NovelToon NovelToon
Maaf.. Kukira Ini Taksi

Maaf.. Kukira Ini Taksi

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:11.6k
Nilai: 5
Nama Author: arrasy

Di tengah guyuran hujan deras yang membasahi jalanan Jakarta, Rima masuk ke mobil mewah yang baru saja ia buka dengan tergesa-gesa. Wajahnya memancarkan kaget luar biasa. Mata terbelalak lebar, mulut terbuka melongo. Saat baru menyadari bahwa ia salah masuk kendaraan, bukan taksi yang sudah dipesannya. Pantulan di kaca spion memperlihatkan Andre yang duduk di kursi pengemudi dengan wajah dingin kaku, tatapan tajam tanpa senyum, seolah tak percaya ada kejadian seaneh ini. Butiran air menetes di kaca jendela dan bodi mobil hitam mengkilap, memperkuat suasana yang canggung sekaligus kocak di pertemuan pertama mereka. Kontras jelas antara ekspresi Rima yang panik lucu dan sikap Andre yang tenang kaku langsung menyiratkan kisah pertemuan tak terduga yang penuh kekacauan manis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arrasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29: Berpamitan

Waktu terasa melesat begitu cepat, hingga Rima sendiri tidak menyangka bahwa hari ini adalah hari terakhirnya benar-benar berada di lingkungan kantor ini.

Besok ia tidak perlu lagi datang. Ia hanya perlu bersiap sepenuhnya untuk berangkat ke Yogyakarta.

Maka hari ini, Rima bertekad untuk menyempatkan waktu berpamitan kepada setiap orang yang telah berarti dan membantunya selama tiga bulan ini.

Bagi Rima, mereka semua adalah bagian dari kenangan berharga yang tidak akan pernah ia lupakan seumur hidup.

Sebelumnya, Rima sudah menyiapkan kartu ucapan terima kasih buatan tangan serta sebungkus coklat untuk dibagikan.

Ia berjalan perlahan dari satu meja ke meja lain di bagian administrasi dan arsip.

"Bu Siti, Pak Budi, Bu Tini," sapa Rima sopan sambil menyodorkan kartu dan coklat itu satu per satu.

"Saya mau pamit ya, hari ini hari terakhir saya magang. Besok saya sudah tidak datang ke sini lagi.

Terima kasih banyak sudah sabar sekali membimbing saya, meminjamkan alat tulis, menjawab pertanyaan saya yang kadang berulang-ulang, dan menutupi kesalahan saya yang sering ceroboh."

Bu Siti yang selama ini duduk di sebelahnya tersenyum lembut, lalu menepuk pelan bahu Rima.

"Sama-sama Rima. Kamu ini anaknya rajin, sopan, rendah hati, dan pekerja keras. Kami pasti akan merindukan kehadiranmu yang ceria di sini.

Belajarlah dengan giat di UGM ya, buktikan kalau kamu bisa sukses besar."

"Siap Bu! Terima kasih banyak doanya," jawab Rima sambil menahan haru agar air matanya tidak jatuh.

Ia kemudian menemui teman-teman sesama anak magang. Dika, Sani, dan Eka langsung berhenti bekerja dan mengelilinginya.

Mereka saling berpelukan sebentar, bertukar nomor telepon, dan berjanji untuk tetap berhubungan erat meski terpisah jarak yang jauh.

"Jangan pernah lupakan kami ya kalau sudah sukses nanti," canda Dika, meski matanya tampak berkaca-kaca. "Siapa tahu nanti kita bisa bekerja sama lagi di sini."

"Pasti tidak akan pernah lupa." janji Rima mantap. "Kalian teman terbaik yang pernah aku temui."

Saat jam istirahat siang, Rima menyempatkan diri berkeliling ke bagian lain gedung.

Ia menemui staf gudang yang dulu pernah dibantunya mengangkat kotak berat, petugas kebersihan yang selalu menyapanya dengan ramah setiap pagi, hingga staf kantin yang selalu menyisihkan gorengan hangat untuknya.

Semuanya menyambutnya dengan hangat, memberikan doa terbaik, dan mendoakan kelancaran perjalanan serta studinya.

Menjelang jam pulang kantor, Rima berjalan menuju pos satpam di gerbang depan.

Pak Joko dan Pak Udin sedang mencatat kendaraan yang hendak keluar. Saat melihat Rima menghampiri, mereka berdua langsung tersenyum lebar.

"Neng Rima mau pulang ya?" sapa Pak Udin.

"Iya Pak. Sekalian saya mau pamit," jawab Rima sopan. "Hari ini hari terakhir saya di kantor ini.''

''Besok saya sudah tidak datang lagi. Terima kasih banyak Bapak berdua sudah selalu baik kepada saya setiap pagi, membantu saya saat lupa kartu tamu, dan mengingatkan saya untuk berhati-hati pulang."

Pak Joko mengangguk haru. "Kami juga akan sepi rasanya tidak ada Neng yang menyapa dengan ramah setiap pagi. Hati-hati di perjalanan pulang nanti ya, semoga sukses selalu di Jogja."

Langkah Rima terhenti sejenak di halaman depan, matanya menatap lantai atas gedung, tepatnya ke arah jendela ruangan Andre.

Sejak pagi ia sudah berniat kuat untuk berpamitan langsung pada Pak Andre, mengucapkan terima kasih atas kesempatan bekerja, atas kebaikan yang sering tersembunyi, dan meminta maaf atas segala kesalahan konyol yang pernah diperbuatnya.

Namun Bu Tia memberitahunya bahwa Andre harus pergi ke luar kota untuk rapat penting mendadak pagi tadi, dan belum bisa dipastikan jam berapa beliau akan kembali ke kantor.

"Pasti Pak Andre sangat sibuk," batin Rima berusaha mengerti sambil menahan rasa kecewa.

"Lagian beliau kan pimpinan tertinggi, urusannya pasti jauh lebih penting daripada sekadar berpamitan denganku. Mungkin memang belum rezekinya aku bisa bertemu hari ini."

Dengan hati yang sedikit berat namun tetap ikhlas, Rima melangkah meninggalkan gedung kantor itu menuju halte bus.

Sementara itu, di ruang rapat di gedung perusahaan mitra yang berjarak cukup jauh, Andre duduk di kursi utama dengan wajah yang biasanya tenang dan tegas kini tampak gelisah.

Matanya sesekali melirik jam tangan, pikirannya sulit sekali difokuskan pada presentasi yang sedang dibawakan.

Ia sering salah menjawab pertanyaan, dan beberapa kali melamun saat mitra bisnis sedang berbicara.

Dino yang duduk tepat di sebelahnya menyadari perubahan sikap atasan itu sejak tadi pagi.

Saat jeda istirahat tiba, Dino berbisik pelan agar tidak didengar orang lain: "Bapak tidak apa-apa? Sejak tadi pagi Bapak terlihat tidak tenang dan sering melamun."

Andre menghela napas panjang, menatap jendela kaca yang memandang ke arah jalan raya yang padat.

"Hari ini hari terakhir Rima di kantor Dino. Besok dia sudah tidak datang lagi. Aku tahu dia pasti ingin berpamitan, dan aku juga ingin bicara dengannya.''

''Tapi rapat ini tidak bisa ditinggalkan begitu saja, semua pihak sudah menunggu."

Dino mengangguk paham, lalu berkata dengan nada menyesal, "Maaf Bapak, saya juga baru ingat.''

''Besok Mbak Rima memang tidak masuk lagi, laporan akhir sudah diserahkan hari ini. Jadi tidak ada kesempatan Bapak untuk bertemu beliau di kantor."

Mendengar itu, hati Andre terasa seperti ditusuk sesuatu yang perih. Ia menunduk, menatap punggung tangannya.

"Aku menyia-nyiakan kesempatan terakhir ini di kantor ya Dino? Rasanya menyesal sekali harus pergi mendadak seperti ini.''

''Aku belum sempat mengucapkan terima kasih, belum sempat menyampaikan apa yang ada di hatiku."

"Bapak masih punya kesempatan lain," coba Dino menghibur. "Kalau Bapak benar-benar ingin bertemu, kita bisa ke tempat kost beliau nanti sore. Beliau belum berangkat ke Yogyakarta kan?"

Andre mendongak, matanya berbinar sedikit. "Benar juga. Aku harus mencarinya. Aku tidak boleh membiarkan dia pergi tanpa tahu perasaanku."

Malam itu, rapat berakhir lebih cepat dari yang diperkirakan. Andre langsung bergegas menuju mobil, menyuruh Pak Herman mengarah ke alamat kost Rima yang pernah dicatatnya diam-diam.

Hatinya berdebar kencang, campuran antara rasa takut ditolak dan rasa lega karena masih ada harapan untuk bertemu.

Di sisi lain, Rima baru saja sampai di tempat kostnya. Ia menaruh tas di meja, lalu duduk di tepi tempat tidur sambil menatap langit-langit kamar.

Pikiran dan hatinya masih tertinggal di kantor, dan masih teringat wajah Andre yang tidak sempat ia temui.

1
🌺⃟ SasMaya
dihhh pak dino ngintipin ya.. 😂
🌺⃟ SasMaya
ckckck... Andre sudah tidak tertolong .. udah terpesona akut dia
🌺⃟ SasMaya
ya .. iya pak, sendirian.. emng kamu mau temenin ... udah makin bucin ya, Andre
🌺⃟ SasMaya
modus doank kah ini Andre 🤭
Europa.
selotip penutup itu dalam kata medis namanya plester gulung ya kak/Slight//Slight/
Europa.
jangan ditutup woi. jadi tambah nyama—ehm—pengap disini suasananya 😡😡
𝓘𝓷𝓭𝓪𝓱 𝓻𝓪𝓶𝓪𝓭𝓱𝓪𝓷𝓲
Dino begitu peka ya
Europa.
cuma segores luka, eh atasan malah nyuruh ambil sekotak²nya. woo atasan sableng 😡😡😡
Europa.
woy. lu ngintilin gue ya? dimana² ada elu, Ndre😂😂
Europa.
bentar. jendela diperbaiki... bukannya malah di bongkar ya bingkainya? kok ini malah pengap thor?🤔
🔵 🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
meleleh aku bang
🔵 🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
jelas lah pak
🔵 🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
malah jujur gimana sih pak🤣🤣🤣
🔵 🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
aku kok puas banget ya. jahat enggak sih aku🤣🤣
🔵 🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
bagus lah Rima, cukup aku saja yang patah hati 🤧
🔵 🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
Rimaaa🤧🤧🤧🤧
🔵 🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
hu hu hu aku patah hati tor🤧🤧🤧
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy: 😄😄 jangaaan
total 1 replies
🔵 🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
wah berpotensi tinggi jadi antagonis ini🤭🤭🤭
RahmaYesi
Akhirnya bisa melihat pasangan ini date di Malioboro. Langgeng ya kalian sampai nikah 🥰
Alia Chans
Walaupun Rima ceroboh, jiwa Hero nya gk main" ya🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!