Mengetahui suaminya berselingkuh, Raina memilih tidak menangis. Baginya, pengkhianatan harus dibalas dengan cara yang sama.
Nyawa bayar nyawa. Selingkuh balas selingkuh.
Target balas dendamnya adalah Hadiraksa Gautama... suami dari Monica, wanita yang merebut rumah tangganya.
Raina mendekati Hadi yang selama ini dianggap pria gagal oleh istrinya sendiri: miskin, tak punya masa depan, dan hidup dari belas kasihan keluarga. Namun siapa sangka, di balik penampilan sederhananya, Hadi menyimpan identitas sebagai pengusaha muda kaya raya yang sengaja menyembunyikan status demi menguji cinta Monica.
Saat permainan balas dendam dimulai, perasaan ikut berubah.
Robby mulai menyesali perselingkuhannya. Monica panik setelah mengetahui pria yang ia buang ternyata jauh lebih berharga dari yang ia kejar.
Mereka ingin kembali pada pasangan masing-masing.
Tapi terlambat...
Karena dua hati yang awalnya dipersatukan oleh luka, perlahan berubah menjadi candu dan saling cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meninggalkan
Hueek! Hueek!
Sudah sejak pagi, Monica bolak balik keluar masuk kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya yang telah kosong. Mual, muntah, dan pusing. Gejala itu yang ia rasakan sejak beberapa hari yang lalu. Biasanya semua gejala itu akan menghilang bersamaan naiknya sinar matahari.
Tapi berbeda dengan hari ini. Semua gejala itu tidak berkurang sedikitpun. Padahal hari sudah menjelang sore.
Monica lemas.
Tubuh rampingnya tergeletak lemah di atas ranjang. Kedua matanya tertutup, rasanya dunia ini berputar ketika ia membuka mata.
Hueek!
Mual itu kembali muncul. Tapi Monica sudah kehilangan seluruh tenaganya hanya untuk melangkah ke kamar mandi. Sekarang jangankan melangkah, membuka kelopak matanya saja ia sudah tidak mampu.
"Ada apa denganku?"
Monica bingung dengan keadaan dirinya sendiri. Ia merasa tidak pernah salah makan, minum atau mengkonsumsi obat. Sebelum ini rasanya ia baik-baik saja. Bahkan nafsu makannya meningkat. Tapi kenapa sekarang jadi seperti ini?
Ponselnya terus berdering. Ada beberapa panggilan, pesan dari teman dan dari kekasihnya... Robby.
Sebenarnya hari ini mereka janji bertemu di hotel seperti biasa. Tapi karena keadaannya yang tidak memungkinkan, Monica terpaksa membatalkan janji itu. Tapi sayangnya, dia tidak sempat untuk mengatakannya.
"Kamu kenapa?"
Kedua mata Monica otomatis terbuka, saat mendengar suara suaminya yang entah sejak kapan sudah ada di dalam kamarnya.
"Aku pusing, mual dan muntah terus dari pagi?" jawab Monica dengan jujur.
Hadi sama sekali tidak menoleh. Biasanya, setiap kali Monica terlihat lesu saja... Hadi pasti jadi orang pertama yang panik. Tapi kali ini, bahkan pria itu sama sekali tidak peduli.
"Di, aku sakit?" kata Monica dengan nada lemah. Entah mengapa, rasanya ia ingin bermanja pada suaminya.
Hadi masih tidak menoleh. Saat ini, pria itu sedang bersiap untuk membersihkan diri. "Cari ayah dari bayi yang kamu kandung itu. Bilang kalau kamu hamil!"
Hadi, mengatakan kalimat itu dengan teramat lancar tanpa beban. Seolah kalimat itu hanya kalimat biasa seperti seseorang yang bertanya tentang cuaca.
"A-apa maksud kamu Di?" Monica mendadak gugup. Ia terlihat seperti maling yang ketahuan sedang mencuri.
Hadi tersenyum smirk. "Kamu sudah cukup dewasa untuk mengerti apa maksud dari perkataan ku Monica!"
Hadi berlalu masuk ke kamar mandi. Sekarang ia sudah benar-benar yakin. Jika cintanya untuk Monica sudah habis tak bersisa.
"Hadi!" Monica bangkit dengan susah payah. Ia mencekal pergelangan tangan Hadi yang hampir masuk ke kamar mandi.
"Ada apa lagi sih Mon?" Hadi terlihat muak berlama-lama bicara dengan istrinya.
"Jelaskan dulu apa maksud dari perkataan kamu Hadi? kamu nuduh aku selingkuh? kamu nuduh aku hamil dengan pria lain?"
Monica yang lemah tak berdaya. Kini seperti mendapatkan kekuatan ajib seketika. Ia bukan hanya bisa berdiri tegak. tapi ia juga sanggup berdebat dengan suaminya.
Hadi melepaskan cekalan tangan istrinya. Tidak kasar, namun cukup untuk membuat tangan itu menjauh darinya.
"Ok biar kita perjelas semuanya ya!" kata Hadi, memutuskan untuk menyelesaikan semuanya hari ini. "Aku tahu selama ini kamu selingkuh dengan Robby!"
Jedeer!
Monica membeku.
"Aku tahu kalian sering jalan bareng, makan, check-in di hotel. Bahkan uang yang selama ini kamu dapatkan itu dari Robby juga kan?"
Monica makin tak berkutik.
"Jujur aku kecewa Mon, aku sakit. Selama ini aku berjuang mati-matian demi kamu. Aku lakukan segalanya untuk membahagiakan kamu. Tapi begini caramu membalasku?" Tatapan Hadi penuh dengan luka. Tapi hatinya, sudah tidak lagi terasa apa-apa. "Apa salahku Mon? Apa kurangnya aku sampai kamu tega mengkhianati aku?"
Monica yang semula kaget, kini mulai mengeluarkan sifat aslinya.
"Jadi kamu sudah tahu?" sahut Monica enteng. Beda reaksinya dengan yang Hadi harapkan. "Kamu tahu, dulu aku kira hidup akan bahagia hanya bermodalkan cinta. Tapi di depan tuntutan ekonomi... cinta sama sekali tidak berguna. Hanya uang, yang benar-benar berguna!"
Hadi menggelengkan kepala. sekarang iya semakin tidak mengerti dengan Monica. Wanita cantik, lembut yang dulu membuatnya tergila-gila sampai rela melawan orang tua.
"Tapi uang yang aku berikan untuk kamu setiap hari, lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan kita!"
"Mungkin bagi kamu itu cukup. Tapi bagiku itu sama sekali tidak cukup. Aku iri dengan mereka yang mendapatkan uang bulanan berjuta-juta dari suaminya. Aku iri dengan Raina yang punya suami kerja kantoran dan berpenghasilan tinggi. Aku gak mau terus-terusan diejek istri Hadi yang kerja serabutan dan tidak berguna! AKU MALU HADI, AKU MALU!" suara Monica meninggi, hingga kedua tangannya mengepal dan bibirnya bergetar.
"Kamu tidak akan pernah bahagia jika hanya melihat ke atas Monica! kamu hanya melihat mereka dari sisi baiknya saja. Tapi kamu tidak pernah tahu bagaimana kehidupan mereka yang sebenarnya!"
"Kamu pikir aku peduli?" Monica mendekat, matanya melotot seperti ingin menelan Hadi bulat-bulat. "Yang aku butuhkan cuma uang Hadi! UAAANG! Dan semuanya itu aku dapat sari Robbya!"
Monica terlihat sangat bangga dengan apa yang ia lakukan. Bahkan dari kedua matanya, sama sekali tidak terlihat penyesalan.
"Jadi kamu bahagia?"
"Tentu saja! siapa yang tidak bahagia dapat uang bulanan 10 juta cuma-cuma. Makan dicafe setiap hari, bisa beli apa saja yang aku inginkan. Kehidupan seperti inilah yang aku mau Hadi!" Senyum Monica ternyata lebar, tawa kepuasan keluar setelahnya.
"Baiklah kalau memang itu yang kamu mau. Lebih baik kita bercerai!" ucap Hadi akhirnya.
"Cerai? kamu yakin?" Monica sama sekali tidak terkejut.
"Yakin! Karena aku tidak mau mempertahankan wanita yang tidak pernah menghargai aku!"
Monica tertawa lebar, puas, seperti ada hal lucu yang sedang ia lihat di depan mata.
"Kamu mau dihargai?" Monica menatap remeh. "Jangan mimpi Hadi! dengan uang recehmu, tidak akan ada wanita yang mau jadi istrimu!"
Hadi memilih untuk tidak lagi berdebat dengan Monica. Ia memutuskan untuk pergi dari rumah itu hari ini juga.
"Kamu mau kemana?" tanya Monica, saat melihat Hadi memasukkan pakaiannya ke dalam tas.
"Pergi! karena kita kan bercerai!"
"Tidak!" Monica menolak. "Kalau kita bercerai, bagaiman dengan anak ini?"
Hadi mengerutkan alisnya. "Apa hubungannya denganku?"
"DIA ANAK KAMU HADI!" histeris Monica.
"Anakku? Memangnya kapan terakhir kali kamu berhubungan denganku?"
Monica mendadak diam. Ia lupa, benar-benar lupa kapan terakhir kali memberikan suaminya nafkah batin.
"Tidak ingatkan? Enam bulan yang lalu Monica. Sejak enam bulan yang lalu, aku bahkan tidak pernah kamu izinkan untuk menyentuh seujung jari pun! Jadi, dari mana datangnya anak ini? Seharusnya kamu minta pertanggungjawaban Robby. Karna dia adalah ayahnya.
Hadi pergi, benar-benar pergi. Bahkan pria itu tidak memberikan Monica kesempatan sedikitpun untuk kembali bersuara.
"Hadi, kamu mau kemana Hadi?" teriak Monica yang mengejar sampai ke keluar rumah.
Tadi saja ia sangat sombong saat berbicara. Kini, Monica malah terlihat hancur saat suaminya pergi meninggalkannya.
"Kita lihat saja nanti... Kamu pasti akan menyesal susah meninggalkan aku Hadi!"
Robby dan Monica mungkin akan kacau, karena Monika tahunya hanya menahan uang