NovelToon NovelToon
Jangan Sentuh Anak-anakku

Jangan Sentuh Anak-anakku

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / CEO / Balas Dendam
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ummu Umar

Biah merupakan seorang Single parent yang membesarkan ke-tujuh orang anak, dan diantaranya adalah anak dari adiknya sendiri yang meninggal dalam kecelakaan.

Hidupnya yang dulu bisa berada dirumah setiap hari kini harus berjuang seorang diri untuk membesarkan mereka.

Suaminya meninggal karena menolong seorang perempuan yang hendak diperkosa oleh beberapa orang, dia meninggal sehari sebelum adiknya meninggal dunia dan menitipkan kedua putranya kepadanya

Mampuka dia membesarkan mereka dengan segala himpitan ekonomi dan juga penghinaan orang-orang??

Novel terbaru kami yang penuh kisah inspiratif dan juga tangis

Silahkan dukung kami🙏🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perkelahian

Suasana sekolah terasa mencekam, terlihat dia anak lelaki sedang berkelahi dengan 5 orang anak lelaki lainnya.

"Jangan memukul kakakku, apa yang kalian lakukan". Teriak Adik kecil berusia 6 tahun itu.

Dia menerobos dan mendorong mereka sekuat tenaganya agar melepaskan kedua kakaknya yang berusaha melawan.

"Pergi sana, jangan ikut campur". Bentak salah satu anak berbadan tambun dan mendorongnya dengan kasar.

Melihat adiknya yang didorong seperti itu membuat kedua kakaknya murka seketika, mereka langsung berdiri dan memukul keras anak lelaki tersebut dengan sekuat tenaga mereka.

Teman-teman anak tambun itu tidak tinggal diam, mereka maju beramai-ramai untuk menolong temannya, tapi tenaga mereka seakan tidak ada apa-apa nya dibandingkan kedua kakak dari adik kecil itu.

Perkelahian sengit pun terjadi, walaupun dalam hal jumlah terlihat timpang sebelah.

"Hentikan!!, apa yang kalian lakukan? ". Teriak seorang guru yang melerai perkelahian itu.

Ke 8 anak itu terengah-engah karena perkelahian, keadaan mereka jauh dari kata baik.

"Apa yang kalian lakukan, kenapa kalian berkelahi seperti ini? ". Tanyanys dengan geram.

Mereka semua menunduk karena wajah garang guru laki-laki yang tengah mengintimidasi mereka itu.

Salah satu dari anak itu mengangkat kepalanya kemudian menatap sang guru dnegan berani, ibunya selalu mengajarkannya untuk membela dirinya selama dirinya tidak salah dan begitu sebaliknya jika dia bersalah maka dia akan mengakuinya dan meminta maaf.

"Tadi mereka berusaha merampas uang dan membully kakak saya, tapi kakak saya tidak memberikan uang itu jadi mereka mengeroyoknya, saya sebagai adiknya tidak mungkin tinggal diam jika ada orang yang melakukan itu pada kakak saya pak".

Mata guru itu langsung melebar, tatapannya berubah tajam kepada kelima anak itu begitu mendengar apa yang dikatakan anak itu.

"Benar itu Romi? ". Tanyanta dnegan tatapan menuntut dan penuh dengan intimidasi.

Romi yang dituduh seperti itu langsung mengelak dan berusaha memutar balikkan fakta.

"Untuk apa saja mengambil uangnya pak, saya ini anak orang kaya dan punya keluarga yang berdarah biru, tidak mungkin saya melakukan hal menjijikkan seperti itu". Bantahnya dengan keras.

Walau jawabannya terdengar tidak menyakinkan karena terdengar gugup.

"Jangan bohong, jelas-jelas tadi kamu mengeroyok kakaku duluan, semua orang ini menjadi saksinya". Teriak Ukasyah dengan lantang.

"Benar pak, saya juga tadi melihat mereka mengeroyok kedua kakak saya makanya saya menerobos masuk kesini tapi mereka menyuruh saya tidak ikut campur dan mendorong saya dengan kasar". Ammar sang adik dari keduanya ikut memberikan pernyataannya.

Romi melotot tajam kepada keduanya seakan memperingatkan mereka agar menutup mulutnya dan tidak lagi berbicara tentang kejadian tadi tapi ketiganya menghiraukan tatapannya malah membalasnya dengan tatapan tajam.

Sang guru hanya menghela nafas, kemudian menatap semua murid yang ada disana kemudian berseru lantang dan tegas.

"Sekarang beritahukan bapak yang sebenarnya terjadu, betul apa yang dikatakan Ukasyah dan Ammar?, jawab dengan jujur!!".

Mereka semua saling melirik takut, pandangan mereka jelas menuju pada Romi yang melotot untuk memperingatkan mereka dan pak guru itu bisa melihat dengan jelas apa yang ditakutkan oleh anak-anak itu.

"Tidak usah takut, bapak akan melindungi kalian dan juga memastikan kalian aman setelah kasus ini, ini sudah melanggar aturan sekolah".

Mereka masih saling menyenggol dan menatap sang guru dengan ragu-ragu sambil melirik kearah Romi.

"Kalau kalian semua tidak ada yang mau jujur, maka saya akan memanggil ornag tua kalian semua". Bentaknya dengan keras.

Mereka semua terkesiap, mereka tidak mungkin diam saja jika sampai orangtua mereka dipanggil padahal mereka tidak salah.

"Pak jangan panggil ornag tua kami, kami tidak salah apapun". Jawab salah satu dari mereka dengan ketakutan.

Dia tidak mungkin membiarkan orangtua nya datang kesekolah, bisa kena hajar dia di rumah jika kedua orangtuanya mendapatkan panggilan itu

"Itu karena kalian semua tidak mengatakan kebenarannya, kalian mau nasib kalian seperti teman kalian seandainya memang dikeroyok? ". Tanyanya dengan kesal.

"Maaf pak, sebenarnya yang dikatakan Ukasyah benar adanya, tadi Romi dan kawan-kawan nya berusaha mengambil semua uang yang dimiliki Umar tapi dia tidak mau memberikannya dan dia juga menghinanya dengan anak yatim tidak tahu diri, dia mengeroyok Umar dan Ukasyah datang membantu kakaknya karena mungkin dia tidak Terima lawan kakaknya tidak imbang". Ucapnya dengan ketakutan sambil melirik kearah Romi.

Mereka semua menganggukkan kepalanya menyetujui apa yang dikatakan teman mereka itu.

Mereka sejak tadi tidak berani membela Umar karena takut jika Romi membully mereka nanti, Romi anak orang kaya dan juga kedua orangtuanya adalah seorang tentara berpangkat dan ibunya adalah seorang dokter belum lagi mereka adalah donatur sekolah.

"Sialan". Umpat Romi pelan menatap mereka dengan penuh amarah dan dendam.

Selama ini semua ornag diam dan membiarkannya berbuat sesuka hati dan gurunya juga seakan tutup mata karena keluarganya, itulah sebabnya dia bisa melakukannya tapi sekarang dia dalam masalah seperti ini, dia tidak terima.

Sang Guru bernama pak Budi itu menghela nafas dan menatap tajam kearah Romi dan kawan-kawan nya.

"Kalian berlima ikut saya kekantor BK, sekarang". Perintahnya dengan tegas

Kemudian pandangannya beralih kepada ketiga saudara yang tengah saling membantu itu kemudian tersenyum tipis

"Ammar, bawah kakak kamu ke UKS dan setelahnya masuk ke ruang BK, bapak tunggu kalian semua disana".

Romi hanya mendengus kasar kemudian berjalan dengan menghentakkan kakinya kasar, dia akan membalas semua penghinaan dan mereka semua setelah ini.

"Baik Pak, kami permisi dulu". Jawabnya dengan menunduk sopan.

Ammar berusaha membantu kedua kakaknya, walau tubuhnya lebih kecil dia harus membantu sang kakak, mereka memang diajarkan untuk saling menyayangi dan membantu saudara mereka jika tertimpa musibah seperti ini selama mereka bisa melakukannya.

"Ayo kak". Ucapnya dengan sendu.

Dia meringis melihat keadaan sang kakak yang terluka cukup. parah di wajah karena pukulan.

"Dek potret kami berdua dan videokan, mungkin nanti itu akan dibutuhkan". Ucap Ukasyah begitu mereka sampai di UKS sekolah.

"Aku sudah merekam perkelahian tadi kak, tadi juga aku merekam perbincangan guru dan juga teman-teman". Jawab Ammar dnegan senyum tipis.

Mereka memang di ajari sejak kecil terutama Ammar dan Ukasyah yang bercita-cita menjadi seorang tentara, ibu mereka adalah lulusan ekonomi tapi sangat menyukai hukum itu sebabnya Ammar bertindak cepat mengikuti intruksi ibunya yang sering dia dengar.

"Kalian harus merekam dan memiliki bukti jika ada yang membully atau bersikap tidak baik kepada kalian disekolah, itu bisa membantu kalian nanti".

Itulah yang sering dikatakan sang ibu keapda mereka diselah-selah merkea menonton detektif Conan.

"Bagus, Romi akan menerima akibatnya setelah ini".

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!