Kiara, putri tunggal keluarga terkaya, memilih menikah dengan pria biasa karena cinta yang ia pikir sangat kuat dan abadi. Selama sepuluh tahun pernikahan, Kiara hidup dengan rasa bersalah yang besar—ia tidak pernah bisa mengandung dan melahirkan anak, selalu menyalahkan dirinya sendiri, dan terus meminum obat yang dikatakan suaminya sebagai vitamin penyehat tubuh.
Semua kepercayaan dan kebahagiaannya runtuh dalam sekejap mata. Kiara mengetahui kenyataan pahit, suaminya telah berselingkuh dengan sahabat terdekatnya sendiri.
Lebih menyakitkan lagi, obat yang ia minum setiap hari ternyata adalah pil penunda kehamilan. Sepuluh tahun ia pikir dia kurang subur, padahal dialah yang menjadi korban, dan suaminya sendirilah penyebab ia tidak pernah bisa memiliki keturunan. Puncak kehancuran tiba saat Kiara tahu sahabatnya kini sedang mengandung anak hasil perselingkuhan mereka.
Kiara pun memilih pura-pura tidak tahu, untuk membalaskan rasa sakitnya karena telah di tipu oleh mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shanti_San, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32 - Penggelapan Dana Perusahaan
Di tengah keheningan yang mencekam dan bisikan-bisikan yang masih terdengar samar, Kiara melangkah tenang menuju panggung. Setiap langkahnya mantap, tidak ada keraguan sedikit pun di wajahnya. Semua mata, mulai dari Ferdi, Pak Edward, Bu Silvia, hingga ratusan tamu undangan terus tertuju padanya. Mereka penasaran, apa lagi yang akan dikatakan wanita yang selama ini terlihat lembut dan pendiam itu.
"Sudah saat nya kau menerima apa yang telah kau tanam Ferdi. Selama ini kau pura-pura jadi suami yang baik, setia, hanya untuk menipu kekayaan keluarga ku, aku tidak pernah membatasi mu soal uang, ku biarkan kau kelola karena aku mencintai mu dan mempercayai mu kalau kita akan selamanya. Ternyata aku hanya cinta kau sendiri. Cinta pun penuh kepalsuan. Aku bahkan tidak tahu omongan mu yang mana yang bisa ku percaya."Kiara Bergumam di dalam bagi nya. Setiap langkah nya menuju ke atas panggung adalah langkah penuh percaya diri, langkah penuh keyakinan untuk melepaskan semua yang tidak baik selama dalam hidup nya.
"Mas, Kiara."Ucap Bu Silvia yang sejak tadi sudah gelisah dan gusar.
"Biarkan saja, kita lihat apa lagi yang ingin Kiara ungkapkan tentang si brengsek itu."Balas Pak Edward.
Begitu tiba di atas panggung, Kiara berdiri tegak di depan mikrofon. Ia menatap seluruh hadirin dengan pandangan yang tenang namun tegas. Suaranya terdengar jelas dan lantang, memecah keheningan ruangan.
"Hadirin sekalian, saya memohon maaf yang sebesar-besarnya atas kegaduhan dan pemandangan yang tidak menyenangkan malam ini. Saya juga memohon maaf kepada Ayah dan Ibu, karena telah mempermalukan nama baik keluarga dengan mempertontonkan kelakuan suami saya di depan umum seperti ini."
"Orang lain mungkin akan diam dan menyembunyikan untuk menjaga harga diri. tapi aku merasakan betapa sakitnya di hianati, di racuni. Aku rasa cara seperti cukup pantas untuk di berikan kepada mereka."
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang semakin keras dan penuh keyakinan.
"saya melakukan ini juga agar tidak ada lagi yang tertipu oleh topeng sopan santun dan kesuksesan yang ia bangun. Saya ingin semua orang tahu siapa sebenarnya Ferdi pria yang dianggap berkarakter baik, yang dipercaya, ternyata hanyalah seorang pria brengsek yang tidak memiliki rasa tanggung jawab dan hati nurani. Pria yang begitu jahat mengkhianati istri, meracuni dan ingin mengambil kekuasaan dengan cara yang menjijikan seperti ini."
Terdengar suara desahan dan bisikan yang semakin keras, namun tidak ada yang berani menyela. Mereka menunggu kelanjutan kata-kata Kiara.
"Sungguh kasihan Nona Kiara, saya tidak menyangka suami nya bisa menyia-nyiakan istri nya."
"Iya, padahal Istrinya sangat cantik."
"Dengar-dengar juga dia dari kalangan tidak mampu, derajatnya di angkat oleh keluarga Wijaya setelah menikah."
"Wah itu parah sekali."
Tamu undangan mulai berbisik satu sama lain, membicarakan Ferdi yang sungguh tidak tahu diri. Ferdi dengan tubuh yang sudah bergetar dan lemas pun hanya diam membeku saat sindiran yang begitu pelan sampai ke telinganya dan itu sangatlah menyakitkan.
Kiara sangat puas melihat pemandangan di depan nya, suami yang dulu begitu percaya diri merencanakan hal-hal yang tidak baik untuk nya kini hanya bisa diam menerima cemooh orang-orang di sekitar nya.
Belum sempat suasana kembali tenang, seorang pria berjas rapi yang merupakan pengacara keluarga naik ke atas panggung dan menyerahkan sebuah map tebal berwarna cokelat kepada Kiara. Kiara menerimanya dengan tangan mantap, lalu menatap Ferdi yang berdiri terpaku di bawah panggung dengan wajah pucat pasi.
"Ini belum semuanya," lanjut Kiara sambil membuka map tersebut dan mengangkat beberapa lembar dokumen di hadapan semua orang.
"Masih banyak lagi kejahatan yang di lakukan Ferdi selama ini, ini adalah salah satu bukti kejahatan nya."
"Selain mengkhianati kepercayaan sebagai seorang suami, ternyata Ferdi juga telah menyalahgunakan kepercayaan yang diberikan kepadanya sebagai karyawan perusahaan. Dokumen-dokumen ini adalah bukti nyata adanya penyimpangan keuangan dan penggelapan dana perusahaan yang telah ia lakukan selama dua tahun terakhir."
Suasana seketika menjadi semakin hening, diikuti gelombang keterkejutan yang lebih besar dari sebelumnya.
"Di sini tercatat dengan jelas, dana yang seharusnya digunakan untuk pengembangan proyek, dialihkan ke rekening pribadi, bahkan digunakan untuk membiayai kebutuhan hidup wanita simpanannya dan rencana masa depan mereka. Semua transaksi, bukti transfer, dan laporan palsu yang ia buat semuanya tercatat rapi di sini, tidak ada yang bisa disangkal."
"Kalau tidak ku selidiki semua satu-satu mungkin ini semua akan lolos begitu saja.*
Ferdi merasa kakinya lemas, seolah tanah di bawahnya bergeser. Ia tidak menyangka Kiara memiliki bukti sekuat ini bukan hanya soal perselingkuhan, tapi juga kejahatan yang selama ini ia sembunyikan dengan sangat rapi. Uang yang selama ini ia dapat kan untuk menyenangkan diri nya sendiri dan juga Emely selingkuhan nya kini telah terbongkar.
Kiara menatap lurus ke arah Ferdi, suaranya terdengar dingin dan menusuk tepat ke hati pria itu, tidak ada lagi belas kasihan dari hati wanita itu, semua yang ada di pikirannya hanya lah pembalasan.
"Kau pikir kau bisa mendapatkan segalanya dengan cara licik? Mendapatkan jabatan, kekayaan, bahkan hidup bahagia dengan wanita lain sambil menipu ku terus menerus begitu saja? Kau salah besar."
Ia menutup map itu perlahan, lalu melanjutkan dengan tegas:
"Ferdi bukan hanya tidak layak menjadi suamiku selamanya. Dia bahkan tidak layak sedikit pun untuk memimpin perusahaan ini, atau berada di lingkungan yang menjunjung tinggi kejujuran dan tanggung jawab. Dia telah merusak kepercayaan yang diberikan, dan akibatnya harus ia tanggung sendiri."
Pak Edward yang berdiri di dekat panggung mengangguk setuju, matanya memancarkan kemarahan yang mendalam. Ia baru menyadari betapa besar kesalahannya telah menaruh harapan pada pria yang ternyata memiliki hati sebusuk ini.
Di antara para tamu, bisikan-bisikan berubah menjadi penilaian yang tegas.
"Ternyata dia bukan hanya pengkhianat, tapi juga pencuri!"
"Pantas saja dia terburu-buru ingin menduduki jabatan tinggi, ternyata agar lebih leluasa mengambil keuntungan."
"Sudah jelas, dia harus bertanggung jawab secara hukum atas perbuatannya."
"Dasar tidak tahu malu, bahkan lebih baik memelihara seekor anjing dari pada memelihat serigala seperti nya. Bisa menerkam kapan saja." ujar para tamu.
Ferdi berdiri terpaku, tidak mampu berkata-kata. Semua rencana indahnya, semua ambisi yang ia bangun selama bertahun-tahun, hancur seketika di hadapan matanya sendiri. Dan yang paling menyakitkan, ia baru menyadari bahwa wanita yang selama ini ia anggap lemah dan bisa dipermainkan lah yang telah menjatuhkannya dengan cara yang paling telak.