NovelToon NovelToon
Kebangkitan Kaisar Abadi

Kebangkitan Kaisar Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Misteri
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Bagus Dwi

Tahun 2042.
Manusia hidup seperti biasa dengan teknologi modern. Tidak ada yang tahu bahwa energi spiritual di Bumi mulai bangkit kembali setelah menghilang selama ribuan tahun.
Arkana Wijaya, mahasiswa berusia 20 tahun, menjalani hidup biasa hingga menemukan cincin kuno peninggalan kakeknya. Saat darahnya menyentuh cincin itu, jiwa seorang kultivator legendaris dari ribuan tahun lalu terbangun.
Namun, alih-alih mengambil alih tubuh Arkana, jiwa itu justru menghilang setelah mewariskan seluruh ingatan dan teknik kultivasinya.
Arkana menjadi satu-satunya orang yang mengetahui cara kultivasi sejati.
Sementara dunia mulai berubah, organisasi rahasia, keluarga kuno, dan makhluk yang selama ini bersembunyi juga mulai bergerak.
Bumi ternyata hanyalah dunia tingkat terendah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagus Dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33: Taruhan Gila dan Intervensi Sang Genius

​Hening yang mencekam di dalam Koloseum Besi tidak bertahan lama. Begitu tubuh raksasa Goliath menghantam lantai dengan kepulan asap hitam dari sirkuitnya yang hancur, ledakan gemuruh dari ribuan penonton langsung memecah langit-langit distrik Glodok Bawah Tanah di tahun 2042. Sorakan makian dari mereka yang kalah taruhan berbaur menjadi satu dengan teriakan histeris para spekulan yang tidak menyangka akan menyaksikan sebuah keajaiban biologis.

​"P-Pemenangnya... ASURA!" suara komentator bionik terdengar gagap, seolah-olah prosesor kecerdasan buatannya sendiri sedang mengalami eror massal untuk memproses data pertandingan yang baru saja terjadi.

​Di dalam saluran pendengaran terenkripsi Arkana, suara Dani meledak kegirangan hingga membuat telinganya berdengung.

​"Arka! Lo gila! Bandar judi Glodok Bawah Tanah langsung mengalami kepanikan finansial!" Dani tertawa terbahak-bahak di balik meja komandonya di Kota Tua. "Rasio taruhan satu banding lima puluh membuat kita baru saja menguras brankas mereka sebesar 500 juta Kredit Kripto dalam hitungan detik! Sistem keuangan mereka sampai freeze gara-gara nominal penarikan kita!"

​Arkana tidak menyahut. Di balik Topeng Asura yang dingin, pandangan matanya masih terkunci pada jendela kaca satu arah di balkon VIP sayap utara. Di sana, bayangan sosok Raden Arya tampak berdiri kaku, memancarkan niat membunuh yang sangat pekat hingga mampu menembus lapisan kaca tebal pemisah arena.

​Arkana membalikkan tubuhnya dengan tenang, membiarkan jubah hitamnya berkibar saat ia melangkah santai meninggalkan ring oktagon menuju koridor ruang tunggu petarung. Bagi seorang Kaisar Abadi, kemenangan atas rongsokan besi fana seperti Goliath bahkan tidak layak untuk dicatat ke dalam memori perjalanannya.

​Amarah di Ruang VIP

​Di dalam ruang VIP yang mewah, suasana berubah menjadi sangat tegang. Raden Arya, sang genius muda dari Klan Kuno Kamandaka, mencengkeram cangkir kristal di tangannya hingga hancur berkeping-keping, membuat cairan anggur spiritual berwarna merah pekat menetes membasahi lantai marmer.

​"Bagaimana mungkin seorang manusia murni tanpa modifikasi siber bisa meledakkan lengan hidrolik militer kelas berat hanya dengan satu tepukan tangan?!" desis Raden Arya, matanya menyala oleh kombinasi rasa tidak percaya dan harga diri yang terluka karena merasa ditantang secara terbuka. "Siapa bajingan bertopeng itu? Apakah dia mata-mata dari Biro Keamanan Khusus?"

​Di belakangnya, salah satu dari dua pria paruh baya yang bertindak sebagai pengawal—seorang pria berwajah tirus bernama Tetua Suro—melangkah maju. Sepasang matanya yang keruh menatap tajam ke arah ring yang kini sedang dibersihkan oleh robot-robot mekanis.

​"Bukan, Muda Arya," ucap Tetua Suro dengan suara yang berat dan bergetar konstan. "Sensor batin saya tidak mendeteksi adanya emisi pulsa elektromagnetik atau teknologi kuantum dari tubuhnya. Apa yang dia gunakan tadi... adalah manipulasi Qi murni yang sangat padat. Struktur energinya bahkan lebih halus dan kuno daripada teknik dasar yang diajarkan di dalam klan kita."

​Raden Arya tersentak. "Maksud Tetua, dia adalah seorang kultivator liar?"

​"Kemungkinan besar begitu," Tetua Suro mengangguk pelan. "Dan melihat bagaimana dia membalikkan aliran energi plasma milik Goliath, tingkat kultivasi batinnya setidaknya telah mencapai puncak ranah Spirit Gathering. Dia sengaja menyembunyikan kekuatannya di sini."

​Raden Arya menyeringai jengkel, memutar-mutar cincin giok di ibu jarinya. Keberadaan Kristal Darah Bumi yang berada di dalam kotak titanium di sampingnya adalah alasan utamanya turun ke distrik kumuh ini. Ia tidak akan membiarkan ada tikus liar yang merusak rencana besarnya untuk menerobos ke ranah Foundation Establishment.

​"Gunakan otoritas Klan Kamandaka pada penyelenggara turnamen," perintah Raden Arya dingin. "Ubah seluruh bagan kualifikasi malam ini. Aku tidak ingin membuang waktu melihat dia bertarung dengan badut-badut mekanis lainnya. Langsung pertemukan aku dengan si 'Asura' itu di babak berikutnya!"

​Intervensi dan Perubahan Bagan

​Di dalam ruang tunggu petarung yang remang-remang, Arkana sedang duduk bersila di atas bangku beton, melakukan meditasi ringan untuk menyelaraskan sisa-sisa energi spiritual di sekitarnya. Tiba-tiba, pintu baja ruangan digeser terbuka secara paksa.

​Tiga orang pria berbadan kekar dengan seragam promotor Arena Naga Besi masuk. Di dada mereka tertanam implan lencana siber yang terus berkedip. Pemimpin mereka, seorang pria dengan rahang sibernetik berlapis krom, menatap Arkana dengan pandangan merendahkan.

​"Asura," ucap pria berahang krom itu, melemparkan sebuah sabak digital ke depan kaki Arkana. "Ada perubahan jadwal dari pihak manajemen atas. Seluruh lawan kualifikasimu di babak penyisihan telah dinyatakan mengundurkan diri karena masalah teknis."

​Arkana perlahan membuka sepasang mata peraknya di balik topeng. "Lalu?"

​"Kamu langsung ditempatkan di babak semifinal malam ini," pria itu menyeringai penuh arti. "Dan lawanmu adalah perwakilan langsung dari sponsor utama turnamen... Raden Arya dari Klan Kamandaka. Jika kamu menang, kamu bisa langsung membawa pulang Kristal Darah Bumi. Tapi jika kamu mati... jangan harap tubuh dadingmumu itu bisa keluar dalam keadaan utuh dari tempat ini."

​Setelah menyampaikan pesan intimidasi tersebut, ketiga promotor itu berbalik pergi dan menutup pintu dengan bantingan keras.

​Di dalam keheningan ruangan, Arkana memungut sabak digital tersebut, melihat profil Raden Arya yang terpampang di layar holografik dengan status: Kultivator Aliran Warisan Leluhur — Ranah Spirit Gathering Tingkat Akhir.

​"Arka, ini jebakan murni," suara Dani terdengar khawatir dari saluran komunikasi. "Klan Kamandaka sengaja memanipulasi sistem buat menyingkirkan lo secepatnya sebelum lo bikin kekacauan lebih besar di pasar gelap mereka. Apa kita perlu membatalkan taruhan dan mundur?"

​Arkana bangkit dari duduknya, meremukkan sabak digital di tangannya hingga hancur berkeping-keping tanpa menggunakan energi Qi sedikit pun. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman penuh kepuasan di balik topeng setannya.

​Catatan Takdir Kaisar: "Bagi seorang elang, tidak ada bedanya apakah umpan itu datang dari langit atau dari dalam jebakan got. Selama targetnya ada di sana, seluruh sangkar besi pun akan hancur berkeping-keping."

​"Mundur?" Arkana berjalan menuju pintu keluar, aura batinnya bergejolak samar namun pasti, siap untuk meledakkan seluruh arena bawah tanah dalam konfrontasi berikutnya. "Dani, mereka tidak sedang menjebak gua. Mereka sedang mengantarkan kunci kultivasi gua langsung ke depan pintu rumah."

​Di bawah gemerlap lampu neon merah Glodok Bawah Tanah, bel besar penanda babak semifinal mulai berdentang nyaring, mengumumkan pertempuran tak terhindarkan antara pewaris klan kuno dan inkarnasi sang Kaisar Abadi. 

1
Jujun Adnin
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!