NovelToon NovelToon
Sumpah Yang Terlupakan Dari Sang Penjahat Wanita

Sumpah Yang Terlupakan Dari Sang Penjahat Wanita

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Romansa Fantasi / Fantasi Isekai
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: nadnote

Seorang wanita pekerja kantoran yang rasional bertransmigrasi ke dalam novel romansa tragis sebagai Geneviève de Montmirail, seorang putri Duke yang ditakdirkan dieksekusi karena cintanya yang gila dan obsesif kepada Duke muda, Lucien de Vaudémont.
​Bertekad untuk mematahkan bendera kematiannya (death flag), Geneviève memutuskan untuk menarik diri sepenuhnya dari kehidupan Lucien dan lingkungan istana yang beracun. Alih-alih mengejar cinta fana, ia menggunakan kecerdasannya dalam administrasi keuangan untuk memajukan wilayahnya dan membuka bisnis perhiasan yang mendobrak tren kekaisaran.
​Namun, sikap dingin Geneviève justru memicu retaknya "Sihir Putih" milik Putri Mahkota Camille, sang protagonis asli novel yang tampak suci namun bermuka dua. Saat Lucien mulai mengalami kilasan ingatan yang menyiksa tentang masa lalu yang tak pernah ia ketahui, Geneviève menemukan sebuah perhiasan rahasia peninggalan tubuh aslinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nadnote, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kepingan Masa Lalu

"Nona, tolong tarik tangan Anda sekarang juga sebelum benda terkutuk itu meledakkan seluruh sayap barat kediaman kita."

​Suara Odette terdengar sangat tegang. Pelayan wanita itu sudah mengangkat kunci inggris besinya tinggi-tinggi. Ia berdiri dengan kuda-kuda kokoh, bersiap memukul kotak kayu bercahaya itu hingga hancur berkeping-keping jika ada sesuatu yang berani melompat keluar dari sana.

​Geneviève mengabaikan peringatan pelayannya. Rasa sakit yang sempat menusuk pelipisnya mereda secepat kedatangannya, digantikan oleh sebuah kehangatan aneh yang menyebar ke seluruh rongga dadanya. Tangannya tidak gemetar saat jari-jarinya mencengkeram sisi kotak kayu berukir itu.

​"Turunkan senjatamu, Odette. Benda ini tidak berbahaya," ucap Geneviève dengan suara pelan namun sarat akan keyakinan.

​Ia menarik kotak cokelat tua itu keluar dari kompartemen rahasia. Cahaya pendaran biru dan ungu lembut yang keluar dari celah penutupnya menerangi wajah cantik Geneviève. Debu tipis yang menempel di permukaan kayu itu seolah menyingkir dengan sendirinya, memperlihatkan ukiran sulur mawar yang sangat detail dan presisi.

​"Tidak berbahaya bagaimana maksud Anda?" protes Odette seraya melangkah maju dengan hati-hati. Kunci inggrisnya masih belum diturunkan. "Benda itu menyala di dalam kegelapan tanpa menggunakan minyak atau sumbu api. Di kampung halaman saya, barang yang bisa bersinar sendiri biasanya merupakan jimat kutukan dari penyihir rawa yang akan membuat rambut Anda rontok dalam semalam."

​Geneviève tersenyum tipis mendengar logika khas rakyat jelata tersebut. Ia membawa kotak itu menjauh dari dinding dan berjalan menuju meja kerjanya yang berada di dekat jendela. Cahaya matahari sore yang berwarna keemasan menembus masuk, berbaur dengan pendaran magis dari kotak kecil itu.

​"Ini bukan sihir rawa, Odette. Ini adalah sihir perlindungan tingkat tinggi," gumam Geneviève. Ia duduk di kursinya dan meletakkan kotak itu dengan sangat hati-hati di atas meja. "Ukirannya sangat familier, tetapi aku tidak bisa mengingat di mana aku pernah melihatnya."

​Odette akhirnya menyarungkan kembali senjatanya ke dalam saku dalam celemek. Ia berdiri di samping meja, mencondongkan tubuhnya untuk melihat benda aneh itu lebih dekat. Rasa penasarannya mulai mengalahkan rasa takutnya.

​"Lalu, apa isinya Nona? Apakah itu surat wasiat tersembunyi? Atau mungkin peta harta karun yang ditinggalkan oleh leluhur keluarga Montmirail?" tanya Odette dengan mata berbinar.

​"Mari kita lihat bersama," jawab Geneviève tenang.

​Tanpa ada keraguan, Geneviève membuka penutup kotak kayu tersebut. Engsel kayunya tidak mengeluarkan suara derit sama sekali, pertanda bahwa benda ini dibuat oleh pengrajin kelas atas.

​Begitu kotak terbuka lebar, cahaya biru lembut dan ungu muda yang sejak tadi tertahan kini berpendar lebih terang, memenuhi sudut ruangan dengan aura yang sangat menenangkan. Bau apek dari dinding tua seketika tergantikan oleh aroma bunga lili malam yang segar dan manis.

​Di bagian dalam kotak yang dilapisi beludru putih murni, tergeletak sebuah cincin.

​Geneviève terdiam kaku. Matanya membulat sempurna. Napasnya tertahan di tenggorokan.

​Bukan karena cincin itu menakutkan, melainkan karena cincin itu terlalu indah. Desainnya sangat ramai, rumit, dan maksimalis, namun entah bagaimana dirangkai sedemikian rupa hingga terlihat luar biasa elegan. Rangka cincinnya terbuat dari perpaduan emas putih dan platina yang diukir membentuk sulur ranting kecil yang melilit. Di tengah-tengah sulur itu, bertengger susunan batu permata dengan potongan presisi tinggi.

​Warna batu permata itu bukanlah merah darah yang menyilaukan mata atau hijau zamrud yang norak. Permata utama dan beberapa permata kecil di sekelilingnya memancarkan warna biru yang sangat lembut, berpadu harmonis dengan warna ungu muda yang jernih bagaikan tetesan air embun.

​Ini adalah sebuah mahakarya. Sebuah perhiasan dengan sentuhan estetika dunia dongeng tingkat tinggi yang bahkan melampaui desain modern yang ada di kepala Geneviève.

​"Astaga Naga," bisik Odette, benar-benar kehilangan kata-kata. Pelayan itu menopang dagunya sendiri yang nyaris jatuh ke meja. "Itu... itu sama sekali tidak terlihat seperti selera norak Anda yang biasanya, Nona."

​Geneviève mengusap wajahnya dengan satu tangan. Rasa frustrasi yang luar biasa hebat kembali menumpuk di dadanya, kali ini disertai dengan kebingungan logis yang sangat memusingkan.

​"Ini membuatku sangat marah, Odette," desis Geneviève dengan nada tertahan.

​"Marah? Kenapa Anda marah melihat berlian seindah ini?" tanya Odette bingung.

​Geneviève menunjuk cincin di dalam kotak itu dengan jari telunjuknya. "Karena benda ini adalah bukti betapa tidak masuk akalnya kelakuan wanita pemilik tubuh ini di masa lalu. Coba kau gunakan logikamu, Odette. Seseorang yang memiliki selera setinggi ini, seseorang yang menyimpan mahakarya bernilai puluhan ribu koin emas di balik dinding, tidak mungkin memilih memakai gaun merah bulu burung unta untuk pergi ke pesta."

​Odette mengerjap beberapa kali, mencoba mencerna ucapan majikannya. "Maksud Anda, selera norak Anda selama ini mungkin hanya... pura-pura?"

​"Aku tidak tahu." Geneviève menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi. Kepalanya berdenyut perlahan. "Atau mungkin selera aslinya memang seindah ini, tetapi sesuatu telah merusak otaknya hingga ia berubah menjadi badut tanpa selera. Membuang ribuan koin emas untuk bantal huruf L sementara ia memiliki perhiasan sempurna ini di kamarnya adalah sebuah penghinaan terhadap akal sehat. Dan ingat cincin pertunangan safir biru besar yang aku lemparkan ke meja ruang tamu tadi siang?"

​"Tentu saja hamba ingat, Nona. Cincin yang sangat berat dan terlihat seperti bongkahan kaca jendela dari gereja pinggiran kota," sahut Odette dengan senyum mengejek.

​"Tepat sekali. Jika dia memiliki cincin seindah ini, mengapa dia memakai bongkahan kaca itu dan memamerkannya ke seluruh dunia sebagai cincin pertunangan? Ini sangat tidak logis. Perhitunganku sama sekali tidak menemukan titik temu."

​Odette menatap cincin di dalam kotak itu lagi. "Tetapi Nona, lihatlah desainnya. Warna permatanya. Biru lembut dan ungu muda. Bukankah itu persis seperti konsep bisnis Le C'eow yang baru saja Anda jelaskan kepada hamba lima belas menit yang lalu?"

​Perkataan pelayan itu menghantam Geneviève bagaikan sambaran petir di siang bolong.

​Benar. Geneviève baru saja mengatakan bahwa ia ingin mendobrak tren pasaran ibu kota dengan merancang perhiasan berestetika dongeng berwarna biru dan ungu lembut. Ia pikir ide itu murni berasal dari keahlian desainnya di kehidupan modern. Namun, mengapa ide itu terwujud secara fisik dalam bentuk cincin masa lalu yang bahkan belum pernah ia lihat di kehidupan ini?

​Geneviève menelan ludah. Ia merasa ada sesuatu yang sangat salah dengan ingatannya. Sebagai seorang transmigrator, ia seharusnya hanya mewarisi ingatan tentang kecintaan gila wanita ini pada Lucien. Namun cincin ini seolah membuktikan bahwa ada sisi lain dari Geneviève de Montmirail yang sengaja dihapus dari sejarah.

​Perlahan, tangan Geneviève terulur kembali.

​"Nona, apakah Anda yakin ingin menyentuhnya secara langsung?" peringat Odette dengan nada khawatir.

​"Ini hanya cincin, Odette. Benda mati tidak bisa membunuhku," jawab Geneviève rasional.

​Ujung jari Geneviève menyentuh permukaan emas putih yang dingin. Sensasi hangat seketika mengalir, seolah cincin itu mengenali pemilik aslinya. Geneviève mengangkat mahakarya itu dari bantalan beludru putih. Semakin dekat ia melihatnya, semakin ia menyadari betapa rumitnya proses pembuatan benda ini. Setiap lekukan daun dan penempatan permata dipikirkan dengan sangat matang, tidak mungkin dikerjakan dalam waktu satu malam.

​Dan yang paling aneh adalah perasaan familier yang merayap di hatinya. Cincin ini terasa benar. Cincin ini terasa seperti bagian dari dirinya sendiri, bukan milik wanita bodoh yang menangis di dalam kereta kuda.

​Geneviève memutar cincin itu di udara, lalu menyelipkannya ke jari manis tangan kirinya.

​Cincin itu meluncur turun tanpa hambatan sedikit pun. Ukurannya pas. Sangat sempurna. Tidak terlalu longgar, tidak terlalu sempit, seolah logam itu memang dicetak langsung di atas kulitnya.

​Begitu logam cincin itu menetap di dasar jarinya, pendaran cahaya biru dan ungu lembut itu meledak terang untuk sepersekian detik sebelum akhirnya meredup dan menghilang sepenuhnya.

​Namun, hilangnya cahaya itu digantikan oleh sesuatu yang jauh lebih kuat.

​Kepala Geneviève tersentak ke belakang. Dunia nyata di hadapannya berputar dan memudar dengan kecepatan mengerikan. Suara panggilan panik Odette yang meneriakkan namanya terdengar semakin jauh, seolah tenggelam di dasar lautan.

​Ruang kerjanya yang berdebu lenyap.

​Sebagai gantinya, Geneviève mendapati dirinya berdiri di tengah sebuah taman rumah kaca yang dipenuhi bunga lili malam. Udara terasa sangat sejuk dan segar. Sinar bulan purnama menembus atap kaca, menciptakan ilusi magis yang sangat menenangkan.

​Geneviève tidak bisa menggerakkan tubuhnya. Ia hanya bisa melihat melalui mata sudut pandangnya sendiri. Tangannya sedang terulur ke depan, dan sebuah tangan lain yang jauh lebih besar dan kasar sedang menggenggam jemarinya dengan sangat lembut.

​Ia mendongak. Di hadapannya berdiri seorang pria.

​Pria itu mengenakan kemeja putih sederhana yang bagian kerahnya terbuka, jauh dari kesan kaku bangsawan istana. Rambut hitamnya sedikit berantakan tertiup angin malam. Saat pria itu menundukkan wajahnya, jantung Geneviève serasa berhenti berdetak.

​Itu adalah Lucien de Vaudémont.

​Namun, ekspresi pria itu sangat berbeda dengan Lucien yang ia temui di ruang tamu tadi siang. Tidak ada tatapan jijik. Tidak ada rahang yang mengeras menahan amarah. Tidak ada aura dingin yang membekukan darah.

​Wajah Lucien di depannya saat ini memancarkan kehangatan yang luar biasa dalam. Mata hijau tuanya menatap Geneviève dengan penuh puja, seolah wanita di hadapannya adalah satu-satunya harta karun yang paling berharga di seluruh kekaisaran. Senyum di bibir Lucien sangat tulus, lembut, dan penuh cinta yang nyata.

​Pria itu mengangkat tangan Geneviève. Lucien menyelipkan cincin emas putih berhiaskan permata biru dan ungu lembut itu ke jari manis Geneviève. Sentuhan pria itu sangat hati-hati, seolah takut menyakiti kulitnya.

​Lucien menunduk, mengecup lembut punggung tangan Geneviève tepat di atas cincin tersebut. Sensasi hangat dari ciuman itu terasa sangat nyata hingga membuat napas Geneviève tersengal di alam bawah sadarnya.

​Lalu, Lucien mengangkat wajahnya lagi. Pria itu menatap lurus ke dalam mata Geneviève. Senyumnya semakin lebar, memperlihatkan lesung pipi samar yang tidak pernah diketahui oleh siapa pun di lingkungan istana.

​Suara bariton Lucien yang biasanya menggelegar memberikan perintah militer, kini terdengar sangat parau, lembut, dan dipenuhi oleh luapan emosi kebahagiaan.

​"Ini untukmu, C'eow-ku."

​Kata-kata itu terucap begitu saja dari bibir Lucien.

​Geneviève tersentak hebat. Matanya membelalak lebar. Jantungnya bergemuruh bagaikan ditabuh genderang perang.

​C'eow.

​Nama bisnis perhiasan yang baru saja ia ciptakan beberapa hari yang lalu. Nama yang ia yakini berasal dari otak rasionalnya sendiri. Namun mengapa Lucien di masa lalu memanggilnya dengan nama itu?

​Sebelum otak logis Geneviève bisa memproses kontradiksi mengerikan tersebut, bayangan taman rumah kaca itu pecah berkeping-keping layaknya cermin yang dihantam godam.

​Geneviève terengah-engah. Matanya terbuka lebar menatap langit-langit ruang kerjanya sendiri. Ia menyadari bahwa ia telah terjatuh dari kursinya, terduduk di atas karpet Persia dengan dada yang naik turun dengan sangat cepat.

​"Nona. Nona, Anda bisa mendengar saya?" Odette berlutut di sampingnya, wajah pelayan itu pucat pasi sambil mengguncang bahu Geneviève. Kunci inggrisnya sudah tergeletak bebas di lantai. "Nona, tolong jangan mati. Hamba belum menerima kenaikan gaji dari Anda."

​Geneviève menelan ludah dengan susah payah. Keringat dingin membasahi punggungnya. Ia mengangkat tangan kirinya dengan gemetar. Cincin peri berwarna biru dan ungu itu masih melingkar sempurna di jari manisnya, memancarkan kilau yang tenang seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

​Ingatannya sebagai seorang transmigrator yang membaca novel romansa tiba-tiba terasa sangat janggal. Jika dia hanyalah seorang penjahat yang bertepuk sebelah tangan, lalu milik siapa ingatan penuh cinta yang baru saja ia saksikan? Mengapa Lucien yang selama ini membencinya pernah menatapnya dengan penuh cinta?

​Geneviève meremas ujung gaunnya dengan kuat. Sebuah kenyataan mengerikan baru saja mengetuk pintu logikanya, mengancam akan meruntuhkan seluruh asumsi yang ia yakini selama ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!