Satu malam mengubah segalanya ketika CEO raksasa kosmetik terjebak iritasi
kulit akut yang mengancam kariernya, dan satu-satunya penyelamat adalah
formula rahasia dari seorang gadis yang dianggap remeh. Sebuah pernikahan
kontrak tanpa melibatkan perasaan dimulai, di mana serum dan ambisi menjadi
mata uang utama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syawal Musa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20 Serigala Berbulu Domba
Suasana ruang rapat utama Narendra Cosmetics hari itu terasa lebih berat dari biasanya. Meskipun lampu-lampu kristal memancarkan cahaya terang, namun aura di ruangan itu gelap dan mencekam.
Di ujung meja panjang yang megah, Arkan duduk dengan postur tegak. Perban di lengannya masih terlihat jelas di balik kemeja mahal yang ia kenakan, menjadi pengingat bisu betapa berbahayanya situasi saat ini. Di sebelahnya, Kiara duduk dengan tenang, namun matanya waspada mengamati setiap gerakan.
Dan tepat di hadapan mereka, duduklah pria yang menjadi topik utama berita hari ini.
Rian Narendra.
Pria itu tersenyum lebar, menampakkan deretan gigi putih dan rahang yang tegas. Penampilannya sempurna, gaya berpakaiannya modis, dan senyumnya terlihat sangat ramah—terlalu ramah hingga terasa palsu.
"Sudah lama ya, Dek Arkan," sapa Rian dengan nada akrab, tangannya terulur untuk bersalaman. "Kangen banget lihat perusahaan sebesar ini masih berdiri tegak. Padahal aku dengar belakangan ini banyak masalah ya?"
Arkan tidak langsung membalas uluran tangan itu. Ia menatap mata kakak tirinya itu datar, tanpa ekspresi.
"Apa tujuanmu kembali, Rian?" potong Arkan dingin. "Kau sudah mengambil bagian warisanmu lima tahun lalu dan pergi ke Eropa. Sekarang kenapa tiba-tiba pulang tepat saat ada badai?"
Rian tertawa renyah, seolah mendengar lelucon paling lucu. Ia menarik tangannya kembali tanpa rasa malu, lalu bersandar santai di kursi.
"Ya ampun, masih sama saja sifatmu. Dingin banget," Rian menggeleng kepala. "Aku kakakmu, Arkan. Wajar kan kalau aku pulang kalau tahu adikku dan iparku sedang kesusahan? Lagipula, aku juga pemegang saham kan?"
Rian mengalihkan pandangannya ke arah Kiara, membuat wanita itu merasa tidak nyaman. Tatapan pria itu terlalu mengintimidasi, seolah sedang menaksir barang berharga.
"Dan ini pasti Kakak Ipar cantik ya? Kiara..." Rian menyeringai, matanya menjelajahi wajah Kiara dari atas ke bawah. "Wah, benar-benar bidadari. Pantas saja Arkan mau menikah cepat dulu, ternyata dapat yang secantik ini."
"Senang bertemu denganmu, Tuan Rian," jawab Kiara sopan namun menjaga jarak, tidak terpengaruh oleh rayuan gombal itu. "Tapi tolong bicara saja langsung ke intinya. Kami tidak punya banyak waktu untuk basa-basi."
Rian terkekeh. "Wah, galak juga ya. Aku suka wanita cerdas dan berani."
"Rian!" bentak Arkan, menepuk meja pelan namun cukup membuat suasana hening. "Jangan main mata dengan istriku. Jawab pertanyaanku! Apa rencanamu?"
Rian mengangkat kedua tangannya tanda menyerah, tapi senyum jahilnya tak pernah hilang.
"Oke, oke, serius. Begini saja... Aku tahu kalian sedang bermasalah dengan pihak tertentu. Bahkan rumah kalian sampai diserang semalam," ucap Rian santai, membuat Arkan dan Kiara terkejut. Dari mana dia tahu?
"Tapi tenang saja, aku tidak bermaksud jahat. Justru aku datang untuk membantu. Aku punya koneksi luas, uang banyak, dan pengaruh. Kita bisa bekerja sama. Aku bantu kalian selesaikan masalah ini, dan sebagai gantinya... aku minta posisi Wakil Presiden Direktur. Aku ingin ikut mengurus perusahaan ini."
"Jangan bermimpi," tolak Arkan cepat. "Perusahaan ini aman di tanganku. Aku tidak butuh bantuan orang yang sudah meninggalkan keluarga ini bertahun-tahun."
"Kalau begitu bagaimana dengan sahamku?" Rian mengangkat alis, lalu mengeluarkan selembar dokumen dari tasnya. "Karena ayah kita tidak pernah membuat wasiat yang jelas, secara hukum aku berhak atas 30% aset perusahaan. Atau... aku bisa jual saja saham itu ke pihak luar yang mungkin lebih tertarik? Misalnya... ke orang-orang yang punya organisasi bunga teratai?"
TRANG!!!
Wajah Arkan dan Kiara berubah drastis. Dia tahu! Dia tahu soal Black Lotus!
"Jadi kau memang bekerja sama dengan mereka?" desis Arkan, tangannya siap mencengkeram leher kakak tirinya itu kapan saja.
Rian tertawa lagi, tapi kali ini tawanya berubah menjadi dingin dan menyeramkan. Senyum ramahnya lenyap seketika, berganti dengan tatapan tajam yang sama kejamnya dengan Kakek atau Ivan.
"Aku tidak bekerja untuk siapa-siapa, Adikku sayang," bisik Rian pelan, cukup keras hanya untuk mereka dengar. "Aku bekerja untuk diriku sendiri. Siapa pun yang memberiku kekuasaan dan uang, dialah bosku. Kalian mau atau tidak, aku akan masuk ke perusahaan ini. Dan aku akan tahu apa rahasia di balik liontin Kiara dan chip itu."
Rian berdiri, merapikan jasnya kembali menjadi pria sopan nan tampan seolah tidak baru saja mengancam nyawa mereka.
"Sampai jumpa di Rapat Umum Saham nanti," pamit Rian sambil melambaikan tangan. "Oh ya, hati-hati di jalan. Kota ini semakin berbahaya akhir-akhir ini. Siapa tahu ada 'kecelakaan' yang bisa menimpa siapa saja."
Pria itu berjalan keluar ruangan dengan langkah santai, meninggalkan Arkan dan Kiara yang terpaku dengan amarah yang memuncak.
"Brengsek..." umpat Arkan keras, memukul meja hingga kertas-kertas berterbangan. "Dia benar-benar ular berbisa!"
Kiara menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri meski jantungnya berdegup kencang.
"Arkan, dia tahu soal chip. Dia tahu soal organisasi," kata Kiara pelan. "Kita tidak bisa membiarkan dia masuk ke dalam sistem. Jika dia sampai mendapatkan akses ke data kita..."
"Aku tahu," Arkan menatap Kiara, matanya membara. "Rian kembali bukan cuma untuk uang. Dia ingin menghancurkanku dan mengambil segalanya. Termasuk kau, Kiara."
Kiara tersentak mendengarnya.
"Tapi dia salah besar," Arkan berdiri, aura kepemimpinannya kembali menyala penuh. "Kali ini kita tidak akan bertahan. Kita akan menyerang duluan. Kita buktikan pada Rian dan Kakek... bahwa darah Narendra yang mengalir di tubuhku jauh lebih murni dan kuat daripada mereka semua!