Mereka mengenalnya sebagai gadis cupu—pendiam, berkacamata, selalu sendiri, dan sering diremehkan. Tidak ada yang tahu bahwa di balik wajah polosnya, tersembunyi sosok paling berbahaya di kota.
Saat malam tiba, dia berubah menjadi ketua mafia yang dingin dan tak tersentuh. Dengan tatapan tajam dan langkah penuh wibawa, semua orang tunduk pada satu perintahnya. Bukan hanya itu, dia juga CEO muda dari perusahaan terbesar yang menguasai berbagai industri.
Cantik, cerdas, dan mematikan.
Dia tidak pernah membalas hinaan dengan kata-kata—dia membalasnya dengan kekuasaan.
Dulu mereka menertawakan gadis cupu itu.
Sekarang, mereka bahkan takut menatap matanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Intan Oktavianiputri77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: Titik Tabrak
Malam di Jakarta tidak pernah benar-benar tidur.
Tapi malam ini…
rasanya seperti sedang menunggu sesuatu yang jatuh.
Di dalam mobil hitam yang melaju tanpa suara.
Anya duduk diam.
Lampu kota memantul di kaca gelap seperti serpihan kaca yang berputar.
Tulus di sampingnya tidak banyak bicara.
Tapi tangannya terus bergerak di atas tablet.
Cepat.
Tidak stabil seperti biasanya.
“Queen…” suaranya pelan.
Anya tidak menoleh.
“Berapa banyak yang tersisa?”
Tulus berhenti sepersekian detik.
“…hampir semua firewall utama sudah ditembus.”
Sunyi.
Anya menghela napas pelan.
Bukan lelah.
Tapi menghitung ulang posisi.
“Selene sudah tidak main sendiri,” katanya.
Tulus mengangguk kecil.
“Dia punya akses eksternal sekarang. IP yang sama dengan yang muncul di Project Origin.”
Anya menutup mata sebentar.
“Arsen.”
Nama itu tidak terdengar seperti ancaman.
Lebih seperti… variabel yang tidak bisa diprediksi.
Di sisi lain kota.
Gedung Rafardhan Group masih menyala.
Lantai teratas.
Arsen berdiri sendirian.
Tanpa jas.
Tanpa sekretaris.
Hanya dirinya.
Dan satu layar besar di depannya.
Di layar itu:
Project Origin.
Status: PARTIAL ACCESS RESTORED
Baskoro berdiri beberapa langkah di belakang.
“Tuan… ini terlalu dalam. Kita sudah melanggar batas sistem asing.”
Arsen tidak menjawab langsung.
Matanya fokus.
“Ini bukan sistem asing.”
Baskoro mengerutkan dahi.
“Maaf?”
Arsen menunjuk layar.
“Ini sistem yang pernah terhubung langsung dengan jaringan internal Rafardhan.”
Hening.
Baskoro menegang.
“Itu tidak mungkin…”
Arsen akhirnya menoleh.
“Semua jalur data mengarah ke satu titik.”
Ia menatap layar lebih dalam.
“Anya Clarissa.”
Di mobil.
Anya tiba-tiba membuka mata.
“Dia sudah sampai ke akar.”
Tulus langsung menoleh.
“Apakah kita putus koneksi sekarang?”
Anya diam beberapa detik.
Lalu berkata:
“Sudah terlambat untuk memutus.”
Tangannya mengepal kecil.
“Sekarang ini bukan soal menyembunyikan.”
Ia menatap jendela.
“Ini soal siapa yang lebih cepat sampai ke pusat.”
Di SMA Wijaya.
Gedung sudah sepi.
Tapi satu ruang masih menyala.
Ruang OSIS.
Selene duduk sendirian.
Laptop terbuka.
Tapi tidak lagi berisi file biasa.
Sekarang:
Terminal akses langsung.
Matanya kosong.
Tapi tangannya bergerak cepat.
“Aku tidak peduli lagi siapa kamu…”
bisiknya.
“Yang penting… aku harus tahu semuanya.”
ENTER.
Dan sistem terbuka lebih dalam lagi.
Layar berubah.
Sebuah peta.
Bukan sekolah.
Bukan kota.
Tapi jaringan bawah tanah.
Dan di tengahnya:
dua node aktif.
BLACK DIAMOND
dan
RAFARDHAN CORE
Selene membeku.
“…apa ini?”
Di layar muncul satu garis penghubung.
Dan nama di tengah:
EL
Selene mundur dari kursi.
“Tidak mungkin…”
Tangannya gemetar.
“Anya Clarissa… dan Arsen…”
Ia menatap layar tidak percaya.
“…terhubung?”
Di gedung Rafardhan.
Arsen menatap layar yang sama.
Baskoro berbisik:
“Tuan… ada aktivitas dari luar.”
Arsen tidak berkedip.
“Aku tahu.”
Lalu:
“Dia juga sudah masuk.”
Di mobil Anya.
Alarm kecil berbunyi.
Tulus panik.
“Queen! Ada akses silang dari Rafardhan Core ke Black Diamond channel!”
Anya langsung menatap layar tablet.
Dan untuk pertama kalinya—
ekspresinya berubah sedikit.
Bukan panik.
Bukan takut.
Tapi… fokus penuh.
“Dia menyentuh jaringan inti kita.”
Tulus menelan ludah.
“Kalau ini terus berlanjut, identitas Black Diamond bisa terbuka ke seluruh sistem global.”
Anya diam.
Lalu pelan:
“Kalau dia sampai sejauh itu…”
Ia berdiri.
“…aku harus berhenti bersembunyi.”
Di SMA Wijaya.
Selene menatap satu tombol terakhir.
“Kalau ini aku tekan…”
“…semua akan tahu.”
Tangannya berhenti di udara.
Tiba-tiba—
layar berkedip.
Dan muncul satu pesan masuk.
“Jangan lanjutkan.”
Selene membeku.
“Siapa…?”
Lalu layar lain menyala.
Bukan dari laptopnya.
Tapi dari sistem sekolah.
Dan di sana—
Arsen berdiri di depan ruang OSIS.
Sendiri.
“Keluar.”
Suara itu bukan di layar.
Tapi dari luar ruangan.
Selene menatap pintu.
“Arsen…”
Di luar.
Langkah kaki mendekat.
Di mobil Anya.
Tulus panik.
“Queen… mereka akan bertemu.”
Anya menutup mata sebentar.
“Biarkan.”
Tulus terkejut.
“…biarkan?”
Anya membuka mata.
Dan kali ini—
tidak ada lagi permainan kecil di dalamnya.
“Kalau mereka sudah saling melihat…”
“…aku juga harus melihat hasilnya.”
Di SMA Wijaya.
Pintu ruang OSIS terbuka.
Arsen berdiri di sana.
Tatapannya dingin.
Tajam.
Tidak seperti sebelumnya.
Selene berdiri di dalam.
Laptop masih menyala.
Dan di antara mereka—
jarak beberapa meter saja.
Tapi seperti dua dunia berbeda.
“Jadi kamu yang menyebarkan semuanya,” kata Arsen.
Selene tersenyum kecil.
“Dan kamu yang menutupinya.”
Arsen melangkah masuk.
“Di mana Anya?”
Selene tertawa pelan.
“Kenapa? Kamu mulai takut?”
Arsen berhenti.
“Jawab.”
Selene mendekat sedikit.
“Dia bukan orang yang kamu kira.”
Arsen menatapnya.
“Aku tahu.”
Hening.
Di mobil.
Anya membuka mata.
Dan di layar tablet—
dua titik merah akhirnya bertemu.
Arsen.
Selene.
Dan satu nama di tengah:
EL
Anya berbisik pelan:
“Sudah mulai.”
kasih sedikit gaya relax deh... biar lebih nyantai bacanya🙏