NovelToon NovelToon
Dendam Manis Di Cawan Hitam

Dendam Manis Di Cawan Hitam

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Mafia / Balas Dendam
Popularitas:171
Nilai: 5
Nama Author: Neef

Di Oakhaven, cinta adalah racun paling murni, dan aku baru saja meminumnya hingga tetes terakhir."
​Dulu, aku adalah mesin pembunuh bagi pemerintah. Kini, aku adalah Marie Vance—seorang putri bangsawan yang dibuang untuk dijadikan boneka. Di kota yang selalu menangis di bawah hujan neon ini, aku terikat kontrak darah dengan Julius Vance, monster yang menguasai aliran Nectar di jantung kota. Dia menginginkan kemampuanku untuk mengungkap konspirasi, sementara aku menginginkan kepala setiap orang yang menghancurkan hidupku. Namun, di antara ranjang yang dingin dan pengkhianatan yang mematikan, aku menyadari satu hal: kami berdua adalah predator yang saling memangsa, hingga tak ada lagi yang tersisa kecuali dendam yang manis... dan cawan hitam yang siap menampung darah kami.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neef, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perpustakaan Jiwa dan Kebenaran yang Terlarang

*"Jangan pernah menganggap bahwa pengetahuan adalah kunci kebebasan, karena di tempat ini, setiap lembar yang kau buka hanyalah rantai baru yang akan mengikat jiwamu ke dalam siklus yang kau coba hindari."*

Pria bernama Kronos itu meletakkan pena bulunya dengan gerakan yang sangat lambat, seolah-olah setiap detik yang lewat adalah beban berat yang harus dia pikul. Aku berdiri di depannya, napas masih memburu setelah kejadian gila di gurun pasir tadi. Julius berada tepat di belakangku, tangannya tak sedetik pun melepaskan genggaman pada pundakku, menunjukkan kewaspadaan tingkat tinggi. Ruangan ini tidak terasa seperti perpustakaan biasa; aroma kertas tua bercampur dengan bau ozon, seolah-olah sihir murni sedang tertekan di balik setiap rak buku yang menjulang tinggi hingga menembus langit-langit.

*"Jadi, kau adalah pengarang dari semua mimpi buruk kami?"* tanyaku, suaraku sedikit bergetar karena emosi yang tertahan. Aku mencoba memanggil kekuatan dari cawan sihir yang masih kupegang, namun di ruangan ini, energi cawan itu meredup, seolah diserap oleh tumpukan buku di sekeliling kami.

Kronos tertawa kecil, suara yang terdengar seperti gesekan kertas perkamen yang kering. *"Pengarang? Bukan, Marie. Aku hanyalah pencatat. Aku tidak menentukan apa yang akan terjadi, aku hanya menuliskan apa yang sudah, sedang, dan akan dilakukan oleh mereka yang memiliki sihir murni di dalam darahnya. Masalahnya, kalian berdua selalu mencoba menulis ulang bab yang sudah selesai."*

Julius melangkah maju, sorot matanya tajam. *"Kami bukan karakter dalam bukumu, orang tua. Kami manusia. Kami hidup, kami merasakan sakit, dan kami tidak akan membiarkan takdir yang kau tulis di buku-buku busuk itu menentukan akhir perjalanan kami."*

*"Manusia?"* Kronos berdiri, tubuhnya yang bungkuk tampak sangat rapuh namun memancarkan aura tekanan yang sangat kuat. *"Di dunia ini, tidak ada yang murni selain sihir itu sendiri. Kalian hanyalah wadah. Marie, kau hanyalah Marie Vance yang kebetulan terbangun di tubuh yang hancur. Julius, kau adalah sisa-sisa dari kaum penyihir yang sudah seharusnya punah. Kenapa kalian tidak bisa menerima kenyataan itu dan membiarkan dunia berjalan sebagaimana mestinya?"*

Aku tidak tahan lagi. Aku mengabaikan rasa lelah yang menghantam tubuhku dan memusatkan kehendakku untuk mengaktifkan cawan sihir di tanganku. *"Aku tidak peduli tentang kenyataan yang kau bicarakan! Jika takdir yang kau tulis selalu berakhir dengan kehancuran, maka aku akan membakar seluruh isi perpustakaan ini!"*

Seketika, api berwarna biru terang muncul dari tanganku, menjalar ke meja kayu di depan Kronos. Namun, bukannya terbakar, buku-buku di rak sekitar kami justru mulai bersinar. Tulisan-tulisan di dalamnya melayang keluar dari halaman kertas, membentuk tirai aksara kuno yang menyelimuti seluruh ruangan. Api biruku tertelan oleh aksara-aksara itu, dan aku merasakan energi di dalam tubuhku terkuras dengan cepat.

*"Berhenti, Marie!"* teriak Julius, dia menarikku mundur, namun lantai perpustakaan tiba-tiba berubah menjadi cairan hitam yang lengket.

*"Kalian tidak bisa melawan hukum alam,"* kata Kronos tanpa mengubah ekspresinya. *"Setiap kali kalian melawan, sihir murni yang kalian banggakan justru akan menjadi bahan bakar untuk pengulangan berikutnya. Tidakkah kalian sadar? Setiap tetes energi yang kalian lepaskan di ruangan ini terserap langsung ke dalam mesin waktu yang sedang bekerja."*

Aku tertegun. Jadi selama ini, setiap kali kami berjuang, setiap kali kami mencoba menyelamatkan diri, kami justru memperkuat siklus yang menjebak kami?

*"Apa yang kau inginkan dari kami?"* suaraku kini lebih tenang, penuh dengan keputusasaan yang tertahan.

Kronos berjalan mendekat, langkahnya meninggalkan jejak cahaya yang redup di lantai perpustakaan. Dia berhenti tepat di depanku, matanya menatap tajam ke dalam diriku. *"Aku menginginkan kalian untuk berhenti mencoba. Kembalilah ke tempat kalian berasal. Marie, kembalilah ke tubuh aslimu di dunia yang sudah mati itu. Julius, kembalilah ke dalam kehampaan. Jika kalian menyerah sekarang, aku akan memastikan bahwa kalian tidak akan merasakan sakit lagi."*

Julius tertawa sinis. *"Menyerah? Setelah semua yang kami lalui? Setelah kami menemukan bahwa dunia ini bukan hanya sekadar tempat pembuangan, tapi tempat di mana sihir murni bisa bernapas? Kau pikir kami akan menyerahkan kebebasan kami hanya karena kau meminta dengan sopan?"*

*"Itu bukan permintaan,"* jawab Kronos dengan nada dingin. *"Itu adalah konsekuensi dari ketidakmampuan kalian untuk memahami peran kalian."*

Tiba-tiba, rak buku di belakang Kronos terbelah, memperlihatkan sebuah gerbang yang terbuat dari kristal transparan. Di balik gerbang itu, aku bisa melihat kilasan masa laluku—saat aku masih di dunia asal, saat aku pertama kali terbangun di tubuh Marie Vance yang penuh memar dan air mata, dan saat aku bertemu Julius di hutan terlarang. Tapi, ada yang berbeda. Di setiap adegan, aku melihat sosok pria yang wajahnya selalu tertutup bayangan, pria yang sama yang kulihat di pulau tadi—ayahku, atau entitas yang mengendalikan tubuhnya.

*"Lihatlah,"* kata Kronos sambil menunjuk gerbang tersebut. *"Pria itu... dia bukanlah boneka. Dia adalah hasil dari keinginan terdalammu, Marie. Dia adalah manifestasi dari penyesalanmu karena tidak bisa menyelamatkan keluargamu di dunia asal. Setiap kali kau mencoba melawannya, kau sebenarnya sedang melawan bagian dari dirimu sendiri yang menolak untuk melepaskan masa lalu."*

Aku merasakan kepalaku berdenyut hebat. Kata-kata Kronos terasa masuk akal, namun ada bagian dalam diriku yang menolak mempercayainya.

*"Kau pembohong!"* teriakku. Aku mengumpulkan sisa kekuatan terakhirku, bukan dari cawan, tapi dari memori terdalamku. Aku teringat bagaimana aku memutuskan untuk terus hidup meski di dunia Marie Vance yang kejam. Aku teringat tekadku untuk melindungi mereka yang tidak bisa melindungi diri mereka sendiri.

*"Aku bukan Marie Vance yang kau tulis di bukumu! Aku adalah orang yang memutuskan untuk terbangun!"*

Aku tidak lagi menggunakan cawan sihir. Aku melepaskan cawan itu, membiarkannya hancur berkeping-keping di lantai. Tanpa cawan itu, aku merasa kosong, namun kekosongan itu justru membiarkan sihir murni di dalam diriku mengalir tanpa hambatan. Tubuhku diselimuti cahaya emas yang murni, cahaya yang begitu terang hingga perpustakaan itu mulai retak.

Kronos mundur, wajahnya untuk pertama kali menunjukkan ketakutan. *"Tidak! Ini tidak mungkin! Sihir murni tidak bisa dikendalikan tanpa wadah!"*

*"Aku bukan wadahnya,"* kataku, suaraku bergema di seluruh ruangan, *"aku adalah aliran itu sendiri!"*

Julius menatapku dengan kekaguman, namun aku bisa melihat dia mulai kesulitan bertahan di tengah gelombang energi yang aku lepaskan. Dia jatuh berlutut, tangannya menutupi wajahnya.

*"Julius!"* aku mencoba menghentikan aliran energi tersebut, namun energi itu sudah lepas kendali. Rak buku-buku mulai hancur, buku-buku terbakar menjadi abu, dan langit-langit perpustakaan runtuh, memperlihatkan kehampaan yang tak berujung di atas kami.

Di tengah kekacauan itu, aku melihat gerbang kristal tadi terbuka lebar. Sosok yang menyerupai ayahku berjalan keluar dari gerbang tersebut, pedangnya terangkat, menargetkan kami berdua. Dia tidak lagi bergerak seperti boneka; dia bergerak dengan kecepatan kilat, dengan niat membunuh yang sangat murni.

*"Sekarang, Marie! Pilihannya ada padamu!"* teriak Kronos di tengah badai kehancuran. *"Hancurkan sosok itu, dan kau akan terjebak selamanya di perpustakaan ini sebagai penggantiku. Atau, lepaskan mereka dan biarkan semuanya berakhir dengan kegagalan!"*

Aku menatap pria itu—sosok ayahku—dan menatap Julius yang mencoba berdiri meskipun tubuhnya terluka.

*"Jika aku harus memilih untuk terjebak di sini atau kehilangan dirimu, Julius, aku akan memilih untuk menghancurkan keduanya!"*

Aku mengarahkan seluruh energiku ke pedang yang dipegang sosok itu. Bukan untuk menyerang, tapi untuk *menghubungkan*. Aku ingin tahu siapa sebenarnya yang mengendalikan sosok ini. Begitu pedang itu mengenai perisai energiku, aku menarik napas dalam-dalam dan mengirimkan seluruh kesadaranku ke dalam pikiran sosok pria itu.

Apa yang kulihat di sana membuatku menjerit.

Pria itu... dia tidak dikendalikan oleh sihir. Dia dikendalikan oleh sebuah mekanisme kuno yang terhubung langsung dengan detak jantungku sendiri! Setiap kali aku merasa takut, setiap kali aku merasa ragu, pria itu menjadi semakin kuat. Dia adalah manifestasi dari ketakutan terbesarku.

*"Jadi, akulah penyebab semua ini?"* bisikku, air mata jatuh di pipiku.

Sosok pria itu terdiam. Pedangnya yang tadinya hampir menyentuh leherku, kini tertahan beberapa inci saja. Dia menatapku, dan untuk pertama kalinya, matanya yang dingin berubah menjadi mata yang penuh rasa iba—mata yang sama dengan milik ayahku sebelum dia meninggal di dunia asal.

*"Marie,"* suaranya terdengar bukan dari mulutnya, tapi langsung dari dalam hatiku. *"Berhentilah bertarung melawan dirimu sendiri. Dunia ini tidak butuh penyelamat. Dunia ini hanya butuh seseorang yang berani menerima bahwa masa lalu tidak bisa diubah."*

Dia menjatuhkan pedangnya. Sosoknya mulai memudar, berubah menjadi cahaya putih yang lembut.

Namun, sebelum sosok itu benar-benar menghilang, dia menunjuk ke arah Kronos yang kini tampak panik. *"Dia adalah pengawas, bukan pengarang. Dia takut jika ada yang tahu bahwa perpustakaan ini bisa dihancurkan jika kita berhenti merasa takut."*

Perpustakaan itu mulai runtuh sepenuhnya. Rak-rak buku raksasa menimpa lantai, menciptakan guncangan yang menghancurkan realitas di sekitar kami. Aku merasakan tangan Julius menggenggam tanganku semakin erat.

*"Kita akan keluar dari sini, Marie. Bersama-sama,"* katanya mantap.

Kami melompat ke dalam kehampaan, tepat saat perpustakaan itu hancur menjadi debu. Namun, saat kami jatuh ke dalam kehampaan tersebut, aku merasa ada sesuatu yang menarik kaki kami dari bawah.

Bukan gravitasi, bukan juga sihir, melainkan ribuan tangan yang muncul dari kegelapan. Tangan-tangan dari mereka yang dulu pernah kami korbankan dalam pengulangan-pengulangan sebelumnya. Mereka tidak ingin kami pergi. Mereka ingin kami ikut serta dalam kegelapan yang abadi.

*"Tidak hari ini!"* teriak Julius. Dia mengumpulkan sisa kekuatan terakhirnya, menciptakan ledakan bayangan yang memotong tangan-tangan itu.

Kami jatuh, jatuh, dan terus jatuh, sampai akhirnya aku melihat cahaya di bawah sana—cahaya dari dunia yang sangat kukenal. Bukan dunia Marie Vance, dan bukan pula dunia asal.

Itu adalah tempat di mana semuanya dimulai.

Namun, tepat sebelum kami menyentuh permukaan dunia itu, bayangan Kronos muncul sekali lagi di depan kami, menutupi jalan.

*"Kalian memang berhasil menghancurkan perpustakaan itu,"* katanya dengan suara yang penuh kebencian. *"Tapi kalian tidak akan pernah bisa lepas dari konsekuensi."*

Dia memukul dada kami dengan satu serangan energi murni yang membuat kami terpental ke arah yang berbeda. Julius terhempas ke sisi kiri, menuju hutan belantara yang gelap. Sementara aku... aku terhempas ke tengah-tengah kerumunan orang di sebuah alun-alun kota yang megah.

Aku mendarat dengan keras di atas lantai batu yang dingin. Orang-orang di sekitarku berhenti bergerak, menatapku dengan mata yang membelalak.

*"Lihat! Itu dia! Marie Vance yang membawa kutukan!"* teriak seseorang.

Aku mencoba bangkit, namun tubuhku terasa remuk. Aku menoleh ke sekeliling, mencari Julius, namun dia tidak ada di sini. Aku sendirian, di tengah-tengah kota yang sangat membenciku, tanpa sihir murni yang tersisa, dan tanpa tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Di ujung alun-alun, aku melihat sosok pria itu—ayahku—kembali berdiri di sana, memimpin pasukan kota yang sudah bersiap dengan senjata sihir mereka.

*"Tangkap dia! Jangan biarkan dia menggunakan sihir apa pun!"* perintahnya.

Aku terkepung. Dan di saat aku merasa tidak ada jalan keluar, aku mendengar suara bisikan yang sangat kukenal—suara Julius, namun suaranya terdengar sangat jauh, seolah dia berbicara dari dimensi yang berbeda.

*"Marie... jangan... lepaskan..."*

1
Abe shaikha
Aku suka yang FL nya kuat begini, semangat thor nulisnya😍
Abe shaikha
Seru Thor... 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!