyum. "Nggak apa apa, lain kali aja kalau gitu."
Nadia yang duduk tidak jauh memperhatikan percakapan itu dengan seksama, kemudian melirik Kirana dengan tatapan penuh pengertian, seolah memahami situasi rumit yang sedang dihadapi sahabatnya itu tanpa perlu penjelasan lebih lanjut.
Menjelang malam, ketika sebagian besar anggota kelompok mulai berpamitan pulang satu per satu, Kirana dan Tesa memutuskan untuk tetap tinggal sebentar, menunggu keramaian benar benar mereda sebelum mereka juga beranjak pergi.
"Kir, tadi Reza gigih banget ya ngedeketin kamu," komentar Tesa begitu mereka berdua tersisa di meja, ditemani segelas minuman yang sudah hampir habis.
"Iya, aku juga bingung harus nolak gimana yang sopan," Kirana menghela napas, menyandarkan punggung ke kursi. "Padahal aku udah jelas jelas nggak nunjukin ketertarikan apa apa ke dia."
"Mungkin dia emang gigih orangnya," Tesa mengangkat bahu. "Tapi kamu tetep harus tegas kalau emang nggak tertarik, biar dia nggak salah paham lebih jauh."
"Aku tau, Tes. Tapi rasanya nggak enak juga kalau harus terlalu blak blakan," Kirana mengaku, meremas ujung gelasnya sendiri.
Tesa menatap sahabatnya dengan ekspresi lembut. "Kir, ini juga bagian dari kamu harus jaga diri kamu sendiri. Kamu udah punya banyak beban dari situasi sama Pak Alden, jangan sampe ditambah lagi sama tekanan dari Reza yang terus terusan ngedeketin kamu."
Kirana mengangguk, mempertimbangkan kata kata itu dengan serius. "Kamu bener, Tes. Mungkin lain kali aku harus lebih tegas kalau dia masih terus ngajak jalan."
Mereka melanjutkan obrolan santai sambil menikmati sisa waktu di kafe, membicarakan berbagai hal ringan untuk sejenak melupakan tekanan yang selama ini membebani pikiran Kirana. Tapi ketika akhirnya mereka bersiap pulang, ponsel Kirana bergetar, menampilkan pesan singkat dari nomor yang sangat dia kenal.
"Kirana, saya denger dari beberapa dosen, ada acara kumpul kelompok kamu sore ini. Semoga berjalan lancar dan menyenangkan."
Pesan itu membuat jantung Kirana berdebar, campuran antara senang karena Alden masih memperhatikan kesehariannya meski dari jauh, dan sedikit khawatir bagaimana dia bisa tau tentang acara itu.
"Terima kasih, Pak. Acaranya lancar kok, cuma ngumpul santai aja sama teman teman kelompok," balasnya, memilih kata kata dengan hati hati mengingat kesepakatan mereka untuk lebih berhati hati.
Balasan dari Alden datang beberapa saat kemudian. "Syukurlah. Jaga diri baik baik ya, Kirana."
Kalimat sederhana itu membuat dada Kirana terasa hangat meski situasi mereka masih penuh ketidakpastian. Dia memasukkan ponselnya kembali ke tas, mencoba menyembunyikan senyum kecil yang muncul tanpa dia sadari dari pandangan Tesa yang masih duduk di sebelahnya.
"Dari siapa, Kir? Kok senyum senyum sendiri?" tanya Tesa, menyipitkan mata penuh curiga.
"Bukan siapa siapa kok, Tes," Kirana buru buru menjawab, meski wajahnya mulai terasa hangat karena ketahuan.
"Ah, pasti dari Pak Alden," Tesa menggoda, tersenyum lebar. "Untung dia masih peduli, meski lagi jaga jarak."
Kirana tidak membantah lebih jauh, hanya tersenyum kecil sambil merapikan barang barangnya untuk benar benar pulang. Di tengah semua tekanan dan ketidakpastian yang menyelimuti hubungannya dengan Alden, perhatian kecil seperti pesan singkat tadi terasa seperti secercah harapan yang membuatnya yakin, meski jalan di depan masih panjang dan penuh rintangan, apa yang tumbuh di antara mereka tetap bertahan, bahkan di tengah jarak yang terpaksa mereka jaga demi keamanan bersama.