Seina adalah gadis cantik yang bercita-cita menjadi aktris terkenal. Setelah lulus sekolah, hidupnya terasa sempurna ketika dia berhasil debut di dunia hiburan. Namun, kebahagiaan itu tidak bertahan lama. Di puncak awal kariernya, Seina justru dibunuh oleh seorang haters yang iri padanya.
Saat membuka mata, Seina tidak lagi berada di tubuhnya sendiri. Dia terbangun di tubuh Serina Elvano, seorang wanita egois yang dibenci banyak orang. Lebih mengejutkannya lagi, dia berpindah tubuh saat Serina sedang berjuang melahirkan anaknya.
Serina harus menjalani kehidupan baru sebagai istri Cristian Elvano, pria dingin dan berkuasa yang sama sekali tidak mencintai istrinya. Tidak hanya diabaikan oleh sang suami, Serina juga diperlakukan rendah oleh keluarga Elvano karena sikap buruknya di masa lalu.
Dia bertekad mengubah hidupnya, merebut kembali harga dirinya, dan membuat semua orang yang meremehkannya menyesal, terutama Cristian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka zeya257, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
"Aku hanya mengatakan yang seharusnya." Kata Mochi tidak terima dengan tuduhan yang di lontarkan oleh Serina.
Selama menjadi sistem, baru kali ini dia memiliki atasan bawel seperti Serina. Namun, di balik sikapnya itu jelas jika Serina adalah wanita yang tidak akan segan menyakiti orang lain jika menurutnya mereka pantas mendapatkannya.
Serina tersenyum tipis, dia tidak ingin berdebat dengan sistem itu terlalu lama.
"Hemm, kamu benar. Lalu bagaimana keadaan tubuhku di sana?" tanya Serina penasaran.
"Aku sudah mengatakan bahwa tubuhmu sedang koma. Jika ingin mengetahui lebih banyak, lihat saja berita di dunia asalmu," jawab Mochi santai.
"Baiklah, baiklah."
Serina mengembuskan napas panjang. Masalah mengenai tubuh aslinya untuk sementara harus dia kesampingkan.
"Apa rencanamu selanjutnya?" tanya Mochi penasaran.
Senyum tipis terukir di bibir Serina. "Aku akan mulai membersihkan orang-orang yang berpotensi menjadi ancaman."
Jawaban itu membuat Mochi mengernyitkan dahi. Namun sebelum dia sempat bertanya lebih lanjut, terdengar ketukan pelan dari luar kamar.
Tok. Tok. Tok.
Serina berdiri dan berjalan menuju pintu. Saat pintu terbuka, dia langsung berhadapan dengan Emma. Pelayan pribadinya itu berdiri dengan wajah polos seperti biasa.
"Selamat siang, Nyonya Serina," sapa Emma penuh semangat.
Serina menyilangkan kedua tangan di depan dada. "Dari mana kamu?"
Nada suaranya terdengar dingin. Emma langsung menelan ludah. Sejak perubahan sikap Serina, dia tidak lagi berani bertindak sesuka hati.
"N-Nyonya..."
"Jawab pertanyaanku."
Emma menggaruk kepalanya gugup. "Maafkan saya, Nonya. Saat itu saya memiliki urusan mendesak sehingga tidak sempat memberi tahu Nyonya. Namun saya sudah menitipkan pesan kepada Nyonya besar bahwa saya izin beberapa hari."
Serina menatap Emma tanpa berkedip. Tatapan itu membuat Emma semakin gugup.
"Nyonya, saya benar-benar minta maaf. Saya tidak akan mengulanginya lagi."
Perlahan Emma memegang tangan Serina. Berbeda dengan sebelumnya, kali ini dia tidak merasa takut dimarahi. Namun Serina tetap memperhatikan setiap gerak-geriknya dengan saksama. Dia mencari tanda-tanda kebohongan. Sayangnya, dia tidak menemukan apa pun.
"Baiklah."
Emma langsung menghela napas lega.
"Tetapi dengarkan baik-baik."
Senyum di wajah Emma menghilang.
"Jaga Arcelio selama aku pergi. Dan jangan pernah mengulangi kesalahan yang sama. Jika itu terjadi lagi, aku akan memecatmu."
Emma mengangguk cepat. "Baik, Nyonya. Terima kasih sudah memberi saya kesempatan."
Serina melewati gadis itu. Meski belum menemukan sesuatu yang mencurigakan, nalurinya mengatakan ada sesuatu yang disembunyikan oleh Emma. Dan dia tidak pernah mengabaikan nalurinya.
***
Koridor rumah utama keluarga Elvano tampak ramai. Beberapa pelayan berlalu-lalang sambil membawa berbagai keperluan, tatapan sinis langsung mengarah kepada Serina saat dia melintas. Namun kali ini Serina tidak peduli.
"Sistem." Panggil Serina
"Hm?"
"Menurutmu Emma berniat mencelakaiku atau Arcelio?"
Mochimochi menggeleng. "Tidak keduanya. Emma orang yang baik."
"Kalau begitu?"
"Hanya saja..."
Serina menghentikan langkahnya. "Hanya saja apa?"
Mochi menggaruk pipinya dengan kaki depannya. "Emma adalah orang suruhan suamimu."
Mata Serina langsung membulat. "Apa maksudmu?"
"Jangan percaya jika Cristian mengatakan bahwa dia tidak peduli kepada Arcelio."
Serina terdiam.
"Nyatanya dia peduli. Hanya saja dia terlalu keras kepala dan gengsi untuk mengakuinya."
Jantung Serina berdetak sedikit lebih cepat. "Apa lagi yang kamu tahu?"
Mochi tersenyum jahil. "Cristian pernah tertarik kepada Serina yang asli."
Langkah Serina langsung terhenti. "Apa?!"
Suara teriakannya menggema di koridor, beberapa pelayan langsung menoleh. Serina tidak memedulikannya, karena sekarang dia masih terlalu syok.
"Cristian tertarik kepada Serina asli?"
"Ya."
"Yang suka membuat masalah?"
"Ya."
"Yang terobsesi padanya?"
"Ya."
"Yang membuat hidupnya sengsara?"
"Ya."
Serina memegang kepalanya. "Apakah kamu sedang bercanda?"
"Tidak."
"Itu sama sekali tidak masuk akal!"
Mochi hanya tertawa, memang jika di pikirkan dengan baik hal itu terdengar aneh dan tidak mungkin.
Namun sebelum pembicaraan mereka berlanjut, sebuah suara tajam memotong dari belakang.
"Berisik! Dasar pencari perhatian!"
Serina menoleh. Seorang pelayan wanita berdiri beberapa meter darinya, tatapannya penuh penghinaan. Pelayan lain yang berada di sekitar sana langsung menghentikan pekerjaan mereka, mereka tampak menikmati situasi itu.
Alis Serina terangkat. "Oh, aku sedang berbicara. Apa kamu tidak diajari sopan santun?" tanyanya tenang.
Pelayan itu mendengus. "Sopan santun? Untuk perempuan sepertimu?"
Beberapa pelayan langsung tertawa kecil, jelas sekali mereka sudah biasa melakukan pembullyan seperti ini pada Serina.
Mata Serina menyipit. "Tampaknya kamu sangat berani pada atasanmu, ya."
"Tidak. Aku hanya tahu diri." Pelayan itu melipat kedua tangannya. "Berbeda denganmu."
Suasana koridor mendadak sunyi, semua orang tahu pelayan itu bernama Rina. Dia adalah salah satu orang kepercayaan Jesika yang jelas sekali membenci Serina.
Selama ini dia selalu ikut merendahkan Serina. Dan karena Serina dahulu hanya bisa menangis atau mengadu, tidak ada yang pernah menghentikannya.
"Ada apa? Kenapa diam?" ejek Rina.
"Kamu sadar, kan?"
"Sadar apa?"
"Bahwa kamu hanyalah penumpang di rumah ini, kamu di gaji bukan untuk menghinaku. Kalau kamu sudah tidak sayang dengan mulutmu, aku dengan suka hati akan menjahitnya untukmu."
Serina tidak main-main dengan perkataannya, dia bisa melakukan itu semua jika mereka memang ingin melawannya seperti saat ini.
Namun, suara tawa kecil terdengar dari beberapa sudut. Rina semakin percaya diri. "Menurut kami, kamu bahkan lebih rendah dari para pelayan. Harusnya mulutmu yang di jahit, agar kami semua tidak perlu mendengar omong kosong dari mulutmu."
Serina tersenyum. Senyum itu justru membuat Rina sedikit merinding, selama ini Serina tak pernah berani melawan dengan ancaman melainkan dengan tangisan dan teriakan tapi sekarang aura wanita itu terasa jauh berbeda.
"Aku lebih rendah dari pelayan?"
"Benar."
"Lalu kamu apa?"
Rina mendengus. "Setidaknya aku bukan sampah sepertimu."
"Oh." Serina mengangguk pelan. "Lalu kalau aku sampah, kamu apa?"
"Apa maksudmu?"
Serina tersenyum manis. "Belatung?"
Beberapa pelayan langsung menahan tawa. Wajah Rina seketika memerah. "Kamu!"
"Atau mungkin tikus?"
Rina mengepalkan tangan. "Mulut sialanmu benar-benar tidak punya etika!"
"Kenapa? Tersinggung karena aku berbicara fakta?"
"Kamu cari mati!"
Plak!
Rina mengangkat tangannya hendak menampar Serina. Namun sebelum telapak tangan itu menyentuh wajahnya, Serina menangkap pergelangan tangannya di udara.
Semua orang langsung terdiam, Rina membelalak. Dia mencoba menarik tangannya, namun tidak bergerak sedikit pun. Cengkeraman Serina terasa seperti besi.
"Aku peringatkan satu hal." Suara Serina terdengar lembut. "Aku tidak suka ada orang yang berusaha menyentuh wajahku."
Rina mulai panik. "Lepaskan!"
"Kenapa?"
"Sakit!"
"Tadi kamu ingin menamparku."
"Itu karena—"
"Kamu pikir aku akan diam seperti dulu?" Mata Serina berubah dingin, untuk pertama kalinya, para pelayan menyadari sesuatu. Perempuan di hadapan mereka bukan lagi Serina yang lama.
"Jawab aku."
Serina memperkuat cengkeramannya, Rina langsung meringis kesakitan. "Aaaakh!"
"Tadi kamu sangat berani."
"K-Kamu menyakitiku!"
"Lalu?"
"Kamu tidak boleh melakukan ini!"
Serina tertawa kecil. "Tidak boleh?"
"Benar!"
"Menurut siapa?"
Rina terdiam, dia tidak bisa memberikan jawaban apa pun pada Serina
Serina mendekat, meski tingginya tidak jauh berbeda, tekanan yang dipancarkannya membuat Rina ingin mundur. Sayangnya dia tidak bisa.
"Kalau aku benar-benar ingin menghancurkan hidupmu, aku bisa melakukannya sekarang juga." Suara Serina terdengar pelan. "Tetapi aku sedang dalam suasana hati yang baik."
Rina gemetar.
"Jadi kali ini aku akan memberimu kesempatan." Serina melepaskan tangannya.
Rina langsung mundur beberapa langkah sambil memegangi pergelangan tangannya yang memerah.
"Pergi."
Rina menatapnya penuh kebencian, "Memangnya kamu siapa sampai berani memberiku perintah, hah?"
"Oh, kamu lupa siapa aku? Aku adalah istri Cristian, aku bisa saja mengadukan perlakuan kalian ini pada Cristian."
Namun, bukannya takut para pelayan itu justru tertawa sinis seakan ucapan Serina lelucon yang pantas di tertawakan. Akan tetapi, tawa itu lenyap seketika dan membuat Serina merasa bingung.
"Kenapa kalian berhenti tertawa?" tanya Serina datar.
Detik itu juga, Rina memegang tangannya yang tadi sempat di cengkeram oleh Serina. Pelayan itu tiba-tiba merintih kesakitan dan terisak pelan.
"Ampun, Nyonya muda. Saya bersalah, maafkan saya, Nyonya." Ujar pelayan itu dengan nada memelas, air mata jatuh di pipinya.
Serina menaikan sebelah alisnya, aneh sekali padahal tadi dia seperti ingin melahap dirinya habis-habisan tapi sekarang dia justru menangis?
"Drama apa yang ingin kamu perankan, hm?" sindir Serina.
Namun, belum sempat pelayan itu menjawab sebuah suara lantang bergema dari lorong. Serina menoleh, dan mendapati ibu mertuanya sedang berjalan ke arah mereka dengan wajah merah padam.
"Apa yang kamu lakukan pada pelayanku, Serina?!" bentak wanita itu murka.
"Tidak ada, aku hanya memintanya untuk bersikap lebih sopan padaku."
"Omong kosong, kamu sudah sering melakukan tindakan seperti ini. Apa belum cukup kamu membuat masalah di luar rumah?" suara ibu mertuanya meninggi. "Sampai kapan kamu akan membuat rumah ini berantakan? Bukan hanya mempermalukan suamimu, kamu juga membuat malu keluarga Elvano."
Serina menghela napas panjang, dia tidak ingin berdebat dengan Mariam tapi wanita itu terus saja menguji kesabarannya.
"Ma, aku memang berbuat salah selama menikah dengan Cristian. Tapi saat ini aku sedang mendidik pelayan yang bersikap kurang ajar padaku, apa itu sebuah kesalahan juga?" tanya Serina tenang.
Dia tidak mau membuat keributan lebih banyak, niat hati ingin menjauhi konflik tapi pada akhirnya dia tidak bisa melakukannya.
"Cukup! Kamu memang pandai membuat alasan." Sindir Mariam.
Serina terkekeh, lalu mengalihkan pandangan pada pelayan yang masih berderai air mata.
"Dan dengarkan baik-baik, Rina. Jika lain kali aku mendengar kamu menghinaku atau Arcelio..." Senyum Serina menghilang. "...aku tidak akan berhenti hanya dengan mencengkeram tanganmu, meski kamu meminta perlindungan pada Ibu mertuaku sekalipun itu tidak akan membuatku gentar untuk mendisiplinkan kamu di kediaman ini."
Koridor menjadi sunyi senyap, tak seorang pun berani berbicara. Bahkan para pelayan yang biasanya ikut mengejek hanya bisa menundukkan kepala.
Karena untuk pertama kalinya mereka menyadari satu hal, Serina benar-benar berubah. Dan perubahan itu jauh lebih menakutkan daripada kemarahan, tangisan, atau ancaman yang pernah mereka lihat sebelumnya.
Sementara itu, di ujung koridor lantai dua, seorang pria berdiri memandangi seluruh kejadian tersebut.
Cristian baru saja pulang lebih awal untuk mengambil beberapa dokumen penting. Tanpa sengaja dia menyaksikan semuanya, tatapannya tertuju pada sosok Serina yang kini berdiri tegak di tengah koridor.
Untuk beberapa saat, Cristian tidak mengalihkan pandangannya. Dan entah mengapa, sudut bibirnya terangkat tipis.
"Menarik..." gumamnya pelan. "Apa benar dia Serina yang aku kenal?"
Sementara di bawah sana, Serina sama sekali tidak menyadari bahwa seseorang sedang memperhatikannya. Seseorang yang perlahan mulai tertarik pada setiap perubahan yang terjadi dalam dirinya.
.. pelan pelan sajaaaaa 🎵🎶🎵
mulai berpihak ke serin kamu cris🫶
novel kmrin blm selesai thor
cerita mu makin seruuu
ada sistem aseekkkk... bisa bantu seina menjinakkan Cristian 😁😁😁😁
ayoooo semangat update. aku maraton nih bacanya😁
lama lama kalau diperlakukan baik lemah lembut Cristian juga akan luluh yaa gaaakkkk😄😄😄
bagus si Serina, ambil hati suamimu. kalau ga bisa cara halus cara kasar aja. terjang 🤣🤣🤣