NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Kaisar Wang Hao

Reinkarnasi Kaisar Wang Hao

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Misteri / Action
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Zerro One

Wang Hao, Kaisar Tertinggi Dunia Dou Li, mati secara misterius di puncak kejayaannya. Murid muridnya bersumpah mencari pelaku. Namun jiwa Wang Hao justru bangkit di tubuh pemuda lemah bernama Chen Nan di tempat lain. Kematiannya sendiri adalah misteri terbesar. Siapa yang mampu membunuh sosong sepertinya? Atau ada rahasia lebih kelam di balik kematiannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zerro One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20. Benang Naga dan Rotan Spiritual

Setelah berjalan beberapa saat, Wang Hao melihat Balai Ramuan Giok Hijau ramai sekali hingga ke jalan utama kota. Para pembeli berdesak-desakan di depan etalase, beberapa di antaranya mengangkat tangan tinggi-tinggi sambil memegang kantung koin emas. Gu Yan dan Lao Fan pasti sedang kewalahan di dalam.

Wang Hao memperhatikan sesaat dari kejauhan, lalu memutuskan untuk tidak masuk. Ia berbalik dan melanjutkan perjalanannya menyusuri jalan-jalan Kota Lanyu yang semakin ramai. Langkahnya santai, tidak terburu-buru, kedua tangannya masih di belakang tubuh seperti biasa.

Ia melewati pasar, melewati beberapa kios senjata kecil, melewati sekelompok kultivator yang sedang berdebat tentang harga batu roh, hingga akhirnya langkahnya membawanya berhenti di depan sebuah kedai arak tua. Papan kayu di atas pintu bertuliskan "Arak Seribu Purnama" dengan karakter yang sudah mulai pudar dimakan usia.

Wang Hao melangkah masuk. Aroma arak yang kuat langsung menyambutnya, bercampur dengan bau kayu tua dari meja-meja yang berjejer di dalam. Beberapa kultivator duduk di sudut-sudut ruangan, menenggak arak sambil berbincang pelan.

Pelayan kedai, seorang pria gemuk dengan celemek lusuh, berjalan mendekat.

"Mau pesan apa, Tuan?"

"Sepuluh kendi arak," jawab Wang Hao singkat.

"Harga satu batu roh per kendi," kata pelayan itu sambil mengamati Wang Hao dengan tatapan ragu, mungkin bertanya-tanya apakah pemuda berjubah lusuh ini mampu membayar.

Wang Hao mengeluarkan sepuluh batu roh tingkat rendah dari cincin ruangnya dan meletakkannya di atas meja. Pelayan itu menghitungnya dengan cepat, lalu menghilang ke belakang. Beberapa saat kemudian ia kembali dengan sepuluh kendi arak yang tersusun rapi di atas nampan kayu besar.

Wang Hao memasukkan semua kendi itu ke dalam cincin ruangnya, lalu berbalik dan melangkah keluar dari kedai tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Pelayan itu memandangi punggungnya yang menghilang di balik pintu dengan alis terangkat, lalu mengangkat bahu dan kembali bekerja.

Wang Hao melanjutkan perjalanannya menyusuri jalanan kota. Matahari sudah mulai naik lebih tinggi, tetapi angin pagi masih terasa sejuk menerpa wajahnya. Langkahnya membawanya semakin jauh dari pusat keramaian, menuju ke bagian kota yang lebih sunyi. Bangunan-bangunan di sini lebih tua, lebih reot, dan lebih sedikit orang yang berlalu-lalang.

Di ujung sebuah gang kecil, ia melihat sebuah toko dengan papan nama yang hampir tidak terbaca: "Toko Harta Spiritual Seribu Bayu". Bangunannya miring ke kiri, dinding batunya retak di sana-sini, dan pintu kayunya sudah lapuk di bagian bawah. Sebuah lonceng kecil tergantung di atas pintu, tidak berbunyi sama sekali ketika Wang Hao mendorong pintu itu dan melangkah masuk.

Di dalam, toko itu dipenuhi oleh rak-rak kayu tua yang berdebu. Barang-barang berserakan di atasnya, kebanyakan adalah benda-benda spiritual tingkat rendah yang tidak menarik perhatian siapa pun. Sebuah meja pembayaran dari kayu jati tua berdiri di sudut, dan di belakangnya duduk seorang nenek tua dengan rambut putih seluruhnya yang diikat ke belakang. Kultivasinya berada di Pendirian Fondasi tahap awal, sesuatu yang cukup mengejutkan untuk seorang penjaga toko reot seperti ini.

"Mau beli sesuatu?" tanya nenek itu, suaranya serak tetapi masih jelas.

Wang Hao mengangguk, lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling toko. Tempat ini menjual barang-barang sederhana, pedang-pedang berkarat, botol-botol ramuan kosong, jimat-jimat usang yang energinya sudah lama habis. Namun cukup baik untuk kultivator rendah di dunia ini.

"Adakah kumis binatang roh, rotan spiritual, atau apa pun benda aneh di toko ini yang Nenek jual?" tanya Wang Hao.

Nenek itu memperhatikan Wang Hao dengan mata yang tiba-tiba menyipit, lalu alisnya terangkat. "Permintaan yang aneh, dari pemuda yang belakangan ini terkenal."

"Nenek mengenali saya?"

Nenek itu menunduk mengambil sesuatu. Suaranya terdengar dari balik meja kayu.

"Ya, tapi hanya informasi dari mulut ke mulut. Seluruh kota sudah tahu tentang Chen Nan yang misterius. Tentu saja aku juga tahu."

Wang Hao diam, tidak menanggapi lebih lanjut.

Beberapa saat kemudian, nenek itu berdiri lagi, lalu meletakkan sebuah kotak kayu kecil di atas meja. Kotak itu polos tanpa ukiran, hanya kayu tua yang sudah menghitam di bagian sudutnya.

"Di dalam ini ada benang aneh," kata nenek itu sambil menepuk kotak tersebut pelan, "tapi semua orang menganggapnya biasa saja. Padahal aku sangat yakin, benang ini merupakan benang ajaib. Aku sudah mencoba melelangkannya di kota ini, lalu di kota sebelah, dan kota lainnya, namun semua penguji menilainya biasa."

Wang Hao menatap kotak itu. "Lalu kenapa Nenek menganggapnya tidak biasa?"

"Karena aku mendapatkan benang tersebut di puncak Gunung Terlarang Yudu. Tidak mungkin benda biasa ada di tempat seperti itu."

Mata Wang Hao sedikit berubah, tetapi dari luar tidak terlihat perubahan ekspresi apa pun. "Bisa Nenek buka kotaknya?"

Nenek itu langsung membuka kotak tersebut.

Pada saat tutup kotak terangkat, Wang Hao terkejut di dalam hatinya, tetapi wajahnya tetap tenang seperti permukaan danau yang tidak terusik angin.

Di dalam kotak itu terlihat seutas benang yang berkilau samar dengan cahaya keemasan. Benang itu halus, hampir transparan di beberapa bagian, tetapi memancarkan aura yang sangat kuno dan agung.

Wang Hao mengenali benang ini. Dulu, di kehidupan sebelumnya, ia sering melihat benang semacam ini di beberapa reruntuhan kuno. Ia menggunakannya untuk meningkatkan kualitas pedangnya saat itu. Benang ini mengandung hampir setiap bagian tubuh dari naga, bukan dari kapas, bukan dari bahan apa pun untuk membuat benang biasa. Ini murni dari seluruh bagian tubuh naga, diekstrak sedemikian rupa oleh para pengrajin kuno dari masa sebelum Wang Hao lahir di Dunia Dou Li.

Tetapi pertanyaannya... kenapa benda ini bisa ada di dunia ini juga?

"Apakah kau merasa ini istimewa juga?" tanya nenek itu, memecahkan keheningan.

Wang Hao mengangguk pelan. "Saya setuju dengan penilaian Nenek."

Nenek itu tertawa puas, suaranya bergema di dalam toko yang sunyi. "Hahaha, akhirnya setelah puluhan tahun, ada yang sepemikiran denganku. Ini sangat memuaskan."

"Harganya? Atau Nenek tidak menjualnya?" tanya Wang Hao.

Nenek itu memandang Wang Hao lama sekali, seolah sedang menimbang sesuatu di dalam hatinya. Keheningan di antara mereka berlangsung cukup panjang, hingga akhirnya ia tersenyum.

"Baiklah. Karena kau mengakui benang ini berbeda, aku akan menjualnya untukmu." Nenek itu berhenti sejenak, lalu melanjutkan, "Harganya empat ribu batu roh tingkat rendah. Ini sudah harga termurah, dan tidak mungkin kujual jika kita tidak sepemikiran."

Wang Hao mengeluarkan seluruh batu rohnya dari cincin ruang, meletakkannya di atas meja. Totalnya tiga ribu empat ratus empat puluh batu roh tingkat rendah.

"Hanya ini yang saya miliki, Nek."

Nenek itu mendecakkan lidahnya. "Anak muda yang miskin."

Wang Hao tidak memaksa lebih lanjut. Ia mulai mengumpulkan kembali batu rohnya, hendak memasukkannya ke dalam cincin ruang, tetapi tangan nenek itu tiba-tiba terulur dan menghentikannya.

"Tunggu," kata nenek itu. "Mari tambahkan dengan hal lain."

"Sebutkan."

Nenek itu menyandarkan punggungnya ke kursi, menghela napas panjang. "Aku sudah terhenti di Pendirian Fondasi tahap awal selama dua puluh tujuh tahun. Bisakah... kau pahamkan?"

Wang Hao paham maksudnya. Hal seperti ini tidak asing baginya. Seorang kultivator yang terhenti di satu tahap selama puluhan tahun adalah hal yang umum, terutama jika fondasi kultivasinya tidak sempurna sejak awal.

"Metode... saya bisa memberikannya, tapi..." Wang Hao memasukkan semua batu rohnya kembali ke dalam cincin ruang, "...tapi ditukar dengan benang itu, serta rotan spiritual di toko ini."

Nenek itu mengepalkan tangannya di atas meja. "Kurang ajar! Kau ingin memeras nenek-nenek renta sepertiku, bocah? Kau keji sekali."

"Di dunia kultivasi, nenek-nenek atau anak muda sama saja. Yang menentukan adalah tingkat kultivasi." Wang Hao menatapnya dengan tenang. "Jika dilihat dari tingkat kultivasi, saya yang terlihat rentan di sini."

Nenek itu menatap tajam Wang Hao, perasaan ingin memukul kepala bocah ini sangat besar, namun ia menahannya. Jemarinya yang keriput mengetuk-ngetuk meja kayu, lalu ia menghela napas panjang.

"Baiklah, aku setuju." Ia menatap Wang Hao dengan sorot yang masih menyimpan kekesalan. "Bagaimana bisa kau tahu toko ini memiliki rotan spiritual?"

"Dugaan saja," jawab Wang Hao.

Nenek itu mendecakkan lidah lagi, lalu mengambil tinta, kuas, dan secarik kertas dari balik mejanya. Wang Hao mulai menulis metode kultivasi dengan gerakan cepat dan tepat. Kali ini ia menulis teknik yang diciptakannya sendiri di masa lalu, disesuaikan dengan karakteristik kultivasi nenek ini yang memiliki keterikatan pada insting dan mata tajam.

Setelah selesai, Wang Hao menyerahkan kertas itu. Nenek itu menerimanya dengan kedua tangan, lalu membacanya. Matanya bergerak cepat menelusuri setiap karakter, dan semakin lama ia membaca, semakin melebar matanya. Tangannya sedikit gemetar ketika ia menurunkan kertas itu.

"Menarik..." bisiknya pelan, lalu ia segera bangkit dan berjalan ke belakang toko. Beberapa saat kemudian ia kembali dengan sebatang rotan bercahaya hijau sepanjang jari telunjuk pria dewasa. Rotan itu memancarkan aura spiritual yang lembut, ujungnya sedikit melengkung, dan permukaannya halus seperti batu giok yang dipoles. Nenek itu meletakkannya di samping kotak benang.

"Kau ambil ini. Terima kasih sudah bekerja sama." Nenek itu mendengus. "Tapi lain kali, berikan aku keuntungan lebih banyak dari ini."

Wang Hao menyimpan kedua benda itu ke dalam cincin ruangnya, lalu tersenyum tipis. "Tentang metode tadi, usahakan jangan terburu-buru, Nek. Jika ada yang tidak diketahui, datanglah ke Klan Sheng untuk menemui saya."

"Baiklah, akan kuingat."

Wang Hao menangkupkan kedua tangannya, memberi hormat seperlunya, lalu berbalik dan berjalan keluar dari toko reot itu. Tujuannya kali ini jelas, pergi ke toko penempah senjata.

1
Jojo Shua
up
Jojo Shua
🥛
Jojo Shua
up
Jojo Shua
🙏
Jojo Shua
44
Jojo Shua
4
Agus Rose
Cerita yang cukup baik tapi update nya yg kurang.
Zerro One: Terimakasih penilaian nya.

saya ragu karena novel ini slow plotnya.
total 3 replies
Jojo Shua
🫰
Jojo Shua
✅️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!